Dia yang di atas sana

“Kau harus sadar, komik dan dunia nyata itu beda!” Athena, temanku, seorang gadis kecil dengan mata yang mungkin paling indah yang pernah dibuat lagi-lagi mengatakan hal yang sama. Kadang aku sampai bosan mendengar kata-kata ini.

Aku cuma tersenyum sata Athena kemudian meninggalkanku. Beberapa saat kemudian, aku tersadar, Entah apa yang aku lakukan sendirian disini. Aku melirik ke atas. Ah, seseorang yang kutunggu masih belum berada di tempatnya. Aku pikir harus menunggu lagi…

.. Menunggu apa yang akan kulakukan.Tidak, Aku sedang menunggu apa yang sudah direncanakan untuk kulakukan.

**

Di duniaku, semuanya seakan serba kebetulan. Padahal sebenarnya tidak ada yang namanya kebetulan, semua sudah direncanakan sesempurna….mungkin.

Lihat, hujan turun, dan kebetulan di dalam rak di dekatku masih ada satu payung yang belum terpakai.

“Athena tunggu!” aku berlari ke tengah hujan, memayunginya.

“Makasih, tumben?” ujarnya sambil tersenyum

Aku membalas senyumannya “Sebenarnya, Tidak ada yang namanya tumben, dia sudah memutuskan aku untuk bergerak dengan caranya sendiri”

“Maksudmu? Dia?”

Aku mengangguk “Hujan, kamu dan bahkan payung yang berada disebelahku, adalah rencananya”

Gadis itu mencibir. Aku cuma mengangkat bahu.

Aku melihat kebelakang, gadis pujaanku masih disana, mudah-mudahan dia tidak melihatku melihatnya.

**

Begitulah,aku sudah lama jatuh cinta kepada gadis itu, semenjak aku melihatnya serius di mejanya pertama kali. Dia beda, jelas, dia beda dari kebanyakan gadis di sekelilingku. Bukan. bukan kecantikannya, Kalo cantik, Athena itu cantik, tidak ada yang bisa membantah. Malah, aku curiga, Dion, ketua OSIS SMA OLYMPIA ini, juga menaruh hati padanya.

Aku selalu bisa melihat kesungguhan dimata gadis tersebut, tapi aku juga melihat sejuta keceriaan, walau aku cuma curi-curi memandangnya. Aku juga suka saat dia berbicara sendiri atau saat aku melihatnya membaca komik lain di pojokan sana.

Seseorang mengagetkanku.

“Athena”

“Masih?” tanyanya pelan

“Dia sedang tidur” aku memandang ke jendela.

“Sudahlah, Kau mengaguminya terlalu berlebihan”

“Kau seharusnya mengaguminya juga” balasku masih memandang langit dari jendela.

“Yap, aku mungkin.. berterimakasih, tapi aku tidak akan mengaguminya seekstrem kamu ”

“Ekstrem ?” kadang aku heran dengan pilihan kata Athena.

“Menurut aku, kamu sudah tergolong kategori ekstrem, dan, kamu bisa saja melakukan hal-hal yang membahayakan orang lain, atau dirimu sendiri, aku sih cukup berterima kasih dan aku tau posisiku, percayalah, sesuatu yang berlebihan tidak pernah baik”

Aku menghela nafas, gadis ini terlalu serius. Aku kembali duduk di bangku ku di pinggir jendela, bangku kedua dari belakang, spot khusus karakter utama di komik-komik,.

“Menurutmu apa yang akan terjadi berikutnya ya?” Athena yang sudah kembali ke bangkunya di sebelahku tiba-tiba bertanya.

“Entahlah, bagaimana kalau tiba-tiba langit terbelah dan monster raksasa muncul?” aku menjawab asal.

“Kau dapat pemikiran aneh itu darimana?” Tanyanya kemudian

“Entahlah, muncul begitu saja”

“Kau bosan ya?” tanyanya kemudian.

Aku tak menjawab, kembali memandang jendela. Berharap sesuatu luar biasa terjadi di luar sana.

Tapi sepertinya aku harus menunggu lagi. Dia tertidur di mejanya, sepertinya sangat kelelahan.

**

Aku menyelesaikan sekolah seperti biasa, tak ada monster raksasa atau sejenisnya.

Membosankan, bahkan Guru Bahasa Inggris cantik atau perawat seksi di UKS tidak lagi menarik perhatianku…

Tiba-tiba, Sebuah bola basket datang ke arahku! Untungnya. aku di takdirkan bisa menangkapnya dengan sempurna

“Woi, Siniin bolanya !” Dion, lelaki paling sempurna di SMA Olympia berteriak kepadaku.

Aku menatapnya. Dia balik menatapku, sambil menggerakkan tangannya- menantangku untuk maju.

Sial. Kakiku mulai bergerak,aku sudah tahu ini akan berujung dimana.

Tolong aku, kataku perlahan dan memandang ke atas.

Aku merendahkan tubuhku, melakukan dribble terbaikku, sampai di depan Dion, berbalik, melakukan feint. Tapi ternyata Dion sudah kembali berada didepanku, sepertinya dia sudah membaca gerakanku. Tidak, makhluk ini memang diciptakan untuk menyulitkanku. Aku sudah tahu itu.

Aku masih memindahkan bola dari kiri ke kanan. TAP, detik berikutnya aku melompat dan memaksakan sebuah jump-shot, tapi Dion sudah lebih dahulu melompat dan berhasil menghentikan tembakanku

Aku tertawa.Aku harusnya sudah tahu hasilnya. Tapi mencoba tak ada salahnya kan? Entah kenapa aku percaya, Dia memerintahkanku untuk mencoba, berhasil itu optional.

Aku terjatuh, Dan sebuah tangan menolongku. Athena. Ah, aku juga sudah menebaknya.

Klise

Lagipula, apa aku benar-benar punya pilihan?

**

“Ada apa sih?” Pertanyaan yang sama, untuk kesekian kali keluar dari mulut Athena,semenjak aku menarik tangannga ke arah rooftop.

“Menurut kamu ?” Aku bersandar di jeruji lantai paling atas Olympia ini.

Athena menggeleng.

“Aku sayang kamu” ujarku pendek kemudian menatap ke langit sore.

“Maksudmu?” dia menatapku

“Iya, aku sayang kamu, aku mau kamu jadi kekasihku” kali ini aku menatapnya.

Dan kami berdua pun hening.

“Terima kasih…” katanya memecah sunyi,wajahnya kemudian memerah “tapi..”

Aku kaget, kenapa ada ‘tapi’ ? bukannya cerita ini di ciptakan untukku?

“Tapi apa? “

“Tapi aku udah ama seseorang” jelasnya kemudian.

Aku masih mencoba tertawa. “Dion ya?”

Dia mengangguk pelan, kemudian berair mata dan berlalu dari pandanganku.

Tak mengejarnya, aku malah langsung memandang ke langit.

“Kau yang disana, boleh aku tau cerita ini akan kau bawa kemana?” Kali ini dengan sedikit berteriak.

Sementara, dia yang di atas sana sibuk dengan headphone-nya, mengangguk-angguk, sambil tangannya sibuk menggambar di kertas lain. Dia pasti tidak mendengarku.

Aku pun berbaring di rooftop memandang langit sore itu. Gadis itu masih disana, sibuk dengan pensilnya.

**

Aku duduk di bangku-ku. Athena datang, memberikan senyuman kepadaku, aku tersenyum balik. Semuanya normal. Menurutku terlalu cepat. Tapi aku bisa apa?

Aku kemudian memandang keluar jendela, dan sepertinya aku melihat gadis itu tersenyum kepadaku.

Dia masih tersenyum setelah yang dilakukannya padaku? Aku bingung.

Aku mengembalikan pandanganku ke depan kelas. Wali kelasku masuk, dan seseorang masuk bersamanya. Seseorang yang,,

Aku kembali memandang keluar jendela..

Gadis di luar jendela sekarang juga berada di hadapanku. Persis. matanya, kacamata, rambut pendeknya yang sedikit ikal…..

Narsis. Dia baru saja menghadirkan dirinya sendiri.

Aku tertawa. Sepertinya bukan aku seorang yang susah memisahkan komik dan dunia nyata. Tapi aku suka. Cerita ini sepertinya akan lebih menarik.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s