Ada Apa Dengan Rama?

Aku menyesap kopi hitam tanpa gula favoriteku, ini ajaran Yuli, sahabatku, menurutnya gula menghilangkan aroma alami kopi yang bisa meningkatkan kinerja otak beberapa kali lipat, jangan tanya aku ini benar atau tidak, aku cuma mengulang apa yang dikatakannya.

Lagi-lagi aku harus menarik nafas setelah membaca cerita pendek majalah langgananku ini. Rama, penulis favoriteku paling tidak setahun belakangan, sekarang tidak lagi hadir dalam cerita-cerita yang kubaca, walau namanya tetap ada di pojok sana. Aku tidak lagi bisa menemukan kisah cinta yang tidak biasa di tulisannya, kisah cinta yang berbeda, yang dewasa dan tidak manja dan penuh retorika.

Rama, aku selalu suka mengimajinasikan sosoknya yang sempurna, aku membayangkannya bagai pahatan tuhan pada patung-patung Yunani, tapi dengan organ seksual dengan ukuran yang jauh lebih mempesona. Aku membayangkannya dengan rambut gondrong hampir sepunggung, dengan mata elang dan rambut-rambut halus yang menghiasi muka, dengan tubuh tegap kecoklatan. Khas pecinta yang luar biasa, seperti apa yang sering terlihat dalam cerita-ceritanya.

Sekali lagi, belakangan ini Rama menjadi sosok yang berbeda. Dia lebih memilih politik dan kontrol sosial sebagai pelabuhannya yang baru. Contohnya, dari tiga tulisan yang kubaca belakangan, aku bisa melihat bagaimana dia terus mencoba mengkritik kebijakan-kebijakanpemimpin negara ini lewat analogi-analogi di ceritanya. Masalahnya, just not my cup of coffee.

Berbeda dengan Yuli sahabatku, dia pasti orgasme dengan kisah-kisah ini. Dia pecandu politik dan konspirasi kelas berat, pecandu pejabat partai politik juga, tapi menurut ceritanya, betina satu ini tidak bisa orgasme dengan mereka.

**

Konon, saat kau mengetahui dan memahami sesuatu lebih dalam, mengenal seseorang lebih dekat, kau akan lebih sering menemukan sesuatu tentang mereka di sekelilingmu, efek ini dikenal dengan ..ah, sorry aku lupa, Yuli pernah menyebutkannya kepadaku. Pokoknya, ini yang terjadi dengan cerita Rama, entah kenapa mudah sekali bagiku menemukan kisah Rama di majalah yang lagi-lagi kebetulan ada di rak samping mejaku di café itu. Aku tau dia menulis di beberapa majalah dan tabloid, tapi entah kenapa, sepertinya semakin banyak aku merasa membaca ceritanya, maka semakin banyak yang ternyata aku belum baca. Sekarang, setelah mempertanyakan raganya, aku mempertanyakan bagaimana proses kreatif berpikirnya, berapa cerita yang bisa ia tulis dalam sehari,seminggu, sebulan, setahun? Berapa ide gila yang lahir di kepalanya dalam setahun, sebulan seminggu, sejam,sedetik ? kisah-kisah di majalah di depanku ini, adalah bukti, seakan-akan di duniaku cuma ada satu penulis : Ramayana.

Percaya atau tidak, aku orgasme, walau itu cuma di kepalaku. Di luar aku cuma memunculkannya dalam bentuk senyuman, karena aku merindukan tulisan-tulisannya yang seperti ini: kisah cinta pilu yang tak perlu mendayu-dayu, misalnya seperti yang sedang aku baca ini, bagaimana ketika seorang perempuan memilih untuk tetap melanjutkan pernikahannya walau dia tau dia sadar dia tidak mencintai calon suaminya, karena seperti yang Rama tuturkan lewat si tokoh:

Menurutku, kita tidak pernah tau siapa jodoh kita, karena jodoh, buatku tidak berakhir di pelaminan. bahkan aku percaya, kalau kita sampai mati pun tidak akan tau siapa jodoh kita, apa kau berpikir kalau suami mu adalah jodohmu? bisa saja iya,bisa juga tidak. Kenapa tidak? karena bisa saja kau bercerai dan menemukan lelaki lain yang lebih baik, tapi apa lelaki lain itu adalah jodohmu , kau yakin? bisa saja kemudian dia juga berselingkuh. Mungkin kau akan menjawab, bagaimana kalau semua baik baik saja ? dan hidup sampai akhir hayat memisahkan kalian? apakah itu jodoh? bisa jadi bisa tidak, tapi satu hal yang pasti, kalian cuma menganggap siapapun jodoh kalian, karena kalian menerimanya sebagai jodoh, selesai perkara.

“Mau order lagi mbak?”

Aku kembali ke dunia nyata, ketika seorang waiter datang menghampiriku,  kemeja putih dan sebuah vest hitam terlihat sempurna membalut tubuh sempurnanya, rambut gondrong yang dikuncir rapi, serta dagu keras…

Aku tertegun sejenak, apakah dia Rama-ku ? ini nyata atau apakah aku masih terlarut dalam gelas kisahnya?

“Nanti aja mas, saya masih nunggu teman” jawabku sambil kemudian memberikan senyuman termanisku.

Tak terasa, sudah hampir satu jam aku menunggu di sini, sendirian, si nenek sihir itu masih belum muncul. Aku tau, sebagai seorang konsultan politik, dia sangat sibuk , tapi bukankah masa itu sudah lama berakhir? sisanya cuma mereka yang cuap-cuap di media sosial yang merasa paling tahu tentang keadaan negeri ini, sementara orang orang yang berada di dibalik layar seperti Yuli sekarang harusnya sudah ongkang-ongkang kaki. Seharusnya, Setauku.

Yuli masih belum membalas satu pesanku di lima media sosial dimana kami berhubungan, telpon tidak diangkat, dan kopi di depanku tidak lagi penuh.

Speak of the devil. Dering lonceng di pintu masuk café ini berbunyi, tak lama , seseorang masuk, dan kemudian melambai ke arahku. Ternyata dia tidak sendirian, dia bersama seorang pria yang tidak kukenal, korban baru lagi sepertinya, padahal baru seminggu yang lalu dia memperkenalkanku dengan Razid, seorang manager hotel keturunan Arab, yang lebih muda darinya.

“Sorry lama, tapi gue yakin Lo ga bakal bisa marah ke gue, soalnya seperti gue bilang di telpon kemaren, gue punya surprise !”

Aku masih bingung

“Surprise apa sih darling?”

Yuli masih tersenyum

“Res, ini fans berat kamu yang sering aku ceritain…”

“…dan Shinta, ini Ares, atau..Ramayana, whatever, pengarang favorit lo” ujarnya datar, seakan-akan dia baru saja memberitahukan kalau yang di depanku ini adalah selebritis yang kemaren baru perang di twitter.

Jujur, aku cukup kaget, pangeran idamanku ternyata agak berbeda dari imajinasiku selama ini, imajinasi yang kusimpan sendiri, bahkan mahluk cantik didepanku ini pun tidak tau. Yuli cuma tau aku sebatas mengidolakannya, dia tidak tau kalau dia lelaki didepanku ini adalah sosok yang mengisi fantasiku, walau bukan dengan raga seperti ini…..

Aku tersenyum kemudian mengulurkan tangan, ragu-ragu dia menyembut uluran tanganku dengan jari jari tangannya yang besar,

“Aku suka tulisan kamu”

“Ma.. makasih” balasnya pendek. Gugup,membenarkan letak kacamatanya yang melorot turun.

Aku sekarang benar-benar kaget. Jelas, pria di depanku bukan Rama. Lihat, dia Kemudian cuma diam dan membiarkan aku dan Yuli melepaskan rindu kami.

**

Akan kuceritakan lebih banyak tentang Yuli sahabatku ini, sebelum berkarir di dunia pollitik seperti ini, dia adalah mantan model majalah wanita, dan sepertinya dia memang terlahir untuk itu. Wajahnya persis Lana Del Rey, kembarannya yang langsung menjadi penyanyi favoritenya itu. Selain itu, menurutku tak ada yang bisa menolak tubuhnya. Tinggi badannya tidak menyebabkan lekukan tubuhnya menjadi tidak menarik. Yuli memiliki ukuran sempurna untuk bagian – bagian yang digilai kaum Adam, dan sebaliknya, membuat iri kaum hawa, termasuk aku. Tapi ada yang jauh luar biasa di banding semua itu : otaknya. Seandainya aku lelaki, aku akan menikahi dia karena bagian yang satu ini.

Sorry belum sempat cerita, soalnya emang cepat banget, pengarang favorit lo ini ternyata temennya temen gue, beberapa kali jalan, kita ngerasa cocok. Serius, gak kayak tebakan lo, dia gak banyak omong, tapi gue tau kalau dia beneran sayang ama gue. Dan menurut gue itu udah cukup, tanpa dia harus bilang dia sudah menemukan perempuan yang selama ini cuma bisa dia temukan dalam cerita-ceritanya!!

Trus, lo sendiri niat serius?” aku menyalakan sebatang rokok mint favoriteku, mengepulkan asapnya ke angkasa.

Kayanya, gue juga udah menemukan apa yang gue cari Shin, kita udah sepakat buat maju ke next step”

“Secepat itu?”

Yuli menganggukkan kepala.

Setan ! Aku jadi ingat percakapan di apartemennya kemaren.

Aku mungkin masih bisa menerima bagaimana seorang Rama bisa mencintai seorang Yuli, atau sebaliknya, bagaimana Yuli bisa langsung relate dengan Rama, atau Ares, seperti Yuli memanggilnya. Cinta memang seajaib itu. Mungkin.

Sementara, aku cuma belum bisa menerima kalau Rama-ku berubah!

Sejujurnya, Aku mau terus bercerita banyak, dan mungkin menebak nebak. tapi semua ini sudah berakhir!

Aku menghabiskan sisa kopi manis di mejaku pagi ini. Aku buru-buru, sahabatku ditemukan tewas di apartemennya tadi malam. Bunuh diri. Setidaknya begitulah yang disampaikan polisi dan penyidik. Sementara, aku tau pasti kalau Yuli tidak mungkin melakukan itu.

Ares, Lelaki malang itu, pasti sangat kehilangan. Aku tau itu. Tanpa Yuli cerita pun, kemaren aku juga bisa melihat pancaran penuh cinta dari matanya, tapi aku sama sekali tidak peduli! Di kepalaku Cuma ada satu hal : pasti ini akan jadi bahan cerita yang menarik untuk Rama-ku!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s