SRIG4LA

Aku kembali menyeruput segelas kopmil – kopi milo, minuman favoritku di tempat ini, sambil melihat jam tanganku. Ternyata makhluk-makhluk itu belum berubah, masih belum bisa memenuhi janji tepat waktu.

Selain kopmil super istimewa ini, CLASSIC mungkin tidak ada istimewanya di banding warkop lainnya , menunya pun tidak ada variasi baru semenjak aku duduk di bangku sekolah dulu. Tunggu! Kalo ada yang membuatnya istimewa mungkin cuma si uni, istri si pemilik yang makin lama makin terlihat cantik dan sexy saja.

Sial. Aku jadi seperti mereka. Aku tersenyum sendiri.

“Mereka udah dimana?” tanya lelaki di sebelahku.

“Katanya sih udah dekat ” jawabku melirik pesan di smartphone. Aku memasukkan kembali benda tersebut ke dalam kantong, kemudian mengedarkan pandangan kepada muda-mudi yang memenuhi tempat ini. Untuk ukuran warkop, classic memang terbilang lumayan ramai, entah karena si uni tadi, atau karena kopmil nya super enak. Ah, kalian musti coba roti bakar spesial nya juga..

Smartphone ku berbunyi.

ini pasti dari mereka, bathinku

Tapi ternyata aku salah. Aku membaca pesan tersebut, membalasnya, kemudian tersenyum sendiri

**

“Satu roti bakar spesial, satu nasi goreng, kopmil dan susu murni ” Uni meletakkan orderan kami, “Silahkan” katanya kemudian.

Aku dan gadis didepanku ini mulai menikmati makanan sambil berbincang tentang perjalanan kami hari ini. Aku masih menyendok nasi gorengku, saat tiba tiba, sepotong kecil roti bakar sudah ada di depan mulutku.

“Uda musti coba” Ujarnya diikuti sebuah senyuman.

Aku kaget, ini pertama kalinya aku kesini, dan ini juga pertama kalinya aku keluar dengan seorang gadis. Bukan, ini bukan kencan, kebetulan saja juniorku ini bersedia menemaniku mengurus proposal dan perijinan untuk acara ekskul kami bulan depan.

Aku memasukkan roti itu ke dalam mulut, menatapnya yang tersenyum balik menatapku.

“Enak kan Da?”

**

“Sorry telat, si anjing ini minta nomor cabe-cabean dulu”

Anjing ! kenangan manis ini akhirnya harus terhenti saat dua bangsat ini datang,

”Iya, gue kan mintanya buat lo” Jawab yang satunya sambil meletakan ransel di kursi kosong.

Aku tertawa, sudah sangat hafal dengan gaya mereka berdua, anjing teriak anjing!

“Eh, Langsung pada pesan aja, gue udah duluan nih”

“Gampanglah, sebat dulu” ujar Rex sambil mengeluarkan sebatang rokok dari kantongnya, menyalakannya, kemudian memandang sekitar. “Gak berubah banyak ya” komentarnya pendek.

Aku mengangguk, Leon juga mengambil rokoknya, mengambil korek milik Rex dan kemudian ikut mengepulkan asap ke udara.

“Rokok, Lang” tawar si gondrong Leon kepada temanku.

Temanku cuma tersenyum.

“Masih satu aliran sama mahluk ini?” sambung Rex kemudian melirikku. Begitulah, mereka sudah lelah meracuniku untuk mencoba racun ini, tapi usaha mereka masih belum berhasil. Paling tidak sampai saat ini.

Elang mengangguk.

“Bagus, kami ini sudah rusak, jadi ….” Leon mulai berceramah,

“Gak usah bawa-bawa gue, kalo lo yang rusak, lo aja, gue mah masih aman-aman aja” Potong Rex cepat.

Leon ini memang suka asal ngejeplak, tapi biar bagaimanapun, sebagai pemilik wajah terklasifikasi tampan rupawan, maka dunia wajib memaafkan dan memaklumi. Wajah semi orientalnya laris manis seiring bertambahnya fans drama korea, membuatnya menjadi kryptonite bagi cewek-cewek. Sementara temanku yang satunya, Rex, terbilang berkulit gelap, tapi dia tetap manis, maklum, ada darah Hindustan mengalir di tubuhnya. Rambutnya yang selalu di potong pendek, berbanding terbalik dengan rambut rambut halus yang tumbuh lumayan subur menghiasi pipi dan lehernya. Keduanya teman ku satu SMA, dan kebetulan keduanya adalah pemilih tempat tertinggi di kasta sekolahan. Dulu, Rex adalah ketua OSIS, sementara Leon adalah vokalis garis miring gitaris band sekolah.

Aku? aku cuma kebetulan bisa berada di antara mereka. Ceritanya waktu sekolah dulu aku adalah ketua PKS : Pengurus Koran Sekolah, Ekskul paling di remehkan di sekolah. Sayangnya, Tuhan maha adil, kebetulan di tahunku, ekskul tersebut menjadi sarang cewek-cewek cantik. Jadilah keduanya yang merupakan predator kelas atas, harus bersahabat denganku demi mendapatkan akses VIP.

Elang? Elang adalah sahabatku dari kecil. Sayangnya di SMA dia beda sekolah dengan kami bertiga. Sekolah elang adalah sekolah elite yang diasramakan, sekolah anak baik-baik, kalau kata makhluk-makhluk di sekolah kami. Sampai ada yang mengatakan kalau cuma ada dua jenis stereotype murid di sekolah Elang : pertama, yang rajin ke pustaka, dan yang kedua, rajin ke mushalla. Padahal aku tau, itu sama sekali tidak benar. Contohnya temanku ini, di balik kacamata dan tampilan rapi jalinya, dia juga tidak jauh beda dari dua mahluk didepanku. Entah berapa banyak gadis gadis sekolah yang jadi korbannya, baik yang single maupun yang sudah milik orang lain, walau di luaran dia selalu tampil persis seperti anak anak sekolahnya yang lain : bullyable, istilah lain yang kudapat dari dua mahluk didepanku. Aku sering bersama elang dalam tiap kesempatan, karena itu dua mahluk ini mengenal Elang, walau tak begitu akrab, yah, tidak disalahkan juga, mungkin cuma aku satu satunya teman Elang, yang lainnya : musuh. Aku dan Elang sudah seperti Batman dan Superman, tepatnya : Aku Batman, dan dia Superman.. yang di benci oleh dunia. Bedanya dia jadi public enemy bukan karena meteor, fitnah Lex Luthor, keinginannya menguasai dunia karena dendam, atau ketakutan masyarakat karena kekuatannya yang menyerupai dewa. Bukan karena itu semua. Elang jadi public enemy murni karena kelakuannya, dan dia tidak keberatan dengan itu. Selain itu…

Maaf, lagi-lagi aku suka kelewat batas kalau cerita tentang sahabatku ini…

Pokoknya, si Superman ini, tau semua rahasiaku, tapi seperti seharusnya : Batman juga tahu semua rahasia rekan-rekannya.

“Jadi mau order apa nih ganteng-ganteng?” Uni sudah datang ke meja kami menyerahkan menu, membuyarkan lamunan ku dimana suatu saat aku harus berhadapan dengan Superman..

“Saya susu donk Uni” Leon yang duluan angkat suara. Sebuah umpan manis yang menyebabkan lamunanku tentang komik-komik yang konsumsi benar-benar berhenti.

“Kalau gitu dua ya ni, susunya” sambung Rex, sukses memakan umpan Leon.

“Dingin?” tanya Uni.

“Yang hot donk ni” lagi-lagi Leon mencoba menerobos garis pertahanan.

Aku geleng geleng kepala, Elang tersenyum.

“Okay, dua susu panas. yakin, ga mau order yang lain, atau mau ganti, mungkin?” Tanya Uni sambil tersenyum, dia sudah hafal dengan tingkah laku temanku ini.

Leon terlihat berpikir serius. Walau aku tau itu Cuma akting.

“Kopmil dingin deh Uni, lo juga kan Rex?” ucap Leon yang kemudian segera di respon dengan anggukan Rex. Uni menggelengkan kepala dan berlalu dari meja kami.

“Kelakuan“ komenku pendek.

“Salah kami apa, kami Cuma order sesuatu yang ada di menu kan?”

Leon menunggu jawaban,tapi tidak ada yang peduli, akhirnya, dia melanjutkan sendiri pembelaannya.

“Otak lo bokep sih…. kirain gue doank”

Sementara Rex cuma tersenyum, ia memang tipikal pemuda yang agak berwibawa, tidak heran dia mengungguli Leon di pemilihan ketua OSIS waktu SMA dulu. Walau dalam beberapa kali kesempatan Leon selalu membual kalau Rex terpilih karena dia mengundurkan diri, dan menyerahkan suaranya kepada Rex.

“..Karena itu buat kawan-kawan yang memilih saya saya minta maaf, dan seandainya memungkinkan, saya sarankan memberikan suaranya kepada sahabat saya Rex, yang lebih pantas memimpin kita semua”

Aku masih ingat dengan penutupan pidato Leon tersebut, walau, aku percaya, seandainya dia tidak mengundurkan diri pun, Rex masih akan tetap unggul : siapa yang mau punya ketua OSIS yang tidak bisa menjaga kelakuan seperti si gondrong ini? Rex memang bukan yang terbaik, tapi dia jenis yang bisa mengatur kapan dan dimana harus menunjukkan kuku dan taringnya

…….. walau kadang terbawa pengaruh buruk si Leon juga,seperti kejadian barusan.

“Melody apa kabar ?” Rex kemudian bersuara.

Aku mengangkat bahu, aku memang sudah tidak ada kontak lagi sejak penolakan itu, sebenarnya bukan penolakan juga, tapi mungkin prapenolakan. Ceritanya, ketika aku mau menyatakan perasaanku kepada sekretaris PKS cantik berkacamata itu, dia sudah duluan memintaku memberikan surat cintanya kepada temanku ini.

“Dasar kak Rex, pengkhianat!” ujar Leon kemudian mencibir.

Aku melirik Elang. Cepat. Dia melirik balik dan memberikan jari tengah. Kebetulan, kata-kata tadi adalah kata-kata yang sudah entah berapa kali dialamatkan kepada temanku ini.

“Pengkhianat dari mana, dia yang ngasih surat, trus gue bisa apa ?”

“Kan lo bisa cari alasan, pengen serius belajar atau apalah, itu lebih baik daripada mengkhianati teman sendiri!” ujar Leon berapi-api. Terdengar sangat solider, tapi aku tau mahluk ini tidak pernah serius.

Rex mematikan rokoknya di meja “Sekarang kalau lo di posisi gue, dengan Melody menyerahkan diri ke elo, apa lo bakal nolak?”

“Ya gak lah, jangan asal nuduh donk ! ” Leon menjawab cepat.

Aku tertawa, obrolan keduanya memang terdengar tidak berprikemanusiaan, tapi aku sudah terlalu terbiasa dengan mereka, kalau sudah bertemu becandaan kami pasti tidak jauh – jauh dari hal ini. Begitulah, Kami memang bekerja di tempat yang berbeda-beda, Aku masih di sini,di kota ini, bekerja sebagai wartawan di Koran lokal, Leon sedang merintis karirnya sebagai pemusik di ibukota, Rex sendiri mungkin yang paling beruntung : menjadi PNS , pekerjaan idaman para orang tua kami, sementara Elang yang paling makmur : meneruskan usaha warung nasi milik orang tuanya.

“Makasih uni manis ” kata Rex sopan saat uni mengantarkan pesanan mereka, tersenyum, dan berlalu dari sana.

“Gila, makin gede aja ya….” komentar Leon pelan kemudian menikmati minumannya.“….warungnya, terakhir ke sini gak segede ini kan ?” Sambungnya kemudian persis beberapa detik sebelum kotak rokok kosong Rex mendarat ke wajahnya. Aku dan Elang Cuma diam. Ya, kadang Leon memang segaring itu.

“Serius gue, jadi ingat ama duo yang lagi hits itu, ah, sial gue lupa namanya !” Sambungnya kemudian bingung sendiri. Leon kembali meminum kopi milo dingin di hadapannya

“…Haus gue” ujarnya tanpa ditanya. Elang tertawa.

Diam sebentar, Leon menyalakan lagi sebatang rokok

“ Rex, kalo lo disuruh pilih nih ya, lo mau yang mana?”

Rex tersenyum “Gue ga milih dua duanya, lo ambil aja. Kalau cuma soal fisik, gue mending si Cleopatra” ujarnya sambil menyunggingkan sebuah senyum jahat.

“Pengkhianat! Pengkhianat!!” ujar Leon menunjuk-nunjuk ke Rex sambil berteriak. Overacting seperti biasa.

“Gue salah apa lagi, Leon?” Ujarnya sambil kemudian tertawa.

“Lo masih nanya? itu kan bidadarinya mahluk ini” Kali ini Leon menunjuk-nunjuk ke arahku “Sayangnya…” Leon member jeda di sana, “…. mahluk ini kurang usaha” lanjutnya kemudian.

“Doi udah merit kan?” Tanpa mempedulikan leon, Rex bertanya,kepadaku.Serius.

“Cleo yang…..” Setelah sekian lama tiba-tiba  Elang bersuara.

Aku kaget, sekaligus khawatir, soalnya momennya tidak tepat. Untungnya Leon langsung memotong…

“Yohaa, Cleo yang…” Leon membentuk tangannya meliak liuk membentuk biola.

Aku menghela nafas.

**

“Nafasnya ampe gitu, Santai aja uda, mama papa gak di rumah kan?” ujarnya sambil memegang tanganku.

ah, salahku juga yang mengundangnya ke rumah saat orangtuaku keluar. Sumpah, aku awalnya memang tidak punya maksud apa-apa. Tapi, posisi duduk kami yang amat berdekatan di sofa….

**

“Ga usah dipikirin, Ga salah lo juga sih, she’s untouchable….” Ujar Rex bijak, kemudian mengambil sebatang rokok milik Leon.

“….waktu kuliah dulu dia kan junior gue. Kata anak-anak dia emang rada tertutup. Kaya ada trauma gitu ama cowok.Gue beberapa kali sempat BBM, tapi di BBM sekarang balesnya besok, gitu-gitu lah” Sambungnya kemudian sambil menyalakan rokoknya.

“Ya gimana gak males, lo sering BBM-an cuma buat minta foto foto hot doi kan?“ sambut Leon kemudian mengedipkan matanya.

Rex diam sejenak. Menatap Leon serius,kemudian meminum kopmilnya, “Manusiawi, namanya juga usaha. cowok normal mana sih yang gak tergiur ama doi. Lo janjian juga kan di ibukota? ngajakin dia clubbing bareng segala macam” Bales Rex tidak mau kalah.

Sekarang giliran Leon terlihat kaget karena pergerakannya ketahuan. “Tapi, tapi ….kan gak jadi. Dia sibuk dan segala macam. gitu-gitu lah”

Elang tertawa melihat kedua temanku, dia kemudian melirikku. Sekarang giliranku memberinya sebuah jari tengah.

**

“Tapi aku sayang uda. Uda beda ama teman-teman uda yang lain” ujarnya sambil menatap mataku. Syahdu.

Aku menghela nafas. Berat.

“Terimakasih, tapi maaf Cleo. Uda belum bisa lebih dari ini” Jawabku sambil mengalihkan pandangan ke atas, menuju langit sore. Jujur, aku tidak berani menatap mukanya.

Aku tau ini jahat, cuma aku memang belum bisa merubah status kami lebih dari ini. Atau aku memang tidak mau?

**

Entahlah. kenangan itu hadir kembali saat aku berada di atas vespa menembus dinginnya malam setelah reunian kecil tadi.

“Lo kenapa gak cerita yang sebenarnya sih ke mereka?” tiba-tiba Elang bersuara.

Aku kaget, ternyata rumor kalau Superman bisa membaca pikiran itu benar adanya, atau .mungkin Superman memakai pendengaran supernya untuk……ah, sudahlah!

“Lo tau sendiri kan gimana mahluk-mahluk itu?” Aku balik bertanya.

“Tapi..” Elang di boncengan sepertinya masih penasaran.

”Udahlah, gue juga udah janji ke dia ga bakal cerita ke siapapun” Aku diam sejenak “ Lo sih pengecualian ya Lang”

Aku kemudian terdiam lagi menatap jalan yang sudah mulai sepi .

“Lagian, lo tau sendiri kan kalo gue cowo baik -baik?” tanyaku  tiba-tiba.

“Dasar Srigala” jawab Elang pendek, dan kami pun tertawa.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s