Di Sebuah (per)Nikahan

“Gimana Ma? Besok jadi ke nikahan Trei?” Aku yang sedang sibuk dengan handponeku kaget.

“Sorry. Papa nanya apa??”

Suamiku tersenyum kemudian mengusap kepalaku.

“Makanya gosip jangan serius-serius amat . Besok jadi ke nikahan Trei kan?”

Suamiku mengulang pertanyannya.yang sebenarnya tadi sudah aku dengar. Aku cuma kaget.

“Iyalah pa. Trei ini lho. Masa mama gak datang?”

Ya.semenjak kelahiran anak pertama kami.memang mengubah panggilan nama menjadi papa- mama. Sounds more romantic . Sekalian mengajarkan si Ksatria, anak kami.

“Ya udah, papa tidur duluan, salam buat Angel”

Aku mengangguk .Suamiku tau pasti kalau handphone sudah menempel di tangan,aku pasti sedang sibuk dengan Angel, Menggosipkan apa saja. Untungnya suamiku bukan tIpe pria pencemburu, apalagi curiga tak beralasan.

Bener dia datang?

Tulisku kemudian.

Sent

***

“Hai Ksatria”

Suara itu membawaku kembali ke dunia nyata. membuyarkan nostalgia masa masa kuliah anggota geng kecil ku : Aku ,Trei dan Angel. Pria didepanku ini sedang tersenyum kepadaku, bukan, tepatnya kepada anakku. Ya, ini kali pertama pria ini bertemu dengan Ksatria walau sudah berulang kali titip salam lewat fotonya yang ku obral di sosial media.

“Mau gendong gak?”

Dia tersenyum kemudian menoleh kepada suamiku yang terlihat sibuk dengan teman-teman pria kami yang lain, maklum, Di daerahku ajang nikahan akan selalu menjadi ajang reuni, apalagi setelah Lebaran seperti ini.

“Boleh pak?”

Aku tertawa. Aku tau maksud pria ini. Dia sama sekali tak bermaksud minta izin. Dia memang suka menggoda siapa saja, tapi sayangnya suamiku sudah sangat hafal dengan perangai pria ini. Dia cuma tertawa,

” Berani bayar berapa Pak?” Balasnya kemudian.

Begitulah, sejak dulu suamiku sudah tau persahabatanku dengan mahluk ini, tempatku dulu mengadu kala rIbut dengannya yang waktu itu masih berstatus pacarku, juga bercerita hal hal lain yang semuanya sudah kuceritakan semua pada suamiku.

Ah, mungkin tak semua. Aku tersenyum sendiri..surat itu..

“Kenapa ma?”

Lagi. Kenanganku buyar. Untungnya aku masih sempat memberikan senyum terbaikku

“Itu Pa. Si Ksatria, nurut banget ama si Rama”

Sukses, Suamiku ikut tertawa.

“Padahal ama Angel aja gak mau ikut lo pa” Sambungku meyakinkan.

“Eh.Angel mana ?” Tanya Rama sambil mencubit pipi ksatria yang memang menggoda. turunan pipi mamanya.

“Lah,bukannya aku yang harusnya nanya kamu?”

Statementku beralasan, Rama memang lebih sering terlihat bareng Angel. Walau, Mahluk tampan di depanku ini sebenarnya… milik bersama.

oh.itu terlalu vulgar.

Whatever, Rama ini dulu cowok kami bertiga. Kecuali Trei mungkin. Masalahnya, pacarnya Trei yang sekarang jadi suaminya ini terlalu protektif. Lagian, Wajar sih. Rama ini memang tipikal cowok yang patut di waspadai. Jenis cowok Yang tau titik tirik lemah kami, para kaum hawa.

Ah.tapi kemana ya si angel?

Lagi – lagi aku harus kembali ke realita.

“Kok kamu gak bareng dia Ram?” Ulangku.

“Dia bilang cowonya gak jadi shooting hari ini, jadi gak mungkin kan aku bawa dia”

Aku memandang suamiku. Suamiku tertawa.,

Teman teman kami mulai berdatangan satu persatu, Vio dan pacarnya, Aluna dan anaknya, kemudian menyusul, Shinta dan suaminya.

Aku mencolek Rama. Dia merengut. Aku tertawa.

Yang terakhir ini sukses membuat teman teman ber cie-cie pelan ketika dia datang. Pasalnya mahluk sexy ini punya kisah pahit dengan Rama. Sampai sekarang Rama masih malas berurusan lagi dengan mahluk ini, bahkan menegur pun agak enggan, sementara sebaliknya, entah suaminya tau atau tidak, Shinta entah kenapa masih mencoba menjalin keakraban dengan Rama.

Rasa bersalah. Mungkin.

“Hai” Aku dan Shinta pun bercipika cipiki.

“Hai” ucap Shinta ke Rama, yang di jawab Rama dengan anggukan cepat sambil terus menggendong Ksatria.

Teman teman menahan tawa. sepertinya mereka masih waras dengan mencoba menghargai suaminya yang memang bukan salah satu dari komplotan kami. Rama cuek. Dia tidak bisa disalahkan juga, karena Shinta waktu entah dengan tujuan apa membuat gosip bagaimana Rama memohon-mohon untuk jadi pacarnya dan bagaimana si cantik ini menolak dia. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya.

Setelah berbasa basi, kemudian aku kembali sibuk dengan Ksatria dan Rama. Suamiku sendiri terlihat mendapatkan lawan bicara baru, suaminya Shinta.

Dasar otak bisnis, entah bisnis apa yang mereka bicarakan.

“Batu akik” bisik rama perlahan seperti membaca pikiran ku.

“Kamu tidak ikut?” godaku.

Not my cup of tea, harusnya kamu gak perlu nanya” balasnya mengedip kemudian mengembalikan Ksatria ke pangkuanku.

Aku lagi lagi cuma bisa menggeleng menghadapi blak-blakannya lelaki ini. Aku teringat sesuatu yang harusnya kutanyakan dari tadi. Tapi ketika aku mau bertanya, dia sudah mengambIl rokoknya dan pindah ke meja satunya, bergabung dengan teman temannya yang lain. Mulai membual, seperti biasa.

Aku cuma bisa menghela nafas, melirik ke Trei di pelaminan yang kebetulan juga melirikku.

Mulutnya kemudian membentuk kata ‘apa?’

Aku tersenyum dan menggeleng, dan detik berikutnya Trei sudah kembali tenggelam dalam lautan tamu yang bersalaman.

Perasaanku saja mungkin, tapi aku sempat melihat pandangan berbeda dari Shinta. Pandangan yang sama ketika dulu kami serempak memberikan Tissue ketika kaki Rama berdarah.

Tamu pun datang silih berganti, masalah susu, popok bayi dan kenaikan harga tak terasa membawa kami menuju Ashar. Sementara meja para lelaki sepertinya tak pernah kehabisan materi, wajar, ada Rama disana, heart of the party, pria yang selalu punya cerita, terlepas benar atau tidaknya.

Aku baru sadar suamiku sedang menatapku, dia memberikan kode yang bisa kuterjemahkan sebagai : mau pulang sekarang?

Aku menggeleng. bentar, jawabku juga dengan kode, dan dia mengacungkan ibu jarinya. Aku tersenyum.

Aku memang  masih mau disini, karena aku masih belum foto dengan penganten, aku masih menunggu Angel, dan aku masih ……

speak of the devil! Mahluk itu akhirnya datang..

Didampingi cowoknya yang merupakan pendatang baru di layar kaca, jelas lebih muda, tapi aku rasa Angel tidak peduli itu. Kami pun beradu pipi.

“Sorry jeung, macet”

“Yang macet apanya Jeung ?” Balasku

Aku mengeeling ke arah brondongnya yang sekarang sibuk memperperkenalkan diri kepada cowok-cowok yang sedang berkerumun.

“Apaan sih” jawabnya sejurus kemudian sambil kemudian mencoba menggendong ksatria yang entah kenapa langsung menangis. Aku tertawa.

**

“Mana?” tanyaku pelan.

Dia menggerakkan bahu.

“Dia gak balas” Jawabnya pendek sambil melirik suamiku yang sendirinya sedang sibuk di meja sana.

“Kemaren sih katanya mau datang, emang kamu bener bener gak punya kontaknya?”

Aku menggeleng “ Bahkan semua ajakan pertemanan ku di media sosial tidak digubris”

Angel menggeleng heran,” Ah, sudahlah , lagian kenapa sih mikirin dia lagi, udah ada yang ini lo” dia memegang tangan anakku , yang lagi-lagi ditepis dengan kejam.

“Lagian, itu ada si Rama, gak kangen apa?” bisiknya kemudian.

Aku tersenyum. Rama memang baik, tapi dia melakukannya ke banyak wanita. Dia memang ngangenin, tapi yang aku rindu sekarang bukan dia. Aku rindu temannya, seseorang yang beda, seseorang yang aku tahu sudah menyimpan fotoku dari tahun pertama kuliah, seorang penyendiri yang tidak peduli nasehat orang lain, kecuali kata-kataku. Aku rindu dia. Pria gugup berkacamata yang tak banyak berkata-kata. Pria yang selama ini yang bahkan seakan cuma jadi bayangannya Rama. Aku rindu dia… Seseorang yang ketika tau aku akan menikah kemudian menghilang dari duniaku, sampai dia tidak datang ke pesta pernikahanku, walau berada di kota yang sama.

Aku menoleh kepada suamiku, aku tersenyum. Lagi. Tapi pikiranku bukan untuknya, paling tidak untuk saat ini.

“Kenapa lo gak tanya mahluk itu?” Angel masih bertanya

“ Tadi udah ngobrol, tapi lupa” Jawabku jujur.

“Kebanyakan nostalgia sih!”

“Nah, pas ingat dia udah pindah, tau sendirilah kalo dia udah sama kawanannya itu ‘ ucapku merengut.

Angel kemudian mencoba menghubungi sebuah nomor,tapi memang tidak ada yang mengangkat. Angel mencoba menelpon lagi, tapi kali aku menggeleng. aku sudah pasarah. Akhirnya kami melanjutkan cerita sampai sore menjelang, sampai Rama kemudian berdiri dan mengajak kami semua untuk foto bersama Trei dan suaminya.

Setelah foto, ketika suamiku berjalan lebih dulu ke arah mobil, aku yang beriringan dengan Rama dan Angel memaksakan diri untuk bertanya.

“Teman kamu kok ga datang Ram”

Dia tersenyum “Retorika, kamu pasti tau lah jawabanya” jawabnya sambil melirik suamiku di depan sana.

“Sampai sekarang? Masih?” tanyaku

“Masihlah, kamu harusnya tau gimana terlukanya dia, tapi dia ikut bahagia kok, dia memilih menghilang merawat luka hatinya daripada mengganggu kehidupan kamu.. tuan putri.. dia dari dulu memang sungguh sangat ……Ksatria” ujarnya pelan sambil memberi tekanan pada kata tuan putri dan ksatria.

Aku tersentak, “Kamu tau dari mana?” mukaku memerah.

Dia tertawa sambil berjalan mendahuluiku, bersalaman dengan suamiku, kemudian berlalu dari hadapanku. Aku melirik Angel yang berjalan tak jauh dariku, dia pasti sudah bercerita kepada mahluk ini, kalau lelaki yang aku tunggu itu selalu memanggilku dengan panggilan tuan putri, dan Ksatria adalah panggilanku untuknya. Sebuah rahasia kecil yang aku simpan dari lelaki yang sedang membukakan pintu mobil untukku.

Setelah berdadah-dadah dengan Angel, aku pun masuk dan menyandarkan tubuhku.

“Ma, are you okay?’ tanya suamiku sambil menyalakan mesin mobil.

Aku mencium pipinya.

Never better “ ucapku kemudian.

END.

Advertisements

3 thoughts on “Di Sebuah (per)Nikahan

  1. 1. Kenapa cowok kece, keren dan macho serta sedikit “MURAHAN ” selalu bernama RAMA (ditulisan anda)?
    2. Kenapa kok kesannya penulis ga move on dari drama kisah masa lalu? rata-rata ceritanya kasih tak sampai?
    3. Cukup sekian dan terima diskonan.

    1. Begini saudari nocil kalo ditanya kenapa? jawabannya ..kenapa tidak?

      mungkin memang demikian adanya.. dan mungkin bisa juga seperti ini : jawaban dari pertanyaan nomor satu adalah pertanyaan nomor 2… Gimana?

      btw, next story akan ada cerita kasih tak sampai lagi, tapi tenang, ga ada rama, kita ganti dengan..R..REX..

      btw,RAMA sendiri diambil dari kata drama atau dorama..

      kira kira demikian.moga terjawab dan terima sogokan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s