Busuk

 Naif memang, tapi aku masih tidak percaya dengan sebuah kepercayaan bahwa sudah tidak ada lagi orang baik di kota ini. Kota ini busuk, memang, terserah kau mengartikannya secara harfiah atau pun kau terjemahkan dengan makna tersirat lain, hasilnya akan sama saja : kota ini busuk ! Tapi bukan berarti sudah tidak ada harapan pada mahluk mahluk yang mengisi kota ini bukan?

Siapa aku? aku bukan sesiapa, cuma satu dari kebanyakan makhluk yang mengisi kota ini. Sekarang ini aku cuma perempuan bermasker yang tengah duduk di bangku belakang bus kota yang cukup akrab denganku beberapa hari ini. Mainstream? ya, masker memang gaya khas yang mungkin banyak kalian temui di kota ini. Tapi sebenarnya masker ini bukan sekedar gaya bagi kami, paling tidak ini memang melindungi dari polusi yang sayangnya diciptakan oleh kami sendiri, baik dari kumpulan bangunan yang menggusur perkampungan kecil atau hasil emisi kendaraan pribadi yang diisi orang-orang yang selalu mengeluhkan macetnya kota ini, atau bisa juga dari polusi kecil namun mematikan seperti yang dihasilkan orang disampingku ini, bapak tua ringkih yang entah makan atau tidak hari ini, tapi masih mampu menghabiskan entah berapa bungkus rokok perharinya. Ibu di sebelahku sudah batuk-batuk, entah itu batuk beneran, atau yang sengaja dibuat buat, tapi si bapak tetap cuek menghabiskan rokoknya. Begini, aku jelaskan, aku juga merokok, tapi paling tidak aku tau dimana harusnya aku merokok. Ini area umum Pak ! walau tak ada stiker dilarang merokok di dinding bus yang terkelupas ini. Tua Bangsat!

Bus tua ini masih berjalan, kenek mulai menagih ongkos. Sambil meminta ongkosku, dia masih sempat – sempatnya tersenyum kepadaku, dan aku cuma melengos. Apa aku salah? jelas tidak, dengan wajah demikian, harusnya dia berpikir dahulu, baru tersenyum. Aku sudah mulai terkantuk-kantuk kalau saja sejenis suara yang kubenci mulai berpidato di depan sana. Aku bukan jenis orang yang mudah membenci sesuatu, tapi dua makhluk didepanku ini, bagaimana mungkin dengan tubuh sehat seperti itu masih meminta-minta? Aku menggunakan istilah meminta minta buat tipikal yang satu ini, kerena mereka cuma curhat sebentar dengan nada mengancam, kemudian berjalan berkeliling. Beberapa penumpang memberi recehan, seorang anak muda yang dari gayanya mungkin masih seorang mahasiswa malah menawarkan rokoknya, dan mahluk-mahluk ini mengambil dua batang dari sana. Aku sendiri memberi mereka seribuan lecek, bukan apa-apa, aku masih sayang nyawa. Beberapa dari mereka suka nekad, aku pernah menyaksikan langsung bagaimana seorang bapak diancam pisau ketika alih-alih memberi receh malah menasehati mereka soal minuman keras. Anggaplah aku percaya apa yang mereka katakan dalam pidato curhat mereka yang seragam : seribu dua ribu tidak akan membuat bapak ibu jatuh miskin, tapi seribu dua ribu akan membuat kami gelap mata..

Kembali ke yang aku katakan di awal, aku melihat langsung masih ada bukti kalau memang orang baik itu masih ada. Banyak lelaki muda di bus tua ini, tapi cuma si mahasiswa yang berdiri ketika seorang ibu setengah baya naik dan memberikan tempat duduknya kepada si Ibu. Jujur, buat aku ini adalah pemandangan langka, tapi paling tidak aku bisa membuktikan kalau masih ada orang baik, seperti si mahasiswa di depanku Ini.

Si mahasiswa berdiri, dia mulai berbincang dengan si kenek, wajahnya terlihat ramah dan teduh, dia seperti saudaraku di rumah, yah mungkin seusia dia, tapi dengan penampilan berbeda. Saudaraku terlihat lebih bersih dan ‘terurus’ sementara mahasiswa didepanku ini agak ‘urakan’- kata yang mungkin yang paling tepat disandingkan dengannya. Tapi wajahnya jelas tidak bisa berbohong : wajah cerdas, terdidik. Jadi seharunya aku tidak perlu heran kalau dia memberikan bangkunya untuk si ibu.

Bus tua ini terus berjalan, beberapa penumpang turun, termasuk si bapak yang tadi duduk tepat di sebelahku. si kenek kemudian menyuruh si mahasiswa duduk, dan akhirnya dengan senyum, cowok itu duduk tepat di sebelahku. Aku membalas senyumannya.

“Pulang kerja Mbak?” tanyanya kemudian, aku mengangguk. Masih terlihat kaget, tidak siap diajak bicara oleh orang asing yang baru saja duduk di sampingku.

“Kerja dimana?” lanjutnya.

Aku menunjuk asal ke belakang, dan si mahasiswa cuma mengangguk paham,mungkin dia tahu kalau lawan bicaranya ini sedang tidak mood diajak bicara.

“Turun dimana mbak,?”

Oke, ternyata tebakanku salah.

“Pasar” awalnya aku tidak akan membalas, karena lama-lama aku merasa diinterogasi, tapi entah kenapa senyumnya yang tulus membuat ku luluh juga. Aku berpikir, apa salahnya menjadi lawan bicara yang baik untuk sejenak, toh sebentar lagi aku juga turun, dan kemudian tidak akan saling kenal lagi.

“Sama kalo begitu, aku juga” katanya tanpa di tanya. Aku cuma menganguk anggukkan kepala. Sesekali si kenek melihat ke arah kami. Aku melirik masam.

Seseorang memukul jendela dengan koin, si kenek lari ke depan, sehingga di bangku deretan belakang cuma tersisa kami berdua. Maklum pasar di samping stasiun yang menjadi pemberhentian terakhir bus ini sudah dekat.

Tiba-tiba aku merasakan ada yang aneh..

Ternyata pahaku sudah menjadi tempat pemberhentian tangan si mahasiswa tadi, dan mahluk ini masih sempat tersenyum kepadaku. Aku menurunkan tangannya, tanpa berkata apa-apa. tapi tak lama tangan itu kembali mendarat di pahaku, sekarang mulai mengelus, padahal malam itu aku pakai jeans, bukan rok mini yang konon mengundang perkosaan seperti yang di beritakan di Koran-koran.

Dasar cowok Maniak!

Aku bertepuk tangan. Mahluk di sebelahku kaget dan langsung menurunkan tangannya. Aku kemudian segera turun dari bus tersebut tanpa menoleh ke cowok maniak tersebut.

Bangsat! dia pikir aku apa ? wanita murahan?

Bus itu berlalu, dan mahasiswa itu, kalau memang dia mahasiswa, baru saja berhutang satu nyawa padaku.

Bagaimana tidak ? seandainya aku teriak, tentu saja sisa penumpang bus dengan senang hati akan menghakiminya, tapi aku tidak melakukan itu karena…

Ponselku berdering.

“Di jalan,” jawabku pendek ketika orang di seberang sana menanyaiku.

“Ya sendirianlah, Mas pikir sama siapa ? kan Mas sendiri yang lagi sibuk ama kerjaan,”

Aku sengaja memberi tekanan pada kata terakhir. Efeknya, pria diseberang sana langsung meminta maaf.

“Udahlah mas, aku ngerti kok aku siapa“

Dasar bajingan! Dia pikir aku tidak tau kalau ‘kerjaan’ yang dia maksud adalah waktu untuk kembali ke pelukan istrinya, atau mungkin dengan gundiknya yang lain, ketika dia sedang bosan denganku! Dasar busuk !!

Aku pun akhirnya memutuskan menyudahi percakapan dengan pria tersebut. Menghela nafas, lelah dengan semua kebusukan ini.

Namun, Seperti yang aku katakan diawal, aku tetap percaya, masih ada orang baik diantara busuknya kota ini.

Advertisements

3 thoughts on “Busuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s