Pantai

“Pantai lagi?”

“Iya. Aku butuh vitamin sea Tomi”

Tomi menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi apa dayanya menolak permintaan orang yang paling di cintainya itu?

“Pantai mana?” Lanjutnya kemudian.

“Bebas. Pokoknya aku ingin teriak lepas di pantai, seperti biasa”

Tomi cuma tersenyum.

“Teriak buat apa lagi. Kalau kamu ada masalah, kamu tinggal cerita, gak usah di pendam dan tunggu meledak.Bahaya. Kamu kan udah punya aku”

Ana kemudian duduk di sofa, tepat di sebelah kekasihnya itu.

“Kau tau, lama-lama kau mirip dia Tom”

“Siapa?”

“Grey, kekasihmu”

**

“Lo baik baik aja Grey?”

Operator warnet di sebelahnya terlihat khawatir campur geli melihat dari tadi langganannya itu bersin- bersin tanpa henti. Padahal, biasanya walau begadang hampir tiap hari, dia tidak pernah melihat lelaki satu itu jatuh sakit.

“Aman Bang” Jawab Grey sambil mencoba fokus melanjutkan permainannya di layar monitor. “biasa bang, banyak cewek-cewek yang sedang ngobrolin gue” sambungnya.

“Bangsat“ ujarnya kemudian. Menyumpah ke layar sambil membenarkan letak kacamatanya yang melorot.

“Buktinya apa Grey? Gue gak pernah liat lo ama cewek, Kecuali kalo yang maksud cewek-cewek hentai yang lo download itu”

“Lo denger ya bang, bentar lagi juga ada yang nelpon..” Kilah Grey tanpe mengalihkan pandangannya dari layar.

Belum selesai Grey membual, terdengar Nada dering adu pedang sinar dari serial star wars, berbunyi di handponenya. Grey melihat nama di layar,

“Angkat, cowok lo nelpon tuh” Goda si operator dilanjutkan dengan tawa keras.

Grey diam. Dia tak punya alasan untuk membalas.

**

Weekend ini ada acara? Tanya suara di seberang sana.

“Pengangguran kayak gue mana ada acara bos.Kenapa?”

“Ana ngajak Maen ke pantai”

“Siapa aja?” Grey menghisap dalam rokoknya.

“Gue, Ana, ama lo doang

Grey menghela nafas. Ini bukan pertama kalinya dia jadi third wheel di kencan sahabatnya ini. Tapi yang satu ini agak beda, entah kenapa dia merasa ada ikatan, ada tanggung jawab,karena dia yang menyatukan mereka. Ana adalah teman masa SMA nya sementara si penelpon, Tomi, adalah sahabatnya di bangku kuliah. Beberapa bulan lagi, keduanya akan menikah.

“Nginap?” Tanya Grey kemudian sambil menggaruk- garuk rambut gondrongnya.

“Mungkin” Jawab sahabatnya pendek.

Grey membuang rokoknya yang sudah terlalu pendek. Menginjaknya.

“Ah. Lo aja bos. Gak enak gue”

“Udahlah, nyantai, ini juga Doi yang minta kok”

“Ada apa sih sampai harus ngajak gue?”

Terdengar tawa dari seberang sana “Gak ada. Kita berdua lagi garing aja”

“ Trus kalo ada gue gak garing, gitu?”

“Tetap bakalan garing sih, tapi kan garingnya beda, jadi bertiga”

“Anjing. Tapi..tapi masalahnya…”

“Udah.ngerti gue.semua udah gue atur.tinggal packing. Gue jemput, berangkat” potong Tomi.

Grey tidak menjawab, dia malah memutar mutar Handpone di tangannya.

**

Di musim libur seperti in Grey memang selalu jadi penghuni tunggal 5 kamar kost pak Haji ini. Maklum, dia adalah satu satunya penghuni yang sudah berstatus bukan mahasiswa.

“Sial” tukasnya ketika lampu koridor tak kunjung menyala. Grey keluar, menyalakan senter dari geretan kecil yang selalu setia di saku kemejanya.

“Udah Habis lagi? padahal baru gue isi kemaren” ucapnya heran kepada dirinya sendiri.

Sejak beberapa bulan lalu kost- kostannya Grey memang menggunakan sistem listrik pra bayar yang secara tidak langsung membuat pengeluaran Grey bertambah. Apalagi token di kostannya ini terbilang agak aneh : Diisi sekarang, besok nya benda ini sudah akan berbunyi lagi untuk memberikan peringatan. Ultraman, Grey akhirnya memanggil meteran listriknya berdasarkan tokoh pahlawan Jepang yg cuma bertahan 3 menit dibumi sebelum lampu di dadanya berbunyi.

Whatever” umpat Grey menuju pintu sampai kakinya menyenggol sebuah benda berbungkus plastik di depan pintu.Grey pun melanjutkan membuka pintu kamarnya terlebih dahulu, Kemudian dengan menggigit geretannya, dia membuka paket tersebut.

GRANDMEDINA! Penerbit dimana dia mengirimkan salah satu novelnya.

Grey merobek bungkusan tersebut dan kemudian memaksakan diri membaca dengan geretan tetap di mulut.

Mohon maaf…

Dua kata tersebut berhasil membuat Grey menghela nafas, hasilnya ternyata masih sama dengan sebelumnya. Tapi ini masih mending, beberapa penerbit malah tidak memberikan respon balik terhadap naskah- naskahnya. Nasib yang sama dengan cerpen yang dikirimnya ke koran dan tabloid. Tidak ada yang tau nasibnya.

Dia meletakkan paket tersebut dengan lesu. Mengambil sebuah minuman kaleng dari dalam tasnya. Meminumnya sambil memandang ke kegelapan di depannnya. Sesekali dia sorotkan senter ke langit- langit, Terlihat ada sedikit cahaya di sana. Dia tersenyum, dia matikan lagi, dia nyalakan lagi. Kemudian dia terlelap. Lelah.

**

“Anak itu jadi ikut kan? ” Tanya Ana sambil meminum juice buatannya sendiri.

“Kemaren sih katanya ok” Jawab Tomi sambil memandangi kopi hitam di hadapannya.

Sore itu, Ana dan Tomi sedang berada di kontrakan yang tidak jauh dari klinik Ana. Ya, Ana seorang dokter muda yang sudah membuka klinik, sementara Tomi bekerja di kantor pengembangan daerah, dimana Tomi bertanggung jawab mengurus tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan nelayan dan daerah pantai, dan kebetulan sementara Ana seorang maniak pantai. Jadi memang bisa dikatakan pantailah yang mempersatukan mereka.

Bohong.

‘Pantai yang mempersatukan kita’ cuma kebetulan yang mereka buat setelah mereka bertemu. Kalaupun ada pantai yang memang mempertemukan mereka, pantai itu bernama…

Gerhana Ramadhan Endora Yardana, Raja cahaya yang lahir saat gerhana di bulan Ramadhan.

G.R.E.Y

Secanggih-canggihnya nama tersebut, mungkin terdenger merepotkan,tapi seperti biasa, Grey masih punya pembelaan,waktu masih di bangku SMP, dia punya seorang teman bernama Aristiyani Nur Wahyuni Hadi Pratiwi, jadi masih ada nama yang lebih panjang dari namanya. Sementara panggilan Grey sendiri entah yang siapa yang memulai, soalnya di bangku SMP di masih akrab dengan nama Rama, atau Ramadhan.

“Yakin segini aja? Masih ada yang ketinggalan gak?” Tanya Tomi memandang tas kekasihnya.

“Itu yang terakhir” yang ditanya cuma menjawab singkat, dilengkapi sebuah senyuman manis.

“Habis nikah, kita sekalian bikin rumah di pantai aja ya” Lanjut Tomi sambil kemudian menghirup kopinya.

Ana cuma mengangguk-angguk lucu.

**

Grey keluar dengan sebuah tas kamera dan sebuah ransel kecil. Tomi sudah bersandar di mobilnya, sementara Ana menunggu di dalam ,

“Segitu doank?” tanya Tomi

“Sehari kan ya?” Balas Grey bertanya

Tomi mengangkat ransel sahabatnya itu.kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala.

“Ini isinya apaan?”

“Laptop.novel”

Tomi melirik Ana.Ana mengangkat bahunya.

“Kenapa? Aku kan cuma figuran.tokoh utamanya tuh kalian” Grey membuka pintu dan masuk ke mobil.

“Grey.kita tuh mau ke.pantai. P.A.N.T.A.I ” jawab Ana kemudian.

“Wi-fi lancar kan?” Grey kembali bertanya

**

“Lagi ama Tomi ama Ana Bun, Biasa Bun, Baygon” Tutur Grey di telepon. Tomi dan Ana cuma tersenyum-senyum.

“Salam buat Bunda Grey” ucap Tomi sambil terus fokus ke jalan di depannya.

“Iya bun, eh, Tomi salam Bun”

terdengar balasan dari seberang sana

“Ga lah Bun.bukan gak mau ngenalin, emang belum ada yang pas aja”

“Tenang aja Bun, semua udah ada waktunya kok, rejeki, jodoh, ajal, semua udah ada yang ngatur” Sambungnya kemudian.

Tapi kalimat sok bijak terakhir entah sampai ke telinga bundanya entah tidak, karena di seberang sana yang terdengar cuma “halo” yang berulang ulang dari bundanya, dan kemudian pembicaraan di putus.

Tanpa bertanya, Grey menyalakan rokoknya. Tomi yang sedari tadi mengintip dari kaca pun tanpa bertanya, mematikan AC dan membuka kaca jendela mobilnya.

**

“Gue ama Ana mau jalan. lo mau ikut?” Tanya Tomi Pagi itu, setelah semalam mereka sampai di penginapan.

“Basa basi busuk.udah, gue disini aja”

Grey sibuk membaca novel ditemani sebuah kopi panas, lengkap dengan sebatang rokok di tangan.Laptop kesayangannya juga terlihat parkir di meja di sampingnya.

“Grey.lo kemana gitu. Foto foto. selpi kek .pemandangannya cakep gini” Cerocos Ana

“Lo aja deh An. Lagian gue ga punya instagram ama path juga buat pamer” Kilah Grey tanpa melepaskan pandangan dari bacaannya.

Ana mau membalas, tapi Tomi segera memeluknya kemudian berlalu dari sana.

**

“Lo mau kemana?” Tanya Tomi ketika mereka berpapasan dengan Grey di gerbang penginapan.

“Cari angin bentar” Jawab Grey menghisap rokoknya panjang.

“Nih kita bawain makanan.Kamu pasti suka” Kali ini Ana yang bersuara

“Buat lo aja deh An, Gue udahan”

“Kenyang? Tumben?” Balas Ana.

Grey lagi-lagi menikmati rokoknya lewat sebuah hisapan yang panjang.

“ Makasih, Gue cabut ya”

**

Tomi memeluk Ana yang sedang menangis, tapi pikirannya sedang kembali ke beberapa hari yang lalu. Dia sama sekali tidak menyangka akhirnya akan seperti ini.

“ Aku mirip Grey? Mirip dimananya?”

“ Ya, dia kan mahluk yang paling doyan ngetawain dan ngelarang aku ke pantai”

Tomi tertawa “ Ga usah di dengerin, dia mah sakit”

Ana tertawa mendengar jawaban kekasihnya, “Iya. Kamu musti sering sering nasehatin dia Tom, Kasian”

“Ah. Dia mah mau dibilangIn apa juga gak ada artinya, yang ngerti dia, cuma dia ama Tuhan” Lanjut Tomi kemudian

“Dia kebanyakan di kamar sih Tom, Paling maen ke rumah kamu, itu juga di kamar, coba ajak keluar deh”

Ana berhenti sejenak, berpikir, kemudian mendapat Ide “Nah ajak ke pantai bareng kita aja, biar otaknya lumayan segar, gak lumutan di kamar terus”

Tomi mengangguk-angguk “Kamu yakin An?”

Ana tertawa “im fine Tomi, Lagian kaya yang pertama kali ini aja kamu ngajak Grey pas jalan ama aku”

Lelaki itu tertawa “Oke.lah aku coba, tapi aku gak janji ya, Jangankan aku An, Aku udah cerita kan ke kamu gimana susahnya aku ngeyakinin dia buat memenuhi ajakan kantornya yang lama buat ke Bali?”

“Beda lah, itu kan kantornya Tom”

“Trus aku siapa?”

“Cowonya bukan?”

**

Tidak ada yang tau pasti ceritanya. cuma ada sebuah foto matahari terbenam berjudul ‘SAMPAI JUMPA’ yang di posting di blog pribadinya beberapa saat sebelum kepergiannya, dan itu pun tidak cukup untuk menjelaskan semuanya.

Advertisements

2 thoughts on “Pantai

  1. Kamu..*acak-acak rambut..
    Jangan suka bikin sedih deh..
    (Tapi nama Grey kok saya inget 50 shades of Grey gitu..bego kadang..)
    I need another random walking with you again..Mr.Drachenreiter..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s