Pulang. Sekolah

“Baiklah, gugus ungu mendapatkan 2 bintang. bilang apa sama kakak – kakak?”

“Makasih kakak..”

“Sama-sama adek”

Percayalah, itu bukan permainan di taman kanak kanak, itu salah satu bagian proses orientasi siswa baru di SMA saya. terdengar unyu kan? syukurlah, karena SMA kami memang mengutamakan, nilai nilai kebaikan, politik praktis, akhlak, dan blablablabla

Begitulah, lebaran kali ini bertepatan dengan penerimaan siswa baru di SMA saya, dan satu hari menjelang kepulangan saya balik ke ke tanah pasundan, saya menyempatkan sungkeman dengan guru guru, terutama wali kelas saya di kelas tiga: Bu Rev, yang Alhamdulillah, setiap pulang saya pasti menyempatkan diri bertemu beliau, mendengar nasehat dan semangat yang berbeda. Ayolah, ada berapa guru sih yang bilang : ‘kantor bukan untukmu’?

Berbicara mengenai sekolah saya, tempat ini sudah jauh berbeda.Selain yel-yel yang sekarang lebih religius dengan tambahan kalimat takbir di endingnya ( sebenarnya ini sudah diubah beberapa taun belakangan, saya doyan aja bahas ginian), bangunan pun banyak yg bertambah, misalnya beberapa gazebo untuk pacaran diskusi dan juga kelas bertingkat ala sekolah sinetron yang dilengkapi dengan wifi.

ah, kenapa tidak dari dulu?

Atau,mungkin : kenapa berubah?

Konservatif, seperti yang saya sering ceritakan, memang membuat saya hobi untuk bernostalgia dengan keadaan indah masa lalu. Bukan hanya soal sekolah, tapi juga soal teman-teman, misalnya ketika kepulangan kali ini saya mengadakan reuni SD untuk pertama kali setelah 15 tahun, saya agak aneh melihat perubahan teman-teman saya . Ada suara dalam diri saya yang berkata : kemana mereka yang dulu?

Entahlah

Jadi, saat pulang dan bertemu kembali, yang manakah yang lebih indah,perubahan, atau sesuatu yang tetap seperti sediakala?

**

Saya mudik pake bus, begitu juga pas balik.

Kenapa tidak kereta?

Karena saya di pulau yang berbeda, dan pembangunan selat sunda masih dalam tahap wacana.kalau tidak, saya akan memilih jalur ini.

Kenapa tidak pesawat?

Jawaban pertama saya pasti masalah ongkos: classic.manusiawi

Tapi buat saya pribadi, pulang dengan bus adalah sebuah cerita yang lain, bus memberikan waktu buat merenung, berkhayal dan berimajinasi lebih banyak : 2 hari dua malam. Bus juga memberi kesempatan untuk menyelesaikan bacaan. Waktu mau balik saya berhasil menyelesaikan invisible city nya M.G Harris,sayangnya pas balik saya tidak menyelesaikan apa-apa, mungkin factor bangku saya yang agak kurang nyaman dan pahitnya kenyataan bahwa Bandung-Jakarta saya harus berdiri dan duduk di lantai karena ‘kebijakan’ bus.

Di bus, selalu ada hal hal baru yang bisa saya pelajari, ada orang orang baru dengan pengalaman luar biasa, apalagi saat ini, bus pasti di dominasi kawula tua. Seperti ketika balik ke sini, saya berkenalan dengan seorang tua, tukang tadah barang curian, yang hobi menggoda perempuan di bis dengan spik-spik iblisnya, Terlepas benar atau tidak, kakek ini menarik, dan hal-hal seperti ini mungkin tidak bisa saya dapatkan ketika saya memilih pulang dengan pesawat, misalnya , tapi hal ini mungkin bisa dikalahkan dengan perbincangan menarik dengan seorang wanita di sebelah saya yang sibuk dengan novel nya, ketika saya memilih untuk naik pesawat. Atau, paling tidak, senyum dari pramugari jelas lebih menarik daripada teriakan kondektur.

Ah, pada akhirnya, perjalanan adalah sebuah pilihan bukan?

Ada yang memilih atau beruntung untuk langsung ketempat yang dituju,cepat.selamat, Tapi ada juga yang memilih atau terpaksa untuk berhenti beberapa kali, berisitirahat atau menikmati pemandangan barang sejenak , kemudian melanjutkan lagi perjalanan walaupun harus memakan waktu yang lama untuk sampai ke tempat tujuan.

 

**

kembali ke sekolah…

Setelah Bu Rev harus bertolak dari Kantin, dan gosip dengan bapak wakil kesiswaan harus berhenti karena ada rapat, saya dan dua orang junior mendatangi hall sekolah kami yang sedang menjadi tempat pemberian materi orientasi. Hall ini mirip dengan saya, cukup besar dan .. konservatif. Pasalnya, sekeren apapun sekolah kami, sepertinya hall ini akan begini begini saja.

Tak lama,seorang guru memperkenalkan kami dengan beberapa siswi yang berada di dekat kami.

“Ini senior kalian, abang ini sudah bekerja di kementrian keuangan, abang yang ini sedang S2 “ ujar Ibu tersebut menunjuk kedua junior saya.

“Kalau abang yang ini …..” ada jeda sejenak “…sedang di Bandung” lanjut beliau, kemudian tidak ada tambahan.Saya pun mengangguk sopan.

“Kegiatan abang di bandung apa, adek- adek ini ingin tau?” Ternyata ada tambahannya. Tidak sesuai harapan.

“Saya nulis-nulis” Jawab saya kemudian.mantap.

Kemudian ada saling tatap dan pandang dari junior tersebut, sebelum terdengar pertanyaan berikutnya.

“Buku abang yang udah terbit apa aja bang?”

dan kemudian…hening.

Saya berencana menjawab diplomatis :

Ada yang memilih atau beruntung untuk langsung ketempat yang dituju,cepat.selamat, Tapi ada juga yang memilih atau terpaksa untuk berhenti beberapa kali, berisitirahat atau menikmati pemandangan barang sejenak , kemudian melanjutkan lagi perjalanan walaupun harus memakan waktu yang lama untuk sampai ke tempat tujuan.

Tapi saya tidak melakukannya.

Dua adek ini berdua ini pantas dapat bintang, sementara saya cuma bisa memberikan … senyum.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s