Nenek

Rama membawa kopi panasnya ke kamar. Sugesti atau tidak, buat Rama minuman hitam manis ini mampu menjadi pelumas gerigi di otaknya kala dibutuhkan. Seperti saat ini, saat dimana kepulangan ke kampung halamannya menyambut lebaran pun masih di sibukkan dengan hutangan update buat novel terbarunya.

Menuju kamar, terdengar suara di ruang tengah, dan Rama melongok sejenak..

**

“Naya…ini Nenek Padang..”

“Jadi kapan Naya mau ke Padang?”

“Iya Naya…, Nenek sayang Naya”

Demikian ocehan sang nenek yang sedang asik memainkan tablet di tangannya. Gadget tersebut sedang menampilkan wajah polos: Naya, cucunya yang sekarang sedang berada di Singapore. Video call sebuah media sosial memungkinkan keduanya bisa bertatap muka secara virtual.

Terdengar gumaman belum jelas kemudian dilanjutkan dengan tawa dari layar. Naya memang masih belum bisa berucap dengan jelas, tapi sebaliknya, gadis balita ini sudah mampu melangkah dengan lancar. Akibatnya, sekarang si nenek senyum-senyum sendiri melihat layar yang bergoyang kian kemari, di bolak balik, dan penuh dengan wajah cucunya ini. Sementara di layar si mama sibuk mengejar anaknya, yang berlari kian kemari lengkap dengan tawa khas anak kecil.

“Iya, anak nenek kan baru pulang, jadi belum bisa kesana”

“Bawa om? wah nenek ga punya duit, abis buat beli baju lebaran”

“Naya mau minjemin duit?”

“Mana baju lebarannya Naya?

“Ow, kalo nenek mau baju merah yang ada kembangnya”

Semua pertanyaan tadi cuma di jawab si anak dengan gumaman,dan sebuah kata yang di ulang : aya-aya- aya. Sementara si nenek masih terus bertanya, dan menjawab sendiri pertanyaan`pertanyaan tersebut.

“Jadi kapan cucu nenek mau kesini?”

**

“Bian… Bian, cucu nenek”

“Bian cantik kan Nek?” terdengar pertanyaan dari seberang sana.

“Iya, cucu nenek emang cantik” balas si nenek.

“Jadi kapan Biyan kesini?”

“Ntar ya nek, mama ngumpulin duit dulu buat ke Padang” jawab si kecil berceloteh. Lagi.

“Iya, nenek juga ngumpulin duit Ya..”

Belum selesai kalimat si nenek, wakah cucunya yang duduk di bangku sekolah dasar itu, tiba tiba menghilang dari layar…

**

“Sibuk?”

Rama yang sudah berada di kamarnya itu menghentikan kegiatannya, mematikan rokoknya di asbak ketika Wajah ibunya mencogok di pintu kamarnya.

“Kenapa Bun?” Rama berdiri dan mendatangi Ibunya.

“Ini kenapa tiba tiba mati ya, gak bisa nyambung lagi Ram “

Rama mengotak-ngatik sebentar gadget milik ibunya tersebut.

“Oh, Kayanya masalah sinyal bunda, maklum layanan gratis” ujar Rama sambil kembali ke depan laptopnya. Kembali tenggelam dengan pekerjaannya. Bundanya sendiri kemudian duduk di kasur anaknya tersebut.

“Bunda baru ingat, Naya mau ulang tahun, tapi Bunda belum belikan kado”

Rama tersenyum.

“Si Biyan anak juga kasihan Ram, Heri lagi susah ” Lanjut bunda menerawang.

“Ow. gitu ya Bun” cuma itu yang bisa keluar dari mulut Rama, ketika Bundanya menyebut dua nama sepupu yang notabene lebih muda darinya tersebut. Dua sepupu yang lebaran tahun kemaren pulang dan membawa anak mereka masing masing, yang membuat dia harus rela dipanggil ‘om’, walau Pemuda lajang ini dengan luar biasa berhasil mendoktrin Biyan untuk memanggilnya ‘Abang’

“Tapi yang paling kasian ya Bunda, lebaran kali ini bakal sepi, cucu-cucu bunda gak main ke sini”

Rama menghentikan dulu melanjutkan novelnya yang sudah tertunda jauh sebelum dia pulang ke kota kelahirannya ini. Dia menghela nafas, menghirup kopinya,kemudian memaksa menelannya. Entah kenapa,kopi yang tadi sudah ditambahkannya beberapa sendok gula, terasa pahit tiba-tiba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s