FOTO

Ramon menatap foto pernikahannya. Satu bulan yang lalu, di foto itu dia dan istrinya, terlihat tersenyum bahagia dalam baju daerah mereka. Pernikahan ini terbilang cukup ajaib, karena kawan- kawan sudah meramalkan kalau Ramon akan menjadi penganten penutup di angkatan mereka. Namun siapa sangka , Ramon yang katanya belum kepikiran buat nikah, masih pengen sendiri, belum bisa berkomitmen, dan pemilik seribu alasan sejenis, akhirnya menikung mereka, berada di klasemen tengah, meninggalkan beberapa orang kawannya dalam status single. Ramon tersenyum, dia lagi lagi menatap foto dalam bingkai di tangannya. Foto dua orang..

**

Ramon menatap foto kiriman papanya lewat ponsel. Kali ini seorang tetangga sekaligus temannya yang naik pelaminan. Ramon lagi-lagi Cuma bisa tersenyum.

“Mon, salam kamu udah papa sampaikan, tadi Tari nanyain, Ramon kapan nyusul ?”

Dia membalas pesan dari papanya dengan sebuah sticker senyuman yang akhirnya menjadi penutup perbicangan ayah anak sore itu.

Ramon menghela nafas, dia melihat foto di tangannya , foto dua orang…

**

Ramon menatap foto nya dan Ryu, sahabatnya keturunan jepang yang kebetulan mirip dengan tokoh utama game Street Fighter itu. Foto itu diambil oleh Lady, salah seorang gadis yang kebetulan punya kisah sendiri dengan Ramon dan Ryu. Setelah sekian tahun persahabatan, ini satu-satunya foto mereka berdua, dan istimewanya lagi diambil oleh gadis yang mampu mengambil hati keduanya. Lady adalah senior mereka di perguruan tinggi, dan ya, tertebak, mereka terlibat cinta segitiga. Tapi ajaibnya kisah ini berakhir dengan keduanya mundur,saling mengalah, sampai akhirnya, beberapa hari yang lalu , Lady mengirimkan foto prewed kepada Ramon yang cuma tersenyum menatap foto ditangannya. Foto dua orang. ..

**

Ramon menatap foto kiriman mamanya. Cinta,anak sahabat mamanya, yang juga seorang model, sudah di pinang seorang dokter muda.

“Itu prewed cinta, udah liat? cantik ya Mon”

“Udah ma, liat di path

“O iya, cantik gitu ya? coba dulu waktu tante Ami ngejodohin, kamu ga nolak Mon”

Ramon tertawa “Mama bisa aja, berarti kami ga jodoh Ma, itu ”

Ramon menghisap rokoknya.Dalam.Panjang.

Jodoh? bahkan dia tidak mengerti konsep jodoh itu sendiri. Lebih jauh, dia tidak begitu percaya kalau pelaminan adalah garis finish untuk menentukan seseorang berjodoh dengan orang lain.

Ramon memalingkan pandang ke layar komputernya, foto dua orang…

***

Ramon menatap foto dua orang di layar komputernya sambil tersenyum, akhirnya sahabatnya ini akan menikah dan dia mendapat kehormatan mendesain undangannya. Yah, Ryu akhirnya menemukan seseorang untuk menjadi tambatan hatinya setelah sekian lama bergelut dengan ketidakjelasan, setelah sekian lama di antara gelas gelas kopi mereka, Ramon mendengar cerita tentang bagaimana hubungannya hampir selalu berakhir berantakan.

Ramon kemudian sibuk di layar sampai…layar Handpone nya menyala,

Ramon menatap wallpaper ponselnya, foto dua orang…

**

Ramon menatap foto di ponsel papanya, ketika dia sedang berada di rumah, hari itu.

“Cocok ya mon?” papanya duduk di sampingnya “ Kebetulan yang cewek ini anaknya teman papa”

Ramon cuma mengangguk.

Dia tau kemana perbincangan ini akan bermuara.

“Masa kalah ama Reza mon, junior kamu di SMA kan itu?” kali ini Mamanya.

“Jadi kapan nih Mon mau di kenalin ke kita?” Papanya bersuara lagi.

Ramon tidak menjawab, ia cuma tersenyum. Kembali memandang foto dua orang…

**

Ramon masih menatap foto di tangannya. foto pernikahannya. Dia tersenyum. Lagi.

“Kenapa bang?”Istrinya datang ke pustaka kecil yang kebetulan langsung berfungsi sebagai ruang kerjanya.

“Ga, cuma pengen liat foto ini aja, biar ngantuknya ilang” ujarnya berbohong dibalik senyuman, kemudian meletakkan kembali foto tersebut di meja.

“Udah larut bang, tidur, jangan di paksakan, sesuatu yang di paksakan ga ada yang baik” tutur istrinya sambil duduk di sampingnya.

Ramon tersenyum mendengar pertanyaan istrinya barusan.

“Iya, tapi lusa deadline, kasihan editor Abang” Jawab Ramon

“Pokoknya, kalau bab ini kelar,abang langsung istirahat ya”

Ramon mengangguk manis.

“Mau adek bikinin kopi lagi?”

Ramon menggeleng “ Ga usah, ntar aja abang bikin sendiri”

“ Ya udah” Istrinya memberi kecupan pada bibir Ramon “Adek tidur duluan ya”

Ramon memandangi kepergian istrinya, kemudian tersenyum,

Ramon memejamkan mata, memandang sebuah foto lain, di meja kerjanya, foto dua orang…

yang amat dicintainya : Foto Mama dan Papanya.

**

nyari di google
nyari di google

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s