87

“Rayes Mahendra”

Aku mengacungkan tangan.

“India?”

Aku menggeleng.

Selalu seperti itu, dan aku sudah tau lanjutannya : guru-guruku dari SD sampai SMA yang bisa dibilang seumuran akan menyebutkan sebuah nama:

“Rayes Khanna, Itu nama bintang India, wajah kamu juga  ada india-indianya. Sedikit. Yakin, kamu ga ada keturunan India ?

**

Sebenarnya tak ada yang perlu aku pikirkan,seperti apa yang di ajarkan Shakespeare, mawar akan tetap wangi walau engkau menggantinya dengan nama apapun.

Tapi sebaliknya, kalau namamu diganti dengan mawar, maka …

Pokoknya  dari dulu aku selalu penasaran kenapa namaku menjadi sekeren ini. Akui sajalah, Rayes Mahendra itu nama yang keren, bukan nama pasaran. Sayangnya aku tidak tau kenapa orang tuaku memilih nama  ini untukku.

Dan kebiasaan burukku,  ketika aku tidak tau, aku harus tau, dan aku akan mencarinya ….

Aku pernah bertanya kepada kedua orangtuaku, sayang jawabannya sama sekali tidak memuaskanku. Kecurigaanku bertambah saat aku sadar kalau kedua nama adikku tidak ada India-indianya. Kedua orangtuaku juga bukan anggota FBI- Fans Berat India. Tidak seperti mama temanku yang gemar memasang foto Sanjay Dutt dan Salman Khan dirumahnya.

“Jadi, ‘Rayes’ itu apa bunda?” kalau tidak salah aku menanyakan hal ini sewaktu masih SMP.

“Rayes itu… Rahmat yang esa, Bener kan pa? “ Papa Cuma mengangguk.

Aku tau kedua orangtuaku,  mereka harusnya bisa ngeles lebih baik dari ini.

Akhirnya aku memutuskan, aku akan menyimpan rasa penasaran ini, sampai waktu yang tidak ditentukan. Barulah di SMA, takdir membawaku menjawab rasa penasaranku. Mbah Google, mahluk terpintar dari orang terpintar manapun menerawang dan mengatakan kalau namaku berasal dari mitologi India, ‘Rayes’ atau ‘Rajesh’ adalah raja, pemimpin. Sementara ‘Mahendra’ artinya adalah titisan Dewa Indra. Jadi dapat diartikan bahwa Rayes Mahendra adalah seorang pemimpin yang merupakan titisan dewa Indra. Kira-kira demikian.

Aku puas, karena ini keren sekaligus lumayan make sense.

Tapi kalau memang sesimple ini kenapa orang tuaku tidak menjawab. Aku mulai curiga, jangan jangan mereka memang tidak tau arti nama ini?

**

Sekarang aku sudah bekerja sebagai copywriter di sebuah advertising agency di ibukota. Kedua orang tuaku Alhamdulillah masih sehat di pulau seberang. Sembari bekerja aku juga terus mengirimkan naskah tulisanku yang sampai hari ini masih terus ditolak. Menurut kepercayaan sebagian temanku, cerita fiksi ilmiah seperti yang aku tulis susah untuk mendapat tempat di indonesia. Tapi aku tidak percaya itu, aku lebih percaya kalau aku saja yang belum berhasil bercerita dengan baik. Mungkin nanti, mungkin suatu saat di masa depan.

Hari ini aku tidak begitu sibuk, karena kemaren aku baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar. Jadi, kalau aku mau, aku bisa tidak ke kantor hari ini. Tapi  aku juga sedang malas  di kostan, teman sekamarku sedang bermesraan dengan wanitanya, lewat telpon. Membosankan.

Aku iseng membuka sebuah aplikasi chatting yang aku yakin anak anak sekarang- para millenial, tidak lagi mengenalinya. Tapi aplikasi ini adalah sebuah hits dan keharusan di zamanku dulu. Co_writer, aku sengaja pakai nick ini, garing dan narsistik , tapi aku menyukainya, karena ini langsung menjelaskan identitasku. Sebenarnya ada aturan tak tertulis untuk tidak memberikan  identitas asli di aplikasi ini, tapi buatku, aturan selalu ada buat dilanggar,makanya aku hampir selalu memberikan memberikan identitas asliku buat mahluk mahluk cantik di dunia virtual ini, termasuk teman chat ku sekarang, pemilik nick Janetitor. 

< Janetitor > Nama kamu unik,india ya?
<Co_writer> Ya, kakekku india

jawabku asal.Pasrah.

< Janetitor > Kamu nulis apa?

Dia mulai bertanya lebih jauh, dan aku mulai menjawab, kami mulai bercerita banyak, sampai…

< Janetitor > ternyata kamu udah nulis banyak buku ya?

Dia menyebutkan judul judul buku yang menarik: Genesis, Symbiosis, dan beberapa judul lain yang mana semua adalah proyekku yang tertunda…

Aku heran.

<Co_writer> apaan sih, nyindirnya kok dalam banget
< Janetitor > kamu produktif juga ya

Serius, aku heran. Naluri detektifku mengatakan dia tidak sedang bercanda, ada kekaguman yang aku tangkap dalam tiap katanya.

Maka aku pun iseng mengetik namaku di kolom pencarian dan…

aku baru saja kembali kemasa lalu lewat aplikasi jadul ini dan sekarang besar kemungkinan aku sedang melihat sebagian dari masa depanku..

aku ingin mencari lebih jauh, tapi..
tiba-tiba listrik kantorku padam..

Aku tau ini. ini seperti yang terjadi di tulisanku, waktu mendadak berhenti, teman-temanku tidak bergerak. Lihat, di ujung sana, Siska, wanita terseksi dikantorku sedang berada di depan mesin fotokopi. Imanku tergoda.

Tapi khayalanku terhenti saat seorang wanita sudah menarik bangku dan duduk didepanku. Makhluk ini berambut pendek sebahu dan berkacamata, kulit putihnya ditutupi sebuah kemeja flanel kotak hijau yang sepertinya terlalu besar untuk tubuh mungilnya, sementara bawahannya sebuah jeans pudar yang sudah robek-robek di bagian lutut, terakhir, sepasang sneakers merah melengkapi kesempurnaan penampilannya.  Aku sedikit kaget, tapi aku langsung bisa menguasai diri.

Ayolah, kalau didepanmu mendadak muncul hantu atau alien, tapi dengan penampakan sesempurna ini, apa kamu bisa menolak?  

Ya, aku harus tarik kata-kataku, dia lebih seksi di banding Siska.

“Kamu mesum juga ya” ujarnya sambil menggelengkan kepala, seakan dia bisa membaca arah pikiranku. “OK, Rayes Mahendra, apa kamu masih punya pertanyaan?” Lanjutnya tiba tiba.

“Tunggu, Kamu Siapa? “ Aku bertanya sekaligus menerka-nerka. Ya, wanita ini seumuran denganku, atau paling tidak dia Cuma beberapa tahun lebih tua.

“Itu tidak penting, tapi apa kau masih ada pertanyaan?” Jawabnya kemudian.

Aku baru saja hendak menanyakan tentang masa depanku, apa aku bisa jadi penulis atau tidak, tapi barusan aku sudah melihat sendiri,walau..
Otakku berkelebat memikirkan “Aku ingin tau kenapa namaku Rayes Mahendra” Mulutku tiba-tiba berkata.

Wanita itu tersenyum. “Aku sudah tau, tadi itu cuma formalitas, setuju atau tidak, kau pasti  menanyakan itu” ujarnya terkekeh. “Baiklah, kita berangkat, pejamkan matamu” lanjutnya kemudian.

“Kemana? India?” Tanyaku asal, sekaligus penuh harap. Bidadari di depanku ini cuma tersenyum.

**
Aku tau tempat ini, posisinya tidak jauh dari rumahku, tapi kenampakannya sedikit berbeda. Gelanggang olahraga ini masih bersih,belum lusuh. Dan tribun tempat kami mendarat ini pun masih belum penuh coretan porno seperti sekarang. Sekarang maksudku itu..ah, sudahlah.

“Kenapa kesini?” tanyaku kemudian.

“Kau ingin tau kenapa namamu Rayes Mahendra kan? jawabannya ada di sini”  Dia tersenyum kemudian menuruni tribun penonton. Meninggalkanku.

“Mau kemana ?” tanyaku kemudian

“Aku punya tugas, sesuatu yang besar akan datang”

“Apa?”

Dia kemudian menatapku, “Sebaiknya kau jangan mengikutiku, kau punya cerita sendiri,”

“Maksudmu?” aku masih belum paham.bertanya entah ke berapa kalinya. mulai dari sini kemampuanku sebagai penulis fiksi ilmiah patut dipertanyakan.

Dia menghela nafas, “Aku pikir kamu sudah tau. My bad. Begini, akan ada longsor dimana orang tuamu saat ini berada, perumahan itu” Ujarnya menunjuk sebuah perumahan tak jauh dari kami. Aku heran, dia mengatakan itu dengan tanpa beban, seperti mengatakan kalau sore nanti akan turun hujan.

“Jadi aku-“

Wanita itu mengangguk..

Aku kemudian berlari sekencang kencangnya, mungkin ini lari tercepat yang pernah kulakukan seumur hidupku, aku buruk dalam olahraga. Aku baru sadar, aku pernah mendengar cerita ini, tapi tidak kusangka hari ini aku akan melihatnya langsung.

Tak lama, Terdengar gemuruh,Kemudian, hujan pun turun dengan derasnya, batu -batu kecil mulai berjatuhan. Aku segera berlari aku mengedarkan pandangan ku ditengah orang yang berlarian, namun aku tidak melihat mereka, sampai tiba-tiba seorang lelaki gondrong menepuk bahuku, butuh beberapa menit bagiku untuk mengenali kalau dia adalah …Papa.

“Tolong, bawa istriku ke tempat yang aman”

“Papa mau kemana?” Tanyaku reflek sambil menoleh kepada bunda yang mulai berairmata.

“Di belakang sana masih banyak yang butuh pertolongan” Jawab papa kemudian. Sepertinya beliau tidak menangkap keanehan pada pertanyaanku.

“Aku akan menyusul, Insha Allah” sambungnya kemudian. Lelaki itu pun mencium Bunda di kening dan berlari kembali ke arah rumah dimana beberapa di antaranya sudah hampir roboh.

**

Akhirnya, aku pun berhasil membawa Bunda ke tempat yang aman, bergabung bersama beberapa orang yang lain. Aku memeluk beliau, aku berjanji tidak akan melepasnya sampai…

“Suamiku, tolong suamiku”  bisik Bunda berair mata.

Aku tidak peduli, Di tengah teriakan dan larangan orang-orang, aku kembali berlari. Aku mencari di tiap reruntuhan, sampai aku melihat Papa menahan sebuah dinding, melindungi seorang anak balita yang aku tidak tau entah siapa.

“Pergilah” ujarku pendek sambil kemudian menahan dinding tersebut dengan tubuhku.

“Tapi..”

“Istrimu menunggumu” Ujarku mencoba menahan airmata. Aku memang Tampan, tapi cengeng.

“Aku tidak apa-apa, percayalah” kataku disela punggungku yang kesakitan, padahal baru sebentar, aku tidak tau sudah berapa lama papa menahan tembok ini, dan bagaimana dia bisa bertahan, yang aku tau,  aku juga harus bertahan, karena kalau tidak bukan Cuma aku, gadis kecil di depanku ini juga akan tewas bersamaku.

Dont get me wrong, im big, not strong.

“Aku akan kembali dengan bantuan”  kata Papa sambil berangsur  dan kemudian menggendong anak tersebut, ketika hendak keluar dari rumah ini, beliau sekali lagi melihatku. Aku mengangguk mantap,persis Kotaro Minami.

Dasar manusia, di saat begini, barulah berharap kalau Tuhan benar-benar ada. Aku memejamkan mata dan membaca ayat kursi, ayat yang selalu di anjurkan oleh Papa untuk di baca, kalau aku dalam keadaan takut, atau merasa lemah. Perlahan aku memejamkan mata, menangis dan perlahan membaca ayat tersebut sampai selesai.

“Yup, tepat waktu”

Suara itu memaksaku untuk kembali membuka mataku. Sekarang di depanku sudah ada wanita yang tadi, melihat ke jam tangannya.

Dasar lelaki, di saat begini, baru bisa fokus. Aku baru sadar kalau sedari tadi dia memakai jam tangan aneh itu.

“Sebentar” katanya sambil kemudian mengatur sesuatu di jamnya. Nada suaranya masih seperti tadi, ceria, seakan akan dia sudah tau semua ini akan terjadi, seakan ini bukan pertama kalinya dia melihat ini semua. Tiba-tiba sesuatu melintas di otakku.Tunggu-

Ah bodohnya aku. Jelas ini memang bukan pertama kalinya dia melihat semuanya.

“Okay” dia pun maju dan memegang bahuku, kemudian..

Aku sudah berbaur bersama orang-orang, di tempat yang aman. Di tempat dimana Bunda dan Papa berada.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya

Aku tidak menjawab, perutku seperti diaduk-aduk. Bukan, bukan karena teleportasi barusan, tapi karena aku baru selamat dari kematian.

“Kau memang belum ditakdirkan untuk mati” lagi-lagi dia mengatakan hal yang mengerikan dengan sangat ringan.

“Kalau kau di takdirkan mati, Dia bisa saja menggagalkan teleportasi tadi,dengan meninggalkan separuh tubuhmu disana, atau mungkin sekalian saja menggagalkan perjalanan ini, kalau itu yang Dia mau” Wanita itu kembali mengecek jam tangannya setelah membaca pikiranku. Mungkin.

“Waktu kita tinggal sedikit, lebih aman untuk kembali sekarang, sebelum kita melakukan sesuatu yang mengacaukan waktu” Kali ini dia terlihat serius.

“Tapi aku belum menemukan jawabannya” protesku kemudian, tiba-tiba ingat tujuanku kemari.

“Aku tau, bukankah kau baru saja melakukan sesuatu yang jauh lebih penting?” Katanya sambil menoleh ke arah Bunda dan Papa yang sedang mengendong anak tadi.

“Terimakasih” ujarku pendek.

“Tidak, aku yang harusnya berterimakasih” Ujarnya sambil menatapku serius. Aku sendiri menatapnya bingung.

Tapi sebelum aku mengajukan pertanyaan. Dua orang yang aku cintai itu kemudian mendekat ke arahku. Aku pun menyongsong mereka.

“Bagaimana caranya-“ Papa yang pertama buka suara,tangannya masih di bahu Bunda. So romantic.

“Ayat kursi” Jawabku pendek, sambil melirik wanita yang masih berdiri tak jauh dariku. Aku tidak tau kenapa dia tidak mau mendekat. Aku cuma melihatnya mengetuk-ngetukan jari ke jam tangannya.

“Aku, aku harus pergi” ujarku canggung.

Bunda Mengangguk “Baiklah, kami tau, kamu tidak datang dari sini. Aku sendiri tidak peduli siapa kamu sebenarnya”  Bunda kemudian menatap Papa “Walau suamiku dari tadi bersikukuh, kalau di tengah bencana, Tuhan akan mengirimkan –“

“Kami tidak tau musti berkata apa selain terimakasih untuk semuanya, darimanapun kamu berasal” potong Papa kemudian.

Aku mengangguk. Tersenyum.

“Kami tidak tau kemana kamu akan pergi, tapi sebelum kamu pergi, apakah..apakah, kamu punya nama? “

Aku tercengang, aku menoleh lagi ke si perempuan. Dia Cuma menyunggingkan senyumnya.

“Rayes” Aku menatap keduanya, “Rayes Mahendra”

Keduanya kemudian berpandangan, “Rayes Mahendra, izinkan kami  memberikan nama yang sama kepada anak pertama kami sebagai ucapan terimakasih kami” Lanjut Bunda yang diikuti anggukan Papa.

“Si..silahkan,” ujarku gugup sambil sekali lagi melirik si perempuan yang memberikan kode lewat kepalanya.

“Sampai bertemu lagi” ujarku kemudian memeluk keduanya cepat, yang tentu saja membuat keduanya heran.

Aku pun membalikkan badan,berlari mendekati si wanita, kemudian memegang tangan halus dari pemiliknya yang sedang tersenyum kepadaku. Sekali lagi aku menoleh kebelakang, melihat kedua orangtuaku melambaikan tangan kepadaku, sementara beberapa orang yang lain terlihat sibuk memperhatikan apa yang mereka punya dan mungkin banggakan beberapa saat yang lalu hilang sekejap mata.

Aku sendiri tidak peduli kalaupun ada orang lain selain Papa dan Bunda yang melihatku.. hilang sekejap mata.

END

Advertisements

4 thoughts on “87

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s