Sebuah kebohongan, dan…..

Aku harus mengakui, dia memang anak yang cerdas, apalagi untuk sebangsanya. Bahkan dalam beberapa kali kepindahanku, baru kali ini kutemukan yang mampu membuatku berdecak kagum dengan otaknya. Walau, tak kupungkiri, semenjak kepindahanku ke sekolah ini, dia harusnya tau, kalau aku sengaja mengalah dalam beberapa mata pelajaran. Namun, melihatnya duduk di meja kelas dan di kelilingi manusia-manusia yang mendengarkan bualannya, membuatnya terlihat bodoh di mataku, dan jujur, itu menjengkelkan.

Aku tidak bisa berbohong, dia pencerita yang baik, dia punya suara yang menarik, intonasi, jeda, semuanya bisa dia mainkan dengan sempurna, sehingga setiap kisah yang dia ceritakan, seolah-olah kita sedang menonton sebuah film. Dia juga sangat amat jago ‘menggantung’ cerita, kadang sebuah cerita pendek bisa dia jadikan 2 atau 3 bagian cerita. pagi, istirahat , dan istirahat siang. bahkan mungkin melebihi apa yang di lakukan Peter Jackson di The Hobbit.

“Eh Neila, kamu gak ikutan, Roma punya cerita baru, semalam dia baru saja melihat Reno,

“Hah?” tanyaku bingung, aku terlalu sibuk dengan tablet di tanganku, ketika temanku Helen baru saja kembali absen jemaah cerita father Roma.

“Tuh, si Roma lagi cerita tentang Reno, mahluk penjaga daerahnya yang udah dia buru beberapa bulan ini, akhirnya muncul, Reno itu kaya kuda terbang gitu lo Nei,” teman sebangku ku itu terlihat bersemangat.

That’s new, kataku diiringi tawa dan kembali sibuk mempelajari titik titik di tablet ku.

Gadis berambut pendek sebahu itu tertawa “Gak juga sih, beberapa bulan yang lalu, sebelum kamu pindah kesini, dia udah cerita, tapi yang lihat itu pamannya” Dia mengeluarkan peralatan sihirnya, dan kemudian sibuk touch up, “Lagian sinis amat non,” lanjutnya.

Aku menggeakkan bahuku “Mungkin dia sudah kehabisan cerita hantu,”

Maybe, yang pasti anak-anak semangat -semangat aja tuh,” belanya sambil sekarang mengoleskan lipstick nude ke bibir tipisnya itu “Gak boleh sinis ama cowoK cakep, ntar gak laku-laku non” lanjutnya sambil menjawil hidungku.

“Ada fotonya?” tanyaku

“Katanya sih ada, tapi emang gak keliatan, jadi sepertinya cuma dia yang bisa melihat itu mahluk” Dia merapikan lagi rambutnya yang sebenarnya sudah tidak perlu dirapikan.

Aku menghela nafas. Seperti biasa, setiap ditanya bukti, pasti Roma selalu punya alasan yang terdengar meyakinkan. Alasannya bermacam-macam, mulai dari lupa, terpesona, tidak bisa difoto, dan seterusnya. Sekalinya pernah membawa hasil foto dari kamera manualnya ( yang dia gadang-gadangkan lebih berkelas daripada kamera yang dibawa hampir separo teman sekelas) hasilnya cuma warna putih yang memenuhi lebih dari separuh frame. Katanya dia yakin sudah mengambil gambar yang benar, dan dia menambahkan istilah sok pintar, semacam radiasi dan blah blah blah blah yang aku percaya sebagai omong kosong.

Don’t get me wrong, tapi aku tidak sendiri, banyak juga anak-anak yang tidak begitu ambil peduali dengan ceritanya, tapi tetap saja beberapa anak yang sepertinya sudah menjadi club penyembah roma ini yang membuat otakku sakit.

jadi manusia kok polos banget.

Tapi bukan itu saja, sebenarnya ada hal lain yang membuatku tidak suka dengan si tukang cerita itu.

**

Aku sedang duduk di bangku pinggir lapangan basket yang belakangan sudah berganti jadi lapangan futsal dadakan. Sibuk dengan tabletku. Beberapa anak terlihat sibuk tapi itu tidak menggangguku, karena aku tau mereka juga tidak akan menghabiskan waktunya untuk itu. Soalnya aku sudah memilih penyamaran yang paling aman : kacamata minus dan rambut di kuncir kuda. Aku belajar dari film di televisi, kalau gaya yang seperti ini tidak akan mendapat banyak perhatian, yah, aku benar.tapi sepertinya seseorang tidak tertipu.

“Sendirian aja Nei”

suara itu, basa basi yang….

ya, kalian benar, disebelahku lagi-lagisudah ada si Roma. Angin sore itu membuat rambut gondrongnya tertiup tiup keren. Dia mungkin satu satunya cowok yang di bolehkan berambut gondrong di sekolah ini, karena konon, menurut ceritanya, kalau rambutnya di potong, dia akan jatuh sakit.

Masalahnya, kenapa guru guru percaya?

“Gak, lagi ama robot bermata satu tuh, pelindungku,” jawabku “Kamu bisa liat kan?”

Dia tertawa. “Bilang ama dia, aku gak bakal ganggu,”

“Bagus deh” potongku cepat.

“Ngapain?” tanyanya lagi

“Baca,”

“Baca apa?”

Oke, ini mulai mengesalkan, pikirku, aku punya misi disini, dan sebentar lagi, aku akan menemukan apa yang aku cari, aku tidak ingin manusia satu ini merusak semuanya, seperti sebelumnya.

“Daripada gangguin aku mending kamu ikutan maen gih ama anak-anak,”

Dia menggeleng, “Aku lebih suka basket,” katanya.

“Aku gak nanya,” jawabku pelan sambil terus melakukan pekerjaanku.

“Padahal kalau kamu mau nanya, kamu lebih gampang nemuin apa yang kamu cari,” ujarnya kemudian berlalu dari sana.

Aku bingung, maksudnya apa, tapi paling tidak , dia segera bergerak, kalau tidak, aku tidak tau apa yang akan terjadi kepadanya.

**

Malam ini aku sedang berada di ruang kendali kendaraanku, akhirnya aku bisa menemukan apa yang aku cari. pesawatku sekarang sedang terbang rendah di bukit belakang sekolahku.

Aku melihat sesosok manusia disana, tapi sayangnya aku tidak mencari orang, aku mencari mahluk yang lebih besar, mahluk yang di planet ini dikenal dengan nama..

NAGA!!

Mahluk itu mengepakkan sayapnya tepat didepan pesawatku. Max,partnerku yang bermata satu, segera menghajarnya dengan sepasang laser beam dari pesawat kami, tapi sepertinya hal itu tidak berpengaruh kepadanya, Mahluk berwarna hitam bermata biru itu balik menyemburkan api , dan sukses mengenai badan pesawatku.

Ketika dia mampu dengan sempurna mengenai pesawatku, disitu kadang aku merasa heran, dengan mode tak kasat mata yang sudah kuaktifkan harusnya dia tidak melihatku. Ah, sepertinya mahluk ini punya penglihatan luar biasa daripada jenis yang kuhadapi sebelumnya. Selanjutnya mahluk itu mengepak ngepakkan sayapnya dan mencengkramkan cakarnya ke kulit pesawatku yang terbuat dari baja!

sial

Dia mengenaiku, aku harus bersiap, pesawatku terbang rendah, aku pun mengaktifkan penghancuran otomatis, ketika beberapa meter dari tanah, aku dan max, robotku, melompat . Sayang nya pendaratan ku tidak begitu sempurna. Aku cuma berharap ledakan pesawatku harusnya berhasil membuatnya terluka,kalau membunuhnya terlalu tidak mungkin.

Aku tersenyum, Mahluk itu sekarang sedang tertatih, keluar bangkai pesawatku dengan sayap yang di penuhi nyala api, Mahluk itu kemudian meraung keras. Yang terjadi selanjutnya di luar harapanku, sayapnya mengepak-ngepak sampai nyala api itu padam. Dan yang kutakutkan terjadi, lambang segitiga dan bulatan di kepalanya bersinar, matanya yang biru berubah menjadi merah. Bola api keluar dari mulutnya, saat seseosok tubuh melindungiku. .

Max, benar benar memenuhi tugasnya, tapi aku tidak punya kesempatan untuk berairmata..

“Wan,” pelan dia membisikkan bahasa planet asalku, yang artinya “Lari”.

Aku tidak tau harus melakukan apa, Mahluk itu makin mendekat. Instingku mencabut senjataku, mencoba membidiiknya, tapi tanganku yang gemetaran malah membuat senjataku terjatuh. Malaikat kematianku itu cuma berjarak beberapa meter dariku, dan aku siap, saat…

Tiba tiba mahluk itu melolong, panjang dan kali ini terdengar seperti lolongan ketakutan, kemudian dia bergerak terbang berbalik, sayapnya mengangkasa. Dan aku cuma terpaku, apapun yang barusan terjari terjadi. Aku selamat.

**

Besoknya klub penyembah Roma sudah berkumpul di sekitar mejanya, termasuk Helen, teman sebangkuku, yang ngakunya, tidak dengan cerita Roma tapi selalu muncul di shaf pertama jemaatnya. Aku mengeluarkan Tabletku, kemudian memandang ke arah gerombolan di pojok belakang sana, entah setan mana yang memasuki aku pun iseng, aku memejamkan mata, kemudian menarik nafas panjang.

“Naga?” terdengar suara Jono, bocah berkaca mata maniak game online.

Tiba-tiba darahku berdesir. Aku memegang telingaku, mencoba mendapatkan suara lebih jelas.

“Aku gak tau itu naga atau bukan, tapi menurut cerita kakekku, mahluk itu jelas sebangsa kadal raksasa,”.

not bad ,kali ini ada tokoh baru, kakeknya

“Pokoknya, kata kakekku mahluk itu punya sayap gede banget” tambahnya menangkap kehebohan dan keraguan para jemaahnya.

“Trus kenapa gak ada beritanya Rom?” Kali ini, Ray si ketua kelas yang nanya, penghuni paling baru di sektenya Roma. Mau-maunya si penggila fakta dan berita itu masuk ke aliran sesat satu ini.

“Kan gue udah pernah bilang, kalo yang kayak kayak gini ini rahasia, lagian kalo pemerintah tau pun pasti gak bakal dikeluarin ama pemerintah-lah, masyarakat kita suka panikan, Atau lebih gawat, banyak yang bakal datang buat minta berkah atau apalah. Jadi intinya, lo-lo pade merupakan orang-orang beruntung tau cerita ini. Okay?” Jawabnya mantap.

Aku mau tertawa dengan penyelamatan briliannya sampai giliran Helen bersuara “Emang kata kakek kamu, naganya kaya gimana sih Rom?”

Roma berdehem, “Sama aja kayak yang kita liat di film-film,” dia kemudian diam sejenak “tapi mungkin bedanya disini, naga yang dilihat kakek gue ini, di kepalanya ada lambang segitiga ama bulatan yang memancarkan cahaya ”

Aku tersedak. Aku melihat kearahnya, dan entah penglihatanku benar atau tidak, dia sedang tersenyum dan kemudian mengedipkan matanya kearahku.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s