Aku Bukan Ikhwan

Namanya Ikhwan, Lengkapnya Ikhwan Alghifari.

Aku sudah lama mengenalnya, jauh sebelum aku mengenal teman-temanku sekarang, dan aku mengenalnya cukup baik, lebih baik di banding aku mengenal teman-temanku sendiri.Sampai aku tau apa yang dilakukannya di pagi hari setelah bangun tidur dan apa kegiatannya sebelum dia tidur.

Kalian pasti sudah bisa menebal kemana arah ceritaku, yah, ikhwan Alghifari itu serumah denganku, beda kamar.

Ikhwan Alghifari itu adikku.

**

Walau tak ada hubungan dengan nama asliku, aku biasa dipanggil Elang, burung pemangsa  yang kerap kali diasosiasikan dengan kegagahan dan keperkasaan. Elang, sang raja angkasa.

Kenapa Elang? Karena aku memang pemangsa? Mungkin, tapi bukan salahku, mereka yang berniat untukku mangsa, mereka yang tergila-gila dengan paruh dan cakarku ini. Selain itu mungkin hal yang paling bisa disalahkan akan kemunculan nama panggilan ini adalah mataku, Alis lebat dan mata yang tajam di wajahku ini memang mengingatkan teman-temanku, juga para mangsaku akan si raja angkasa, Elang. Lagian, tanpa mengurangi rasa hormat kepada kedua orang tuaku, aku merasa, nama baruku ini ini lebih cocok untuk nama seorang  vokalis band sepertiku, dibanding nama yang tercantum di KTP.

Aku  mahasiswa tahun kedua  fakultas kedokteran, jurusan yang disarankan kedua orangtuaku, dokter “Itu pekerjaan mulia” bujuk mereka suatu ketika.

Yah, aku tau itu, walau jiwaku tak semulia itu.dan aku sebenarnya tak begitu tertarik untuk menjadi dokter.

sementara Ikhwan adikku masih duduk di kelas 2 SMA,jurusan IPS. Jurusan yang dia mau semenjak kelas satu, jurusan yang sempat membuat bunda khawatir ,  karena  nakal, suka tawuran, buangan, adalah stereotype yang seringkali disematkan pada jurusan satu ini. Tapi toh akhirnya Bunda bisa bernafas lega, karena Ikhwan sama sekali tidak menunjukkan hal-hal demikian, malah sebaliknya, semenjak penghujung kelas satu  dia makin mirip Ayah,pria kesayangan bunda.

**

Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi saat aku menghempaskan tubuhku di kursi ruang tamu. Menghajar beberapa anak tehnik yang cari masalah dengan  teman-teman ku setelah pertandingan basket sore tadi dan disusul party kecil kecilan dengan rekan satu tim ku,  cukup menguras tenagaku. Aku baru saja hendak menyulut rokokku saat ayah keluar dari ‘mushalla’ kecil rumah kami.

“Kamu udah isya?”

“Belum  Yah”  ujarku pelan dan menyalakan rokokku

 Aku bisa saja berbohong kepada beliau dan bilang ‘sudah’, tapi entah kenapa aku tidak melakukannya.

“Buruan shalat, tuh si ikhwan lagi tahajud. Masa abangnya ini kalah” ayah mengacak-ngacak rambut gondrong kebencian dosen fakultasku ini, kemudian berlalu ke dalam kamar.

Aku mengepulkan asap ke angkasa, lagi-kagi kata-kata itu menambah sakit kepalaku, aku diam dan mematikan rokok ke asbak bermotif elang  di depanku, rasanya sudah berubah.

Tiba-tiba sebuah minuman kaleng  terletak di hadapanku

“Diminum bang”

Mau tak mau aku tersenyum melihat  wajah yang mengangsurkan minuman itu kepadaku.wajah teduh yang baru saja bikin kepalaku bertambah sakit. Wajah itu balas tersenyum, teduh, tulus. Tak seperti senyumanku

***

Sudah beberapa hari ini dentingan piano itu mengganggu tidurku.

Piano tua milik ayah itu sudah lama tak  bersuara, sampai beberapa hari ini.

Aku memaksakan diriku bangun, walau ini masih jam 10, lagian ini hari Minggu, hari ini harusnya aku bisa tidur seharian, setelah malam tadi aku menyelesaikan game RPG  favoritku sampai pagi.

“Tumben lo mainin tuh piano ? ada acara apa ? ” aku dengan rambut masih basah dan handuk keluar menuruni tangga dan menanyai Ikhwan yang terlihat serius dengan pianonya.

“Ada festival nasyid Bang, aku ama teman-teman masuk putaran final ?”

“oo..” aku tidak kaget, anak ini memang rajin ikut festival nasyid, paling tidak itulah yang kudengar di perbincangan di meja makan.

 “Dimana, kapan?” lanjutku berbasa basi.

“Besok, di kampus Abang, pasti abang gak tau, kalo gak ada kuliah, nonton ikhwan donk Bang, di convention hall, abang belum pernah liat Ikhwan nampil kan?

“Iya deh, besok gue usahain nonton, tapi gue gak janji ya”

“Tenang aja, abangmu pasti hadir kok, “ ujar Bunda keluar dari dapur dan menepuk-nepuk  bahuku sambil tersenyum.

Kalau sudah begini, aku tak mampu menolak.

Aku pasti datang.

 **

Aku duduk di bangku paling pojok convention hall ,yang seperti tebakanku : sepi. Tidak seperti saat aku dan teman temanku di unexpected bermain, atau saat aku dan anak teaterku mencoba memprotes pemerintah  dari panggung yang sama di depan sana. Hari ini, ruangan ini Cuma penuh oleh wajah-wajah seperti adikku, wajah teduh dengan satu dua jenggot tipis di dagu mereka sementara yang wanitanya: persis Bunda.

Setelah beberapa penampilan, sampai juga giliran Ikhwan dan beberapa orang temannya yang menamai grup nasyid mereka dengan seven voices, selain anggota mereka yang memang tujuh orang, kebetulan juga ikhwan memang berasal dari SMA 7, salah satu SMA favorit di kotaku. Aku sendiri berasal dari SMA 13, tetangga SMA 7, tapi beda genre. Yang satu juara lomba akademik, yang satu selalu menduduki pemuncak  band dan olahraga, dan entah kenapa, aku selalu bangga dengan yang kedua, walau, tanpa bermaksud sombong, aku sebenarnya bisa lulus ke yang satunya dengan mudah.

Tingkahan piano dan petikan gitar akustik  dari seorang temannya membuat lagu yang sedang dibawakannya menjadi sedikit melekat di telingaku

Tapi mengapa kita manusia tiada menyadari

setiap perbedaan yang ada menjadi tragedy

Kita saling bermusuhan, kita saling benci

Pertikaian perperangan membawa kita pada kehancuran*

Aku tersenyum simpul mendengar lirik itu hadir dalam lagu yang dibawakan Ikhwan sekarang, bukan apa-apa, lirik ini seperti mematahkan argumen ikhwan saat  beberpa hari lalu aku berdebat kecil dengannya tentang sebuah ormas yang mengatas namakan agama.

“Ah, mereka taunya Cuma demo demo dan demo, dikit – dikit heboh, ngerusak dimana-dimana !!”

“Kadang, harus kayak gitu Bang, kalau kita lunak, ya kita bakal terus dinjak-injak,” Ikhwan muncul sambil membawa dua gelas minuman.segelas  teh tawar untuk dirinya, satu lagi kopi pahit kesukaanku.

“Gue tetap gak setuju, mereka ini udah kelewat batas, udah lah, dibubarin aja”

“Udahlah bang, dibiarin aja, masih untung ada yang mau membela agama, banyak diantara kita yang ngakunya beragama, tapi cuma diam pas maksiat muncul di depan kita”

“Whatever, gue gak suka” ujarku

Ikhwan tersenyum, “Diminum bang kopinya”

**

“Tumben nongkrong disini Lang?”

Suara itu membuyarkan lamunanku ,

Dia Codet, maksudku  Indra, mantan bassist unexpected yang sekarang tengah aktif di rohis kampus, ini pertama kalinya aku bertemu kembali setelah dia memutuskan hengkang dari band kami.

“Elo Det, pa kabar? ”  Aku  berbasa basi, “Tuh, si ikhwan lagi nampil, sebagai abang yang baik musti ikut mendukung donk” ujarku kembali berkonsentrasi ke panggung.

“Alah, ini bukan pertama kalinya si Ikhwan nampil , gue tau lo Lang, lo pasti ngincer farah kan” tembak Indra

Aku bingung “Farah ? Farah siapa ?

“Demikian tadi penampilan Nasyid dari  SMA 7. Sekarang kita saksikan penampilan finalis berikutnya”

Aku baru sadar kalau wajah MC itu sungguh luar biasa cantiknya. Beda dengan gadis-gadis yang sempat singgah di kehidupanku.

kemana saja penglihatanmu elang, mangsa didepan mata.

Di kepalaku sekarang berkelebat berbagai macam rencana.

Tanpa sadar aku berdiri dan bertepuk tangan. Sendirian.

Farah melihat ke arahku, ikhwan juga, keduanya heran, begitu juga Indra dan para penonton yang melihat ke arahku.

“Elang-…..lang, lo tuh ga pernah berubah ya,lihat adik lo, insyaf Lang..insyaf”  Aku tidak peduli. suara Indra cuma singgah sebentar di kepalaku, dikalahkan oleh pancaran rembulan di depanku.

**

Piano di ruang tengah berdenting lagi, tapi bukan dari ikhwan, aku yang memainkannya,  jemariku menari lincah diatas tuts piano.

“Luar biasa bang” Ikhwan datang masih dengan seragam sekolahnya sambil bertepuk tangan “Lagi jatuh cinta ya?” lanjutnya .

“Bisa aja lo” ujarku pendek sambil terus memainkan nada-nada lewat jariku.

“Ya iyalah, gak mungkin abangku yang satu ini keliatan di rumah kalo lagi gak ada kuliah,sambil maenin piano lagi, alasan apa lagi?”

“Sotoy . Emang lo tau apa soal cinta, di kamus lo gak ada kata pacaran kan ?”

“Pacaran haram bukan berarti gak boleh jatuh cinta kan  bang, gak boleh pacaran bukan berarti gak kenal cinta kan bang” jawabnya sok puitis – filosofis

Aku cuma diam.

“Kak Farah ya bang?”

Aku masih diam, mengisap rokokku dan kembali melanjutkan permainan jariku di tuts piano.

 **

Ponsel ku berbunyi,

Farah. Nama itu muncul dilayar, aku menekan tombol loud speaker.

“Assalamualaikum, kok angkatnya lama? jadi nemenin aku ke toko buku kan Lang?”

Aku memasang kemejaku, kemudian mengikat rambutku, aku baru ingat  ada janji dengan Farah sore ini!

“Jadi.jadi, bentar lagi aku jemput. Oke, yang sabar ya umiku sayang” Jawabku

“Okay,Hati-hati Lang, Assalamualaikum,“ terdengar jawaban dari seberang sana.

“Waalaikum salam” Jawabku sebelu mematikan ponsel.

“Gila lo Lang, anak rohis lo embat juga, jadi gossip kalo lo jalan ama tu anak beneran, gue pikir anak-anak salah liat” ujar Putri dari atas tempat tidur.

Mahluk manis ini sekarang berstatus ceweknya temanku, tapi sayangnya dia sudah lebih dulu jadi partner in crime– ku semenjak tahun pertama kuliah. Putri bangkit dari kasur dan memelukku dari belakang.

“Atau kamu memang berencana mengikuti jalan yang ditempuh adikmu?” Tanyanya kemudian.

Aku menghela nafas.

“Aku jalan dulu, dan perlu  kamu tau Put, aku bukan Ikhwan”

 END
-Sebuah tulisan lama yang ketemu pas ‘bersih bersih’ netbook-

*satu dalam damai-SNADA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s