Dongeng Sebelum Tidur

 “Aku ngantuk banget , tidur duluan ya”

Namaku Raja, dan kalimat diatas bukanlah kalimatku, itu milik temanku, namanya Kahlil, ga pake Gibran. Begitulah, dia memang pencinta ulung tapi dia bukan penyair bernama besar itu. Konon dia percaya, Kahlil yang dipake buat namanya itu asal nama superman, Kal-El, yang artinya ganteng dan bijaksana. Entahlah, benar atau tidaknya hal tersebut, tapi aku percaya dia bukan pembohong…

….kecuali untuk satu hal tadi.,,

Dia sama sekali belum mengantuk.

Aku berani taruhan. Setelah telpon ditutup, dia akan kembali sibuk dengan DOTA 2 nya, tapi sepertinya kali ini, dia gagal dengan sukses.

“Ga pengen ngobrol gimana? kamu tuh ya, selalu aja ngejudge” katanya sambil membetulkan letak kacamatanya.

Aku tertawa, dalam hati.

“Seberapa sering sih aku pamit tidur duluan?”Lanjutnya

“Sering sih” jawabku pelan sambil terus mencoret-coret sketch-book ku.

Matanya menatapku tajam, aku malah tertawa keras.

“Tu kan, kalo aku nanya kamu ga bisa jawab, seberapa sering? “ ulangnya kepada kekasihnya.

Aku menggeleng gelengkan kepala, strategi mahluk satu ini boleh juga, dia menekan psikologis mahluk cantik diseberang sana, padahal dia tau pasti, dia berada di posisi salah, posisi kalah, apalagi di telpon, ga perlu poker face buat nge-bluff.

“Ok, tapi ga tiap malam kan aku  ngomong ‘aku ngantuk’ ama kamu. Masa hal kaya gini jadi masalah?”

Aku salah, cewek diseberang sana boleh juga, buktinya dia ga kebeli ama gertakan temanku ini. ya, mau gimana? ceweknya juga pasti udah hafal donk dengan gaya kaya gini, dan pasti bosan.

“Trus kamu maunya apa? maunya didengerin terus, tapi kamu ga pernah mau dengerin aku”

WOW, ada yang mencoba menyerang dari sisi lapangan yang lain, Kita lihat apakah serangan ini mampu menembus jantung pertahanan lawan…

“Udah ngambang kemana mana kan jadinya, kalo aku bilang mau tidur, berarti aku emang mau tidur,as simple as that.  Bagian mana sih yang kamu ga ngerti?” Dia beranjak ,melangkahkan kaki keluar keluar.

Sial, ternyata keduanyasama kuat, ini akan menjadi perang panjang yang seharusnya membosankan, bagi kami bertiga.

**

Segelas kopi sudah menggantikan si Kahlil yang sekarang sedang di teras melanjutkan kasusnya bersama mahluk cantik di seberang sana. Aku menyalakan sebatang rokok kretek, menghentikan sejenak sketsa ku. Aku menyandarkannya di meja yang kebetulan merapat ke dinding, kemudian memandangnya, ah, walau belum sempurna, dia cantik juga.

Kahlil masuk lagi, aku meledeknya dengan sebuah senyuman, tapi sepertinya keadaan memburuk, soalnya dia tidak marah, itu berarti sudah ada yang menjadi saluran kemarahannya. Aku mengikuti gerakannya yang tidak jelas, oh, ternyata dia mau minum. Kemudian aku baru sadar, apa manfaatnya coba aku mengikuti gerak geriknya, sampai-sampai tertarik melihat temanku ini minum. Memangnya ini saluran  Discovery Channel? Garing dan kurang kerjaan.

Aku menikmati kopiku, kemudian kembali menggerakkan pensil diatas kertas putih tersebut, sesekali melirik wajah emosi temanku yang kutebak sedang mendengarkan semacam wejangan dari seberang sana. Dia melihat kearahku, tapi aku tidak yakin dia sepenuhnya sadar, soalnya setelah itu dia kembali berjalan keluar.

Aku mungkin terlihat masih sibuk dengan sketsaku, tapi sebenarnya telingaku sibuk mencoba mencuri dengar pertandingan malam ini , sementara otakku sibuk mengkhayalkan gadis 2D didepanku ini.Aku tidak menangkap banyak kalimat lagi, tapi sepertinya telingaku masih waras menangkap kata-kata ‘cantik’ dan ‘love’ berulang kali.

smooth man…smooth

Sepertinya kata-kata diatas menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, buktinya aku tidak mendengar lagi  alas an klise dengan volume penuh keluar dari mulut temanku.

Semuanya terkendali…

akhirnya Kahlil kembali ke dalam, terlihat ngos-ngosan.

“gila aja,  apa emang segitu beratnya ya perjuangan untuk menenangkan mahluk cantik di seberang sana.” Pikirku

 Aku sudah terlalu asyik dengan gadis tak banyak bicara di hadapanku.

“Udahan?” tanyaku basa basi sambil terus sibuk mempercantik  bibir gebetanku malam ini. Kalau saja dia bisa protes, dia pasti sudah protes, karena setelah kuperhatikan lagi, bibirnya memang terlihat aneh.

“Finally, beres” Katanya sebelum menghela nafas panjang kemudian mengambil kembali laptopnya, melanjutkan pertarungan DOTA 2 yang baginya mungkin menjadi lebih mudah setelah menghadapi pertarungan besar sebelumnya. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat senyum kemenangan di bibirnya.

Tapi satu hal, Bukan cuma malaikat, aku juga tau siapa juara pertandingan malam ini.

Apakah dia juga sadar atau tidak, itu yang tidak aku tau  :  Bukankah dia baru saja mengabulkan permintaan mahluk manis diseberang sana?

Sial, aku harus menghapus lagi sketsaku

character wanita memang bukan pekerjaan mudah bagiku.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s