Merah Tak Selalu Darah

power-ranger-heroes

Dari dulu, semenjak pertama kali nonton serial tv Power Ranger yang merupakan adaptasi serial super hero jepang berjudul Kyoryu Sentai Zyuranger, aku selalu percaya kalau aku ditakdirkan untuk jadi ranger merah, pertama : karena dari dulu aku  suka warna merah. Kedua, namaku ..DARAH

Ya, Darah,  apalagi yang paling berasosiasi dengan merah selain darah?

Seperti kata pepatah lama : darah itu merah jendral.

jujur aku lupa entah pepatah entah apa, bunyinya persis demikian atau bagaimanpun aku juga tidak begitu ingat.

pokoknya dengan nama darah  dan baju merah ini, aku adalah  Ranger merah.

**

5797

Pertanyaannya, orang tua seperti apa sih yang memberikan nama ‘darah’ pada anaknya tanpa embel- embel apa-apa? Ada beberapa kepercayaan yang ku-anut : yang pertama mungkin saja, pejuang, pahlawan, anggota TNI ? Pejuang yang mungkin mengharapkan anaknya menjadi seorang pemberani seperti dirinya, atau  bisa juga dokter yang mengharapkan anaknya menjadi penyelamat kehidupan, bukankah darah adalah bagian dari kehidupan?

Sayangnya, yang manapun dari cerita  di atas, tidak ada satupun yang cocok dengan kisahku. Pertama, aku bukanlah pejuang, bukan petarung. Di sekolahku aku hanya menjadi  bulan-bulanan para jagoan sekolah, aku punya nama baru : darah berdarah-darah.

Darah takut darah, adalah nama ku yang lain, simple, aku pernah pingsan ketika ada kegiatan  donor darah disekolahku, kenapa aku bisa takut darah aku juga tidak tau.

trauma masa kecil?

Entahlah,

Yang pasti, aku tidak mengenal kedua orangtuaku. Ceritanya, aku di temukan di depan pintu panti asuhan dengan sebuah kalung bertuliskan Darah. Sebenarnya, hal ini juga yang membuat aku makin percaya aku cocok menjadi Ranger merah, karena biasnaya ranger merah punya asal usul yang masih misterius.

Keren.

**

Berkat orang tua angkatku yang mengambilku dari panti asuhan, akhirnya aku bisa berkuliah. Aku mengambil jurusan Sastra Inggris, karena memang dari dulu aku suka membaca dan menulis. Begitu kan yang ada di otak kalian ketika mendengar kata jurusan sastra apapun? padahal  kalau seandainya kalian tau, aku belajar hal hal yang luar biasa keren disini, aku belajar..

ah sudahlah

terlalu panjang kalau kuceritakan saat ini.

Begini saja,aku mau cerita sedikit tentang puisi, lagi-lagi aku bertemu banyak puisi yang memakai namaku, puisi  tentang perjuangan kelas yang memakan korban, ataupun pengorbanan untuk cinta, atau juga pusisi mengerikan yang ada darah-darahnya. Tapi sayangnya aku tidak begitu tertarik pada puisi, aku  aku lebih suka menulis.  Mengarang  kisah petualangan 5 jagoan warna warni, dimana aku adalah pemimpinnya- yang berwarna merah.

Kenapa sampai seumuran ini aku masih terobsesi menjadi ranger merah? jangan cuma salahkan aku, salahkan juga kampusku, karena punya kantor rektorat yang mirip dengan markas  mighty morphin,  jadi sering kali aku bermimpi kalau suatu saat aku terpilih untuk memimpin perlawanan mahluk angkasa luar atau monster dari negeri antah berantah.

kapan? entahlah?

**

Aku tepat sedang melihat keluar, ketika tiba tiba aku  hujan api menyerang kampusku,..

apakah ini hari akhir?

entahlah,

Yang pasti aku segera mengikuti rekan rekanku yang berlari menyelamatkan diri

hari yang buruk, tapi jujur, ini lebih baik dari pada mengantuk di kelas statistic yang tidak kusukai ini. Jangan salahkan aku, aku pikir aku tidak akan menemukan monster ini di jurusanku sekarang.

Aku tidak tau harus bahagia atau bagaimana

Tapi…

perlahan bola bola api  yang berjatuhan berubah menjadi mahluk mahluk bersayap hitam mengerikan, bentuknya bermacam macam, tapi mereka punya kesamaan, sayapnya berwarna hitam. Kalau kalian susah membayangkan, bayangkan kulkas di rumah kalian berjalan dengan dua kaki  dan kemudian tambahkan sayap hitam di punggungnya. Bisa juga kipas angin, atau papan tulis,  atau apalah, pokoknya punya dua sayap hitam, aku terlalu malas bercerita banyak , lagian, mereka sudah dekat!

aku berlari , rambut gondrongku melambai indah tertiup angin sore di kampus yang sudah semakin  chaos !!

mahluk-mahluk itu menyerang membabi buta, seakan akan cuma mau menunjukkan kalau mereka adalah mahluk yg kejam dan tidak berprikemanusiaan! tapi herannya kebanyakan mereka cuma menyerang yang laki laki, yang perempuan dibiarkannya saja berlari dan menyelamatkan diri,

ehm!

Aku menarik lagi kata-kataku, ternyata mereka tidak begitu buruk, sepertinya  aku sudah dibohongi apa yang aku tonton selama ini

“Menunduk” kata suara dibelakangku

gadis dengan rambut dikuncir itu melompati badanku dan melancarkan tendangannya ke dada kompor gas raksasa bersayap hitam  didepanku.

kompor gas  itu terhuyung, dia berdiri lagi, tapi malah mengincarku, bukan si gadis.

“Selamatkan dirimu” katanya memerintahku!

Aku menggeleng, aku malah mengambil posisi beradu punggung, sayangnya kampus sedang chaos, kalau tidak ini akan menjadi pose yang keren.. apalagi diambil dengan kamera otomatis yang mahal.

Gadis berkacamata  itu  kemudian melancarkan serangan ke mahluk didepannya, sementara aku diam. Dian-diam terpesona.

detik selanjutnya dia memegang tanganku! tanganku! Tangan…

Ya, ini pertama kalinya ada gadis yang memegang tanganku, ah aku bohong, ini kedua kali..

Pertama dan terakhir sebelum ini adalah ketika aku pertama kali menyebrang jalan setelah jadian dengan cewe idamanku si SMA, perasaan ini..

“Fokus” kata bidadari penyelamatku ini.

Dia kemudian membawaku melewati mahluk mahluk lain yang tak kalah absurd, pokoknya semua ada sayap hitamnya, apa tujuan mereka? tidak jelas, mereka cuma mengacau. Tapi aku percaya sebentar lagi di langit akan muncul pemimpinnya dan berkata kalau mereka akan menguasai bumi, so..typical

“Aku …darah” kataku sambil terengah-engah mengiringi larinya.

 “Putri ” jawabnya pendek “Menunduk” lagi-lagi dia memberikan perintah. Dan aku suka.

Aku mengikutinya, ketika tiba tiba lemari buku bersayap hitam berjalan mendekati kami.

“Kita mau kemana ?”  tanyaku kemudian.

dia meletakkan jarinya di bibir, dibibirnya, kalau dibibirku pasti  aku sudah mengulumnya dari tadi.

“Focus darah, focus” ujarku pada diri sendiri. sebelum dia bisa membaca isi kepalaku.

“Ikuti aku” bisiknya pelan.

lagi lagi aku membayangkan kalau Putri langsung membisikkan kalimat tersebut langsung ke kupingku, ah,

FOKUS!!

Aku mengikuti gerakannya, berjalan mengendap-ngendap, putri kemudian melepaskan pukulan kepada monyet berkepala strika bersayap hitam didepanku. Ya, ada juga jenis yang demikian, gabungan mahluk hidup dan alat rumah tangga. contoh lain : ikan berkepala sendok garpu. Yang sedang menggelepar tak jauh dariku.

Tentu saja mahluk ini belum mati. di serial yang aku tonton, mereka baru akan mati kalau Power Ranger memakai senjata pamungkas mereka yang dipegang bersama sama. itupun, nantinya mereka akan jadi rakasa dan kami akan melawannya dengan robot keren yang sayangnya suka merusak gedung.

Kami berdua sampai di depan tong sampah raksasa di bagian belakang rektorat. Putri kemudian meletakkan tangannya, melakukan semacam scan yang selama ini hanya kulihat di film-film.Tong ajaib itu bergeser dan kemudian sebuah tangga ke bagain bawah muncul di hadapan kami

“Ayo “ katanya

Aku kemudian mengangguk setelah terpesona oleh wajahnya yang dipenuhi keringat. Sexy.

**

Mahluk didepanku terlihat keren, dia memakai topeng ultramen, yang banyak dijual di pinggiran jalan, untung dia tidak memilih upin-ipin atau hello Kitty. Pasti makin terlihat aneh.

tapi ..

rambut dan kepalanya tidak bisa disembunyikan, aku tau siapa beliau, itu kepala rektor kampusku, atau seperti teman-teman baruku memangilnya : REAKTOR.

tunggu..

Aku lupa menceritakan kalau aku sekarang berada di sebauh ruangan mutakhir canggih mirip dengan kapal ruang angkasa di film film science fiction, juga mirip dengan command centernya kota yang di pimpin kang Ridwan Kamil, pokoknya canggih dan futuristik. Ketika aku masuk ruangan tadi, aku disambut oleh seorang gadis  yang memakai pakaian full pink, dari jilbab sampai sepatu, namanya cahaya citra cantika, anak fakultas ekonomi, dua tahun dibawahku, dia lebih cantik dari bidadari penyelamatku, tapi bidadari-ku ini lebih dewasa dan lebih tough.

aku dilema, memilih siapa.

Satu lagi, ada seorang anak sebayaku yang sedang mengotak ngatik tombol di depan salah satu layar raksasa yang menempel di dinding. Tadi aku dikenalkan pak Reaktor, namanya Teo, lengkapnya Teorema Phytagoras, anak MIPA. Anaknya terlalu serius,dan hoodie hitamnya terlalu misterius.

Aku tidak akan kaget kalau sebentar lagi akan beredar fakta kalau teo ternyata ranger hitam, atau ada pengumuman kalau citra adalah ranger pink, aku sudah mengkonsumsi film sejensi ini terlalu banyak.tapi, aku akui aku masih terkagum-kagum menyaksikan semua yang selama ini cuma ada di televisi sekarang nyata di depanku. Normalnya aku akan berteriak, tapi karena didepanku ada orang orang baru, aku memilih untuk menjaga sikap, walau aku tau sebentar lagi mimpiku menjadi kenyataan.

YAY!!

ketika aku masih terkagum-kagum, seseorang masuk dengan kemeja hijau terangnya , rambutnya tertata rapi dengan pomade,ada bulu halus di sekitar dagunya,mahluk ini  memakai skinny jeans dan sepatu keren. bukan tidak tau mereknya, aku cuma tidak mau menyebutnya disini.

Lelaki keren ini terlihat terengah engah, terengah engah,

“Ray … tewas” katanya.

“Aku..aku..”

Citra segera berlari ke pojok ruangan yang merupakan dapur mini. Keren, ada coffee maker nya juga, dan kemudian dia sudah kembali dengan segelas air putih

“Minum dulu kak” katanya kemudian.Lelaki itu meminumnya kemudian duduk di sofa,

“Ray melindungiku, dan menyuruhku lari, harusnya aku yang tertembak” dia menyandarkan badannya ke sandaran, aku melihat yang lain terdiam, bahkan Teo yang dari tadi diam dan sibuk dengan layar, terlihat ikut menoleh.

dan saat itu entah setan bodoh dari mana, tiba tiba merasuki otakku dan kemudian menggerakkan mulutku.

“Kau sudah melakukan hal yang benar kawan, kalau tidak pengorbanan Ray akan jadi sia-sia”

semua menoleh ke arahku, dan tiba tiba lelaki tadi bangkit dan kemudian melayangkan pukulanya ke wajahku sebelum aku sempat berbuat apa-apa

“Jangan ikut campur, kau tidak tau apa-apa.”

Citra memegang tangan lelaki tersebut sementara Putri membantuku berdiri

“Sorry”  balasku perlahan, dia berbalik tapi masih mendengar kata BANGSAT keluar dari mulutnya

“Kalau perkenalannya sudah selesai, kita tidak punya banyak waktu, Ray tidak mati agar kita saling membenci dan menghabiskan waktu seperti ini” kata suara bijak yang kemudian mendekati kami sambil membawa sebuah kotak kayu penuh ukiran.

“Waktunya sudah tiba, seperti yang pernah aku katakan, kalian berlima terpilih untuk melakukan ini”

Empat teman baruku saling pandang, kemudian semua memandang ke arahku. Aku? aku memandang mata Putri yang sungguh mempesona.

“Lima?” Teo bersuara untuk pertama kalinya, membuyarka imajinasiku.

“Takdir sudah mengatur semuanya Sid” kata pak ultramen tidak menjawab Teo, dia malah menatap Sid yang terlihat masih emosi kepadaku, juga kepada pak ultramen, mungkin.

“Kedatangan Darah dan kematian Ray bukanlah kebetulan” Masih menatap tajam Sid, pak Reaktor melanjutkan sambil melihat tiga rekanku yang lain. Jangan  heran, walau dibalik topeng, entah kenapa aku bisa merasakan tatapan matanya yang amat tajam tersebut

“Mendekatlah” ujarnya sambil meletakkann kotak di meja kaca depan kami.

“Siap?” Beliau berkata lagi sambil menatap kami berlima

Ketika tidak ada yang menjawab mungkin di situ beliau merasa sedih, tapi beliau tetap membuka kotak tersebut…

…5 cincin dengan batu warna warni tersuguh di hadapan kami!

“Silahkan ambil satu, kalian tidak akan salah pilih” lanjutnya

citra maju duluan, sudah bisa ditebak, dia mengambil batu berwarna pink, diikuti teo yang mengambil batu berwarna hitam, Sid mengambil batu berwarna hijau

tinggal sisa aku dan Putri.. dan dua cincin didalam kotak..biru dan merah, seperti baju Superman, Spiderman, juga Kapten Amerika..juga…

FOKUS!!

“Ladies first” ujarku kemudian

Putri tersenyum untuk pertama kalinya dan kemudian mengambil batu berwarna ….

tunggu

….Merah?? MERAH?

tapi putri kan memakai jaket biru gelap, harusnya dia mengambil warna biru, tapi…

“Kalian tidak akan salah pilih” ulang pak Reaktor.

aku masih berpikir bagaimana suaranya bisa selantang dan sejelas itu dibalik topeng ultramannya. Sudahlah.

Aku melihat teman teman baruku yang sedang memegang cincinnya masing masing,  semoga saja aku Cuma berhalusinasi ketika aku melihat Sid menatapku dengan penuh kebencian. Ya, ya, aku tau, itu bukan halusinasi, aku sadar, jelas, batu ini harusnya jadi milik Ray, bukan aku.

Kenapa Sid jadi semarah itu, apa Ray itu…

Aku menggelengkan kepala, kebiasaan burukku selalu lari ke dunia khayal ketika hal hal penting ada didepan mataku.

aku pun maju, tapi ragu.

“Baiknya kukatakan saja, kalian tak pernah memilih batu batu tersebut. Garnet, kalimaya, giok, merah delima, safir, mereka yang memilih kalian” Lagi lagi suara dibalik topeng ultramen itu seakan membaca pikiranku.

batu biru itu bersinar,seakan minta diambil.

Aku menghela nafas, sepertinya aku harus belajar memahami takdir dan mungkin waktunya menelusuri asal usulku, siapa tau aku keturunan bangsawan…

Aku mengambil cincin itu dan memasangnya ke jariku.

sepertinya, aku akan punya nama baru : darah biru.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s