Aku Minta Maaf

“Aku minta maaf”

Ken melontarkan lagi kata-kata ajaib ini. Jujur, walau bukan pertama kalinya, tapi sampai masih sekarang aku masih geli mendengarnya. Tapi apa daya, aku cuma bisa tersenyum, menggeleng kemudian terus menghabiskan makanan di depanku.

Malam ini aku dan temanku ini sedang berada di sebuah coffee shop. Tumben? Ada acara apa? Aku yang karir penulisanku belum terlalu jelas ini tentunya belum sanggup ‘bermewah-mewah’.

What? mewah?

Sorry, kita mungkin punya standar yang berbeda. Buat banyak orang, mungkin hal ini adalah hal biasa, tapi buatku menghabiskan banyak nominal rupiah untuk ngopi dan nongkrong di tempat cozy seperti ini merupakan sebuah kemewahan. Ya, karena itulah, aku cuma mendatangi tempat ini dalam rangka tertentu : Pertama, ketemu client yang memang entah kenapa sangat suka untuk bertransaksi di tempat sejenis ini, Kedua, ketiga dinding kostan dan tempelan foto para idol sudah mulai membosankan. Perlu diketahui, aku cuma akan memesan secangkir kopi dan nongkrong disana dari pagi sampai sore, memanfaatkan daya listrik dan wi-fi yang mungkin biayanya lebih dari harga segelas kopi tadi. Begitulah, aku memang setidak tau diri itu, tapi paling tidak aku yakin aku tidak sendirian…

Ketiga, seperti hari ini, ketika ada kabar baik untuk temanku : mendapat bonus setelah berhasil closing besar dengan client, tapi walau ada kabar baiknya, kabar buruknya adalah …

Tunggu!

Kurang pas rasanya kalau ini dikatakan kabar buruk, seperti yang aku bocorkan di awal, Ken ada masalah dengan gadis cantiknya yang bernama Ayu ini sebenarnya bukan sebuah berita, sama halnya dengan aku mengeluh soal mahalnya kopi di coffeshop tadi ! bukan hal baru ! basi !!

Aku pribadi juga tidak heran, dengan frekuensi pertemuan yang seakan tidak ada habisnya : Telponan di pagi hari, kemudian bertemu lagi di kantor di siang hari sampai sore, kemudian malamnya telponan lagi, weekend sabtu-minggu juga berdua lagi, dari pagi sampai malam…

Tidak perlu Uya kuya untuk bisa meramalkan perkelahian yang berujung pada..

“Aku minta maaf, aku tau aku salah”

begitulah, Kalau sudah begini, seharusnya aku bersukur, sepertinya aku sudah berada di jalan yang benar : cinta di dunia nyata begitu rumit.

**

“Aku minta maaf”

Setelah drama panjang yang kusaksikan di kontrakanku, akhirnya temanku ini pun lagi-lagi mengalah untuk yang entah ke berapa kalinya , walau dari tadi beberapa kali dia terlihat mencoba reasoning dan mengutarakan statementnya, tapi pada akhirnya tetap saja dia tidak mampu mengalahkan nominasi gadisnya ini. Wajari sih, karena menurutku Ayu memang tipikal gadis yang suka mendominasi, sukar ditaklukan, paling tidak oleh sebagian besar pria.

“Maaf, iya, aku yang salah, aku ga berguna, udah ?”

Jujur, kali ini aku tak bisa menahan tawaku. Temanku ini mendelik, memberikan satu jari tengahnya padaku.

Detik selanjutnya, aku kembali tenggelam dalam tulisanku. Sebuah majalah remaja ibukota sudah menunggu untuk minggu ini. Ya, aku belakangan mendapat sebuah tempat khusus mengisi halaman cerpen kisah cinta remaja. Walau ini perkerjaan yang buatku menyenangkan, kata teman-temanku : Ini pilihan bodoh. Pertama, di usiaku yang beberapa tahun lagi menuju angka 30 harusnya aku punya pekerjaan yang lebih mapan, mungkin seperti temanku ini, yang sudah mampu menabung untuk mobil dan apartemen. Kedua, menurut mereka, aku terlalu tua untuk menulis kisah cinta remaja.

Tapi ada yang lebih bodoh, aku menjadi semacam ironi : penulis kisah cinta yang belum pernah percaya dengan cinta.

**

gambar nyari di google
gambar nyari di google

“Aku minta maaf”

Ah, lagi-lagi, sepertinya aku sudah berjodoh dengan kata-kata ini.

Tulisanku untuk minggu ini sudah ku selesaikan sebelum tenggat waktu, jadi aku punya lebih banyak waktu untuk menghabiskan sekian puluh komik di taman bacaan ini. Bagiku merupakan kesenangan tersendiri. Aku memang punya koleksi sendiri di kostan tapi tentunya tidak dengan komik-komik terbitan lama seperti yang kutemukan di sini: semacam Gundala, Godam dan kawan kawan, yang tentunya juga sudah susah di temukan di tempat lain. Surga kecilku ini adalah sebuah taman bacaan lama yang hampir mirip museum. Kala taman bacaan lain mungkin ‘menggaet’ gadis-gadis cantik sebagai penarik pelanggan, taman bacaan tua ini tetap di jaga oleh pak tua pemiliknya, sekaligus menjadi orang yang bertangung jawab membuatkan kopi hitam tradisional untuk para pembaca yang berminat.

“Aku bener-benar minta maaf”

Ketika aku mendengar lagi kata-kata ajaib itu, Aku sempat menangkap mata Ayu yang melirik ke arahku, sementara aku cuma memberinya sebuah senyuman. Aku tidak tau lagi apa salah temanku, tapi peduli setanlah, toh aku bisa tanya dia nanti.

Aku duduk mendekati gerobak kopi pak tua, dia sedang membaca komik lama sebuah komik silat yang entah sudah berapa kali dibacanya, saking seringnya aku percaya kalau dia sudah bisa menceritakannya kepadaku tanpa harus melihat ke buku tersebut

“Itu bukannya..” tanya si bapak tua ketika beliauke arah mereka, aku mengangguk kemudian mengedipkan mata.

Si Bapak menggelengkan kepalanya. Ternyata dia mengerti.

Kadang walau sudah berulang kali jatuh cinta, masih ada yang tidak mengerti cinta, kadang sebaliknya.

**

“Aku minta maaf”

Gadis di depanku itu memang terlihat menyesal. Aku menghela nafas, tapi aku kemudian memilih tetap diam.

“Please , maafin aku, aku sama sekali ga tau dia bakal muncul di sana“

Aku menghembuskan rokokku entah ke berapa kalinya sambil bersandar di dinding kamarnya. Dia kemudian mengambil sebatang rokokku dari kotak diatas meja.

“Aku tau aku salah”

….dan menghirup rokoknya dalam.

“Marahin aku, caci maki sesukamu, tapi please.. jangan diemin”

Aku sekarang duduk di jendela kamarnya, memandang keluar, masih tak berkata – kata. Setelah membuang rokokku keluar jendela akupun kemudian mengambil ransel ku dari ranjangnya dan beranjak keluar.

“Please maafin aku” dia mengulangi lagi kata- kata ajaib itu sambil memegang tanganku dan ..

matanya mulai berkaca-kaca.

Aku membalik badan, diam, kemudian memeluknya kedadaku.

Aku benci hal hal seperti ini, makanya aku selalu menghindari jatuh cinta dalam makna yang sebenarnya.

**

Ken datang ke kontrakanku, wajahnya kali ini berbeda, terlihat ceria.

“Enak banget tuh muka” ujarku iseng kemudian melanjutkan membaca novel ditanganku.

“Mood Ayu lagi baik banget”

Aku membalik halaman

“Kirain bakal putus” komentarku pendek.

“Anjing, lo nyumpahin gue ya” sumpahnya.

Aku tertawa, mencoba menghindari tiga kata yang harusnya terucap dari mulutku kepada mahluk di depanku saat ini..

Tunggu!

Mungkin bukan saat ini saja, seharusnya sudah dari dulu

Aku minta maaf

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s