Anima, Animus

“Menikah?” Dia tertawa kemudian melanjutkan, “Kamu pikir segampang itu, ini bukan cuma tentang dua orang, ini tentang dua keluarga, tentang dua ide yang ga selalu sama”

Aku tersenyum, sementara gadis manis didepanku  ini kemudian menurunkan volume dan tempo suaranya.

“Pangeran udah nanyain sih, tapi aku nya yang belum siap”

pangeran, adalah bagaimana kami menyebut kekasih resminya saat ini, karena di beberapa kali kesempatan aku memanggilnya tuan putri, dan juga karena dia selalu menganggapku sebagai bawahannya,  kalau tidak tukang ledeng seperti Mario dan princess peach, maka aku adalah pengurus kuda, yang manapun tak apa-apa, karena bagi pengadut paham femdom seperti aku, keadaan seperti ini terbilang  membahagiakan.

“Bahkan..” Dia menggantung kalimatnya kemudian menghela nafas lagi  “Jujur, aku sama sekali ga kepikiran buat nikah ”

aku masih tersenyum, satu kesamaan lagi mencuat diantara kami

“Kamu sendiri?” balasnya kemudian

aku menggelengkan kepala

“Aku yakin kamu sudah tau kalau,  I’m not man of commitment” Ujarku kemudian. Kami diam sejenak, kemudian aku menghela nafas “ but who knows? “ lanjutku sambil merapikan dan mengikat rambut gondrongku. dan kemudian kami berdua tertawa.

**

“Suka bikin script?”

gadis didepanku bertanya, aku kaget, tiba tiba pertanyaan demikian muncul dari bibir tipisnya.

“Itu, bukunya” lanjutnya demi menjelaskan kebingunganku.

Aku baru sadar

“Masih belajar” jawabku kemudian menutup buku dan focus ke arah pewawancara  dadakan yang cantik ini

“oh, aku Athena, aku suka bikin film juga”

“Rex” Balasku pendek.

Dan kemudian pembicaraan berubah dan bergerak secara random, dari film ke  komik, dari vampire sampai ragnarok, dan dua mangkok bakso menutup perjumpaan pertama kami.

**

Umurnya yang beberapa tahun bawahku tidak membuat dia manja, malah sebaliknya, aku yang suka berlaku demikian. Aku  suka saat dia mengacak ngacak rambut ku yang berantakan, aku yang suka tiduran di kaki kurus yang di balut jeans bolong-bolong itu, dan dia yang lebih sering menasehatiku tentang bagaimana hidup dan hal hal filosofis lainnya.

hari ini, aku sedang tidur di pangkuannya ketika dia sedang menggambar wajahku,

“Kamu jangan gerak-gerak ih, susah”

Aku tertawa kemudian beranjak dari pangkuannya, tak lama kemudian aku merobek sebuah kertas dari notebook yang selalu aku bawa kemana-mana,  mencoret – coret, tak lama kemudian, di kertas itu sudah hadir versi cebol dari dirinya.

Dia tersenyum,“Not bad”, lanjutnya kemudian.

Baru kali ini ada cewek yang memberikan penilaian not-bad buat gambarku, dan sialnya, aku harus mengakuinya. she’s better

**

Aku harus ke ibukota, ada sebuah proyek tulisan yang membutuhkan aku untuk menetap  beberapa bulan dengan team penulis di sebuah rumah yang sudah disediakan. Sialnya pada hari yang sama  siluman rubah betina ini mau ke Jogjakarta. Ya, siluman rubah betina adalah julukan yang diberikan pangeran kepadanya, seperti yang dia ceritakan kepadaku…

“Apa aku batalin aja ya?” tanyaku sore itu di sebuah coffee shop favorite kami.

“Ga usah “ katanya pendek sambil menyesap Americano di cangkirnya.  Hari itu cantiknya agak berbeda, rambut panjangnya yang biasa sekarang dikuncir, memperlihatkan leher putih mulusnya yang menggoda. Jumper kebesaran yang sehari-hari akrab dengannya sekarang juga tidak ada, dia cuma memakai kaos polos hitam panjang kebesaran. Jeans? masih yang seperti biasa.

“Tapi sayang banget kan, kapan lagi kita bisa pergi bareng, mumpung kamu ga lagi ama pangeran” Ujarku mengedipkan mata, persis om om genit jahat di sinetron.

Dia tertawa, “sebenarnya aku pengen ngilang sendiri aja” jelasnya kemudian, tetap dengan tampang polos tak berdosanya/

aku menggeleng, tertawa, tapi  kemudian menarik nafas panjang. aku mengerti cewe di depanku ini, kaalu dia pengen sendiri ya berarti sendiri, karena aku kenal seseorang dengan watak sama persis seperti ini.sangat kenal.

“Ya udah, besok sebelum berangkat aku antar kamu ke stasiun.” ujarku.

“Kamu kebanyakan nonton korea” balasnya tak  lama kemudian.

**

Beberapa kali telpon ku tidak diangkat, sekalinya diangkat cuma basa basi bertanya kabar. Athena  bercerita hal hal biasa, dia  sudah kembali sibuk dengan kuliah, film-film indie dan gambar gambarnya, sementara aku sedang di ibukota, menunggu ketidak pastian proyek tulisan yang ternyata akhirnya digantung sampai waktu yang tidak ditentukan. dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kota Athena.

Perlahan, mungkin karena kemauan penulis naskah di atas sana, hubungan kami menjauh, atau mungkin memang mungkin salah satu dari kami secara tidak sengaja berdoa untuk ini semua….

tapi puncaknya adalah ketika aku melihat perubahan di status facebooknya,

Siluman rubah betina ini sudah menikah!!

Demi apa?

Mungkin salahku yang sudah terlalu lama tidak membuka facebook sejak kehadiran nabi- nabi baru sejenis Jonru…

Kembali ke siluman rubah betina, aku pun  langsung mengirimkan pesan sekaligus berharap kali ini dijawab. dan sepertinya tuhan memang bertanggung jawab penuh atas skenario ini, buktinya, tidak lama kemudian langsung ada balasan dari  Athena :

Iya, aku udah merid.

Hari itu tuhan mengizinkan kami bercerita lagi, dari sana aku tau  dia tidak lagi di kost lamanya yang horror karena lokasinya di komplek rumah tua peninggalan belanda itu. Tapi ada yang lebih mengerikan, menurut ceritanya sekarang dia sudah pindah ke sebuah rumah kecil bersama suaminya, katanya tidak jauh dari kostan aku di kostan aku di kota ini.

sial!

Tapi, akhirnya Aku pun mengucapkan selamat, terutama ketika aku aku tidak menemukan foto bulan madu ke Thailand atau singapura, seperti yang aku temukan di foto-foto temanku yang belakangan juga seperti berlomba menikah dan menimang bayi.

Ah, mungkin sebenarnya aku cuma iri,

Mungkin juga,  suatu saat nanti, kalau aku menikah, aku akan melakukan hal yang sama seperti dia.

tapi aku percaya, Bukan cuma jatuh cinta, harusnya pernikahan juga bisa biasa saja.

**

Hari ini,aku melihatnya lagi untuk pertama kali setelah pelukan di stasiun malam itu,  sekarang , kami mengulang lagi di tempat kami pertama kali bertemu, kali ini berbeda, dia bersama suaminya.

Aku sibuk membaca sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya.

“Siapa?” tanya perempuan di sebelahku

“Bukan siapa-siapa, mirip teman” Bohongku perlahan.

Dia cuma mengangguk sambil menikmati cappuccino ya.

Akhirnya, beberapa waktu kemudian, si rubah betina ini melihat ke arah ku, dan kalau aku tidak salah ,dia sempat  tersenyum. Itu saja.kemudian dia terlihat kembali sibuk.

Ah, aku tertawa. Susah dipercaya, tapi sepertinya besar kemungkinan dia tidak  lagi mengenali aku. Banyak Alasan,  selain meja kami yang lumayan berjarak, dia juga sedang tidak memakai kacamatanya. selain itu, mungkin aku tidak lagi lelaki gondrong seperti yang dia kenal dulu. Aku sudah memangkas rambut gondrong sebahuku sebagai harga untuk bergabung di sebuah kantor konsultan politik di kota ini. Lagian, gadis disebelahku ini tidak begitu suka dengan rambut lamaku, katanya dengan rambut seperti ini aku akan terlihat lebih segar di hari pernikahan kami yang akan berlangsung tak lama lagi. Mohon doanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s