Merasa Lucu

saya tidak tau berapa orang yang benar-benar lucu di dunia, tapi saya percaya begitu banyak orang yang merasa sudah lucu…

Sabtu kemaren adalah salah satu hari bersejarah dalam hidup saya, dan itu ada hubunganya dengan percakapan di telepon kurang lebih setahun yang lalu..

saya : om lagi males banget liat kontestan itu Gi, ga ada lucu lucunya

agi :  iya om, harusnya om ikut…

saya : itulah Gi, udah lwat, ah, om yakin materi om lebih oke dari dia

agi : berarti tuhan belum ijinin om, tahun depan om musti ikut ya, janji ya, agi bakal ingetin om..

saya :….

**

Awalnya, saya  agak lega ketika kompas memutuskan untuk mengadakan liga Kompas TV. Pertama, kompas bisa sedikit menjaga kualitas jaura suci sebelum sebelumnya, ga dempet dempet gitu.  Kedua, berarti saya tidak wajib mengikuti audisi tahun ini karena diganti ama liga Kompas TV ini..

sorry  Agi

tapi ternyata saya salah….

ternyata setelah liga suci yang mempertemukan komunitas komunitas standup comedy seluruh Indonesia berakhir,  Kompas tetap mengadakan suci  5…

jadi kan om? ayo daftar!!
-Agi-

**

register

satu hari menjelang hari, saya download formulir, kemudian saya  buka bank materi : semacam memo di ponsel saya  yang berisi  materi yang entah kenapa saya percaya akan saya pergunakan pada suatu hari.  Dan sepertinya memo ini berguna lebih cepat, dari apa yang saya bayangkan.

dan akhirnya saya membuat coretan-menggabungkan dan menjembatani dari setup-punch ke setup lainnya dan akhirnya saya berhasil menyelesaikan materi yang lumayan … menurut saya sendiri.

Begitulah, entah kenapa tiba-tiba saya begitu percaya kalo materi ini bakal oke, saya sudah hitung waktunya, paling tidak 30 detik pertama saya sudah ada satu punchline yang tidak biasa, dan sisanya akan bekerja sesuai kodratnya masing-masing.…

…Dari sekedar memenuhi janji, saya mulai merasa, ini waktunya saya angkat bicara….

sedaph

**

ga ngasih tau siapa siapa, Besoknya saya berangkat sendirian ke tekape : sebuah padepokan seni yang jauhnya adalah 4 kali angkutan umum dari kostan saya. saya sengaja, karena seandainya saya lolos, ini akan jadi surprise nantinya ketika ini ditayangkan. epic.

Dan saking niatnya, jam 8 saya udah nyampe di sana. Awalnya saya mikir bakal masih sepi,  ternyata sudah rame ama berbagai jenis orang…

beberapa sudah bergerombol, jelas anggota komunitas yang ingin menjajal ilmu mereka

mobil mobil mewah berderatan, begitu juga pemiliknya, tipikal veteran yang datang tiap tahunnya

beberapa ada yang membaca Koran mungkin mencari materi

ada yang sibuk komat kamit

ada yang masih ngisi formulir

ada yang tampil  niat banget, pake peci, sarung, dan sepatu futsal, yang kemeja dikancing dan jadi mirip nobita juga ada.

sisanya… jualan makanan.

saya? seperti biasa, memilih untuk membentuk aliansi, mendatangi mereka yg sendirian dan kemudian.. ajaib, kami sudah seperti jadi komunitas sendiri, dengan wajah veteran, formulir di tangan. Saya kenalan dengan Dika, anak komunitas yg sedang datang sendirian dari garut. kenal Fredi , marketing sebuah merek komputer yang ngakunya iseng dan baru tau standup comedy, yang belakangan ketauan ternyata boong abis. Dia juga lagi boongin bini-nya, ngajak liburan ke bandung, ternyata belok ikut Audisi.  Cerdas.

jam 9 antrian panjang dimulai  dan setelah cukup lama mengantri akhirnya…

gate tetap tidak dibuka dan kita malah disuruh teriak teriak depan kamera.

baru jam sepuluhan lah kira kira gate dibuka dan pendaftaran dimulai….

**

per-sepuluh peserta dipanggil  ke panggung audisi tentunya membutuhkan waktu lama, kalau satu peserta bisa memakan 3-5 menit, silahkan hitung waktu, berapa yg dibutuhkan untuk sampai ke no 130?

tiket

Menghindari radar kamera, memisahkan diri dari MC panggung utama dan memperluas Aliansi adalah cara yang saya pilih untuk membunuh waktu. Saya kenal Rio, yang ternyata anak padang juga, trus ada Wahyu, dan beberapa orang yang belakangan datang ke sebuah saung yang saya putuskan menjadi daerah kekuasaan saya. Lumayan, bisa senderan, bisa tiduran.

Ada yang menarik di sebuah ruangan kosong  di sebelah saung basecamp ‘komunitas’ yang baru saya dirikan ini:  beberapa Anak dibawah umur, -karena mereka jauh dibawah umur saya-, menempati ruangan tersebut dan melakukan sebuah kompetisi sendiri, semacam latihan simulasi, lengkap dengan juri. Entahlah,  mudah mudahan mereka melakukannya bukan karena stress karena sampai siang baru ada 2 golden tiket yang dikeluarkan juri , sementara tak terasa peserta sudah melewati angka 50

sementara di tengah saung sana, sedang ada games dan doorprize dan latihan open mic di  sebuah stage yang juga menghadirkan Zawin, juara 3 season kemaren, sebagai bintang tamunya. Di seberangnya ada yang jualan mie rebus dan kopi . Jelas, yang kedua jauh lebih menarik.

 **

Jam 4 kurang lebih, barulah saya, Fredi juga beberapa teman  dipanggil kebelakang panggung. Ternyata panggung audisi kali ini memang diset seperti sebuah panggung babak final.  Kalau di Audisi sebelumnya om  Indro dan Radit cuma duduk di kursi biasa sekarang mereka  berada di sebuah meja juri seperti di  kompetisi, penontonnya pun duduk seperti yang kita lihat di tivi. Canggih abis, sekaligus serem abis.

tapi jujur, saya yang semula dipenuhui kupu kupu tiba-tiba sangat siaap. Apa lagi, cuma 5 tiket yang baru keluar sampai sore ini. Terpaksa,  saya akan menjawab doa dan dukungan teman-teman dari belakang panggung, golden tiket ke 6  akan jatuh ke tangan saya  dan..  here we are..

sayaberjalan ke stand-mic, tersenyum ke penonton, lepas mic, kemudian.,

selamat sore semua… nama saya Rayes Mahendra….

**

 “makasih Ray”

Ucapan terimakasih dari Radit tersebut sekaligus menutup penampilan saya sore itu, saya tersenyum, menunduk dan kembali meletakkan mic. Saya menarik nafas lega, kemudian pindah ke bangku penonton…

Fredi yang juga gagal mendapatkan golden tiket walau tampil memukau beberapa nomor sebelum saya pun pamit, dia mau balik ke hotel, kasihan, selama entah berapa jam, dia meninggalkan bininya dalam mobil di parkiran. Sebelum pulang dia ngajak saya untuk ikut lagi di Jakarta, kayanya dia masih penasaran. Saya pribadi cuma tertawa dan memutuskan untuk tetap menikmati penampilan sambil menunggu azan magrib. Penampilan berikutnya makin keren, dari yang model panglima ISIS, sampai yang bawa tas ke panggung dan mengancam  meledakkan ruangan kalau tidak diberi golden tiket. Tapi yang paling keren  saya bisa ketemu dan sharing banyak ama zawin, favorite saya di season sebelumnya. Dan setelah azan magrib berkumandang.. saya memutuskan untuk meninggalkan panggung pertunjukan, sementara itu dua golden tiket berikutnya baru saja berpindah tangan.. sementara peserta sudah 200 orang….

**

“Ga papa om, yang penting penasarannya udah lepas, mungkin ini kesempatan belajar,lagian Agi kan juga udah bilang, mending om jajal panggung lebih kecil dulu” Kata Agi di telpon.

saya tersenyum kemudian membalas

“Ini panggung kecilnya gi, om udah coba, mungkin ini waktu yang tepat untuk memulai di panggung yang lebih besar”

Seperti biasa, saya sok bijak, sok kuat, tapi Agi pasti tau kalau beberapa hari kedepan, dia akan cape memompa kembali semangat saya.

Begitulah, sabtu kemaren adalah panggung pertama saya (  kalau penampilan di ulang tahun radio di kota saya dulu tidak dihitung sebagai stand up comedy karena ada sesi tanya jawab setelahnya ) dan sabtu itu juga ada satu hal lagi yang harus saya sadari :

dari sekian banyak yang datang yang tampil, banyak yang merasa sudah lucu,

…saya adalah salah satunya…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s