Ciwidey, pertama kali.

kadang, Tuhan iseng mengabulkan renungan kita, tanpa kita meminta renungan dan angan itu untuk di kabulkan…..

Dalam waktu yang tak berselisih terlalu lama, dua orang wanita hebat, Bunda, wanita yang melahirkan saya dan menanamkan semua kebaikan yang ada pada saya sekarang, dan Anda, wanita yang menjadi saksi hampir sebagian besar kejahatan saya, datang ke Bandung, dan memakai Display Picture yang sama : Ciwidey.

Trus? Penting?

Bagian tadi cuma intro sih, Biar rada nyambung ceritanya. Saya sebenarnya cuma mau cerita, orang orang yang belakangan datang ke Bandung saja sudah ke Ciwidey, saya kemudian suka bertanya – tanya dalam hati : saya yang udah lumutan ini kapan ya?
Bukan ,ini bukan seperti renungan orang yang ingin naik haji dan kapan ke tanah suci, jelas tidak semulia itu. Pertanyaan itu sebenarnya berbunyi : kapan saya punya semacam kemauan dan alasan untuk kesana ? karena saya mikirnya kaya gini : saya punya waktu cukup lama di Bandung, sementara buat kesana kan paling sekali juga udah cukup, jadi kenapa harus buru buru? terakhir, ke sana naik angkot apa ya??

tapi itu kan pemikiran saya..

**

“Kawan-kawan ngajak ke Ciwidey, bisa ikut kan?”

Minggu malam kemaren, saya kedatangan sebuah BBM dari si teteh, senior saya yang memang siangnya baru mengadakan acara reunian informal dengan kawan-kawannya satu angkatan, semacam acara makan-makan, paling tidak itu yang terlihat di BBM, paling tidak itu yang menjadi focus di kepala saya.

Saya kemudian mengajukan beberapa pertanyaan sebelum saya menerima tawaran ini. Kenapa?  pertama, karena para pesertanya jelas bukan dari angkatan saya, beberapa memang sudah kenal, tapi tetap saja ada canggung nya. Tapi karena penjelasannya menurut saya bisa diterima dan kebetulan saya juga belum pernah ke sana…. maka saya pun menyanggupkan diri untuk ikut…

walau, malam itu sebenarnya sang pemilik rencana masih menitipkan saya dengan kesempatan menghapus dosa kecil dalam wujud batuk dan demam,dan kalau benar demikian, saya percaya penyakit ini sangat kecil kemungkinan untuk sembuh besok. Pasalnya, dosa kecil saya lumayan, dosa besar? jangan ditanya…
Tapi, kata si teteh : ada 3 dokter cantik yang ikut..

Maka, saya punya daya apa untuk menolak?

**
Paginya, setelah sukses tidak tidur karena guling-guling dan gelitikan dengan batuk , jam 7 saya sudah nongkrong di dipati ukur seperti perintah si teteh…

Namun baru sekitar jam 8, Si teteh dan Fadli yang beruntung menjadi supir mencogokkan diri. Dan peserta yang awalnya 8 orang, ternyata cuma 7 orang termasuk saya. Sepertinya sang maha rencana sudah mengaturnya sedemikian rupa. Bangku belakang pun pas diisi oleh dua orang : Saya dan Anggi, Mohon jangan tertipu, Anggi ini berjenis kelamin lelaki, dan ukuran badannya menyerupai badak raksasa, beda tipis dengan Godzilla yang duduk disebelahnya.

**

sometimes the journey is better than destination..

kecuali Fadli yang didaulat menjadi supir abadi karena tidak ada yang punya kapabilitas untuk menggantikannya, dan teteh yang menjadi navigator dadakan karena seminggu yang lalu baru dari lokasi, semua penghuni mobil pasti setuju dengan kalimat diatas. Terutama barisan tengah yang berisi 3 dokter muda. Mulai dari dokter Ami yang tidak bisa berhenti tertawa karena mendengar ocehan Anggi, dokter Riri yang dari tadi membalas bacotan Anggi, dan terakhir dokter Nina bobo yang dari tadi jadi bahan bullian Anggi. Saya? saya cuma bisa diam, karena gelombang saya kebetulan berada di jalur yang sama dengan Anggi.

Tak apa, saya juga menikmatinya, karena saya menjadi saksi bahwa ketika satu orang psikolog, satu orang anak IT, 3 orang dokter , dan satu penjelejah mistis, bisa punya obrolan yang saling melengkapi satu sama lain. Awalnya, saya pikir saya akan menemukan debat panjang antara dokter dan dukun yang diperankan Anngi ,science vs mitos, tapi ternyata tidak, semua sepertinya setuju kalau ‘mereka’itu ada. Cerita pun mengalir, dimulai mahluk kostan anggi yang suka tidur di kasur, rajin ngeberesin barang yang berantakan sampai iseng ngajak kenalan pake batu bata, cerita beralih ke intro dunia lain, dengan settingan rumah sakit di Bandung yang tidak lagi difungsikan, yang sekarang katanya sangat amat mengerikan, karena dulu konon itu tempat pembuangan mahasiswa pas zamannya Pak Harto, terlepas benar atau tidaknya, tapi menurut Anggi memang mahluk astral disana tidak tergolong ramah…

Saya sendiri cuma diam, bukan masalah takut. Saya juga ingin berbagi cerita tapi minder, modal saya cerita horror biasanya cuma cerita dan pengalaman teman, sisanya nyomot dari majalah misteri dan mistik, karena walau tertarik, saya Alhamdulillah belum pernah kontak langsung dengan teman-teman tak kasat mata tersebut. Sementara Anggi, bicara dengan ‘fakta’ dan pengalaman. Dua kosong.
**

Sampai di Ciwideyy sendiri, Anggi memilih tidak ikut turun, Saya curiga antara sudah bosan atau habis batrai, karena dari tadi Anggi memang tidak bisa dihentikan. Maka mau tidak mau saya dan fadli menjadi dua orang lelaki ( india ) yang bertugas untuk mengawasi gadis gadis ini. Fadli menjadi bintangnya, dan saya tukang fotonya….

Dan ternyata takdir ini terbawa terus bahkan sampai ketika saya mengunggah foto ini untuk menjadi DP, teman-teman cewek saya pada nanya :

“Itu yang dibelakang unyu banget.Namanya siapa?”

Sial. Padahal cowo paling depan itu sudah (merasa) mirip Arjunanya mahabarata…

agak menyesal mengunggah foto ini
agak menyesal mengunggah foto ini

Satu kosong. yeh kaishi duvida hai

Tidak lama, setelah cewek-cewek ini puas foto-foto , kita jalan lagi ke mobil. Saya sendiri cuma mengambil beberapa foto, takut nanti di kerubungi pemirsa yang walau hari senin ternyata cukup ramai.

RYM

Maklum, takutnya dikira Ramon Y Tunka lagI shooting, karena kan sering juga ftv-ftv gitu shooting disini, makanya saya memutuskan untuk menjadi posisi 2. Posisi puncak sih diraih bu dokter Riri yang seandainya jumlah foto semua peserta di jumlahkan, masih banyakan dia. Sampai di mobil, ternyata perjalanan hari ini ada bonus tracknya: Situ patenggang.
**

Memilih untuk makan dulu, ternyata pilihan bijaksana, karena ketika sedang makan, hujan turun, ada badainya juga,maka jangan salahkan saya ketika saya memilih untuk tidur di bangku panjang tenpat makan tersebut. Salahkan Bu dokter Riri, yang ketika tadi baru nyampe, nyeletuk “ kece badai ya”. Sementara di luar sana, Anggi dengan gagahnya tidur dengan posisi duduk. Tiga kosong sudah.

Bada ashar, kami memutuskan untuk bergerak, karena sepertinya badai tidak seganas tadi. setelah foto-foto lagi di sekitaran gazibu yang bertebaran disana, dimana saya menjadi juru kamera (lagi ) mahluk mahluk manis ini, kami memutuskan untuk segera mengakhiri perjalanan kali ini, Faktor cuaca melupakan rencana menuju ke batu cinta di pulau sana.

IMG_20141117_223219

Kami pun akhirnya pulang dengan bahagia. Fadli menyetir mobil supaya baik jalannya, teh Yeti sibuk memperkirakan jalan karena malam dan siang cukup menyesatkan, Anggi kembali mendongeng , Trio dokter kembali cekikikan, dan saya tertidur dengan pulasnya…
**

IMG_20141117_221542
Makasih senior senior, what a day..

Mungkin banyak yang bakal bilang, where have u been Ray? kenapa baru sekarang?

saya sih cuma bisa jawab karena..baru dikasih sekarang, dan bersyukur walau menjadi lelaki paling tidak berguna seharian .

Terakhir, kalau sesuatu yang di gumamkan saja, bisa diwujudkan dalam bentuk kebetulan senior-senior saya pengen main ke Ciwidey…

Apa ceritanya kalau saya memang sengaja meminta?

*yang protes kenapa tidak ada pemandangan, saya sarankan silahkan google saja, karena yang begituan sih di google banyak. Kalau foto saya?  :D*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s