Bisakah Ini Menjadi Kado Ulang Tahun Rima?

Sebagai senior yang baik, sebenarnya tanpa di minta, walau cuma lewat BBM, saya sebenarnya sudah ‘mereview’ buku junior saya ini, yang –meminjam pembukaan sinopsis- di ramu dari berbagai bumbu yang bervariasi ini :

“ Editornya perlu lebih hati-hati”

Oke, cuma satu kalimat, tapi bukankah itu tetap review? walau saya tidak begitu yakin junior saya ini membacanya, karena beberapa saat kemudian, kembali sebuah pesan datang ke ponsel saya “

“Bang, bukunya Rima di review juga donk”

Ok Rima. here we go…

10363893_4365984764723_431267665446684445_n
nyulik dari fb si pengarang…

 Karena Gadis Bukan Perempuan Utopis, adalah buku yang berisi cecurhatan Rima, yang kebetulan adalah seorang aktivis mahasiswa di masanya, jadi jangan heran kalo curhatannya di buku ini akan sering sekali agak pedas dan kadang menyentil, di tambah lagi, Rima sengaja mengelompokkan tulisannya di buku ini menjadi 3 bagian :

  1. Asmara
  2. Kritis
  3. kisah

Tapi curangnya, melanjutkan apa yang saya bocorkan di awal, Di asmara, selalu ada kritis, Di kritis ada kisah, di kisah ada asmara. Sehingga sebenarnya kalau tidak di kelompokkan pun, setiap kumpulan paragraph dibuku ini mungkin bisa disimpulkan menjadi satu kalimat : kisah-kisah asmara yang kritis

no offense Rimano offense

**

Lupakan Rima. Kita akan berkenalan dengan Gadis, tokoh rekaan Rima yang akan menjadi center of attention kita di buku ini. Lewat ‘asmara’, kita akan melihat bagaimana Gadis mendefinisikan cinta, mencarinya, menemukannya, kecewa, berharap , dan semua nano nano roller coaster dalam setiap kisah cinya. Di bab ini juga kita akan mengetahui bagaimana tipikal lelaki impian gadis lewat mengetahui lelaki mana saja yang akan di blacklist di gadis, sampai ke bagian favorit saya di bab asmara ini : ayah dan calon menantu, tentang bagaimana seorang ayah mencari seorang calon menantu sempurna untuk anaknya. seandaInya tidak ada fanatik kesukuan seperti yang di hadirkan tokoh ayah di akhir kisah ini, maka buat saya kisah ini akan menjadi kisah yang lebih sempurna…

Di kritis,kita akan lihat bagaimana concern si gadis terhadap dunia pendidikan dan kesetaraan gender, yang nantinya langsung tidak langsung akan membawa kita sejenak melihat cowo tangguh versi gadis, juga bagaimana cinta yang tadi sudah ada di asmara disini juga kita kembali menemukannya di beberapa titik.Tapi harus diakui,  memang bab ini, lebih ‘tangguh’ di banding dua bab lainnya.

Bagaimana dengan kisah ? kisah adalah beberapa cerita pendek yang sekali lagi seperti yang saya katakan di awal, adalah gabungan 1 dan 2 : Asmara dan Kritis.

**

di akhir kata, mari kembali ke awal

Ketika saya berkata “Editornya perlu lebih hati-hati ” I really mean it

Kita harus mengakui, dunia kita bukan dunia sempurna, yang percaya dengan apapun yang senada degan inner beauty or whatever. Dunia kepenulisan juga kurang lebih demikian, tetap saja penampakan visual, termasuk di dalamnya kerapian rambut, baju dan sepatu tulisan, susunan paragraph dan halaman, lebih sering menjadi yang pertama di sorot. Maka, ketika seandainya ada typo disana-sini, jarak antar paragraph belum rapi, atau nomor halaman tidak hadir di daftar isi, maka Anomali, sebagai penerbit sepertinya memang harus memperhatikan lagi kualitas bukunya. Terserah, mungkin dengan menghadirkan editor yang lebih mumpuni, atau ketika sistemnya adalah self editing, maka Anomali harus mempush si pengarang untuk benar-benar merapikan tulisannya..

Tenang Rima, ini bukan cuma buat Rima, bukan juga cuma hantaman buat penulis anomali lainnya. Seperti khutbah jumat, ini lebih ditujukan khatib sendiri, karena saya juga bukanlah seorang penulis yang rapi, kalau tidak percaya tanya saja mantan boss saya yang merangkap editor from hell, yang sangat sering menggelengkan kepala melihat tulisan saya, juga beberapa senior dan teman yang sering sekali menyayangkan ketidak rapian saya ini.

Review buku dengan cover simple dan meneduhkan ini, akan saya tutup dengan kalimat yang sama dengan penutup di sinopsis nya sendiri :

bacalah, barangkali enak..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s