Blue Romance : Sebuah Ruang Temu

Saya suka kopi, tapi masih dalam tahap awam, malah mungkin jauh dibawah kata tersebut.

saya penyuka kopi instan bin sachetan, dan mungkin saya sudah mengeluhkan hal ini di sini berjuta kali, mungkin.

Pertanyaannya, apakah saya sudah bisa disebut pecinta kopi?

Sekali dua kali saya juga ikutan minum di coffee shop keren yang bertebaran di kota ini, tapi jujur, saya jauh lebih sering menikmati kopi sachet yang konon, menurut cerita teman saya yang seorang pecinta kopi  ( kopi beneran ) sebenarnya kebanyakan merupakan bubuk jagung. Entahlah, bisa benar. bisa salah.

blue romance

Di novel ini, ‘Blue Romance’ merupakan sebuah nama coffee shop yang menjadi saksi bisu 7 kisah yang di wakilkan kepada masing-masing kopi. Sesuatu dengan tagline-nya : setiap kisah punya kopinya sendiri  ( bukan, ini bukan filosofi kopinya Dee, bukan)

Pertemuan pertama, perpisahan, cinta segitiga, pertemuan kembali, u named it, semuanya hadir di Blue Romance. Dan overall, Shevaa sebagai pengarang berhasil membawa kita dalam masing-masing kisahnya, namun entah mengapa ego ( baca : rasa iri, dengki dan cemburu ) saya pribadi mengatakan bahwa si pengarang terlalu memaksakan diri untuk menampilkan hal-hal menarik dalam tiap kisahnya, seakan tidak begitu pede dengan ceritanya: kutipan film film klasik, lagu-lagi antik dan buku buku klasik hadir melengkapi tiap kisahnya

Entahlah

kembali sebagai pribadi pencInta kopi sache, saya merasa Blue Romance ini benar benar seperti sebuah coffee shop yang terlalu sempurna, yang ingin memanjakan pengunjungnya dengan music, buku , film, dan segala kenyamanan yang hadir disana. tapi sayangnya,saya berada di luar itu semua, sehingga saya kurang menikmatinya.

**

ruang-temu

Kalau Blue Romance adalah novel tentang kopi, maka Ruang Temu bercerita tentang wine…

..lukisan

dan….cinta segitiga

Deanne, seorang mahasiswi filsafat yang entah bagaimana menurut saya terlalu matang untuk seorang ‘mahasiswi’, berada di persimpangan antara pria yang menikmati kehidupan , seorang pelukis bernama Mielka, dan seorang pria mapan yang berstatus kekasihnya saat ini, pencinta wine sejati : Rajasa.

dan masalahnya klise : keduanya bersahabat !

Jelas, cinta segitiga bukan hal baru, tapi pengarang berhasil menghadirkan jalinan romantika ketiganya, dengan penuturan yang tidak manja, tapi juga tidak terlalu memaksa kepala untuk mencernanya meminjam bahasa teman saya,sang pemilik buku : bahasanya artistik saya setuju, dan mungkin kata itu juga bisa disandingkan dengan kjehadiran lukisan lukisan Mielka yang menjadi bagian dari Absurd Paradiso, ruang temu semu antara Deanna dan Mielka.

Selanjutnya, satu kasus dengan kopi-kopi cantik di atas, saya malah sampai saat ini belum pernah menikmati yang namanya wine, ( ya , saya sekampungan itu ) dan juga saya tidak mengerti dengan mambo jambo dunia lukisan, ementara novel ini begitu banyak menghadirkan ‘kuliah’ tentang wine dan lukisan, juga referensi music music yang tak kalah antik dengan novel yang saya bahas sebelumnya, tapi entah kenapa di novel ini efek mereka menjadi berbeda, kehadiran kuliah, wineklopedia dan lukisan di novel ini menciptakan semacam kekaguman tanpa ada kecurigaan bahwa pengarang ingin pamer dengan pengetahuannya.

Akhir kata, saya merasa, Maradiila Syachridan adalah seorang sommelier yang jago mendeskripsikan citarasa dan aroma wine dihadapannya, berbeda dengan Sheva seorang barista yang mencoba terlihat sempurna, namun gagal menciptakan kopi yang pas, paling tidak, untuk saya, pembaca awam yang mungkin baru dalam keduanya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s