Sang Pencipta Keajaiban

Kau pasti tidak tau siapa aku, dan juga tidak perlu untuk tau, karena aku percaya di kitab dan kisah manapun, mungkin nantinya tidak ada yang mengingat aku, karena sejatinya aku memang  hanya bagian kecil dari kisah besar yang pernah kalian baca, atau dengar.

**

Ayahku seorang petinggi di istana raja. Ya, walau mereka menyebutnya tuhan, aku masih menyebutnya raja. Karena menurutku  sesuatu yang  namanya tuhan jelas  lebih daripada istana megah, jutaan pelayan , tumpukan emas dan istana megah yang dimiliki sang raja. Ayahku yang mengajari ku demikian, tapi apa mau dikata, ayah adalah petugas kerajaan, mau tidak mau, ayah ikut -ikutan memanggilnya  tuhan, karena hal ini lah, itu ayah tidak mau aku menjadi petugas kerajaan. Aku juga tidak berminat, tapi apa mau dikata, takdir berkata lain..

Kalian percaya sihir? aku percaya, mungkin lebih tepatnya aku di paksa untuk percaya, karena di zamanku hal itu adalah yang sangat amat lumrah, walau tidak semua orang bisa menguasainya.  Jujur, awalnya aku tidak begitu tertarik, tapi lama-kelamaan aku menikmatinya, dan perlahan aku mempelajarinya dengan teman-temanku.  Sekali lagi, aku menikmatinya. Bagaimana tidak, saat kau bisa menciptakan gulungan bola api dari genggaman tanganmu, tentu ini sangat mengasikkan bukan?

Aku menghabiskan waktuku untuk terus belajar hal ini, sampai akhirnya di tahun ke tujuhku, aku menjadi salah satu yang terbaik, dan salah seorang petugas memintaku menjadi salah satu penyihir kerajaaan, 12 penyihir terbaik, dan percaya atau tidak, aku adalah yang termuda diantara rekan-rekanku.

Pada masaku, penyihir kerajaan adalah semacam jabatan elit. Bagaimana tidak, kau langsung berada di bawah tuhan, ya aku mulai membiasakannya menyebutnya demikian. Kau mungkin juga akan sepertiku  kalau kau melihat  langsung seorang pegawai kerajaan direbus dalam api luar biasa besar karena  orang malang itu membicarakan tentang tuhan lain, tuhan yang kabarnya disebarkan oleh dua orang lelaki bersaudara. Sekarang aku mengerti kenapa ayahku ikut-ikutan memanggilnya tuhan, dan kenapa sekarang  aku juga memilih berbuat demikian. Tapi sebenarnya selain ketakutan untuk direbus dalam api mendidih itu, aku punya alasan lain untuk tidak merasa bermasalah memanggilnya tuhan : aku sama sekali belum menemukan tuhan yang kucari,

“Dia pencipta keajaiban” kata ayahku suatu ketika.

Sementara aku tau pasti kalau tuhan di depanku ini tidak pernah menciptakan keajaiban. Kami, 12 orang penyihir terbaiknya lah yang menciptakan keajaiban tersebut,dan tidak ada yang bisa mengalahkan kami.

**

Kabar itu semakin jelas tersiar. Ada dua orang lelaki yang berani mendatangi raja kami dan membuat raja naik pitam, dan kabarnya lagi, mereka masih kerabat dari mahluk yang mengaku tuhan ini.

Aku tidak begitu peduli  berita itu benar atau tidak, karena tugas kami adalah menciptakan keajaiban buat sang raja, sekaligus menakuti nakuti mereka yang menentangnya,  itu saja, tidak lebih, dan berkat pengabdian  itu kami akan dibayar dengan berpundi pundi emas. Sudah aku katakan, kami adalah barisan elit kerajaan, bahkan aku sempat berpikir, seandainya kami mau saja sedikit melawan tuhan di depan kami ini, kami akan menang mudah, dan kami bisa saja menjadi 12 tuhan, atau apa, tapi tidak ada yang berani melakukan itu, tidak juga aku.

Entah Kapan ada yang berani menantang tuhan yang sombong ini ? dan kapan tuhan sang pencipta keajaiban menunjukkannya kepadaku? sesuatu yang lebih dari kekuatanku.  Bukan sombong, tapi tuhan yang didepanku satu ini tidak melebihi kekuatanku, mengapa aku harus bertuhan kepadanya  selain karena ancaman salip dan rebusan api  atau hadiah hadiah emas dan bidadari yang menggiurkan? tidak lebih.

Hari jawaban dari pertanyaanku akhirnya datang juga, di sebuah hari raya, dimana mata hari sedang naik naiknya, dua  orang lelaki tersebut datang dan kemudian terlihat berbincang dengan raja, maksudku tuhan. Rajaku terlihat emosi, debat demi debat, kalimat demi kalimat, sampai akhirnya, sang raja memanggil kami, 12 penyihirnya untuk membuktikan ketuhanannya kepada dua saudara tadi.

Aku tertegun, dua saudara ini terlihat sederhana,yang satu terlihat membawa tongkat di tangan kanannya,tidak ada tanda-tanda istimewa. Tapi ada sesuaatu yang berbeda, sesuatu yang membuatku khawatir, tapi aku mengesampingkannya, karena  saat itu aku lebih khawatir akan hukuman yang diberikan sang tuhan ketika aku dan rekan-rekanku tidak segera memulai pertunjukan kami.

Sepertinya, dua lelaki ini menunggu kami mulai, dan tak menunggu lama kami melempar tongkat dan tali kami,  dan kemudian tongkat dan tali tersebut berubah menjadi ular-ular yang sedemikian banyaknya. Raja kami bangga dan terkekeh di singgasananya, sementara ular-ular kami mulai merayap mencari mangsanya.

Aku takjub, biasanya orang sudah kagum atau ketakutan dengan permainan kami ini. tapi dua orang lelaki berbeda, sempat aku melihat ketakutan di mata lelaki yang bertongkat, tapi cuma sekejap, detik berikutnya, dia langsung terlihat percaya diri, seakan-akan ada kekuatan besar yang membantunya di belakang sana, mengagumkan, tapi hal berikutnya adalah yang membuatku lebih takjub.

Si Lelaki melempar tongkatnya  dan kemudian tongkat itu berubah menjadi ular raksasa yang memakan semua ular-ular kami…

Semua terpana, termasuk raja, dan bukan cuma terpana, aku bahkan sempat melihat kilas ketakutan di wajahnya. Tapi kita tahu, selalu saja ada yang bisa mengalahkan ketakutan, dan itu lah yang menghapus rasa takut tadi di matanya :  kesombongan.

Sementara itu. setelah memakan semua ular buatan kami, lelaki tadi kembali mengambil tongkatnya.

“Sihir macam apa ini?” tanya sang Raja ketakutan  “Kenapa kalian bisa kalah?”  Katanya keras, walau aku bisa menangkap nada gemetar di suaranya.

“Ini bukan sihir, ini pertolongan tuhan” kali ini bukan kami, si lelaki yang menjawab.

Aku gemetar, akhirnya aku menemukan apa yang kucari, kekuatan yang di sebut ayahku sebagai sang pencipta keajaiban. Tuhan yang akan ku ikuti perintahnya, dan kuhentikan semua larangannya, bukan karena takut, bukan karena hadiah-hadiahnya, tapi karena aku percaya, ada kekuatan lebih besar dari kekuatan terbesar manusia manapun, ada yang lebih berkuasa di banding raja yang sekarang mengancam ku dan rekan ku yang lain dengan potong tangan dan salip di batang kurma. Hari ini aku tidak takut, aku sudah menyaksikan kebesaran-Nya.

**

Sekali lagi, kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku percaya kau pasti akan mengenal kisah yang kuceritakan diatas, dan ini dengan sedikit kemampuan yang diberikan tuhan  kepadaku, kau bisa sampai membaca ceritaku hari ini.

Tentu saja, tuhan yang kumaksud lebih dari ceritaku, lebih dari sekedar pertolongan yang dia berikan kepada utusannya yang punya tongkat berubah menjadi naga,lebih dari kata-kata yang bisa kuciptakan untuk bercerita.

Terakhir, Tuhan akan mendekati kita dengan cara yang berbeda, masing-masing kita juga akan menemukannya dalam bentuk yang berbeda, namun percayalah, dia satu. Bagiku aku menemukannya dalam bentuk sang pencipta keajaiban, yang membuatku langsung bersujud dan mengikuti utusannya tadi.

Bagaimana denganmu? Apakah kau sudah menemukan tuhanmu?

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s