RINDU : La Tahzan  Dengan Setumpuk Kisah

nyulik dari http://scontent-a.cdninstagram.com/hphotos-xaf1/t51.2885-15/10632039_614343592011296_298752485_n.jpg
nyulik dari http://scontent-a.cdninstagram.com/hphotos-xaf1/t51.2885-15/10632039_614343592011296_298752485_n.jpg

Rindu. Saya mendapatkan novel ini dari pinjaman seorang junior yang tiba-tiba menawarkan saya dengan kalimat :

“Abang pasti belum baca Rindu-nya Tere Liye”

karena  kebetulan junior tersebut  memang mau mengirimkan buku karyanya, saya langsung saja meminta untuk memasukkan buku itu kedalam paket, tanpa pernah melihat apapun tentang apa buku itu.saya berpikir ini sebuah buku lama yang belum say a baca

dan saya salah..

Rindu, ternyata merupakan buku terbaru Tere Liye, cetakan pertama nya baru bulan kemaren, dan sekarang buku itu di tangan saya, Alhamdulillah.

Rindu , bercerita tentang perjalanan sebuah kapal bernama Blitar Holland, sebuah kapal uap belanda yang berlayat  dari Makassar menuju makah, dengan tujuan membawa jamaah haji  dari Indonesia yang pada tahun itu masih bernama hindia belanda.

Rindu , adalah sebuah ‘kapal’ yang berisi  penumpang dengan berbagai latar belakang dan pertanyaan, Gurutta Ahmad Kareang,seorang ulama besar Ambo Uleng, seorang pelaut bugis , Bunda Upe seorang guru mengaji yang punya latar belakang kelam, dan Andi Daeng seorang suadagar dari makasar dengan dua putrinya : Anna  dan Elsa.  Last but not least,  kapten Phillips, si nahkoda, belanda yang baik dan bijaksana, serta  juga beberapa tokoh lain yang ikut meramaikan kapal  tandingan Titanic ini.

Rindu, sebagai sebuah kapal, dari awal  berjalan di laut yang amat tenang, dan kita sebagai penumpang rindu  dimanjakan dengan semua yang ada di Blitar Holland : Karakter karakter yang saling mengisi dengan  tugas masing masing, mulai dari kapten yang kharismatik, kepala koki yang baik, guru yang mengajar dengan cara unik, ustadzah cantik, sampai saudagar yang simpatik. Too good to be true, saya sampai  sangat berharap di tengah tengah ada ‘badai’ yang merusak semua tatanan sempurna ini agar menaikkan tensi cerita, tapi ternyata harapan itu sirna. Ada beberapa riak kecil,  tapi segera bisa diredam oleh satu dua halaman dan satu dua tiga  kisah dan nasehat. Mendekati akhir ada beberapa badai yang cukup besar, tapi mungkin berkat nasehat dan kisah yang begitu menenangkan di awal, penumpang Blitar Holland dan saya sebagai penumpang rindu, serta-merta yakin, kalau semua akan selesai dengan sempurna. Seakan belum cukup sempurna dengan karakter-karakternya, kita juga akan terkagum kagum dengan deskripsi kapal uap belanda ini, sebuah kapal maha megah yang saking sempurnanya bagi saya pribadi  terasa melebihi zamannya sendiri.

Rindu, sebagai sebuah kisah, saya yakin di hasilkan dengan riset yang luar biasa, saya bisa membayangkan bagaimana sang pengarang  harus menyesuaikan diri dengan segala sesuatu  dan merujuknya kembali ke tahun  1938. Tidak mudah memang, sehingga di beberapa titik terlihat beberapa hal  masih kekinian, terutama pada bagian  joke- joke yang berusaha dihadirkan pengarang untuk mempercerah suasana , dan ada satu hal kecil menarik yang  tidak tahan saya bagi ( baca : bocorkan  ) untuk kawan-kawan yang belum membada : Daeng Andi turun di Padang cuma untuk membeli keripik balado pada 1938? silahkan percaya atau tidak.  Selanjutnya saya juga tidak akan mempermasalahkan dua nama karakter utama, Anna dan Elsa, yang kita tau berasal dari kisah apa, karena pengarang dengan cerdas menjelaskan kenapa dua nama putri Daeng Andi mirip dengan putri eropa, so.how bout  let it go?  Lalu bagaimana dengan nama captain Phillips? ring a bell? percayalah, ini bukan cuma kesamaan nama.

Singkatnya, membaca rindu, seperti membaca La Tahzan dengan bertumpuk kisah dan karakter sebagai pelengkapnya, dari nama para putri Eropa, kisah cinta ala Titanic dan action ala bajak laut Somalia yang terjadi  di sebuah kapal penuh utopia.

Terakhir, seperti yang pernah saya  tulis disini, walau Rindu  ini not my cup of tea, saya lagi lagi lewat rindu saya harus terkagum kagum dengan kemampuan dan keberanian  sang pengarang menulis dengan genre yang  lagi-lagi berbeda. dan sepertinya, saya akan mulai membaca buku-buku lain dari pengarang yang sama yang sebelumnya  saya tidak pernah tau mereka ada atau tidak..

so, ada yang  mau meminjamkan saya?

**

Tambahan :

kebiasaan buruk saya adalah langsung mengimajinasikan novel yang saya baca dalam bentuk film, dan untuk RINDU : the movie, inilah jajaran pemain di kepala saya :

kapiten Philip
Captain Philip
Lucas
Lucas
Gurutta
Gurutta
Ambo Uleng
Ambo Uleng
Daeng Andi
Daeng Andi
Bunda Upe
Bunda Upe

Bagaimana  menurut kawan-kawan?

*Semua foto bukan milik saya, cuma hasil jarahan Google

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s