Mahluk Kala Hujan

Aku tidak pernah suka hujan

atau mungkin lebih tepat kalau aku berkata..

Aku takut hujan

Sahabatku pernah berkata, hujan itu untuk dinikmati, entahlah, kadang aku suka aneh melihatnya sengaja berlarian di tengah hujan. Bahkan lelaki  itu pernah bernyanyi di bawah guyuran hujan cuma demi surpraise untuk ulang tahunku. Dia memang gila.

Terdengar titik tik air di atap, resiko memiliki kamar di loteng : hujan akan terdengar amat mengerikan,

Aku mulai menarik selimutku saat terdengar ada yang mengetuk jendela kamar. Aku tau, mahluk itu datang lagi. Aku tidak tau kali ini dia akan muncul dalam wujud apa. Bodohnya, aku malah  memberanikan  diri melihat  ke jendela kamar. Seperti dugaanku, mahluk itu berdiri di  luar jendela, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kali ini aku tidak akan membiarkannya masuk, walau aku tau dia pasti akan mencoba dengan pelbagai macam cara, buktinya, kali ini dia masih mengetuk.

sekali, dua kali, tiga kali

Ketukan yang sama, awal kemunculannya selalu demikian.

Mahluk di luar itu kali ini tinggi besar, tapi aku belum melihat wujudnya secara utuh, baru siluetnya, tapi dari siluetnya saja aku bisa tau kalau pilihan wujud kali ini  juga tidak akan kalah mengerikan dari yang sebelumnya. Hamster itu lucu, tapi Kalau kau melihat pernah melihat hamster raksasa yang bisa menempel di dinding kelasmu yang berada di lantai dua sekolahmu, kau pasti akan berpikiran sama denganku. Dan seperti biasa, sebenarnya kalau dia mau, dia bisa menerobos masuk, tapi entah kenapa, setiap kedatangannya dia suka mengetuk terlebih dahulu

sekali, dua kali, tiga kali

Dia masih disana.

Aku menarik selimut, membelakangI jendela, tapi entah kenapa aku masih melihat siluet mahluk tersebut.

Aku  memejamkan mata, siluet itu menghilang tapi ketukan masih terdengar.

Perlahan, ketukan itu hilang dan itu cuma berarti dua hal, dia benar-benar pergi atau aku lagi lagi membiarkannya masuk!

Aku membuka selimut yang menutupi wajahku

Aku benar, dia sudah didepanku, mahluk dengan tuxedo dan kepala kuda berwarna putih itu sedang menatapku , dan kemudian, aku menangis lagi…

**

“Masih mimpi yang sama ?” tanya lelaki didepanku ini, rambut gondrongnya kali ini diikat agar terlihat lebih rapi.

“Sudah berapa kali aku katakan, itu bukan mimpi,” ralatku.

“Mimpi” balasnya pendek.

Sebagai sahabatku, aku berharap dia yang paling mengerti dan percaya kalau aku tidak bohong dengan keadaan mahluk ini. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, mungkin dia orang yang paling tidak percaya tentang cerita-ceritaku.  Ah, sebenarnya tidak adil juga sih mengatakan dia yang paling tidak percaya, Karen kenyataannya,   hanya  dia yang kuberitahu tentang ‘kemampuan’ ku melihat mahluk-mahluk  ini.

“Ayo makan”

kalimatnya sukses membuyarkan lamunanku.

Aku menggeleng, entah kenapa tiap kali kemunculan mahluk itu aku merasa tidak ada selera untuk makan, bahkan di depanku sudah ada sate Padang, salah satu makanan favoriteku, yang kebetulan merupakan makanan khas daerah asal  pria di depanku ini.  Aroma sate yang biasanya sangat membiusku,  kali ini bahkan tidak mampu menahanku untuk menggelenggkan kepala.

“Buat kamu aja” balasku pendek

“Yakin?”  tanyaanya kemudian, dan tanpa menunggu jawabanku, dia sudah menghajar bagianku.

Aku tertawa dan melihat ke luar.

semoga tidak hujan

**

Aku berlari, terdengar gemuruh memecah langit, Sabtu sore itu aku baru saja pulang dari shfitku sebagai pegawai perpustakaan paruh waktu  di kota kecilku.

Aku memutuskan untuk berteduh di sebuah halte pinggir jalan.  Sayangnya sudah ada beberapa orang disana, seorang ibu-ibu yang sedang menggendong anak, beberapa pengendara motor, dan bapak tua yang sedang menikmati rokoknya, rusak sudah rencanaku menikmati  kesendirian sore ini. Sebenarnya si lelaki gondrong temanku menawarkan diri untuk menjemputku sehabis shift ku, tapi aku menolak. Belakangan aku sedang butuh banyak  ruang untuk sendiri, sementara si lelaki tersebut dengan sangat yakin ( baca : sok tahu ) berpendapat kalau saat sendiri adalah saat paling memungkinkan mahluk itu muncul. Aku cuma tertawa,  karena bagaimana aku bisa percaya kata-kata orang yang sama sekali tidak percaya ceritaku. Aku  yakin kalian akan melakukan hal yang sama kalau menjadi aku.

tik tik tik tik 

Hujannya mulai deras, dan sialnya orang-orang di sekelilingku mulai menghilang.

oh, jangan lagi

kataku pelan.

Terdenagr ketukan dari bagian atas halte. Perasaan ku mulai tidak enak, kenapa dia harus selalu mengetuk? Aku pun mencoba cuek  saja, mendekap tas laptopku makin erat, paling tidak dengan ini aku tidak akan menggigil kedinginan, kalau kalian melihat aku menggigil,itu bukan kedinginan, itu  ketakutan.

Masih terdengar ketukan yang berpadu dengan bunyi hujan dibagian atas halte.

dan tiba tiba,sesosok mahluk melompat dari atas halte dan kemudian melihat ke arahku.

kali ini, sebuah boneka beruang berwarna coklat muda, dengan pita di kepala kanannya.

Anehnya aku  sepertinya tau dimana pernah melihat boneka itu, tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkannya. Sungguh,  aku sudah cukup ketakutan melihat mahluk itu berjalan terseok ke arahku.

Mahluk itu sepertinya tersenyum,entahlah, sebenarnya aku tidak peduli. Tangannya kemudian  berpindah ke  kepalanya, dan…. mahluk itu merobek kepalanya sendiri !!  aku berteriak, tapi  entah kenapa suaraku tidak bisa keluar!

Dua bagian kepala yang terbelah itu masih kulihat tersenyum, kemudian dari tempat dimana kapas berhamburan itu, keluar sebuah kotak, dan dari kotak tersebut dua boneka kecil berdansa, diiringi sebuah musik romantis yang sangat akrab dengan telingaku.

Aku tidak tahan lagi, aku pun berlari menerobos hujan. Sialnya, mahluk berkepala kotak musik itu pun mengikutiku , aku terus berlari, sampai kemudian terjatuh dan hujan pun berhenti.

tidak

Seseorang sedang memayungiku.

“Aku sudah katakan, mahluk itu akan datang saat kau sendirian” katanya sambil membenarkan letak kacamata yang melorot ke hidung mancungnya, sebuah kebiasaan yang aku tidak suka, karena saat dia melakukan itu, dia akan terlihat keren, dan aku benci mengakuinya. Apalagi Sore itu sahabatku ini terlihat  berbeda dengan jas hujan panjang berwarna hitam.

“Kau..kau bisa melihatnya?” tanyaku

“Tentu saja” ucapnya sambil tersenyum, senyum kemenangan yang mengesalkan, tapi entah kenapa,mampu menciptakan rasa hangat dan nyaman.

Mahluk boneka berkepala kotak music itu mendekat kepada kami, dari tangan bonekanya keluar kuku kuku tajam yang memanjang

“Jangan takut,” katanya sambil menunduk dan memelukku dengan satu tangannya, yang artinya punggungnya menjadi sasaran kuku kuku mahluk tersebut. Perlahan, musik yang keluar dari mahluk itu  sekarang terdengar menyayat, bukan lagi  melodi manis seperti di awal kemunculannya tadi. Dia masih memelukku, sementara satu tangannya yang lain masih memegang payung.

“Kau yang mengundang dia masuk, kau juga yang mengundangku masuk, artinya kau yang punya kekuatan memaksa kami untuk keluar,” katanya seakan membaca kebingunganku dengan matanya yang sedang berada di jarak terdekat dengan mataku sepanjang sejarah persahabatan kami.

“Caranya?”

Mahluk tersebut masih menorehkan cakarnya kepunggung sahabatku ini.

Pria ini tersenyum kemudian membisikan sesuatu, dan entah bagaimana, aku bisa melihat sepasang sayap rakasasa berwarna putih  keluar dari punggungnya dan menyelubungi kami berdua.

**

Aku melihat diriku berdiri di persimpangan jalan. Kalau kau percaya kalau ada boneka raksasa yang mngejarku, maka kau tidak akan heran dengan yang ini.   Aku disini sendiri, temanku sudah tak ada lagi. Aku kemudian berjalan mengendap-menjaga jarak, mengikuti  diriku yang terlihat berjalan mendekat ke sebuah coffee shop favoriteku,  tak lama seorang lelaki yang sangat aku kenal keluar…

Aku dan lelaki itu kemudian terlibat argument, dan kemudian aku melihat lelaki itu meningggalkan diriku dan kembali kedalam, kembali duduk bersama seorang perempuan lain. Puncaknya aku melihat aku menangis di hujan sore itu.

Aku ingat sekali kejadian ini, kejadian beberapa bulan yang lalu…

Tak lama kemudian pandanganku mengabur, dan aku sudah kembali berada dalam pelukan sahabatku ini dilindungi sayap halus yang luar biasa besarnya.

“Kau harus kuat” bisiknya dan kemudian ia membantuku  berdiri, sembari sayapnya mengepak dan berhasil menjauhkan si  beruang- kotak musik cukup jauh dari hadapan kami berdua.

Mahluk itu mencoba bangkit, dan detik berikutnya, kulihat kotak musik itu terbelah, diikuti badan si beruang…. digantikan  yang sangat kukenal, pria yang menjadi bagian dari hidupku sampai beberapa bulan yang lalu.

Aku kembali tersadar ketika sahabatku tadi memberikan payungnya kepadaku.

“Mahluk itu bernama kenangan, dan kau adalah adalah si pemilik kenangan ” katanya. sayapnya mengepak ngepak ketika  dia berbicara.

Kemudian, aku melihat payung ditanganku berubah menjadi sebilah pedang berkilau, aku menatapnya, dia mengangguk, dan aku pun bergerak maju ke arah mahluk dihadapanku.

Sempat ada ragu, ketika senyum itu muncul di wajahnya, mata itu, semua nya muncul di kepalaku.

Aku mengambil nafas panjang, memejamkan mata dan kemudian menebas mahluk di hadapanku  yang kemudian  berubah  menjadi pendar berkilauan.

Kau tau apa yang terjadi berikutnya? Aku terjatuh dan berair mata, tapi sebuah tangan segera menyambutku.

“Kenapa baru sekarang?” tanyaku sambil  terisakn kepada pria berjas hujan panjang dihadapanku  ini, sayapnya tidak ada lagi, tapi aku tidak peduli.

“Kau baru mengundangku sekarang”  jawabnya pendek.

Aku memeluknya erat, “Atau mungkin aku benar-benar yakin untuk masuk sekarang” sambungnya  perlahan.

Dia balas memelukku, dan aku tersenyum di hujan sore itu.

Advertisements

4 thoughts on “Mahluk Kala Hujan

  1. Coooool…
    Ampe baca dua kali buat ngertii…
    Beberapa bulan ga baca jokeray ternyata kemampuan bapak makin kereen…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s