Rahwana Mencari Shinta

“Cuma ente yang tahu lo Bung, tolong dirahasiakan”

Aku tertawa, bukan karena Bung yang muncul di akhir kalimatnya, tapi karena dia tidak tau kalau tanpa dia beritahu pun, aku sudah tau kalau mahluk ini sedang jatuh cinta.

“Siap Bung, laksanakan” Balasku.

 Aku dan mahluk ini memang sudah terbiasa untuk  menggunakan ‘Bung’ dalam setiap obrolan kami, bukan karena kami ingin gaya-gayaan ingin terdengar  keren,tapi memang sapaan itu muncul begitu saja,  Natural. Pemakaian ente dan ane juga tidak dimaksudkan agar terkesan religious.  Kami sama-sama tau isi otak kami masing-masing dan tidak sekali dua kali pula kami membahas visual bidadari-bidadari dikantor kami. Jadi jelas , sapaan aneh ini muncul karena… entahlah, kami juga tidak mengerti, gaya komunikasi memang  demikian.

Pujiono, begitulah nama temanku ini, awalnya aku  memanggilnya Mas Puji,walau dibalik mukanya yang terlihat berumur, sebenarnya dia masih amat muda, tapi lama-kelamaan panggilan tersebut berubah seperi yang aku ceritakan di atas. Selain itu, nama Puji memang cocok untuk mahluk satu ini, karena dia memang jenis orang yang patut dipuji : seorang setia kawan , seorang pencinta seni yang kebetulan ‘terperangkap’ di kantor, bahkan aku kadang memeanggilnya seniman kantoran- lagi lagi sebuah pujian,  karena dia adalah seorang pencinta puisi, penggila karya sastra dan jenis orang yang selalu menceritakan saya kearifan di balik kisah para wayang, misalnya bagaimana dia sangat mengagumi tokoh Rahwana, yang menurutnya di literatur luar sana adalah seorang protagonist, sekaligus pencinta sejati

**

Ceritanya, Pujiono sedang jatuh cinta kepada seorang dewi. Ini bukan bualan,  kebetulan dewi ini sedang menjelma mengambil bentuk seorang reporter TV, yang kebetulan bernama sama, Shinta. Hampir tiap hari dia curhat kalau dia begitu mengidolakan Shinta, bagaimana Shinta terlihat sangat cantik ketika sedang liputan, update status dan komennya di berbagai media social, sampai bagaimana bahagianya ketika dia berpapasan dengan sang Dewi, walau tanpa interaksi.

“Ada kemajuan?” tanyaku menghampiri mejanya, ‘mejanya’ yang dimaksud  sebenarnya sebuah computer yang bebas di pakai siapa saja yang datang duluan, karena sebagai anak baru kami memang belum mempunyai meja tetap,

“Kemajuan apa Bung?” tanyanya polos.

“Dewi  ente“ jawabku sambil duduk disebelahnya.

Lihat, tidak ada pertauran  Bung harus dibalas dengan Bung, atau ane harus dibalas dengan ente, bebas, begitulah gaya kami berkomunikasi.

Muka Pujiono bersemu merah, kumisnya bergerak-gerak, dia selalu begitu kalau sudah berbicara soal cinta, matanya yang lesu tiba-tiba bersemangat!

“Tadi ane papasan sama dia di lantai atas Bung “

Aku menarik sebuah kursi,  memutarnya dan kemudian memangku tangan di sandaran kursi tersebut.

“Trus?” insting detektif romantika ku mulai keluar.

“Ane senyum“ ujarnya pendek

“Trus gak ngajak ngomong atau apa?” kali ini aku lebih kepo.

“Ane ga berani Bung,” jawabnya  “Dia lagi  buru-buru“ sambungnya mencoba mencari pembelaan

Aku menghela nafas, memegang pundaknya

“Cinta bisa datang, cinta bisa pergi, tapi ada satu yang cinta ga bisa lakuin” ujarku

“Cinta gak bisa nunggu” jawabnya pasrah.  tak heran dia hafal kutipan dari film ‘Jomblo’  tersebut, entah berapa  ratus kali aku mengulang-ngulangnya agar dia bangun dari mimpinya dan segera mewujudkannya.

**

Aku sedang asik menikmat video  terbaru  JKT48  lewat  computer kantor,sebuah jenis penyelewangan yang masih bisa termaafkan, saat tiba-tiba wajah jawani  itu muncul di  dekatku.

“Ane udah ngajak doi Bung “

“Ngajak apa?”

“Wayangan “

Aku  diam

“Ada wayangan Sudjiwo Tedjo Bung, ente mau ikut?” lanjutnya

 “Makasih, otak ane belum nyampe kelevel sana Bung“ jawabku sambil kembali menikmati gadis gadis remaja cantik jelita di layar monitorku ini

“Ente mah JKT48 mulu, cintai budaya dalam negeri donk,” tukasnya kemudian bermaksud beranjak  dari hadapanku

Aku berpikir sejenak,”Okelah, ane ikut”

Dia kemudian menatapku serius “Maaf Bung, ga bisa, ini  jadwal dia ama ane“, Balasnya dan kemudian berlalu dari hadapanku sambil bersiul-siul ‘cucok rowo’, salah satu lagu favoritenya sepanjang masa. Aku tertawa.

**

Aku menuju taman dengan secangkir kopi di tangan.

“Joinan Bung”  ujarku sambil menyulut sebatang rokok.  melepaskan lelah sejenak di taman kantor ini memang menjadi rutinitas kami, dan joinan-satu kopi untuk berdua- adalah bagian yang tak terpisahkan dari rutinitas ini.

“Gimana wayangannya?” Aku membuka percakapan

“Kacau Bung, kantor ini sepertinya tidak merestui huBungan ane,” jawabnya kemudian.

Aku tertawa. “yah, ente kaya gak tau gimana kerjaan kantor kita aja Bung. Sabar, mungkin lain waktu”

“Entahlah Bung, ane sibuk, dia juga sibuk, pas ada waktu, eh dia masih sibuk” Dia kemudian menyesap kopi joinan kami.

“Setidaknya ente udah usaha Bung” hiburku kemudian menghela nafas “Ingat, dialog bikin plot maju, jangan kaya tulisan-tulisan ane, dialognya ga bikin kisah maju” ujarku random.

Kami tertawa.

**

“Telat Bung” Curhatnya Sore itu kami sedang menikmati panasnya kopi di warung tenda kecil pinggiran jalan , ditemani beberapa potong gorengan. “Sepertinya dia sudah menjatuhkan pilihan,” samBungnya kemudian. Galau.

“Tau dari mana?” tanyaku

Dia kemudian memberikan ponselnya, dan aku Cuma bisa tersenyum

“Ane ga tau harus gimana lagi Bung?”

“Ane sudah bilang ini ribuan kali Bung , dan sampai detik ini pun ane bakal bilang hal yang sama” Aku memberi jeda sejenak “At least let her know” ujarku kemudian

“ Tapi kan…”

“Dari dulu juga ane bilang, peduli setan ama hasilnya Bung, yang penting dia tau ente sayang ama dia! ”

Aku mencomot sebuah tahu isi yang entah keberapa “Udah, habis perkara” lanjutku

Dia diam sejenak, memandang jalanan, kemudian meminum minumannya beberapa kali

“Ente benar juga” wajahnya mulai serius “ Rahwana juga masih mencintai Shinta walau jelas-jelas Shinta lebih memilih Rama” tutupnya kemudian.

Walau aku masih tidak tau kisah ini akan berakhir seperti apa, aku tertawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s