BANGUN RAY !!

BANGUN RAY!!! BANGUN !!“. Kombinasi gedoran dan teriakan Reni akhirnya berhasil membangunkan Ray dan memaksanya berjalan dengan separuh jiwa ke depan pintu untuk menghentikan aksi anarkis cewek tersebut.

 “IYA BAWEL, INI JUGA UDAH BANGUN!” Balas Ray tak kalah kejam sambil membuka pintu. Sehingga teriakan beraroma naganya itu tidak cuma merusak kuping tapi juga menimbulkan polusi di hidung Reni, manajernya yang sudah berdandan rapi, sangat kontras dengan Ray yang pagi itu cuma memakai celana basket.

“Jam 9 kita udah harus standby di kampus untuk talkshow, trus jam 1 ada on-air di Angkasa radio,”

Ray cuma mengangguk sambil ber oh-oh di padu gerakan tangan menggaruk rambutnya yang sudah harusnya di potong.

“Cuma ingetin lo, itu kan salah satu kewajiban gue juga,” tambah Reni kemudian, dan setelah berkata begitu cewek berambut keriting panjang itu segera berlalau ke beranda depan,meninggalkan Ray yang masih terpaku di pintu kamar.

Setelah mendapatkan kesadarannya Ray pun tersenyum. Tidak sia-sia dia meminta ‘bantuan’ mantan teman kuliahnya ini untuk mengurus segala sesuatunya semenjak buku pertamanya ‘GAN’ laris di pasaran. Selain fakta bahwa Reni memang sering sudah terlibat event organizer sewaktu kuliah dulu, mahluk ini memang berada beberapa ‘kasta’ di atas kasta Ray yang menempati urutan paling bawah : kasta-anak-kamaran-yang-suka-nulis. Kabar baiknya, Setelah GAN  mencetak hits di cetakan pertamanya, maka kasta Ray langsung melejit menjadi kasta-anak-kamaran-suka-nulis-untung-bukunya-best-seller.

Ray segera menutup pintu kamarnya dan kemudian menyibukkan diri cebar-cebur di kamar mandi. Tak lama kemudian kita sudah bisa melihat tokoh utama kita ini bersiul-siul keluar dari kamar mandi, handukan sambil memandang lelaki tampan didepannya. Lelaki? sounds gay huh? Tenang saja pemirsa, lelaki tampan yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah pantulan dirinya sendiri di cermin. Tapi pertanyaannya,  benarkah kata tampan pantas disandingkan dengan bayangan tersebut?

Sementara itu, Reni sudah menunggu di beranda penginapan dengan secangkir kopi sambil bersungut-sungut.

“Lama amat bos, ngapain aja?” tanya Reni ketika Ray sudah bergabung dengannya di meja kecil di beranda. Ray tersenyum. Dia tahu Reni masih kesal padanya karena lebih memilih menginap di penginapan kecil dekat kampus dibanding hotel pilihan managernya itu.

“Sorry deh non, yuk berangkat,“ Lanjut Ray setekah melongok jam tangannya. Managernya ini tidak menjawab, dia cuma menghabiskan sisa kopi didepannya kemudian bergerak menuju mobil.

Reni sudah duduk di bangku pengemudi dan menstarter mobil tersebut. Reni? begini pemirsa, sedikit bocoran, tokoh utama kita memang belum bisa nyetir, makanya ketika bukunya khilaf ngehits dia jadi kelabakan sendiri, soalnya rasanya baru tadi dia menulis GAN di kampusnya dan sekarang GAN sudah jadi perbincangan dimana-mana, dan tiba-tiba dia harus sibuk kemana-mana. Untunglah ada Reni yang sudah biasa berhadapan dengan semua kemegahan dunia showbiz. Singkat cerita, jadilah tugas Reni merengkap ini dan itu,kecuali mungkin bodyguard, karena Reni percaya perawakan Ray lebih cocok untuk yang satu itu. Reni sendiri  sih eInjoy dengan pekerjaan ini. Disamping penghasilan yang lumayan,dari dulu Reni memang suka hal berbau buku. Jadi buat Reni menjadi manager Ray itu, semacam sambil salto minum kopi.

**

Aula Universitas Beringin Hijau sudah ramai oleh fansnya Ray, atau mungkin lebih tepatnya fansnya Gan : mahluk ngocol hasil rekaan Ray. Tokoh utama kita ini memasuki aula sambil dadah-dadah dan senyum sana sini, kemudian duduk di tempat yang sudah di sediakan panitia, masih dengan senyum-senyum yang lama-lama terlihat menjijikkan.

“Jangan sok kecakepan deh, biasa aja keles,” Reni yang duduk di samping Ray berbicara tanpa menoleh ke arah mantan teman kuliahnya itu, dan …seisi aula tiba-tiba tertawa keras. Muka Reni kontan memerah, dia baru sadar kalau ternyata mikrofon didepannya sudah menyala dari tadi.

Ray yang sempat grogi-maklum talkshow-perdana, entah kenapa menjadi bersemangat melihat muka Reni yang memerah. Setelah di persilahkan MC, Ray pun memulai khutbahnya. Sukses, beberapa kali terdengar tawa pecah penonton yang juga menjadi asupan semangat buat Ray. Gelak tawa ratusan mahasiswa ( apalagi mahasiswi) di depannya ini menjadi semacam genkidama atau bola semangat nya Son Goku untuk menghancurkan lawannya sekarang yang berbentuk nervous dan demam panggung.

Tak lama kemudian selesailah sesi ceramah yang ditutup dengan ucapan maaf, “Sebenarnya masih banyak yang ingin saya bagi, tapi jujur, saya ngantuk banget, takutnya yang keluar dimulut saya selanjutnya bukan lagi cerita tapi angka-angka yang mungkin bisa kawan kawan manfaatkan di jalan yang salah, enak di kawan-kawan ruginya di saya,” terdengar tawa, tapi di beberapa titik.  Garing mungkin, tapi padahal semuanya itu benar adanya, Ray cuma tidur lebih kurang dua jam tadi pagi, Karena saking nervousnya, dia latihan pidato sampai  pagi. Jadilah energi untuk  ocehannya yang entah kemana-mana tadi cuma bermodal kopi kaleng yang diberikan Reni di mobil dan kopi panas dan snack dari panitia.

Sesi selanjutnya adalah sesi tanya jawab yang sejauh ini berjalan lancar walau Ray berada dalam keadaan kantuk yang teramat sangat. Ray mungkin akan segera berpindah ke alam mimpi seandainya pertanyaan khusus untuk Reni ini tidak muncul dari seorang cewek yang sedang berdiri di stand mic tersebut.

“Maaf kalo kepo kak Reni, tapi apakah selain manager kak Reni juga merengkap sebagai kekasihnya kak Ray?”

Seisi ruangan tertawa, Ray cuma tersenyum-senyum, sementara Reni langsung mendekati mikrofon,”Kakak langsung jawab nih ya, maaf ya dek, maaf banget nih buat semuanya, tapi cowo kakak, jauh, seratus kali jauh lebih oke dari idola kalian ini,” Seisi ruangan tertawa lagi,kecuali Ray yang merasa terzalimi. Walau begitu, itu belum apa-apa sampai pertanyaan demi pertanyaan membawa cerita kita ke ke pertanyaan terakhir yang berhasil membuat Ray merasa seperti di pecut dan di tetesi lilin.

“Banyak yang bilang kalau tokoh Gan mirip dengan Lupus yang sudah melegenda. Bagaimana menurut kakak sendiri? trus apa Gan memang mencoba menjadi Lupus generasi ini?”

Ray menggeser duduknya, “Pertanyaan yang super sekali,” Ray berdehem sejenak, tiba-tiba ruangan menjadi dingin, ada kemungkinan volume AC dinaikkan panitia “Nothing new under the sun,  ga ada yang benar-benar baru di dunia ini” Ray berhenti sejenak.

“Sorry, tadi namanya siapa?”

 “Fadil kak” Jawab si penanya singkat.

“Gini. Fadil pernah makan nasi goreng? nah, ada berapa jenis nasi goreng sih di dunia ini? di Indonesia aja deh, pasti banyak banget kan ? Dari yang tradisional ampe modern, pedes ampe ga, dari  nasi goreng mafia, sampai nasi goreng yang gentayangan, pokoknya banyak deh. Tapi, Kenapa sih, orang pada ga berhenti dan tobat jualan nasi goreng sementara yang jualan segitu banyaknya?”

Fadil masih diam, antara terpesona atau sama sekali tidka menangkap penjelasan Ray. Sementara tanpa menunggu lebih lama, Ray melanjutkan jawabannya, “Nasi goreng boleh sama, tapi rasa dan bumbu tentu berbeda,” Ray memandang sekeliling, “Gan dan Lupus juga, kalo kawan-kawan jeli, pasti bisa merasakan kalo Gan diracik dalam bumbu yang agak pedes,” Ray membentuk tangannya menjadi kutip di kata terakhirnya, “Lupus gak ngerokok, dan Gan gak makan permen karet,”Ray kemudian mengambil nafas panjang , “Walau saya gak mau bohong saya memang penggemar berat Lupus dan tulisannya mas Hilman. Percaya atau tidak, saya dulu memilih jurusan Sastra Inggris disini juga karena Lupus ngambil jurusan yang sama kok,” seisi ruangan tertawa lagi “Sementara, mengenai apakah Gan akan menjadi Lupus generasi ini…,”Ray memberi jeda sejenak “Biar pembaca yang menilai.”

Tepukan pun membahana di aula tersebut dan seiring itu juga, Ray merasa sangat mengantuk, jauh lebih dalam jauh lebih dalam dari yang sebelumnya. “RAY BANGUN! ” suara Reni membangunkannya lagi, tapi di tempat yang berbeda. Dia tertidur di coretan naskah GAN di kursinya. Kelasnya sudah berakhir, tapi sepertinya mimpi Ray baru saja dimulai.

*Iseng-iseng bongkar file lama, tulisan ini pernah saya ikut sertakan di lomba cerpen tahun lalu yang diadakan faber castell, dengan tema MIMPI*

naskah asli
naskah asli
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s