Malam Minggu Fantasi

Aku kaget ketika temanku ini muncul saat aku membuka lemari, bermaksud mengambil kemeja kotak kotak biru-merah  favorite ku.

“Kemana?” tanyanya kemudian langsung duduk di kasurku.

“Kencan” jawabku pendek sambil kemudian langsung berdiri di depan kaca.

Dia menatapku heran, “Kau serius ? kenapa tidak bilang ?”

“Aku sudah terlanjur janji ” lanjutku sambil mematut pantulan diriku di cermin tersebut.

“Ah, padahal aku sengaja kabur dari pesta dansa” ujarnya sambil mengacak-ngacak rambut panjangnya dengan tangan, kemudian menatapku, “Dan kau tau, aku terjatuh lagi dari kudaku” sambungnya. Aku cuma tertawa, soalnya ini bukan kali pertama dia terlepas dari kudanya.

Aku kemudian duduk di sebelahnya, “Aku minta maaf, paling tidak, kau masih bisa berbincang dengan Pak tua” ujarku sambil menunjuk pada orang tua pendek berjanggut panjang yang sedang duduk di lemariku. Dia memang duduk, menjuntai, dan dengan tubuhnya yang pendek, dia memang bisa melakukan itu. Kumis dan jenggot panjangnya bergerak lucu ketika dia menganguk-angguk, tapi kapak di punggungnya tetap saja menciptakan kesan seram.

“Pak tua, aku titip dia “

Pak tua terlihat merenggut.

“Ayolah, bukannya aku tak mau bermain bersama kalian, tapi seorang gadis sudah menungguku di sana“

“Kau butuh kudaku?” tawar pangeran yang masih sebaya denganku ini.

“Tidak usah, aku bareng Kaliang”

“Kencan diantar Naga itu ide buruk “ katanya saat aku berbalik menuju pintu.

“Tunggu! aku tidak mau direpotkan pangeran manja ini tanpa bayaran” sekarang giliran Pak tua membuka mulutnya tepat ketika aku hendak membuka pintu.

“Okay, kau mau apa” aku terpaksa  berbalik lagi ke tengah mereka.

Mahluk pendek ini diam sejenak. Dia cuma menatapku tajam, entah mencoba mengirim sinyal lewat telepati entah apa, tapi yang pasti, hal itu bekerja, karena aku sudah tau apa yang di inginkannya.

“Baiklah” Kataku pelan sambil bergerak mendekati tv, kemudian menyalakannya. “Seharusnya kau bisa meminta langsung”

Matanya berbinar, dan kemudian melompat dari atas lemari ! Mahluk itu terguling lucu, aku terpaksa membantunya berdiri sebelum menyelakan PS3 ku.

“Silahkan” kataku ketika layar sudah menampilkan menu utama. Tapi bukannya si Pak Tua, malah si pangeran yang hendak bergerak… seandainya kapak batu tidak mendarat duluan tepat di sebelah joystick. Pangeran nyengir kemudian mengangkat tangannya.

Aku tertawa melihat kedua temanku ini kemudian segera bermaksud keluar dari kamar. Aku bersyukur si pangeran sudah bisa menahan emosinya, sebelumnya akan ada suara pedang beradu kapak terlebih dahulu. Atau… lagi lagi dia menjatuhkan pedangnya entah dimana, seperti biasa.

“Aku boleh titip donat?” kata si pangeran tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Aku tidak menjawab, langsung menutup pintu.

**

Entah sudah berapa lama Aku duduk di coffee shop tak jauh dari komplek rumahku ini. Di mejaku sudah ada kopi yang tidak lagi panas.  Notebook ku menyala, tapi layarnya belum berisi apa-apa. Aku menghela nafas, kemudian mulai mengetik. Beberapa kalimat yang kuhasilkan akhirnya harus kembali menghilang ketika jariku menahan tombol delete. Kemudian aku memutuskan mengambil sketch book dari dalam ransel, mencoret coret sambil sesekali menyesap kopi dihadapanku. Biasanya aku menemukan ide baru dengan cara ini, tapi sepertinya tidak untuk kali ini. Keadaannya masih sama persis ketika aku di rumah tadi! Aku pikir dengan kesini aku bakal bisa menyelesaikan paling tidak satu chapter untuk novelku, tapi buktinya satu paragraph pun aku gagal. Kemudian aku berpikir, apa ini karena aku sudah membohongi teman temanku? entahlah, Aku tidak tau, yang pasti kini aku tau, kopi mahal bukan jaminan ide bakal keluar dengan lancar.

Bosan memaki diri sendiri, aku mengedarkan pandanganku lagi.  Muda mudi datang silih berganti dengan pasanganya masing-masing. Wajar,  namanya juga malam minggu. Aku pun demikian, malam ini aku tidak datang  sendirian.  Aku  mengeluarkan sesuatu  dari saku kemejaku, mainan berbentuk naga hitam yang kuberi bernama ‘Kaliang’. Namun sepertinya Kaliang tidak menyukai tempat ini. Buktinya belum 5 menit aku meletakkanya di meja, dia sudah mengeluh.

“Pulang?” aku mengangkatnya ke telapak tanganku “Sebentar, aku belum menyelesaikan satu chapter pun” Jawabku tanpa menghiraukan geramannya yang mungkin cuma terdengar olehku.

Aku kembali meletakkannya di meja, kemudian aku kembali menekuni notebook ku. Sampai…

“Baiklah, kau menang Kaliang” putusku kemudian. Sekilas kulihat dia tersenyum kepadaku, dan detik berikutnya  dimataku dia sudah terbang menuju langit langit restaurant, mengepakkan sayap sayap raksasanya.  Aku tersenyum

“Ayo pulang”  kataku sambil memasukannnya nya kembali  ke dalam kantong kemejaku.

**

Aku duduk di meja kerjaku. Kulihat kuda si pangeran masih disana. Aku menggelang, kemudian beranjak dari kursi, mengambil pangeran di kasur kemudian kembali memasangkannya ke kudanya. Aku juga mengambil si pak tua dari lemari dan meletakknya agak jauh dari si  pangeran. Terakhir, aku meletakkan Kaliang diantara mereka. Aku tersenyum sendiri, kemudian mengeluarkan donat dari tasku.

 “Ini pesananmu?” ujarku kemudian meletakkannya di meja.

“Apa, buatku? baiklah” Aku kemudian mengunyah donat gula itu dengan lahap. “Aku minta maaf” kataku kepada mereka, menghentikan sebentar kegiatanku mengunyah donat.

“Terserah kalian mendengar atau tidak, tapi aku minta maaf sudah membohongi kalian” aku menghabiskan donat dan kemudian menatap mereka yang masih mematung di tempat mereka masing masing

“Aku sama sekali tidak ada kencan” aku menghela nafas panjang

“Aku tau kalian marah, tapi kalian tau, aku sedang butuh suasana baru, aku stuck, tapi ternyata aku masih gagal”

Semuanya masih diam di tempatnya.

“Tapi…sekarang sepertinya aku tau apa yang bisa membantuku, dan mungkin kalian bisa membantu”

aku menghela nafas panjang, lagi.

“Bisakah kalian membantuku mendapatkan seorang tuan putri? ” bisikku pelan, kemudian memejamkan mata.

Kaliang dengan sayap raksasanya mengepak ngepak dikamarku, menggeram tidak jelas. Sementara Pangeran  sudah  menepuk bahuku “Kau mau  tuan putri yang seperti apa? di kerajaan ku banyak gadis cantik”. Sementara si kakek tua masih merungut di pojokan sana, mengasah kapaknya kapaknya, “ Gadis-gadis  tergila -gila dengan lelaki kuat anak muda” katanya.

Aku kemudian membuka mata. Menopangkan kepala ke meja, kembali melihat mereka yang terdiam di sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s