Not a Good Review About Good Gina and God Speed

Tuhan itu penulis yang luar biasa, buat pertemuan pertama tokoh-tokohnya aja, dia ngasih cara yang kadang tidak biasa. Dikenalin teman atau ketemu di angkot, papasan di perpustakaan atau di kondangan,ketemu di dunia maya atau social media, buat saya tergolong cara biasa.
Lalu apa yang tidak biasa ?

Bagaimana kalau kalian bertemu saat harus adanya perpisahan? posisi dimana kalau yang satu tidak menghilang, yang lain tidak akan datang. Ini baru tidak biasa. Paling tidak, buat saya.

**
Namanya Gina Amanda,  gadis ini baru saya kenal dalam hitungan hari, tapi saya berani bilang bahwa gadis ini luar biasa. Bagaimana tidak, meski beberapa tahun di bawah saya, mahluk yang pernah jadi guru TK di negeri Sakura ini sudah akan menelurkan novel ke 10 nya di akhir tahun ini. 3 novel terbarunya ( nias, howl.com dan yang akan di review ) sudah berpindah ke tangan saya langsung hasil ‘ngemis’ dari pengarangnya, plus ketiganyanya pake tanda tangan dan kata-kata motivasi. Jujur, karena sedang dalam masa penyembuhan dari galaunya perpisahan, saya belum bisa menyelesaikan ketiganya, baru novel terakhir yang berhasil saya selesaikan.
kenapa?

Selain novel ke 9 Gina ini terbilang tipis (ukuran standar teenlit), novel ini bercerita tentang Rei karakter yang namanya mirip dengan saya salah satu hal yang saya sukai : basket.

**

gambar nyulik dari google
gambar nyulik dari google

“mereka adalah dua sayap yang yang ditanamkan di punggungku, agar aku terus terbangm dan meraih mimpi-mimpi tinggiku bersama mereka”

Ariana, gadis kelas XI berdada rata, harus mengubur mimpinya menjadi pemain basket pro setelah sebuah tangannya harus diganti dengan tangan palsu karena cedera. Sekarang, tokoh utama kini adalah seorang manager tim basket Serunai Raya, sekolah level biasa : tidak terlalu hebat, tapi tidak terlalu payah. Kenapa? karena di tim basket ini mereka punya Rei, anak kelas X yang ajaibnya sudah jadi tim inti karena punya akurasi tembakan luar biasa, selain itu mereka juga punya Leo, forward yang sebenarnya keren, tapi sering hilang fokus karena godaan kaum hawa. Selanjutnya, kita juga akan dibawa mengenal seorang siswa berkacamata yang punya wajah sangat mirip dengan Rei si shooting guard : Kai, yang ternyata adalah saudara kembar Rei yang sudah 7 tahun terpisah, dan kemudian ditakdirkan untuk kembali satu sekolah walau mereka dan seisi sekolah bisa tidak sadar dan menyadari dalam beberapa waktu. Jadi, kalau Rei jago shooting, Rei punya kecepatan luar biasa, namun karena sebuah alasan, Kai harus memendam mimpinya untuk terus bermain basket…..

…dan inilah focus cerita di novel ini, so, deal with it..

jadi yang mau cari cinta segitiga, selamat bersiap-siap untuk kecewa.

Selama membaca teenlit ini, karakter Ariana, Key, Rei ( ditambah Leo ) hidup di kepala saya. Saya sudah membayangkan bagaimana tampilan mereka masing-masing jika ini menjadi sebuah manga atau anime. Tapi anehnya ketika saya kepikiran untuk menghidupkannya di live action ( di kepala saya ) entah kenapa Rei dan Key menjadi Aliando dan Algozali!!

padahal mereka tidak kembar…

Sayangnya, selain mereka bertiga, karakter lain menjadi sedikit terpinggirkan, bahkan porsi Leo sebagai ‘antagonis’ pun menjadi tidak terlalu dominan di novel ini. Pertandingan demi pertandingan yang di lewati tim Serunai Raya juga tidak terlalu dihadirkan dengan ‘serius’. Buat yang berharap Kai dan Rei akan mendapat lawan seimbang, harus mengikhlaskan, karena memang sepertinya sang pengarang tidak memberi detail pada tiap pertandingannya. Namun, selalu ada dua sisi koin :pilihan  ini akan menjasi hal positif bagi pembaca awam dengan basket ( termasuk saya) : si pengarang menjadi tidak terkesan memaksakan mambo jambo basket di otak pembaca. Kita yang tidak terlalu tau dunia bola keranjang ini akan menikmati novel ini karena istIlah-istilah yang hadir adalah istilah yang sudah cukup akrab di telinga semacam time out, layout, dunk yang jelas tidak tergolong bahkan untuk yang tidak suka basket sekalipun. Satu lagi yang membaut saya berhasil tersenyum puas : strategi yang saya tebak untuk endingnya, berhasil dibelokkan dengan baik oleh pengarang. Sedikit catatan, walau menutup pertandingan dengan buzzer beater itu manis, buat saya, entah kenapa final match di novel ini sepertinya belum mencapai titik klimaks. Analisa saya : saya cuma kecewa karena strategi di kepala saya tidak muncul di final, dan yang kedua , seperti yang saya bocorkan di awal, Gina memang sengaja cuma focus dengan development Kai, Rei dan Ariana!

Terakhir, Kalaupun saya tidak kenal dengan Gina, sebagai penggemar basket, juga manga dan anime tentu saja saya akan katakan : saya menyukai teenlit ini. Jadi seperti di judul, ini akan menjadi review subjektif, seperti review-review lainnya di blog ini.

**

Walau tidak Seperti Kai dan Rei yang kembar identik, percaya atau tidak, saya dan Gina kebetulan punya banyak kesamaan, kita sama-sama suka nulis, kita sama sama suka baca, kita sama sama suka Harry potter, kita sama sama suka game ( khususnya seri final fantasy ) dan jejepangan, dan hampir mirip dengan apa yang terjadi di teenlit ini, dengan segala kemiripan ini sekarang kami sedang bertukar tempat !! saya berdoa mudah-mudahan kami bisa mengisi posisi masing-masing dengan baik.

meskipun..

kita ga pernah tau apa yang akan terjadi, apakah kami benar-benar akan tetap di posisi ini atau tidak. Jadi, mari kita tutup tulisan ini dengan apa yang di katakan Gina di sinopsis teenlit ini :

god speed dan good luck !!!

PS: buat Gina :  titip Cloud, Zidane, ama Tidus. jangan lupa kasih makan.

Advertisements

3 thoughts on “Not a Good Review About Good Gina and God Speed

  1. Nice review 🙂 Saya tertarik baca novel ini karena mengingatkan saya dengan anime Kuroko no Basuke. Tapi, semoga saja ekspektasi saya sebagai orang yang juga suka basket terlalu besar sehingga nanti jatuhnya bakalan objektif juga ketika membaca.

      1. Suka sekali malah. Saya suka tokoh Kuroko.
        Sebuah kebetulan. Seperti Ariana, ada hal yang bikin saya gak bisa main basket meskipun saya sangat suka…
        Salam kenal juga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s