‘PARODY’

Dulu ketika SD, Sama seperti kawan-kawan, saya juga pernah ditanya tentang cita-cita

Dan saya yakin sama dengan kebanyakan  kawan-kawan, cita-cita awal saya adalah pilot dan arsitek

Perlahan ketika saya tau gigi saya tidak rapi, mata saya juga bukan mata yang baik, dan olahraga adalah nilai terburuk yang selalu hadir di rafor sekolah saya, maka saya menghapuskan pilot sebagai cita-cita saya. Sang arsitek juga mati tak lama kemudian, ketika saya menyadari bahwa saya tidak mampu membuat garis lurus dengan benar, padahal sudah menggunakan penggaris.

Lalu, mau jadi apa saya?

Waktu itu saya tidak terlalu memikirkannya, tidak seperti kawan saya yang dengan lantang menjawab kalau dia ingin jadi PRESIDEN !! dan ketika guru menanyakan alasannya, dengan simple dia menjawab : karena tidak ada satupun dikelas ini yang ingin menjadi presiden

.
Ok, padahal waktu itu kami sudah duduk di bangku SMA. Percaya?

Saya juga tidak percaya ketika ternyata di bangku kuliah akan masih ada pertanyaan yang sama,
Mau jadi apa?

Tapi kali ini, saya sudah punya jawabannya : saya ingin jadi penulis, jawab saya

Alasannya? Sang dosen masih bertanya

Saya suka membaca, dan suatu hari saya ingin giliran tulisan saya yang dibaca..

Jawab saya yakin, beberapa tahun lalu.

***
Bagimana dengan sekarang? Masihkah saya yakin dengan cita-cita tersebut.

Saya akan menjawabnya nanti, tapi yang pasti saya akui saya sempat ragu di beberapa titik.

Mulai dari hal simple kelas penulis newbie semacam beberapa lomba yang saya ikuti sama sekali tidak membuahkan hasil, kegagalan tulisan yang di masukkan ke penerbit, pengunjung blog yang kadang tidak lebih dari 10 orang per hari, Sampai kepada hal yang lebih berat : mulai dari writer’s block sampai kemampuan dan ketahanan diri saya sendiri

Tapi entah kenapa, saat saya ragu selalu ada pihak-pihak yang membuat saya bersemangat karena menghargai tulisan-tulisan saya dengan caranya sendiri,mulai dari seorang teman yang mengajak karya kolaborasi, beberapa teman menelpon dan menyemangati saya untuk mengupdate tulisan, yang lain mengirimkan kenalan di penerbit, beberapa teman bercerita kalau tulisan saya mampu menjadi angin segar kala kepanasan, sampai yang terbaru, hari ini.. ketika ternyata sebuah cerita saya ‘dipinjam’ tanpa sepengetahuan dan di ‘plesetkan’, ditambahkan dan menjadi sebuah genre lain, yang saya sebut : PARODY.

*Buat beberapa orang kawan, mungkin bisa langsung mengerti dengan istilah parody yang saya gunakan, tapi kalau belum, saran saya jangan bingung, ikuti saja sampai akhir, dan saya yakin kawan-kawan bakal mengerti….

**

Jadi ceritanya, tadi siang seorang teman mengabari kalau dia membaca tulisan saya versi parody ini di sebuah website yang sebaiknya-tidak-usah-saya-tampilkan-disini, awalnya dia berpikir kalau saya orang yang menyumbang tulisan tersebut, tapi karena penasaran teman saya ini pun menanyakan kepada saya dan memberi link tulisan parody tersebut.

Satu hal yang perlu dicatat, Saya bukan anak baik-baik yang belum pernah ke website sejenis, tapi bukan sulap bukan sombong, saya harus mengatakan, kalau saya bukan orang yang menyumbangkan tulisan di situs tersebut……….oke, katakan lah : belum. Tapi, kalaupun suatu saat nanti saya berkeinginan menyumbangkan tulisan, saya tidak akan menggunakan cerita saya yang ini..

Jadi cerita ini adalah cerita yang sudah cukup lama, kalau tidak salah, saya menulisnya sewaktu masih kuliah. Rencananya sih, saya membuatnya seperti serial TV, dan saya sudah mencoret-coret cerita kasarnya sampai beberapa episode. Kalau saya tidak salah sih, tulisan ini diposting pertama kali di notes FB saya, beberapa teman dekat saya, seandainya membaca tulisan parody ini akan segera tahu kalau ini adalah hasil buatan saya.

Kenapa?

Karena pihak yang meminjam tulisan saya ini, sama sekali tidak mengubah tulisan saya tersebut, Cuma menambahkan satu ‘set adegan’ yang sayangnya (menurut saya) juga belum terlalu berhasil melaksanakan tugasnya mengalirkan darah ke suatu titik dengan baik. Sayang sekali. Sang penulis parody ini bahkan tidak mengubah setting, dan nama karakter yang sudah sering saya pakai di tulisan saya yang lain, bahkan lebih parah, beberapa kesalahan pilihan kata, ejaan, penggunaan huruf besar dan kecil, tanda baca, di biarkan begitu saja. Padahal, menurut hasil lab terkahir saya, saya sama sekali tidak ada gejala types, tapi yang parah adalah, typo akut, yang berpengaruh kepada kesehatan mata pembaca.

Garing? mari  kembali ke cerita parody tadi

Lalu, apakah saya marah, menuntut, atau ingin tulisan itu dihapus dari dari situs tersebut?
Jawabannya : tidak sama sekali

Pertama, its not about money, artinya : sepertinya si pemilik website tidak mendapat uang dari tulisan saya 😀

Kedua, ada terbersit rasa bangga di dalam hati saya karena tulisan saya dipakai untuk diparodikan, kenapa? Karena biasanya cuma karya-karya besar lah yang di parodikan, lihat saja film-film ‘parody’ yang kebanyakan dari film box office Hollywood 😀

Ketiga, sepertinya karya besar terlalu jauh dan mengada-ngada, karena cerita tersebut masih sangat klise dan sederhana. Seperti yang sudah saya tulis diatas, saya senang karena ternyata masih ada yang membaca dan menghargai tulisan saya, serta dari tulisan parodynya tersebut, saya tau dia tau pasti darimana saya mendapat inspirasi untuk membuat tulisan tersebut. At least, we’re still in the same boat

Terakhir, dan untuk itulah, saya kembali akan berusaha untuk melanjutkan kembali tulisan ini. Penasaran, siapa tau dia kembali dan meminjam tulisan saya lagi untuk dibikin lanjutan parodynya. Karena ternyata disana juga ada beberapa tulisan yang merupakan versi parody dari tulisan orang lain yang bahkan jauh lebih cetar membahana dari tulisan saya.

Entahlah, tapi untuk menutup tulisan ini, saya mau menggunakan sebuah kutipan favorite dari novel ‘Tenggelamnya Kapal Vanderwick’ yang sudah pernah saya gunakan sebelumnya.

Seorang pengarang buku, walau pun bagaimana putus asa hidupnya, jika suatu saat dilihatnya orang sedang membaca bukunya dengan asyik, dia lupa akan kepayahan dan keputus-asaanya” (TKVDW 98)

Jadi, kembali ke pertanyaan yang belum saya jawab diatas :apakah saya masih percaya?

ya.. saya percaya

sampai kapan?

entahlah, saya tidak akan menjawabnya sekarang..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s