FEVERLASTING, FEVERENDING

Demam, sakit kepala, sesak nafas, pilek sebenarnya sudah merupakan langganan tetap saya: datang malam, pagi nya sudah menghilang, Kira-kira demikian. Yah, walaupun ukuran badan terlihat kokoh, tapi sebenarnya saya cukup rapuh untuk penyakit beginian. Hujan dikit aja bisa bikin saya pilek, debu dikit bersin-bersin, ironinya, saya jenis lelaki yang (merasa) bertambah keren di bawah guyuran hujan. Saya curiga yang terakhir ini masih ada hubungannya dengan sekian persen darah India yang mengalir di dalam tubuh saya.

skip, lupakan

Bandung. semenjak hijrah kota ini entah kenapa, penyakit-penyakit seperti diatas ini tidak terlalu sering menghinggapi saya, padahal untuk ukuran cuaca kota ini masih terbilang mirip dengan kota dimana saya di besarkan: Padang Panjang. Saya justru kembali sakit ketika beberapa kali pulang ke rumah, sampai bunda berkata kalau mungkin obat buat penyakit saya ada di Bandung, dan ternyata begitulah adanya, ketika kembali ke sini : saya sembuh seperti sediakala.

Tapi …

Juli kemaren sepertinya mantra itu sudah kehilangan keajaibannya. Untuk pertama kali semenjak menginjakkan kaki di kota ini, saya harus ke puskesmas, dikarenakan demam yang lumayan tinggi. Padahal biasanya masalah begini bisa saya selesaikan dengan meneguk satu dua obat warung dan beristirahat.

Kali ini beda, buktinya, sekali ke puskesmas belumlah cukup untuk demam ini, seminggu kemudian demam itu masih ada dan saya pun memutuskan untuk ke puskesmas lagi, dan yah, katanya ini cuma demam biasa, kelelahan. Kalau ada yang bikin demam ini lama adalah adanya kemungkinan gejala hipertensi. Lumayan sih, jika pertama kali tensi saya ada di angka 150, yang kedua meningkat menjadi 160. Saya yang memang jenis manusia yang tidak peduli hal hal seperti ini awalnya cuma cengegesan, sampai ketika bos saya di kantor berkata : “Seusia kamu? hipertensi? “ semenjak itu entah kenapa saya merasa bos menjadi lebih perhatian,dan semenjak itu pula saya merasa kalau ini bukan gejala demam biasa yang bisa disepelekan.

Waktu pun berjalan, dan demam, pilek, batuk meriang dan sesak nafas itu masih bersama saya. Di kantor pun, saya terkadang merasa lesu dan lemas tak beralasan. Kalau saya kurang tidur sih wajar, tapi ketika jam tidur saya cukup, saya merasa agak sedikit di khianati. mending kurang tidur sekalian bukan?

“Saya curiga kamu tipes Ray” kata pak Shandy, bos saya, ketika suatu ketika saya dipanggil ke ruangannya untuk menanyakan progress : baik progress penyakit saya, dan juga progress tugas baru yang dibebankan kepada saya. “ Demam biasa kok pak” Jawab saya sambil mencoba mencari akal untuk ngeles karena pesanan tulisan yang diamanahkan kepada saya masih jauh dari target. Lain lagi dengan neng Eca, HRD cantik di kantor saya ini, suatu pagi ketika dia tau kalau badan saya kembali tidak bersahabat, dia berkomentar “ kamu ini kerjaannya cuma dua ya bang, sakit..dan nyakitin” Saya tidak tau harus berkomentar apa, karena kalau demam sepanjang ini sih emang pertama kali, tapi yang satunya sepertinya emang menjadi kebiasaan buruk saya, padahal, di kantor mahluk cantik ini mungkin yang paling repot karena penyakit saya ini, tentunya tanpa melupakan pak Edi obe dan pak Dede security yang ikhlas menjadi tukang pijat gratisan saya. Sementara Bu Shasya, supervisor garis miring editor ( FROM HELL!!) saya di ruangan cuma bisa ‘protes’ tiap kali saya mohon ijin buat ga masuk, karena tanpa ada rekayasa apapun,, kami sering sakit di hari yang sama, dan ketika masuk kantor lagi, kami pun kadang masih melanjutkan dengan kontes batuk terindah atau muka terpucat. Yah, sorry bu Shasya, uve got a new challenger!.

Sementara, itu diluar kantor, mahluk- mahluk imut seperti Gesti dan Bibi, junior saya di kampus dulu yang menjadi korban geleng-geleng kepala melihat keajaiban penyakit saya ini, juga kejaiban saya sendiri. Begitu juga Agi, atau Edo, dan terakhir Yori yang tiba-tiba menasihati saya karena menerima pengaduan dari Edo. Ah, love u all, makasih sudah direpotkan.

Terakhir, kembali ke pembahasan demam, saya percaya kalau untuk kembali sehat semuanya kembali ke saya : Apakah anime dan film harus saya tonton sekarang juga ? Apakah saya akan terus tergoda untuk main uno sampai larut malam karena masih kalah dengan Gesti dan Bibi? Apakah eskrim, kopi dan gorengan itu bisa menjadi obat ? Atau apakah saya memang harus menulis curhatan ini tengah malam?

Entahlah, yang pasti mau tidak mau, demam ini harus segera berakhir, bukan saja karena ini sudah satu bulan lebih, tapi karena ada tambahan pekerjaan dan target baru yang jauh lebih berat buat kedepannya, juga karena mimpi-mimpi saya masih tercecer entah dimana. Sial, kalau sudah begini, walau demam ini berakhir, saya masih punya penyakit lain yang tidak kalah parahnya: namanya OVERTHINKING

but that’s another story…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s