Dramatisasi legenda ketan susu (dan juga roti gempol)

“ Pulang jam bara ang? Tau ang tampek jua katan susu di Dago”

Pertanyaan apakah saya tau dimana lokasi yang menjual ketan susu dari bbm Edo ini mungkin adalah pertama pertama  dimana saya mendengar legenda  ini : ketan susu. Selama ini yang saya tau Cuma ketan, dan katan goreng, ketan yang biasanya dinikmati bersama pisang goreng( yang ini favorit saya ).

yup, yang ini, bukan ketan yang di goreng..
yup, yang ini, bukan ketan yang di goreng..

“ndak tau den do, tapi kedengarannya enak”

Saya mengungkapkan ketidaktahuan sekaligus ketertarikan saya,  dan ketika bermaksud melanjutkan pembicaran ini handphone saya pun berkedip dan meninggalkan saya untuk bercengkrama dengan layar hitam.

**

Saya sedang menikmati ‘Deconstructing Harry ‘nya Woody Allen ketika edo kemudian muncul,dan memaksa saya untuk melayani hasrat nya yang belum tersalurkan :  ketan susu.  Jujur, saya tadi emang tertarik tapi berhubung sudah berada di singgsasana ( baca :kasur ) maka keinginan itu sirnalah sudah. selain memang ceritanya lagi sakit sih.

“Udah ga ada angkot”

Saya memberikan alasan pertama keberatan saya. Sebenarnya tidak terlalu mengada-ngada sih, karena memang dari daerah kostan saya tidak ada angkot legendaris Bandung yang beroperasi 24 jam, jam 9 pun itu udah tergolong beruntung, sementara Edo masih mengeluh dan bersikukuh seakan kalau tidak ada ketan susu malam ini, dunianya akan kiamat besok hari. Padahal menurut saya, kalau dia sesemangat ini mencari cewe, pasti sekarang dia sudah punya pacar lagi setelah ditinggal nikah dengan yang sebelumnya….

Lupakan, kembali ke cerita

Mengingat rasa kasihan dan fakta ( bahkan belum pernah lihat!!) kalau ketan susu itu pasti enak  dan besok mahluk tampan ini akan kejakarta, maka saya pun menyanggupi akanan dengan syarat, tidak jalan kaki, bukan apa-apa, saya memang ceritanya lagi sakit. Singkat cerita akhirnya edo pun meminjam motor teman adeknya dan saya pun tersenyum gembira.

Ketan susu sudah di depan mata

Tapi ternyata tidak

Edo dengan kerennya memilih jalan yang lebih jauh karena menurutnya satu helm tidak aman, itu belum seberapa karena ternyata dia tidak tau pasti dimana legenda ini berada, pedomannya cuma : Dago nomor 342

Harusnya sih gampang ya, karena tinggal ngikutin nomor, tapi ternyata dunia tidak semudah itu anak muda Karena nomer bangunan di sekitar sini tidak berurutan, dan sukseslah kami berkeliling dan tetap tidak menemukannya. Akhirnya saya dan Edo pun memutuskan untuk bertanya.

 “Ikutin gang ini aja kasep, nah nanti tanya pak Haji ” Jawab seorang bapak yang saya wawancarai di pinggir jalan. Terus terang saya meragukan jawaban si bapak yang terlihat sangt yakin ini, kecuali bagian kasep nya, karena bagian tu saya tambahkan sendiri.

Tapi tetap saja saya dan Edo akhirnya masuk ke gang dan …tidak menemukan apa-apa, bahkan tidak dengan sosok pak haji yang diceritakan bapak tersebut.

Namun untunglah, tak lama kemudian….

Sampialah kami di tempat legenda tersebut..

Seperti nasehat Edo yang dikutip dari dedek-dedek manis JKT48 :

usaha keras tidak akan menghianati..

Yah, tapi sayangnya tak ada tanda kehidupan disana, bukan tutup aja sih, tapi kayanya emang ga jualan dari entah kapan

Edo dengan kalem bilang “ terakhir ngetwit nya sih bulan Juli”

Genius

**

INI EDO
Edo sedang membayangkan nikmatnya ketan susu…

Mahluk pada foto dia atas  akhirnya punya ide baru : roti gempol. Lagi-lagi, jangankan melihat wiujudnya, saya ga yakin tulisan nama makanan ini  benar, sama halnya dengan keyakinan  saya ketika Edo percaya kalau kali ini kami bakal menemukannya, dengan modal “ pokoknya di sekitar daerah Trunojoyo”

Oke,  berangkat…..

dan beberapa kali sukses salah jalan

Satu hal yang pasti :  saya  tidak bisa menyalahkan Edo, karena saya tidak lebih baik, saya sendiri sangat parah dalam navigasi, yang bisa mengalahkan parahnya saya mungkin cuma Roronoa Zorro dari manga one piece. Pokoknya  letak bangunan dan jalan ketika malam dan siang itu buat saya  beda, lebih parah lagi : kanan dan kiri saya juga masih salah. Mau tidak mau saya harus percaya pada (peta di hape) Edo..

Akhirnya setelah salah jalan siana dan sini, muter-muter dan berhenti beberapa kali untuk memastikan navigasi, maka kami pun menemukan lokasi roti gempol yang sudah bisa ditebak : TUTUP.

Oke, SingKat cerita, dengan kekecewaan Edo pun akhirnya pasrah membawa saya ke tempat makan yang terkenal dengan indomie kejunya, yang ini jelas buka, dan seperti biasa : rame. Saya mesan roti dan Edo pesan pisang coklat. tak lama kita pulang, karena besoknya Edo musti balik ke Jakarta, dan saya masih berstatus karyawan belum penulis lepas. Terakhir, Edo jelas kecewa dengan ketiadaan ketan susunya. Saya?   Entahlah, yang jelas sampai detik ini makanan tersebut masih jadi legenda..

images
menurut pak google, saksi mata yang pernah melihat, kira -kira seperti ini
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s