Saya pembohong , ini (bukan) review

Mungkin karena postingan di sini, si teteh seperti kerasukan berusaha meracuni saya akan buku-buku Tere Liye yang lain. Beliau bermaksud meminjamkan saya entah berapa judul buku dari pengarang favoritenya tersebut, dan menurut beliau, salah satu seri yang wajib saya baca adalah serial Anak-anak mamak

Cmon. Sampai detik ini saja saya belum baca Laskar Pelangi,( nonton filmnya juga belum)

Jadi, tanpa bermaksud mengindahkan niat baik seorang teman, akhirnya saya meminjam sebuah novel berjudul ayahku bukan pembohong, ini dikarenakan si teteh mengatakan kalau buku ini ‘menarik’.

Teteh: ……atau baca ini  dulu aja, ayahku (bukan) pembohong,  bagus kok

Saya: Tentang apa?

T: tentang anak yang tumbuh menjadi baik karena nasehat orang tuanya

S: not my cup of tea, pas dululah

T:  tapi disalah satu cerita ayahnya ada yang bisa mengendarai angin gitu

S:  oke, pinjam dulu ya

Kira-kira demikianlah asal muasal mengapa novel bertahun 2011 ini sampai ke tangan saya.

**

Image

 

Dam, merupakan anak biasa yang dibesarkan ditengah keluarga biasa, ayahnya cuma pegawai biasa, ibunya juga ibu rumah tangga biasa. Yang tidak biasa adalah bahwa Dam dididik ayahnya (yang ternyata lulusan terbaik sekolah hukum luar negeri ini ) dengan kisah-kisah luar biasa : mulai dari persahabatan sang ayah dengan seorang anak yang nantinya menjadi bintang sepakbola dunia, petualangannya makan apel emas di lembah Bukhara, perkenalan dengan suku penguasa angin, sampai kepada tugas akhir dari seorang guru sufi untuk membuat danau. Tapi seiring berjalannya waktu, Dam menyadari tabrakan-tabrakan logika dari cerita sang ayah. Sampai akhirnya Dam menemukan penjelasan dari kebingungan ini :  dengan menganggap bahwa semua cerita sang ayah adalah jalan sang ayah untuk mendidiknya….

Tapi apakah Dam masih bisa membiarkan sang ayah melakukan hal yang sama kepada Zas dan Qon, dua buah hati Dam?

Alur cerita flashback membuat kisah ini menjadi menarik, dari masa depan dimana Dam sudah menjadi arsitek sukses kita akan dibawa kembali ke masa Dam masih menjadi korban bully Jarjit si jagoan sekolah semas SMP, tak lama kita  dipindahkan lagi untuk merasakan petualangan dan cerita masa muda sang ayah, kemudian dibawa kembali ke masa dimana Dam berkuliah di akademi gajah,kemudian kita akan berbalik kembali  ke masa lampau menyaksikan pertempuran suku penguasa dengan layang-layang raksasa melawan pesawat super cepat para penjajah. Kali ini Tere liye membangun kisah ayahku (bukan) pembohong, khas Tere Liye  yang saya sering lihat di media sosial :  syarat nasehat dan motivasi hidup yang mendayu-dayu. Bahkan mungkin buat sebagian orang, novel ini akan sukses membuat air mata menganak sungai. Anehnya, saya tidak. Mungkin karena bagi saya pribadi, bagian yang menarik di novel ini bukanlah motivasi, tapi deskripsi fantasi si pengarang di Akademi gajah, suku penguasa angin dan lembah Bukhara. Deskripsi yang langsung ingin saya hadirkan lewat gambar atau gambar bergerak lainnya…….. suatu hari nanti.

Seperti Dam yang akhirnya menyadari bahwa ada tabrakan-tabrakan logika di cerita ayahnya, saya sebagai pembaca jujur juga  sedikit terganggu ketika mengetahui ternyata akademi gajah, sekolah terbaik yang tidak akan pernah ditolak universitas manapun  di dunia ternyata tidak ada di google dan mesin pencari manapun. Apa ini semacam Hogwarts? Dan menurut hitungan ratusan tahun dari sang ayah, apakah memang sudah ada pesawat yang dimiliki para penjajah negeri penguasa angin? Terakhir, apakah  anak secerdas Dam benar-benar tidak pernah mencari di google ketika sudah mendengar gossip bahwa ibunya ternyata adalah seorang artis terkenal?

Entahlah, tapi kalau lewat kisah kisahnya ayah mendidik Dam, mungkin  ini merupakan cara Tere Liye menyampaikan pesannya kepada para pembaca :  dengan harapan pembaca tidak mempermasalahkan hal-hal demikian, tapi bisa mengambil hikmah dari setiap kisah yang sudah dia munculkan dibuku ini. Tapi bagi saya pribadi, kalau memang demikian visi dan misinya, mungkin akan lebih baik, kalau di ending tidak  semuanya menjadi kenyataan, biar semua pembaca bisa mengambil hikmah dan motivasi di setiap ‘kebohongan’ sang ayah.

***

Epilog

Ketika saya bertemu si teteh ketika bermaksud mengembalikan buku ini, si teteh masih melanjutkan doktrinnya dengan merekomendasikan  buku yang lain : Rembulan Tenggelam di Wajahmu

S: itu tentang apa, cinta? Pas dulu lah

T: bukan ini tentang balas dendam, cintanya cuma dikit

S: balas dendam kenapa?

T: ga bisa move on dari kematian sang istri

S: pas dulu lah

T: tapi tokoh utamanya seorang penipu, pencuri, penjahat yang smart dan canggih

S: okeh, besok pinjam ya

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s