TEMAN, EMOSIONAL

 

Rex terlihat sibuk mencoret-coret  sketch booknya  di lantai 1, Ketika  Ken seperti biasa melompat dari lantai 2 dengan sebuah gerakan salto. “Dasar tukang pamer” ucap Rex dalam hati sambil terus menggerakkan tanganya di kertas putih tersebut.  Jangan heran, lantai 1 dan 2 cuma sebutan untuk ranjang tingkat yang dihuni 2 pemuda itu. Ken yang memang bertubuh agak kecil namun atletis, hasil dari fitness dan suplemen  yang teratur  di konsumsinya cocok  menghuni lantai 2, Sementara Rex yang berbadan subur, -karena tidak mau di sebut gendut- harus mengalah mengisi lantai bawah.

Kenapa harus ranjang tingkat? Simple, karena memang fasilitas asrama mereka memanglah demikian. Katakanlah ukuran masing-masing kamar yang diisi dua orang itu.. terbatas.  Sayangnya, anak-anak tahun pertama berkewajiban mengisi tahun pertama perkuliahan mereka dengan tinggal di  asrama tersebut, walau Ken dan Rex sebenarnya bukanlah anak tahun pertama. Mereka sudah setahun lebih dahulu memulai  kuliah dari kebanyakan anak yang sekarang menghuni asrama ini, ketika pertama kali  berkenalan di ospek jurusan mereka dulu : Psikologi Universitas Beringan Hijau. Tahun ini, Ken  berstatus mahasiswa ekonomi , sementara Rex  adalah mahasiswa Desain Komunikasi Visual di kampus yang sama : Olympus University, kampus para dewa- karena memang kampus tersebut adalah kampus tertua sekaligus diisi para putra-putri terbaik di daerah mereka.

Ken sekarang melakukan push up dengan satu tangan, “pamer” lagi-lagi muncul dengusan pendek dari Rex, walau Ken sebenarnya tidak bermaksud untuk  demikian. Rex sebenarnya cuma iri, karena dengan postur tubuhnya ,melakukan push up,  jangan kan 1 tangan dua tangan pun akan tetap menjadikannya gangsing manusia raksasa. Rex merobek sketchnya dan seperti biasa membuangnya sembarangan. Alhasil  daerah kekuaasaannya ini penuh sampah.  Dimana-dimana  berserakan tumpukan kertas, buku-buku, cat, asbak dengan sisa rokok dan abu yang menggunung. Di dinding sekitar tempat tidurnya banyak coretan-coretan dan kata-kata sableng.  Sementara kerajaan Ken diatas sama terlihat rapi jali dan tertatur, mencerminkan  orangnya yang wangi, rapi dan cool, yang lebih penting, bebas dari berbagai macam racun yang biasa di konsumsi Rex.

Ken yang sudah bangkit dari posisinya push up nya, mengambil kertas yang dibuang Rex.

“Ini sketsa siapa? Cieee,  ada yang jatuh cinta nih”

Rex masih mencoret-coret buku gambarnya itu “Jatuh cinta apaan, itu buat proyek baru gue”

“Halah boong aja lo, kalo naksir cewe di ungkapin donk, jangan di gambar gambar doank” Ken sekarang merapikan rambutnya di kaca raksasa di dinding  “Tuh, dinding lo penuh ama gambar cewek. Dasar aneh, kapan lakunya coba” Ken kemudian menarik satu anak rambutnya, dan memutarnya dengan jari, sampai membentuk sebuah huruf  S, persis seperti tokoh pahlawan super kesukaannya.

“Laku? gue ga ada rencana ngejual gambar-gambar ini”

“Bukan gambar , elonya” ujar Ken sambil menunjuk muka teman sekamarnya itu.

“Udah ah, gue mandi dulu. Ken menarik handuk Manchester united, club bola favoritenya yang sekarang sedang terpuruk di liga berlambang singa itu” tak lama  kemudian terdengar cebur-cebur di kamar mandi.  Rex kemudian teringat satu hal, kalau emang  baru mandi sekarang, kenapa bocah itu tadi repot-repot membentuk-bentuk rambutnya?

**

Rex udah tertidur paling tidak satu jam-an ketika Ken keluar dari kamar mandi dan memanjat tangga ke lantai 2 yang sukses membangunkan Rex.

“ Lo ga bisa liat gue bahagia ya “

“Sorry bro, gue lagi buru-buru” Jawab Ken sambil nyengir

“Padahal gue lagi mimpi sama Veranda JKT48”

“Get a life bro” terdengar sahutan dari lantai atas, kemudian yang punya suara pun turun, rapi dan wangi, seperti biasa. Kali ini dia tampil dengan  kemeja merah dan jeans hitam, dua warna favoritenya.

“Kemana?” tanya Rex yang sekarang sedang merokok sambil mencoret coret dinding daerah kekuasaannya dengan pola yang entah apa.

“Biasa” jawab ken diikuti sebuah senyuman misterius.

“Masih You don’t know who ?” ujar Rex mematikan rokoknya di asbak.

setelah mengikat tali sepatunya, dia memberi hadiah sebuah jari tengah kepada Rex, kemudian  berlalu dari sana.

**

You-don’t- know who adalah sebutan yang diciptakan oleh Rex dan Emon, teman mereka yang lain,Mahluk psikologi dari kampus lama. Sebenarnya mahluk ini juga ingin cabut karena kedua temannya ini cabut dari kampus lama ini, tpi sayangnya mahluk satu ini kurang beruntung di ujian masuk, maka mau tidak mau dia masih di universitas lama yang sebenarnya berjarak tak jauh dari kampus Ken dan Rex. Dengan vespa butut Rex saja, jarak tersebut bisa ditempuh cuma dengan waktu setengah jam. apalagi dengan ninja hijaunya Emon? tapi ga tau juga sih kalo macet.. bisa bisa vespa Rex sampai duluan, seperti kisah kura-kura dan kelinci

kembali ke you don’t know who

you don’t know who adalah gadis misterius yang belakangan dekat dengan Ken. FYI, Ken sebelumnya adalah cassanova : wajah tampan, badan sixpack dan style yang selalu up to date, jangankan cabe cabean, tante-tante seusia pohon beringin juga pasti kepikat dengan mahluk ini. Tapi setelah kenal dengan you-don’t-know-who  , Ken seperti bertaubat dari Barney Stinson mode nya.  Tapi masalahnya Ken  tidak pernah mengizinkan mereka bertemu dengan gadis luar biasa ini, yang bisa mereka ketahui  cuma percakapan mereka yang memakai 3 bahasa : Jepang, inggri dan Indonesia, mungkin gadis itu berasal dari salah satu Negara tersebut,atau blasteran ketiganya, mungkin. Pokoknya dari percakapan ini  jugalah, Rex dan Emon tau nama gadis misterius tersebut : Lana. Tapi entah kenapa julukan you-don’t-know-who sepertinya lebih menarik untuk di ucapkan.

Sore itu, Rex sedang mengumpulkan komik pinjamannya ,dan sepertinya ada satu atau dua komik yang belum dia temukan karena Rex terlihat mengacak-acak lemarinya yang padahal sudah acak-acakan, saat tiba-tiba sebuah kepala menjuntai dari atas.

“Ngebales lo ye?” Tanya Ken setengah sadar.

“Sorry tampan, komik gue ga ketemu nih, mau gue balikin sekarang”

“Makanya nanya “ Ken mengambil komik  dikasurnya dan memberikannya pada Rex.

“Makanya ngomong” desis Rex pelan sambil memasukkan dua komik tersebut ke tas nya “Tumben lo baca komik?”

“Stock novel gue udah abis,  ga ada ada bacaan ringan nih gue ” ringan yang di maksud adalah novel novel berat berjumlah sekian ribu halaman.

You’re welcome, Gue jalan dulu deh” potong Rex kemudian.

“Wait, lo ke Chewbaca ama siapa?” Ken bangkit dari tidurnya

“Sendirian, kenapa? ”

“Bareng ya, sekalian mau pinjem nih gue”

“Emang lo ga jalan ama you don’t know who”

“Ga, gue lagi cuti” Jawab Ken sekenanya.

Begitulah, dari semua perbedaan mereka, mungkin yang bisa menyatukan mereka adalah hobi mereka ini: B-A-C-A, walau Ken lebih senang novel fantasi dan science fiction yang berat dan terdiri dari sekian puluh juta  halaman, sementara Rex lebih suka komik yang kecil,ringan, dan CHEWBACA adalah tempat yang bisa menyatukan perbedaan tersebut :  taman bacaan garis miring café yang menyediakan bahan bacaan berbagai genre dari komik sampai majalah, dari naruto sampai FHM. Dan CHEWBACA sendiri adalah gabungan dari dua kata Chew & Baca, sebuah permainan kata yang tentunya berasal dari nama wookiee dari seri perang bintang : Chewbacca, Yang dipercaya duo ini juga merujuk kepada sang owner  yang besar dan berbulu . Lupakan.

“Ya udah, buruan”

“Bentar, gue mandi dulu”

Rex menatap temannya tersebut tersebut “Mandi?’

“Bentar kok,serius” kemudian ken mengambil handuk dan bersiul-siul menuju kamar mandi.

Rex duduk di kasurnya, mengeluarkan lagi sketchbooknya dari tas, satu jam adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan sebuah sketsa.

**

“Serius?”

Emon yang akan meminum kopi sampai membatalkan aksinya  dan kembali meletakkan cangkirnya dimeja

“Elo ketemu you-don’t-know- who?”

Rex melihat sekeliling kantin fakultas psychology itu , takut-takut ada yang melempar mereka dengan sesuatu karena volume suara Emon barusan.

“Kalem, disini ga ada yang berani larang gue” tukas Emon sok jago seperti biasanya.

“Oke, tapi itu bukan alasan lo buat lebay” lanjut Rex kemudian merapikan rambutnya yang sudah menyentuh mata

“Tapi elo-ketemu you-don’t- know-who” Emon sadar kemudian memelankan suaranya “itu- kaya- lo- buka – facebook – tapi- lo – ga -nemu -postingan –anak- PKS- yang-  jelekin- Jokowi”

Rex menyendok es podeng, makanan favoritenya saat berkuliah di sini dulu, alasan utamanya  datang lagi ke kampus ini. Emon mah urusan belakangan.

“Pertama, gue ga ngikutin politik, kedua, facebook? lo yakin, facebook?”

“whatever, Artinya, jarang banget, kesempatan emas, lo beruntung banget”

“Beruntung mana ama lo satu lift ama Melody ” Rex menyendok kembali es podengnya.

“ Ya Melodi lah” Emon yang tergolong wota garis keras JKT48 gagal menyembunyikan identitasnya ”Tapi intinya lo bisa ketemu you dont  know who.  Gue belum pernah. Gimana, cantik? Heran gue kenapa dia ga mau ngenalin ke kita”

Rex mau tertawa mendengar statement Emon, karena Rex masih ingat bagaimana dulu dia dan Ken juga tidak pernah bertemu dengan Nata, mantannya Emon .Kalau pun Nata mau main ke rumah Emon,dan kebetulan  ada Ken dam Rex. Emon pasti mengajak Nata jalan keluar.

Its Ken we’re talkin bout” jawab Rex

“Ken abis! lo barusan Ken abis” kata Emon sambil tertawa, merujuk kepada kebiasaan Ken yang memang suka code mixing– dari Inggris ke Indoneisa, indonesia ke Jepang

So I guess dia cantik banget” Balas Emon dan keduanya tertawa berbarengan.

In short, Gue ke Chewbaca bareng Ken, ternyata si Lana nelpon juga pengen kesana, ya  mau ga mau, gue ketemu”

Emon tertawa “Jadi pake lana nih sekarang ? Oke. trus?”

“Ya udah, ngobrol,haha hehe biasa.Trus abis dari Chewbaca kita bertiga  ke angkringan “ Rex sengaja ga menghiraukan pertanyaan Emon.

Wait! Ken ke angkringan?”

Rex melihat sekitar, kemudian tertawa “ oke, itu lumayan lucu” tapi demi melihat Emon Cuma diam, Rex pun terpaksa melanjutkan      “ Soalnya Lana juga mau ikut”

“Trus. lo nanya-nanya apa aja ama si you-don’t-know who ”

“Iseng sih,  jadi temen gue  nelpon, trus gue iseng jawab gini, gue lagi jadi obat nyamuk nih , nemenin orang pacaran, trus tiba-tiba Lana nyeletuk : bukan pacar kok

“Trus lo percaya?” Emon sekarang ikuytan menyendok es podeng milik temannya itu, memang porsisnya tergolong jumbo untuk harga 8000 rupiah.

Rex menggerakkan ahunya “Gue liat ke Ken, trus  Ken bilang gini : kita cuma teman..teman emosional

Ada jeda sejenak sebelum Emon bertanya “Teman emosional?? ”

Rex mengangkat bahunya untuk kedua kalinya, kemudian  menghalangi gerak tangan Emon untuk menyendok Es podengnya. Soalnya : menurut legenda, suapan yang terakhir itu adalah yang paling nikmat di dunia.

**

“Lana ngajakin ke Chewbaca, trus dia juga nyuruh ngajak lo, gue udah larang sih, tapi paling ga gue udah sampein pesannya doi”  Ken yang udah rapi di depan pintu kembalio bertanya “ Gimana? Lo ikut?”

Rex yang sedang sibuk nonton di laptopnya tiba-tiba terdiam sejenak, menekan tombol space.

“Lanjut deh,  gue ntaran aja, kagok nih “ jawab Rex yang sedang menyelesaikan anime yang tadi baru didownloadnya

“Ya udah, gue jalan”

Rex mengganguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar “Salam buat Lena” sambungnya kemudian.

Akibatnya sebuah jari tengah kembali dihadiahkan kepadanya. Rex tertawa.

**

Beberapa hari kemudian…

Rex  sedang mencoba membuktikan teori Emon tentang PKS dan Jokowi di facebook ketika tiba-tiba di  layar chat facebooknya muncul nama Lana

“Hai Lan”  sapa Rex iseng karena sudah lama dia ga mengaktifkan chat media social ini.

“Hai kakak Rex” jawab Lana ditambah sebuah icon senyum

“Hai lagi dedek lana, lagi ama Ken?” Tanya Rex

“Ga kak, lagi kencan xixixix” tulis Lana ditambah sebuah senyum gede

“Kalo lagi kencan kok Lananya disini” balas Rex

“Dia lagi Kencan ama kak Emon di Beringin Hijau, kabar terakhir sih mereka berdua lagi boncengan ninja nya kakak Emon” Lengkap dengan senyum dengan mulut paling besar. Tertawa puas, mungkin itu artinya.

Walau belum pernah bertemu, karena senyum barusan, Rex curiga Lana sudah tahu terlalu banyak tentang Emon.dan mungkin juga dirinya. mudah-mudahan yang baik-baik semua. tambah Rex dalam hati, tapi detik kemudian dia kembali meragukan harapannya sendiri. Rex kemudian membalas dengan sebuah senyum karena entah kenapa Ken biasanya tidak mau di bonceng  Emon, mungkin ada hubungan dengan kepercayan Ken bahwa Emon punya bakat buat ‘belok’.

“Ga cemburu kan?” Lanjut Rex sambil menambahkan gambar senyum tawa. Tunggu. Ini senyum apa tawa sih?

Sekarang giliran Lana membalas dengan senyum yang ada air di dahinya. Rex mengartikannya sebagai ‘apaan sih lo?’

“Becanda, kirain lagi ama si tampan, pengen titip salam, udah kangen soalnya” Lanjut Rex

“Sekarang  si tampan dia udah jadi ‘the most wanted’ “ balas cewe di seberang sana

Rex mau membalas namun tiba-tiba ada titik titik muncul yang berarti orang diseberang sana sedang mengetik sesuatu.

“Eh,udah magrib, shalat dulu kakak Rex, nanti kalo ‘the most wanted’ nelpon Lana sampein salamnya”

“Siap dedek Lana” ketik Rex menutup chat sore itu

**

Jam baru menunjukkan pukul 10 malam tapi Rex sudah mencoba memejamkan matanya karena besok pagi dia musti ketemu ama client yang butuh logo, proyek lumayan untuk mengisi sakunya yang habis karena kecanduan game online. Rex hampir berhasil ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan orang yang masuk langsung memukul kepalanya dengan kantong yang isinya terbilang lumayan tersebut.

“Tidur terus, kapan beranaknya lo?” Ujar Ken semena-mena.Mahluk tampan itu kemudian duduk di lantai, mengeluarkan air bervitamin dari kantong belanja yang sempat hinggap di kepala Rex tadi “ Tadi gue ke beringin, ketemu anak-anak”

“Iya, gue  tau, ama Emon juga kan?” Potong Rex

“ ya iyalah ama Emon juga, you dont say” Balas Ken.

“ Iya. Gue juga tau lo akhirnya mau di bonceng Emon” Lanjut Rex dari balik selimut

Kemudian hening.

“ WTF. Si Geblek pake cerita-cerita” Ken geleng-geleng kepala

“Bukan Emon, tapi Lana yang cerita” terang Rex

“What? Lana? KOK BISA?” Nada Ken sudah agak meninggi, kalau seandainya ini ditulis menjadi cerita mungkin akan lebih tepat jika pakai huruf besar semua.

“Gue nanyain lo, lagi ama dia apa ga, trus dia cerita gitu”

“SERIUS REX LO TAU DARI MANA, LO GANGGUIN DIA ? LO TELPONAN? DAPAT NOMOR TELPON DI DARI MANA?”

Rex diam dan  merapatkan selimutnya, tidak mengerti kenapa temannya tiba-tiba jadi emosional. Tiba-tiba dia merasa gagal, Kalau buat mengerti kenapa teman sekamar nya jadi emosional saja dia tidak bisa, bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan teman emosional? Tapi di balik selimut diam-diam kembaran Gendruwo ini tersenyum, paling tidak, besok dia punya bahan presentasi untuk Emon tentang : apa sih yang dimaksud dengan temen emosional?

END.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s