MACBETH : 3 years after

“Jam 8 pagi bisa kan Ji ?”.

Aku kemudian menyeruput minuman dingin di depanku, minuman yang tergolong mahal untuk ukuran kantongku ini sebenarnya biasa saja, tapi karena tempatnya yang tidak biasa maka harga minuman ini pun melonjak jadi luar biasa, sudahlah, aku memang kadang tidak pandai bersyukur, sudah ditraktir, junior pula, masih saja banyak bacot

“OK bang, pagi wak sudah standby disana bang, sampai besok pagi, aku padamu bang” Tutup suara di seberang sana

“Bisa bi? ujarku pada bibi, gadis chubby berkacamata yang masih sibuk dengan ayamnya, Bebi pun Cuma menganggukkan kepala.

“Jam 8 pagi kan bang?” Geges mengulang pertanyaanku tadi, entah meyakinkan atau ragu dengan kapabilitasku untuk bangun pagi. Aku cuma tersenyum, anak-anak di depanku ini belum tau apa yang sudah aku lewati beberapa minggu ini, sebuah neraka yang bagi manusia kebanyakan adalah sebuah keseharian, neraka bernama bangun pagi.

**

“Yang lain mana jo? Tanyaku kepada ajo, sapaan untuk Wahyu, lelaki yang selalu tampil rapi jail dan motor bersih mengkilap yang sepertinya sudah datang jauh sebelum aku.

“biasa bang, katanya jam 2 tapi masih belum ada yang datang”

Aku membakar rokokku, meniupkannya ke angkasa, kemudian tersenyum.walau porsinya tidak terlalu besar, Ajo memang selalu menajdi yang paling awal berkumpul untuk latihan.

“Tiap hari kayanya gini terus bang, ga pernah on time”

“Sabar jo” ucapku mencoba menepis keresahan juniorku ini “Bentar lagi juga pada nongol, tuh, si Bebi dating”

Ajo geleng-geleng kepala.

**

“Kalian tega ya bikin bang nunggu 3 jam lebih” tanyaku kepada Junior junior lucu ini.

“Maaf banget bang, tadi malam kami curhat dulu, maaf” jawab Bebi dan Geges yang sekarang sudah di hiasi make up dan lipstick. Maklum, keduanya sekarang adalah pegawai bank di kota ini. “tuntuan profesi bang” jawab Geges ketika tadi malam aku pertama kali menyadari perubahan ini.

“Gorengan bang?” tawar Bibi yang sedang memefanf sekantong besar gorengan. Aku melunak, sekaligus ingat , dulu juga siapapun yang telat akan sadar membawa kresek hitam yang berisi makanan, bukan mengajarkan sogok menyogok, Cuma memanfaatkan budaya telat yang sepertinya tak terhindarkan.

“Oji ama winky apa kabar?” tanyaku kemudian

“Oji masih shopping ama tari bang, kalau Wingky katanya udah siap-siap mau berangkat” jawab Geges.

Oji juga anggota dari kelompok ini, mahluk ini lebih tua dariku, tapi dia tetap bersikukuh memanggilku abang, menurut oji, kedewadaan bukan dari umur, dan dia percaya aku lebih dewasa di banding dia, entahlah, dia mungkin lagi mabok lem. Sementara Tari adalah teman angkatan mereka yang kebetulan juga ikut liburan ke kota ini, meski di kelompok berbeda.

“Padahal dia yang janji jam 8 lho” ucapku sambil menggelengkan kepala.

“Kalau aja ajo disini dia pasti udah menggerutu” kenang Bibi kemudian.

“eh, Abang sudah tau kalau ajo sekarang jadi frontliner ” Tanya gesti

Aku menggeleng “ kalau Vijo apa kabar?”

“Vijo kan s2 di jogja bang”

**

Aku masih menyendok lontong mie , makanna favoriteku di kantin ini ketika aku melihat Vijo sibuk browsing dan Kenapa jo?” tanyaku sok peduli

“Masih nyari drama ni bang” ucapnya tanpa menoleh ke arah

“Macbeth gimana jo?” ucapku kemudian

“Huft, kenapa hari ini semua orang harus ngomongin Macbeth sih , Dani tadi juga ngusulin Macbeth, abang juga, kaya ga ada pilihan lain selain shakespeare, lama-lama aku bisa gila bang !” teriaknya yang bikin aku kaget bercampur heran.

Pasalnya, tadi malam Dani dan Iwan, kebetulan menemuiku untuk memintaku bantuanku untuk pementasan drama tahun ini, dan setelah perbincangan ditemani lezatnya nasi goreng, aku mengusulkan Macbeth :salah satu drama terkenal dari Shakespeare.Tapi bukan kunci mati, aku cuma mengusulkan karena: pertama, memang mereka belum punya gambaran,kedua, kebetulan aku sedang mengulang kuliah yang sedang membedah Macbeth, jadi paling tidak aku sudah mengerjakan separo tugasku. Tapi sepertinya mungkin komunikasi antara kelompok dimana Vijo juga ikut serta didalamnya, belum terbilang baik.

Jujur, aku jadi tidak enak hati melihat si Vijo ngamuk. Maka aku pun mencoba mencari Dani, tapi ga ketemu, dan di koridor ,aku melihat Vijo lagi berteriak stengah kesurupan dikelilingi teman-teman anggota teaternya.

Kebetulan, diparkiran fakultas aku ketemu iwan “Wan, kayanya kita perlu ngomong deh”

“kenapa bang?” Iwan serius

Aku pun menceritakan kejadian tadi ke pada Iwan. Iwan tertawa “Santai bang, nanti kita bicarakan “ kemudian dia menepuh bahuku “ jangan terlalu dipikirkan lah”

**

“Iwan apa kabar?” tanyaku pada mereka tentang pemeran ahli waris Scotland ini.

“Iwan masih belum wisuda bang” Jawab mereka

“Bang udah lama ga ketemu dia , paling juga kirim-kirim gift game facebook” terangku sudah berada diwarteg dekat tempat janjian karena anak-anak ini bahkan belum sarapan, dan kalau acara tunggu menunggumasih akan terus berlangsung, ini akan langsung berubah fungsi menjadi makan siang/

Sekitar satu jam-an berlalu di warteg. Aku yang sudah menghabiskan sisa nasi Bebi dan Geges yang padahal Cuma stengah porsi sekarang sudah menambah menu dengan kopi hitam, karena tadi malam aku memang Cuma tidur sebentar. Tak lama kemudian, Wingky dating, junioku ini semakin gendut pertanda sukses, beda dengan gendutku yang mungkin terlalu banyak dosa.Tak lama kemudian, barulah datang telpon dari Oji dan Tari.Akhirnya tepat jam 8 lewat 4 jam, semua peserta hari ini berkumpul!

**

“Karena sudah berkumpul , kita mulai saja, silahkan Dan,”kata Iwan yang tiba-tiba bertindak sebagai moderator

Dani pun kemudian mengambil alih pimpinan rapat tak formal ini“Jadi akhirnya setelah banyak drama sebelum drama dimulai,dan setelah ganti dan cari-cari lagi,kita akhirnya mutusin buat jadi maenin Macbeth bang” cerita Dani mantap

“Yakin?” aku berbalik menanyai Dani

“Yakin bang, kami udah mutusin.Kami udah nyari ini itu, ternyata kayanya yang paling mungkin ..Macbeth bang” Dani kemudian member jeda di kalimatnya “Dan secara resmi kami minta abang buat jadi supervisor kami” kata Dani sambil tersenyum.

Aku mengalihkan pandanganku ke semua yang hadir di dangau lesehan sore itu, bagian dari kantin fakultas yang memang biasa dI gunakan untuk rapat informal seperti ini. Aku menghela nafas.

“Abang bukan yang terbaik, dan ga semua yang abang kasih ke kalian nanti adalah kebenaran absolut, kalau salah ingatkan abang,karena abang tau beberapa dari kalian lebih berpengalman dari abang” Aku melirik Vijo dan memey.

“Kita sama –sama belajar, sama-sama mengingatkan, dua arah” tutupku

dan pertemuan sore itu,ditutup dengan perkenalan anggota kelompok,tidak semua, karena belakangan masih ada yang bergabung dengan GIMEDOWFICHI : Nama yang mereka pilih untuk kelompok ini, mengambil huruf depan dari semua anggota kelompok.

**

“Abang ingat ga semua nama anggota GIMEDOWFICHI ?” berondong Geges kepadaku ketika aku bertanya siapa yang belum wisuda selain iwan

“Clue nya yang terakhir gabung ama kita kan tapi bukan TBO” Tambah Bibi.

Tim Bantuan Operasional atau TBO adalah sebutan untuk para junior yang nantinya membantu memerankan figuran atau cameo atau mengurus hal lain sebagai crew. Hal ini sekaligus merupakan persiapan untuk penampilan mereka di tahun berikutnya, karena penampilan drama yang pada dasarnya adalah ujian mata kuliah Drama ini diselenggrakan tiap tahun. Selain bantuan dari anak-anak ini aku juga minta bantuan dari Haris, teman satu angkatanku untuk membantu di musik, dan anak anak sendiri minta Vio, juniorku di make up dan wardrobe.

“Helma emang belum wisuda? Abang kiro alah

“Belum bang, Cuma tinggal mereka berdua”

Aku manggut-manggut, aku ingat ketika satu tahunan Macbeth, kita mengadakan peringatan kecil-kecilan di rumah Helma. yah, masa-masa dimana aku bergelut dengan bimbingan dan anak-anak ini, adalah salah satu masa keren dalam kehidupan kuliahku, anak –anak yang lucu dan selalu penuh tawa. Ga semua sih, masih ada Mey yang paling susah untuk kubuat tersenyum

**

‘Mey, senyum dong’ adalah kalimat favoriteku selama sesi latihan

“Apaan sih bang” jawab Memey kemudian dia bakal merenggut. Memey ini mungkin anggota paling cuek. Tomboy dengan rambut sedang yang dikuncir. Kesehariannya tampil lengkap dengan kets dan jeans. Tapi jangan salah, dia amat manis. Kalau saat itu Jkt48 sudah buka pendaftaran, dan juniorku ini mendaftar pasti mey terpilih dan tentunya dia akan jadi oshiku.

“Mey, senyum dong”

anak-anak tertawa sementara mey cuma mengembungkan pipinya seperti biasa

“Bang kayanya kita perlu latihan titik lampu deh, kita belum latihan kan?” Mey mencoba mengalihkan topic

“Bang Ger nawain bantuan bang” tambah Vijo. Geger adalah senior Vijo dan Mey di dunia teater, mungkin orang-orang ini sedih juga melihat adek nya ini di handle ama orang ga jelas seperti saya “Abang keberatan?” lanjut Vijo

Aku tersenyum “Ga lah, kan abang udah bilang, selama itu yang terbaik, silahkan, lagian kan kita kan emang udah sepakat minta Geger buat di lampu” Tambahku kemudian.

Setelah bubar latihan, tiba-tiba Vijo mendatangiku lagi

“Bang, abang bener ga apa-apa?”

“Serius Jo, abang ga apa-apa, dari awal kan udah sepakatnya gitu”

“ih, abang aneh, kok bisa ijinin kita? supervisor kelompok lain ga gitu lo bang” Lanjut Vijo

“Simple, abang ga sejago supervisor kelompok lain jo” ucapku kemudian tersenyum.

**

“Maaf banget ya bang, abang beneran ga apa –apa kan?”

kami sudah di angkot menuju Lembang ketika anak-anak ini masih saja minta maaf karena keterlambatan mereka. Aku awalnya ga enak , tapi lama-lama aku menikmatinya juga. Di Angkot menuju lembang ini Awalnya aku cuma tidur-tiduran karena penumpang memang tergolong sepi, beberapa penumpang selain kami turun silih berganti, akhirnya di angkot cuma ada kami. Tari yang tergolong ‘orang luar’ musti sabar ketika kami mulai bernostalgia tentang drama, tapi setelah itu giliran kami yang musti bersabar campur terharu mendengar kisah dramanya, tepatnya drama percintaannya dengan salah seorang senior kami.

Aku yang mulai kehilangan semangat untuk tidur, kemudian mengeluarkan DSLR hasil pinjaman kepada seorang teman, dan kami mulai berfoto-foto di angkot yang padahal sedang bergoyang tak karuan,karena memang supir kami memilih jalan alternative untuk menghindari kemacetan, dengan bayaran dua kali lipat harga normal.

**

“Foto-foto terus , kapan sih bang kita pernah serius latihan” Vijo mendatangi ku lagi sore itu.

Dan aku sudah terbiasa dengan protes-protes ini, karena memang aku akui aku memang tidak pernah ( baca :tidak bisa ) membuat sesi latihan menjadi serius. Apalagi membuat sesi latihan menuruti kaidah latihan teater atau drama sebenarnya yang biasa di hadapi Vijo. Memang demikian keadaannya,dari kesemuanya mungkin cuma vijo yang paling serius. Dani sendiri yang pertama kali mendatangiku dan kadang menjemput dan mengentarku sepulang latihan,kadang masih suka sibuk dengan aktivitas lain, kadang datang terlambat, sama seperti yang lain. Mey juga ga terlau ambil pusing, cuek seperti biasa, walau mungkin dia juga sudah mengalami keresahan yang sama seperti Vijo. Taya suka ijin pulang duluan, Bebi suka melamun dan galau dengan kisah cintanya, Indri,Ira, Geges dan yang lain …menikmati proses latihan ini dengan cara mereka sendiri, salah satunya ya dengan cara berfoto-foto ria seperti ini, dan aku sendiri,tidak mempermasalahkan hal itu

“Abang harusnya agak keras donk bang” Protes lain yang pernah Vijo sampaikan ke aku.

Aku cuma tertawa, karena buatku seuatu yang serius itu menjemukan. Tapi aku harus akui team memang butuh orang kaya Vijo yang selalu mengingatkan ketika team agak berada di luar jalur.Selain Vijo aku bisa melihat itu di Iwan. Beberapa kali Iwan memperingatkan dan menyemangati kawan-kawan ketika kurang bersemangat, dan buatku sendiri, diskusi dengan Iwan bisa lebih cair, misalnya disela-sela latihan, ditemani rokok dan secangkir kopi.

**

“Emang abang merokok?”

Aku agak kaget ketika Geges menanyakan hal ini, padahal selama proses latihan 3 tahun lalu itu, rokok adalah salah satu partner favoriteku. Wingki dan Oji jelas tidak kaget, karena biasanya aku dan cowo-cowo team ini, termasuk TBO seperti Fadli, Amaik, Rudi dan Yogi. Biasanya sehabis latihan tidak langsung pulang, tapi nongkrong dulu sambil ngerokok dan ngopi, atau makan nasi goreng. Karena kebiasaan buruk kami ini, sampai salah seorang senior teater menertawakan sesi latihan kami yang tergolong panjang,menurutnya itu sia-sia dan tidak efektif. Tidak bisa disalahkan, abang itu cuma tidak tau kalau latihan kami sebenarnya sesuai dengan waktu efektif yang diperhitungkannya, sisanya terdiri dari menunggu, tertawa dan foto-foto, dan nongkrong sambil curhat. Buatku, yang terakhir ini adalah bagian yang tak kalah penting.

“Tapi Ges ga pernah ngelihat abang merokok waktu latihan dulu, serius”

Aku cuma tertawa, kemudian sibuk kembali mengambil foto para gadis ini. Walau tidak bisa dikatakan istimewa, Pemandangan di tempat ini memang terbilang lumayan, apalagi buat para pecandu foto seperti kami-kami ini. Danau, taman dan rerumputan adalah objek yang sayang untuk dilewatkan .Setelah puas berfoto dan makan, kami pun memutuskan untuk pulang. Tapi sebelumnya kami singgah dulu ke kost Bibi yang ternyata cukup dekat dengan tempat ini. Sesampai didalam, ternyata kostan ini dominasi warna pink dan pernak pernik Hello kitty, yang akhirnya membawa kami ke percakapan tentang seseorang yang kebetulan juga penggila Hello Kitty dan pink.

**

“Serius lo kak, Taya kemaren sampe latihan ama aku untuk peran ini, dia semangat banget” aku tersenyum mendengar cerita Cihud tentang teman akrabnya ini “Kakak sok keren amat, pake casting segala”

Aku tertawa, karena memang aku belum bisa menyerahkan kepada mereka siapa yang akan menjadi siapa: takut mereka saling berebut menjadi peran utama, atau lebih buruk : saling berebut untuk yang jadi paling sedikit tampil dan berdialog. Aku juga bukan penjudi yang baik yang berani memutuskan peran lewat kocokan kertas, makanya aku memilih menghabiskan satu hari latuhan ‘cuma’ untuk casting dimana masing-masing cowo akan mencoba semua peran cowo di naskah,tentunya dengan lIne yang sudah aku tentukan sebelumnya. begitu juga dengan peran wanita. Karena jumlah karakter di naskah dan anggota yang tidak seimbang gendernya, maka cewe juga mencoba peran cowo. setelah casting individu, aku mencoba meaasangkan dengan yang lain, karena mungkin ada yang baik secara individu tapi ketika dipasangkan dengan lawan yang tidak pas akan menjadi kurang,makanya aku manfaatkan seharian untuk menemukan kombinasi terbaik.

“Harusnya aku lo kak yang jadi lady Macbeth” ucap Cihud tiba-tiba

“Ya, tapi sayangnya kelompok kamu kan beda” Jawabku pendek. Entah benar entah tidak, masalah lady Macbeth lady Macbeth ini, katanya sempat menjadi trending topic di angkatan mereka.

Dia pun memonyongkan bibirnya “ Kakak sih ga mau jadi supervisor group aku “ ujarnya sambil mencibir. Namun entah kenapa, dengan pose seperti itupun, dia tetap gagal terlihat jelek.

**

Cerita tentang gadis pink manis ini berlanjut di angkot yang macet menuju Bandung. Beberapa kali nama Cihud hadir dalam percakapan kami. Sabtu malam- long weekend dan Bandung bukanlah pilihan yang tepat untuk menikmati angkot, karena macetnya kadang bikin rusak mood liburan, apalagi kalau diangkot ada pasangan yang menebar kemesraan. Ah, sudahlah..

Tapi untungnya kemacetan yang kami alami tidaklah terlalu ekstrem. Setelah sampai dibandung, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di Asia Afrika, kemudian terus ke Braga, dan akhirnya hampir tengah malam ketika kami menyantap nasi goreng di simpang Dago untuk meneruskan perjalanan selanjutnya ke kostan Geges, sepanjang perjalanan tentunya Foto-foto tetap menjadi menu utama kami “Ntar kirim ke Indi biar dia ngamuk-ngamuk” Aku lupa siapa yang puny aide demikian.

**

“Masa gitu aja ga bisa sih ndri?” ucapku serius “Ira ama taya udah bener, tinggal kamunya telat terus, kalian tuh musti kompak, seirama” Ujarku diiringi muka masam

“Maaf bang, indi udah coba , tapi..”

“Ulang deh, kalo yang ini ga kelar, kita ga bakal pindah ke scene lain” tukasku makin serius

Indri mulai berair mata, karena mungkin ini kali pertama aku sekeras ini

Ira. Taya, dan Indi di drama ini jadi penyihir yang kemana-mana slalau bertiga, dan demi keindahan, mereka memang harus bergerak serempak dan seirama. Sebenarnya untuk hal ini aku tidak sendirian. Aku minta bantuan tika untuk melatih para Witches ini agar gerak tubuh dan segalanya lebih luwes dan Tika yang notabene wanita tentu bisa menghandle lebih baik dari aku. Dan sebenarnya , Tika sudah melatih mereka bertiga dengan sangat baik, dan kata teman-teman yang menonton sesi latihan kami malam itu pun, mereka bertiga sudah padu dan hampir mendekati sempurna, tapi..

Tiba-tiba, listrik padam..

Dan ketika menyala.. sebuah kue ulang tahun, hadir untuk Indi..

**

“Wah… Ira ga nyangka ..makasih” mata Ira berkaca-kaca , ketika kedatangannya ke bandung ternyata di sambut oleh kejutan ulang tahun kue ulang tahun dari Wingky, Gesti dan Bibi.

“Jadi ga pengen pulang ek batam “ kata Ira dengan mata masih berkaca-kaca, lagu ulang tahun di café itu menambah syahdunya reunian kami malam itu.

Ya, seminggu setelah perjalanan kami bersama Oji dan Tari, giliran Ira yang datang ke bandung, mencuri waktu sehari dua setelah diklatnya di Jakarta. Awalnya kami berencana ke Maribaya, tapi karena keadaan fisik Ira yang tidak memungkinkan karena baru saja mengalamai kecelakaan kecil, dan Wingky yang juga baru selesai pelatihan bersama TNI, maka rencana di batalkan, dan akhirnya….

Ira, Gesti dan Bebi kembali berwisata ke tempat yang sama yang kami datangi sebelumnya karena menurut gesti, Ira ngiler to the max melihat foto kami disana.

sementara aku sendiri estafet tidur, seakan aku adalah satu satunya orang yang bekerja paling keras di dunia ini. Winky sendiri juga tidak bisa ikut karena ada kerjaan. Sementara aku percaya mungkin winky kurang bersemangat karena ketidak hadiran Oji.Sudah menjadi rahasia umum bagi kelompok ini dan juga bagi angkatan mereka, kalau Oji dan Winky memang tidak terpisahkan.

**

Pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Winky yang memerankan macbeth, akhirnya berhadapan dengan para loyalis kerajaan Scotland yang di pimpin oleh fighting director drama ini : Oji. Pertarungan tak terelakkann!! akhirnya dua sahabat atau mungkin lebih ini harus berhadapan, dentingan pedang terus terdengar, sampai Winky berhasil mematahkan pedang oji. Sesuatu yang sama sekali tidak ada di latihan !! saya yang akhirnya harus menjadi lightman dadakan karena Geger tidak bisa hadir sempat kaget, tapi untunglah Oji tidak panic dan jago improve : Dengan mengambil pedang lain di antara mayat dan sisa pertarungan di pentas, pertarungan dilanjutkan, dan akhirnya, ozi harus Memotong kepala Macbeth tepat ditengah pentas, dihadapan juri dan penonton, Tepat ketika saya mematikan seluruh lampu di panggung!!!

dan tepuk tangan pun bergemuruh..

Tepuk tangan yang akhirnya di malam penganugrahan berhasil mengantar Vijo menjadi pemeran utama wanita terbaik, mengantar the three witches menjadi pemeran pembantu wanita terbaik, Winky walau masuk nominasi pemeran utama terbaik, gagal menjadi pemenang, mengikuti beberapa penghargaan dan nominasi lain yang menyertakan nama macbeth di belakangnya, dan puncaknya : Macbeth menjadi Best Drama angkatan 08 !! sebuah perjuangan yang tidak sia-sia, perjuangan dan bantuan dari banyak pihak. Sebuah momen yang mungkin bagi pihak lain belum seberapa, karena ini maish level jurusan,dan masih bisa diperdebatkan, tapi buat mereka yang menjalani dan ikut membantu semua sesi latihan ,ini sangat berarti, terutama buat saya, pemula yang bukan siapa-siapa yang sempat dihina karena dipikir tidak tau apa- apa, tentunya ini akan menjadi momen yang mungkin tak terlupakan..

**

3 tahun kemudian

Ini kali pertama aku bertemu dengan anak-anak GIMEDOWFICHI yang bermukim dan bekerja di Bandung, sementara mereka sendiri sudah bertemu satu atau dua kali.

“Belum jodoh aja” jawabku ketika anak-anka heran kenapa kamu beru bertemu sekarang.

Rencananya Oji dan Winky bakal menyusul kami ke restoran cepat saji ini, Tapi sepertinya Oji membatalkan dan memilih untuk menghabiskan malam bersama bromancenya itu, jadi disinilah saya cuma bersama Bebi dan Geges merencanakan perjalanan besok pagi. Akhirnya kami sepakat untuk ke floating market, dan ini saatnya untuk menelpon Oji:

“Jam 8 pagi bisa kan ji?”

Image

NB : foto  lain menyusul                                                                                                                                                            

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s