ISTANA BARU RAJA

“Kamu punya pacar?” Tanya wanita berbalut  blazer merah sexy didepanku ini.

Aku tersenyum , menatapnya serius, kemudian balik bertanya “Menurut mbak, saya punya pacar?”

Dia tertawa, kemudian menatapku sebentar, menggerakkan mata bulatnya yang cantik, kemudian menghela nafas

“Ga, cowo kaya kamu bukan cowo yang suka berkomitmen” ujarnya pelan kemudian kembali ke sibuk di monitor di depannya

Aku tertawa, wanita didepanku ini tak cuma menarik, tapi dia bisa melihat lebih dalam dari yang terdalam

“Aku bener ga ?” lanjutnya

Aku tertawa lagi. “Tau dari mana sih ? emang bisa ya nilai seseorang berkomitmen apa ga cuma ngeliat dari wajahnya?” jujur,aku cukup penasaran.

“ Hei, aku ini HRD, lagian aku psikolog berbakat” ujarnya sambil kemudian mengambil cermin hello kittynya dan merapikan dandanannya

Aku Cuma geleng-geleng kepala “ Mbak tau dari mana?” aku mengulang pertanyaanku.

Dia kemudian meletakkan semua peralatan make up nya. Gilirannya menatapku serius

“ Aku kan sudah bilang, aku ini psikolog berbakat. Dari cara jalan, dan cara ngomong aja, sebenarnya aku udah bisa nebak, orang ini pantas lolos apa ga, tapi ga bisa gitu, tetap aja aku musti ngadain test, walau hasilnya, ya, ga beda dari tebakan aku” ujarnya sambil masih sibuk berdandan

Walau dia tidak menjawab langsung pertanyaanku tapi aku cukup puas dengan jawabannya

“Tapi teman buat asyik-asyikan aja punya kan?” tanyanya kemudian

Aku tertawa, begitu juga wanita didepanku ini.

“Kamu mau ?” ujarnya menusukaan garpunya ke potongan papaya di piring didepan kami.

Aku tidak menjawab, cuma tersenyum kemudian keluar dari ruangannya, tak lama aku kembakli dengan garpu di tangan

“Ah, kenapa ga nyuruh OB aja?” tanyanya kemudian

Aku menggeleng dan kemudian ikut mencaplok buah di piring.

***

Aku Raja, aku baru saja bergabung dengan perusahaan ini sebagai copywriter, kebetulan perusahaan ini membentuk team baru, semacam team promosi gitu. Kalem guys, ga usah tepuk tangan, aku belum secanggih copywriter yang kalian temui di advertising agency kok ( at least, mereka bisa pakai kets, kaos dan jeans) , dan  seperti halnya di agency dimana copy writer akan dipasangkan dengan art director ,aku juga dipasangkan dengan seorang designer, seorang cewe manis berkacamata yang aku panggil teteh, karena memang usianya cukup jauh diatas aku, tapi dari segi muka dan keimutan, orang pasti akan menuduh aku lebih tua. Selain teteh, juga  ada mas rendy, pria kalem berkacamata yang bertanggung jawab buat segala sesuatu berbau online, dan puncak piramida di ruangan dan team baru ini  adalah bu Marsha, aku tidak tau usia beliau berapa, yang pasti beliau masih cantik dan modis, seperti halnya juga semua karyawan wanita dikantor ini.

Awalnya, aku cuma ingin jadi copywriter freelance, jadi aku bisa ‘bekerja’ dari kamar, menerima dan mengirim bahan lewat email, ( at least, aku bisa pakai kets, kaos dan jeans ) dan masih punya banyak waktu untuk mengerjakan tulisan-tulisan ku yang entah kapan selesai dan jadi nyata, tapi seperti biasa, tidak semua yang kita ingin bisa jadi nyata kan? Singkat cerita, ternyata di perusahaan belum ada tempat untuk mahluk keren bernama copy writer freelance ini, Maka, karena suatu dan lain hal yang kalau diceritakan disini akan akan membuat tulisan ini menjadi novel, here I am, bergabung dengan dunia baru yang selama ini tidak terpikirkan olehku, dunia yang kalau boleh bicara agak  berlebihan:  dunia yang cukup bertolak belakang dengan duniaku..

**

You don’t get to 500 million friends without making a few enemies

aku Raja, dan aku nyontek kata kata diatas dari poster film the social network. Walau belum cukup seminggu bergabung disini, untungnya aku sudah mulai ‘cair’ dengan orang orang di kantor ini, karena mungkin seperti yang di katakan mbak Nesa diawal perkenalan,: semua orang disini baik-baik, sebut saja ada teh Noni, resepsionis yang suka bagi bagi makanannya, ada bu Vitri  finance yang ga kalah cantik dan sexy dari mbak Nesa, trus ada bu Evi telemarketing  yang ternyata juga urang awak,  ada Mimi yang ga mau dipanggil cici ataupun teteh walau jelas dia lebih tua dariku,  ada pak Edo dan bu Lisa,serta  beberapa OB lain yang belum begitu kenal, temanku nongkrong di pantry :  spot favoriteku sejauh ini, tempat nyaman untuk merokok dan ngopi, mengalahkan lounge yang keren itu. Terakhir, mahluk favoriteku pak Dodo, security yang lucu, tandemku  ‘lembur’ di kantor ini, Jangan percaya lembur, itu cuma istilah yang aku gunakan demi memanfaatkan fasilitas kantor untuk browsing dan main game.

Cerita tidak akan menarik kalau aku tidak menambahkan tokoh antagonis, karena ini ceritaku, bolehlah, aku mengklaim diriku sebagai protagonis, karena protagonis dan antagonis cuma masalah siapa melihat dari mana kan ? Jadi  sebenarnya ada beberapa orang yang kurang ‘nyaman’ dengan keberadaanku disini, lebih tepatnya mungkin dengan gayaku .Walau pak Andi, kepala cabang tidak ( baca : belum )  mempermasalahkan rambutku yang gondrong dan kemejaku yang lebih sering kukeluarkan, sepertinya masih ada yang belum ikhlas dengan hal tersebut. Salahku juga sih, karena memang aku adalah anomali : satu satunya pria bergambut gondrong di tengah pria berambut pendek, rapi dan wangi. walau menurutku, aku sudah cukup rapi dengan memberi gel dan mengikat rambut bagian belakang ala ronin –samurai tak bertuan- walau sebenarnya lebih terlihat seperti konde sih. Entahlah, bukan masalah sok melanggar aturan, aku cuma lebih nyaman aja dengan rambut gondrong ini, Kalau mau lebih filosofis : dengan kemeja rapi, celana bahan dan sepatu ini, aku ingin rambut ini menjadi pengingat siapa aku sebenarnya. keren ga?

“Itu anak baru kenapa sih, rambutnya di cepol kaya gitu, mana bajunya suka dikeluarin ” bu Cici dari divisi riset yang kebetulan  sedang di ruang HRD protes kepada mbak Nesa. Aku yang juga kebetulan  baru saja mengambil kopi buat yang ke 3 kalinya dari pantry yang memang berdekatan dengan ruang HRD  iseng menguping

“ Dia anak creative,rambutnya dicepol biar bisa bikin tulisan lucu-lucu, makanya ama bos dia dikasih kebebasan”  jawab mbak Nesa sekenanya. Ah, aku terharu , kemudian aku  sengaja berdehem dan mampir ke sana

“Ngopi  mbak Nes, bu Cici” tanyaku sengaja

“ Makasih sayang, aku udah ngopi, jawab mbak Nesa sambil tersenyum”. Jangan kaget, sayang itu semacam kata sapaan, tidak ada yang istimewa. sayang mbak Nesa udah buat suaminya. iya, sayang kan ya ? sementara bu Cici segera berlalu sambil cemberut

“Tengkyu yah” jawabku ke mbak Nesa.

“Kenapa?”

“Saya kan tadi nguping” jawabku bersandar di dinding sambil kemudian menghirup kopiku.

“Ah, udahlah, dia memang gitu, kurang dirayu kali ama kamu” jawab mbak Nesa cuek

“Senyum aja ga dibalas, gimana mau ngerayu” jawabku “Pokoknya makasih ya udah dibelain” lanjutku.

“Makasih aja nih?”

“Mang mbak mau apa?” jawabku kemudian

“Mangga” ujarnya cepat

“Gampanglah, selasa  saya bawain” ucapku “Saya  balik ke ruangan dulu”

tak lama aku balik lagi “ eh, kalau ada makanan lagi, kabarin saya di ruangan ya”

“Oke, ntar aku kabarin” jawabnya kemudian

**

Lagi –lagi aku di ruangan mbak Nesa, kali ini dia memakai blazer biru teduh,  tapi seperti biasa, di badan mbak Nesa, semua jadi seksi mempesona.

“Kamu serius?” tanya mbak Nesa membakca surat dari ku itu, dia lagi-lagi menatapku

“Maaf banget kalau terlalu lancang, tapi menurut saya mbak bener-bener harus tau apa yang ada di kepala saya sekarang” jawabku kemudian menunduk.

Its Okay, aku suka sih sebenarnya kamu bikin surat penuh curhatan kaya gini, tapi karena  ini kali pertama aku nerima  surat  kaya gini, makanya rada kaget ” dia kemudian tertawa “ Jadi kamu udah mikir mateng-mateng, kamu yakin ga ada masalah sama orang orang disini?”

“Ga lah mbak, kaya mbak bilang , orang disini baik baik semua kok, ya kecuali beberapa orang mungkin, tapi ga ada masalah kok ama mereka, udah saya maafkan”

Mbak Nesa tersenyum lagi “ Atau masalah salary?”

Aku tersenyum pahit, soalnya aku sudah meramalkan akan ditanya masalah ini “Saya kan udah cerita disurat itu, keputusan ini bukan karena  orang orang disni,bukan tentang bangun pagi, ini juga bukan tentang salary” aku tidak mengada-ngada, mungkin aku memang men-set gaji yang kekecilan buat perusahaan sekeren ini, tapi surat ini hadir lebih dari sekedar masalah angka.

“ Ga usah pake  puisi juga ja, aku ngerti kok apa yang kamu mau, kamu ingat ketika pertama kali kita cerita tentang komitmen?”

Aku tertawa, mbak Nesa merapikan rambutnya di cermin hello kittynya “Aku sih fine fine aja, ngerti, tapi kamu harus ngomong ke abang kamu juga deh kayanya, soalnya yang nerima kamu kan abang kamu , bukan aku ” ujarnya kemudian

aku lagi-lagi tertawa, abang yang dimaksud adalah pak Wendi, vice president perusahaan ini, yang kebetulan juga merupakan orang yang menginterview aku sebelum aku menginjakkan kaki di kantor ini.  Aku sendiri malah baru bertemu mbak Nesa di hari pertama kerja, dan,lagi lagi kebetulan : kata masyarakat di kantor ini, wajahku mirip pak Wendi, aku tidak tau itu kabar baik atau buruk, tapi yang pasti, bagi mahluk mahluk disini, aku di percaya sebagai  saudara pak wendi yang tidak terdaftar dalam kartu keluarganya.

“Pasti mbak, saya bakal nemuin pak Wendi” ucapku kemudian, masih nunduk nunduk

“Eh, mpek mpeknya tuh  di habisin, aku udah kenyang” ujarnya kemudian

aku tersenyum dan tanpa malu malu menghajar makanan khas Palembang tersebut.

“kayanya aku bakal kangen kamu deh ja” ucap mbak Nesa sambil menatapku yang lagi makan.

Aku Raja, aku tertawa dengan skenario di kepalaku barusan,bisa bisanya aku menghayal saat karakterku sedang di keroyok para tentara pembenci bajak laut ini. Aku percaya, Scenario di kepalaku tadi akan  kejadian,tapi entah kapan,  yang pasti yang pasti sampai saat cerita ini diturunkan,  aku masih di ruanganku ,aku mencoba bertahan dengan sesuatu yang kuanggap  adalah kemauan cosmos untuk kujalankan. Aku melihat jam tanganku, jam 9 malam, lampu ruanganku sudah dimatikan, sementara aku masih sibuk dengan joystick di tanganku, yah, aku memang sengaja beli joystick baru buat main game sehabis jam kantor. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka…

“ Pak, saya balik duluan ya” aku sudah mulai terbiasa dengan baruku ini, by the way, itu pak Dodo,  beliau mau balik duluan, soalnya shiftnya udah habis, ”Balik jam berapa nih pak?” lanjutnya.

“Paling bentar lagi , hati hati pak Dodo ” ujarku kemudian

“Bapak yang hati-hati, ngerti kan maksud saya?” ujarnya kemudian tertawa. Aku ikutan tertawa, aku mengerti kemana arah pembicaraan pak Dodo, ini pasti  tentang bau melati di malam beberapa hari yang lalu.

Sepeninggal pak Dodo, Aku masih sibuk dengan permainan video di pc designer yang  memang punya spec yg mendukung kegiatanku ini, Mataku mulai lelah, aku curiga mungkin ini semacam pelarian karena aku belum bisa menyelesaikan  misi utamaku di level ini. Ah, mungkin cosmos sudah memintaku untuk balik. Aku save game dan tak lama aku  shut down pc si teteh ini.

Aku Raja, segitu dulu cerita dariku. Aku  mau balik ke kostan, besok sabtu dan tadi aku sudah menculik satu novel dari meja bu Marsha untuk mengisi hari yang sudah sangat kuhargai belakangan ini. Sedikit informasi, selain cantik dan modis, atasanku ini juga seorang maniak novel dan film.Di mejanya ada beberapa novel yang sudah diijinkan untuk aku bawa pulang.  Nanti, kalau aku sudah bisa membagi waktu, aku juga akan cerita tentang bu Marsha  kepada kalian, penasaran? doakan saja aku bertahan, karena aku percaya, aku akan punya banyak cerita, sampai kapan? entahlah…  biar cosmos yang tentukan..Image

Advertisements

3 thoughts on “ISTANA BARU RAJA

    1. kalau mau jujur, belum sepenuhnya sih, soalnya kemeja celana dasar dan sepatu pantofel ini bukan bagian dari passion tersebut. hahahaa.. -ga bersyukur mode on- lagian, materi yang ditulis juga not my cup of tea……

      ah, mari bersukur 🙂

      1. Hehe ya kalo ga bisa do what we love, just love what we do 😀

        Di tempatku alhamdulillah ga ada ketentuan harus pake baju apa, bebassss 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s