BUMI dan Misteri Tere Liye: bukan review

Dulu, seorang teman saya, sebut saja Edo pernah sangat terobsesi pada suatu buku, judulnya: MIMPI MIMPI SI PATAH HATI, saking ngefans dan sangat mencintai buku tersebut, i dunno why, sampai-sampai edo mengklaim bahwa dirinya adalah satu –satunya orang yang punya buku tersebut, sudah pasti itu cuma delusi, hal yang sama ketika teman saya ini berkata dia harus buru-buru pulang, karena Dike JKT48 sudah menunggungnya rumah,semacam itu. Lupakan, waktu itu saya sama sekali tidak peduli pengarangnya siapa, barulah belakangan ini saya tau, kalau pengarangnya adalah : Tere Liye

Ya, lewat mimpi si patah patah hatinya Edo , sudah ngefans dengan Tere Liye.

Sementara itu, Saya pribadi, belum lah bisa dikatakan penggemar Tere Liye, karena saya baru mulai mengenal buku bukunya, tepat setahun yang lalu, ketika saya pertama kali membaca karya beliau : NEGERI PARA BEDEBAH : Sebuah kisah konspirasi luar biasa, berlatar belakang ekonomi , spesisfikanya kasus bailout suatu bank,yang juga dibumbui action luar biasa. Buku inilah yang membuat saya penasaran untuk melihat karya lain pengarang ini.

Singkat cerita, akhirnya saya menemukan SANG PENANDAI, buku kedua yang saya baca dari pengarang ini. Sang Penandai, adalah kisah fantasi- romantis, yang mulai membuat saya sedikit bertanya, karena genre dan cara bertutur nya yang agak berbeda dengan Negeri Para Bedebah.

NEGERI DIUJUNG TANDUK, yang merupakan sekuel langsung dari negeri para bedebah, kembali membuat saya terkagum akan detailnya Tere Liye, persis seperti membaca negeri para bedebah, tapi kali ini konspirasinya bukan lagi di bidang ekonomi, melainkan politik.

ketika seorang teman lain , sebut saja si Teteh, mengenalkan saya dengan judul -judul novel lain dari pengarang ini, saya sedikit agak kaget, karena ternyata temanya agak berbeda dari yang sudah ada: Semoga Bunda Di Sayang Tuhan dan serial anak anak emak yang berbau-bau motivasi, ada Daun Jatuh Yang Jatuh Tidak Akan Membenci Angin , Sunset Bersama Rosie, Bulan Tenggelam Di Wajahmu yang kata si teteh itu cinta-cintaan : dan….. saya melewatkan semua buku tersebut. Bukan apa-apa, tidak ada yang salah, saya cuma merasa ini agak berbeda saja dengan Tere Liye yang ‘saya kenal’, hal yang sama yang saya rasa akan berlaku ke si Teteh yang setau saya  ‘melewatkan’ buku semacam negeri pada bedebah dan negeri di ujung tanduk. Buat saya pribadi ada rasa yang berbeda saja, apalagi ketika beliau muncul di facebook dengan kutipan motivasi dan religius, mau tidak mau saya yang awam ini bertanya :

Apakah ini Tere liye yang sama ?

**
Ketika ke Gramedia beberapa waktu lalu, saya kembali penasaran ketika novel berjudul BUMI muncul dengan nama TERE LIYE dibawahnya. Saya, kembali ke poin diatas, ragu akan membaca ini atau tidak, tapi sinopsis yang menceritakan tokoh utama yang bisa menghilang, langsung membuat novel masuk ke daftar baca, bukan beli, karena kebetulan saya sedang belum ada uang, dan si teteh juga sepertinya lagi sedang tidak bisa di hypnosis untuk membeli novel ini, akhirnya setelah penantian yang cukup panjang, kemaren saya berhasil meminjam ini ditaman bacaan favorit saya.

18759843

Berbeda dengan Negeri Diujung Tanduk dan Negeri Para Bedebah yang bertutur cepat dan dikemas dewasa, atau Sang Penandai yang muncul dengan gaya bercerita yang agak puitis dan mendayu, BUMI muncul dengan sebuah gaya yang menurut saya, lagi-lagi bukan Tere Liye, paling tidak, saya tidak menemukan yang seperti ini di negeri di ujung tanduk,sekuelnya dan sang penindai.

BUMI membuktikan keberhasilan Tere Liye bertransformasi menjadi bentuk lain : seorang gadis bernama RAIB, remaja putri yang dari kecil sudah mengetahui kalau dia punya kekuatan; menghilang, dan ternyata kekuatan itu membawanya ke sebuah perjalanan yang luar biasa, kesebuah takdir yang lebih besar, sebuah perjalanan lintas dunia, ditemani 2 orang teman sekelasnya ; Shely dan Ali.

BUMI, selanjutnya akan membawa kita mengikuti perjalanan trio ini ke sebuah dunia fantasi, sebuah dunia yang sebenarnya berdempetan dengan dunia kita tapi tidak saling menganggu, sebuah dunia yang ditempati manusia berkebudayaan lebih maju : klan bulan. Sistem transportasi , pakaian, dan semua hal yang berhubungan dengan dunia bulan ini dijelaskan oleh beliau dengan lumayan detail. Satu hal lagi, Tere Liye tidak memaksakan munculnya conlang walau kaum bulan punya bahasanya sendiri.

BUMI, akan membuat kita bernostalgia akan perjalanan trio Harry Potter, tapi kali ini dengan komposisi yang berbeda, Hermione nya adalah seorang cowo. Selain itu juga ada karakter bernama Av sebagai pengganti Dumbledore, dan keluaga Olie yang serupa tapi tak sama dengan Keluarga Weasley. Sama halnya dengan Harry Potter, walau di bungkus dengan porsi action yang lumayan, kisah ini sangat ringan untuk diikuti.

BUMI, adalah salah satu novel lain yang membuat saya tidak rela melepaskannya sampai selesai, saya sempat memutuskan untuk ‘berhemat’ agar ada bacaan besok harinya tapi dorongan rasa penasaran selalu lebih kuat dan akhirnya saya memutuskan untuk menyelesaikkannya hari ini juga. Dari awal –tengah-akhir, buat saya tidak ada masalah, walau mungkin deskripsi dunia bulannya tidak terlalu memanjakan imajinasi, Cuma sebuah dunia yang lebih maju dari kita,semacam gambaran bumi di film dan novel futuristik. Tak ada gading yang tak retak, di akhir kisah, ada sebersit kecewa yang muncul, karena munculnya deus ex machina– campur tangan tuhan-semacam pertolongan ‘ajaib’ bagi tokoh utama yang tiba-tiba membuat cerita selesai begitu saja. Walau ada kemungkinan sang pengarang menyimpan penjelasan ‘itu’ di buku berikutnya , entah itu di BULAN, MATAHARI atau BINTANG, tapi tetap saja, buat saya ini semacam anti klimaks buat novel Bumi ini.

overall, ini adalah kali keempat Tere Liye berhasil memukau saya, dan lagi-lagi dengan cara yang berbeda.saya masih heran bagaimana caranya menulis dengan genre berbeda tanpa mengganggu satu sama lain,Entahlah,saya tidak mengerti, tapi saya pribadi membayangkannya mungkin sama dengan kutipan di halaman 250 dari novel setebal 438 halaman ini :
“Inilah empat dunia di atas satu planet yang kalian sebut bumi. Empat kehidupan yang berjalan serempak. Tidak ada yang tahu satu sama lain, tidak saling melihat , tidak saling melihat, tidak saling bersinggungan, ini sebenarnya sangat indah tanpa ambisi saling menguasai, empat dunia dalam satu tempat”

Seperti biasa, ini cuma penilaian subjektif saya. atau mungkin ada baiknya juga jika saya bertanya kepada bung Edo, teman saya yang sudah mengenal pengarang ini lebih dahulu dari saya, seperti yang dikatakan Edo pada suatu ketika : “Saya sudah suka Tere Liye before he was cool.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s