DUNIA

Aku  tidak tau apakah aku gadis yang beruntung atau justru sebaliknya, tapi percaya atau tidak, aku bisa melihat ..

mereka, ya, mereka, apapun namanya : hantu, demit, spirit, atau  species yang belakangan lebih dikenal dengan mahluk astral, ya, aku bisa melihat dan merasakan keberadaan mereka, walau kadang tidak sempurna. Terserah bagaimana para ilmuwan mengatakan kalau mereka cuma bentuk plasma atau apa yang aku tidak berani ikut campur membahasnya, atau bagaimana para psikolog yang percaya kalau mereka cuma hasil pemainan otak kita, tapi di duniaku,  mereka memang ada,  dan ini semua dimulai..

“Jadi ketemu mereka hari ini?”

Aku tersenyum, none belanda yang menghuni cermin riasku, membuyarkan lamunanku, aku tersenyum

“Jadi  donk Ross“  ujarku sambil menguncir rambut panjangku. Dia tersenyum, keluar dari kaca dan kemudian sudah berdiri dibelakangku “Sudah, kamu sudah cantik” ujarnya. Aku tersenyum lagi  “Masih belum secantik kamu Ross” balasku, dan aku tidak bohong. Aku masih ingat bagaimana rupanya yang mengerikan yang muncul ketika pertama kali aku menghuni kamar ini,tapi lama kelamaan, ketika kami sudah mulai saling bercerita, dia perlahan berubah menjadi cantik. Ajaib bukan, mungkinkah hal ini juga berlaku di dunia manusia? ketika kita  lebih mengenalnya,  memahami kepribadiannya, mengerti setiap keputusannya, sosoknya dimata kita ikut berubah, entahlah?

**

Hari ini ada acara wisuda seorang teman di kota sebelah, kota yang kurindukan, kota yang  sebenarnya tak kalah modern dan keren dibanding ibukota, bedanya kota ini jauh lebih ramah dan manusiawi, apalagi sekarang kota ini dipimpin seorang walikota yang baru saja aku follow akun twitternya, seorang walikota yang kharismatik. terlepas dari anjurannya untuk “ Jauhi narkoba dan dekati Melodi JKT48” yang tetiba viral, bahkan ada beberapa versi kaosnya. Aku tidak ada masalah dengan Melodi, tapi aku memang sedikit bermasalah dengan JKT48, tidak begitu penting sih sebenarnya, tapi nanti kalian akan tau sendiri.

Lupakan walikota keren tersebut, aku kesini bukan untuk beliau. Aku kembali ke kota ini, karena hari ini adalah hari yang sudah kunantikan , karena hari ini aku akan  bernostalgia dengan GEMPA !! gempa? yah, itu nama aku punya  ‘geng’  waktu kuliah, kenapa gempa? sebenarnya hal itu tidaklah begitu penting, bahkan dulu, ketika nama ini muncul. sebenarnya cukup kontroversial, tapi sudahlah, yang perlu  kalian tau adalah  kalau sebenarnya hari ini aku juga ngantor, tapi aku berhasil memohon seorang teman untuk menggantikanku saat aku ‘liburan’ ke kota ini,karena aku sangat rindu akan….

Maknanya? bukan , kalian sudah pasti bisa menebak kemana arah pembicaraanku ..

Aku kepagian. Yah,sebagai satu satunya anggota berjenis kelamin wanita dari rombongan sirkus ini, aku tidak heran kalau aku sendirian, bapak-bapak ini pasti masih molor. Anggota gempa yang diwisuda hari ini, sekaligus yang terakhir diwisuda, adalah Ben, atau panggilan akrabnya : kapten, karena memang dia adalah pemimpin kami di Gempa. Segalakeputusan geng, biasanya berakhir ditangannya.Buat yang mau bayangin mahluk ini gampang banget, Ben ini tipikal pria diaman wanita banget : tinggi, putih hasil darah bule, gaul, pintar dan tajir.  Tapi tidak, aku tidak naksir Ben, dia memang teman yang baik, Dia satu satunya anggota Gempa yang aku kenal dari SMA, makanya dibalik jubah berkilaunya, aku cukup tau segala kejahatannya, yah, dia tidak sesempurna yang terlihat, tapi aku tetap..sayang dia.

sekian puluh menit pun berlalu, wanita cantik dengan atasan batik biasa dipadu jeans ini sepertinya sudah cape berdiri, maka akupun menyandarkan tubuhku ke sebuah bangku taman, tepat dibawah kumpulan pepohonan rindang tak jauh dari Aula dimana proses wisuda sedang diadakan. Tiba-tiba, sesosok mahluk sudah bergabung disebelahku, aku tersenyum dan sosok kecil ini  juga balas tersenyum. Sosok kecil ini paling tidak mirip dengan anak lelaki berumur 5 tahun di dunia kita, amat mirip, yang membedakannya, mungkin kulitnya yang bersisik hijau dan telinganya yang runcing, ya, kulitnya amat kontras dengat mata biru cerah yang dimilikinya.

“Ohayou Shanju!! ”seseorang melambaikan tangan , berlari kemudian berhenti dan ngos ngosan sendiri didepanku, Mahluk yang pagi ini tampil dengan kemeja polos hitam favoritenya ini namanya Edmon, dan namaku bukan Shanju. Aku merengut,begini, namaku bukan Shanju, dan juga bukan merengut, sudahlah, aku percaya kalian mengerti. Nama Shanju muncul karena memang semenjak terlibat dalam sekte pemuja paha gadis-gadis cantik, Edmon memangiilku dengan panggilan tersebut. Sayangnya, aku tidak begitu suka dipanggil Shanju , buat yang belum tau, Shanju atau Shania itu merupakan salah satu member JKT48, group idol yang sedang naik daun di negeri ini, dan mahluk didepanku ini adalah penggemar beratnya, ya, kalian benar, dia teroglong dalam species yang disebut wota, dan parahnya menurut kepercayaan wota didepanku ini, aku amat mirip dengan shanju, demikianlah asal muasalnya. Padahal menurutku-aku tidak ada mirip-miripnya dengan anak SMP tersebut, maksudku, jelas dia jauh lebih cantik, harusnya aku bangga sih, , tapi tetap saja, aku adalah aku, GEA FEBRIANI: bagian  indah bumi yang tercipta di bulan februari, Oke, bagian ‘indah’ nya itu aku tambah sendiri sih.  Dan satu hal yang harus digaris bawahi kalau ini sempat terlintas di pikiran kalian, tidak, aku tidak begitu yakin Edmon ada perasaan kepadaku, begitupun sebaliknya. Kami memang terlihat paling akrab mungkin, apalagi setelah Edmon ditinggal nikah oleh kekasih nya, aku mungkin adalah tempat curhat sekaligus manusia yang paling sering menghiburnya lewat celaaan-celaan dari mulut super tega ku ini.

“Uda Sahrul belum datang?” Edmon bergabung disampingku, mendaratkan pantatnya tepat saat teman kecilku tadi menghilang, mungkin dia merasa tersaingi dengan kedatangan seniornya, no offense,karena penampakan mereka emang beda tipis. dan kadang aku curiga mungkin inilah yang membuat aku terbiasa dengan mahluk mahluk menyeramkan ini: aku sudah terbiasa dengan Edmon, sudahlah, becandaan ini sudah terlalu basi, ini sudah sering aku gunakan membuat dia masuk kedalam mode ngamuk, satu lagi, aku curiga kalau nama Edmon sebenarnya cuma anagram dari Demon, the devil himself, dan sayangnya, ini juga sudah amat sering kugunakan untuk melecehkannya.

“Belum” jawabku pendek

“Kalian belum jadian ?” todongnya asal, biasanya hal hal seperti ini bisa jadi perdebatan panjang

Tapi pagi ini,aku  cuma menghela nafas. Beginilah nasib menjadi satu satunya cewe di geng, akan menjadi oper operan bola, ragu musti bangga atau tidak, antara diperebutkan, atau memang sama sekali tidak disukai, entahlah, baru saja aku berkata kepada kalian kalau aku paling akrab dengan Edmon, tapi dari nada bicaranya, dia pasti sedang mencurigai kedekatanku dengan Uda Sahrul, anggota gempa yang lain. ah, aku bingung kalau sudah begini.

Aku bohong, aku tidak bingung, karena sebenarnya aku sudah menentukan pilihanku

“Panjang umur wahai  uda Sahrul khan” Edmon berdiri dan memeluk pemuda botak dengan poloshirt berwarna  senada dengan kulit gelap manisnya ini. Ya, namanya Sahrul, benar, Sahrul, tanpa Y. Tunggu, sebelum kita lanjut, perlu dicatat lagi, pria beruntung yang kumaksud tadi itu bukan Sahrul. Kebetulan saja dia datang tepat saat aku bercerita aku sudah menentukan pilihanku. Lanjut, karena dia ada keturunan India entah  di generasi keberapa yang masih berimbas pada wajahnya, maka kami sepakat menambahkan marga khan di belakangnya, jadi Sahrul khan, cocok khan? selain itu, dia adalah Uda dari kami semua, bukan karena umurnya lebih tua, tapi karena dia memang jauh lebih dewasa, jauh lebih bijaksana, dan jauh-jauh datang dari  Padang  Selain itu,  Uda Sahrul adalah satu satunya yang tau kepada siapa hati seorang Gea sudah berlabuh.

“Udah lama Ge?” tanyanya

“Lumayan da, tapi Gea ada yang nemenin kok” ujarku sambil kemudian menunjuk ruang kosong dengan asal “ Tuh, lagi berdiri disana tuh”

kemudian aku tersenyum

“Cuekin aja da” kata si Edmon

bang Sahrul cuma tertawa

“Masih lama ya mon?” kata Uda Sahrul sambil matanya melihat ke jam tangannya

sementara yang ditanya sedang sibuk menjelalati  para mahasiswi , ibu muda dan juga para gadis belia keluarga wisudawan yang juga sedang menunggu dibukanya pintu aula.

Aku  kemudian iseng menyenggol sikunya

“Ingat umur”

Dia cuma tertawa kemudian kembali melanjutkan kegiatannya, sementara itu, aku dan bang Sahrul  sudah mulai tenggelam dalam pembicaraan akan pekerjaan kami masing-masing, sesekali Edmon menyela dan ikut bercerita, tapi waktunya jauh lebih banyak dihabiskan untuk menikmati para model dadakan yang sedang berlenggak-lenggok  di catwalk alamiah di depan kami.

**

“ Di depan aula Bar”  Uda Sahrul diam sejenak kemudian melanjutkan  “Ok,  belum, belum keluar kok “

“ Lagi nyari parkiran” jawab Uda Sahrul tanpa ditanya, dan kami pun mengangguk.

Tak berapa lama yang dinanti pun muncul, dan akhirnya geng ini pun lengkap, belum sih, karena Ben masih didalam. Yang terakhir datang ini namanya Abrar, kontradiktif dengan namanya, mahluk ini bertubuh cukup mungil, sama sepertiku, satu satunya yg besar, sesuai arti namanya adalah  rambutnya yang mirip rocker legendaries Ahmad.. Abrar

garing ya?

iya, itu juga, rambutnya emang mirip ama Garing,, vokalis dari..

oke, maaf

Pria yang tengah menyelesaikan S2 tehnik fisikanya ini bukanlah yang terganteng, karena kalau ada yang terganteng diantara kita sudah pasti  Ben yang  kembaran  ama Chester Bennington vocalisnya Linkin Park atau Uda Sahrul yang mirip bintang india , hhmm, entahlah, aku tidak tau nama nama mereka. tanya Edmon, dia jauh lebih india dari bang Sahrul yang keturunan India asli. Abrar ini unik, dia punya gaya sendiri, punya pemikiran sendiri, punya.. dunia  sendiri, begitu kami biasa membahasakannya.ya, seperti hari ini, ditengah lautan orang yang memakai batik, atau paling tidak kemeja, Abrar cuek memakai kaos polos hitamnya, yang di lapisi sebuah jaket yang entah kenapa di badannya, tetap terlihat formal dan rapi.

Aku tersenyum, bukan, bukan kepada Abrar, tapi kepada mahluk manis yang dari tadi datang bersamanya. Aku bisa melihatny jelas, sosok itu cantik dan menarik, berpakaian bak putri keraton tapi seumuran denganku, dan entah kenapa, aku seperti akrab dengan wajah itu. tapi aku lupa dimana.

“Kenapa Ge? “ tanya Abrar

“Ga, ga ada apa apa” jawabku tersenyum

“Jangan mulai deh Ge” kali ini Edmon yang berbicara

sebuah anomali, walau Abrar dia adalah man of science, tapi dia  masih tetap takut, maksudku, tidak suka, -istilah yang dia pakai- kalau aku mulai membicarakan teman- temanku yang lain

“Udah lama?” aku memulai pembicaraan

“Apa sih Ge” Abrar mulai tidak nyaman

“ Ge lagi ngomong ama dia kok” aku menunjuk ruang kosong di sebelah Abrar

“Ga asik nih, masih lama ga da?” Abrar mencoba mengalihkan topik.

Uda Sahrul cuma senyum senyum melihat tingkahku

“ Cantik “ Lanjutku sambil mengangguk-angguk

“Apan sih ? penasaran” kali  ini giliran Edmon

“ Itu, mahluk cantik penghuni kamar si Abrar ngikut ke sini “ Ujarku berusaha senormal mungkin

“Penghuni kamar ? yang baru lagi?  apa masih yang lama ?”  sepertinya Abrar mulai tertarik, dulu aku juga pernah menceritakan tentang sosok mistis penghuni kamar mandinya.

Aku mengangguk-angguk sendiri, diikuti pandangan serius ketiga temanku

“Baru.Katanya tiba-tiba dia udah ada disana.dia juga ga tau kenapa bisa sampai dikamar kamu”

“Kok gitu”

“Kapan?” Abrar penasaran

“Sebentar”  aku pun  berusaha menangkah jawaban dari  teman baruku itu. Tak mudah sebenarnya, butuh effort lebih setiap kali melakukan ini. Karena aku lebih ke ‘jatah’ visual,dibanding audio.aku punya seorang teman yang mendapat ‘jatah’ audio, dia bisa menangkap suara-suara aneh di kesehariannya, tapi agak susah baginya untuk melihat wujud si pelaku, paling juga muncul dalam kelebatan,  namanya Rama, tapi aku akan bercerita tentangnya lain kali.

“Sebulanan yang lalu lah” Lanjutku kemudian

kemudian  hening

sampai Edmon buka suara lagi

“Jadi ..kemenyan yang waktu itu..”

“Ah, itu  mah kerjaan si Randi anak sebelah, dia udah ngaku” Terang Abrar.

Aku dan Uda Sahrul tertawa melihat keduanya

“Ah, kok kali ini gue rada ga yakin gitu ya Ge ? lo lagi iseng kan ya? ” tiba-tiba Edmon bersuara lagi

“Kok pada ga percayaan sih kalian, Uda aja percaya, ya ga da?” aku mencari pembelaan.

Uda Sahrul lagi-lagi cuma tersenyum

“Oke, sudah cukup terbiasa dengan skeptisme kalian terhadap dunia lainnya Gea, sementara kayanya Gea ga pernah tuh, skeptis dengan dunia lain kalian? ”

keduanya memasang tampang bego, Edmon sampai mengangkat bahu ke arah

Aku menghela nafas “Ituuuu, bahasan kalian, tontonan science fiction kalian yang Gea ga pernah ngerti, dunia parallel, alternate universe, atau apalah, itu kan semacam dunia lain juga? kurang Adil aja, kalau kalian percaya itu, tapi tidak percaya dunia Gea”

“Ragu lebih tepatnya, bukan tidak percaya ” potong Edmond cepat

“Oke, ragu” ralatku kemudian.

Tiba-tiba, Abrar mengikat rambut es mambonya, Gawat! kalau sudah begini artinya dia siap untuk serius. Mahluk planet lain ini kemudian  menyuruh Edmon berdiri, menggantikan posisinya disebelahku , menatapku manis dengan mata bola pimpongnya “Begini, emang Gea sendiri percaya akan adanya alternate universe?”

aku terdiam sejenak, bukan karena pertanyaannya, tapi lebih ke matanya yang hari ini mencapai jarak paling dekat dengan mataku, jujur, aku nervous

“mm…Ga juga sih, tapi Gea percaya kalau akan ada dunia  dimana Gea dan Abrar yang disana bisa  bersatu “ tukasku keras dan…. cepat.

Ups, harusnya tidak begini, tapi mukaku mulai memerah.

Terlambat…

Edmon sudah terdiam menahan tawa, sementara Uda Sahrul sebaliknya, tertawa puas sambil memegangi perutnya. Abrar sendiri kelihatan salah tingkah, dia sekarang sudah mengalihkan dunianya ke gambar hasil jepretan di display kameranya.

“ KEPADA PARA KELUARGA WISATAWAN..

DIULANGI

KEPADA PARA KELUARGA WISUDAWAN AGAR MEMBERI RUANG DIDEPAN HALL ”  terdengar pengumuman dari corong Aula.

Orang orang yang tadinya duduk sekarang sudah berdiri, yang berdiri segera berjalan berbondong-bondong  ke arah hall.

aku menarik nafas lega, hari ini akhirnya datang juga, aku sudah terlalu lama menunggu…

yah, sekali lagi, selamat Ben, akhirnya kamu diwisuda

“Yuk, ntar  si Kapten  kelamaan nunggu“ ujar Uda Sahrul sambil mencuri senyum kepadaku, dan detik selanjutnya kami semua bergerak.Tapi, tiba-tiba tangan ku ditahan oleh seseorang, atau sesuatu :  wanita keraton yang tadi ada disamping Abrar! Dia membisikkan sesuatu kepadaku, mukaku kembalI memerah, dan akhirnya aku bisa tersenyum.

Advertisements

One thought on “DUNIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s