KARA

Melodia Karawita , atau yang akrab dipanggil Kara adalah seorang gadis yang seharusnya bisa  saja memilih karir menjadi seorang model, kalau saja dia tidak melanjutkan passionnya menjadi seorang PA -production assistant-  di sebuah tv swasta negeri ini, sebenarnya ini bukan pengalaman pertama bagi Kara, sebelumnya gadis berambut panjang dan bermata indah ini  sudah bekerja di posisi sama di sebuah production house milik temannya, hal ini lah yang ( mungkin) membuat kara terlihat lebih siap dibanding  PA wanita lain di teamnya, amat jarang terdengar terdengar keluhan akan tugas PA yang lumayan hectic dari bibir tipisnya , sebaliknya,  dia terlihat sangat bersemangat. Tidak  jarang semangat dan keceriannya nya ini pula lah yang membuat teman-temannya menjadi…

“ Bahan buat taping  jumat mana nih?”

“Belum lengkap ” laki-laki  di depannya tetap focus ke monitor, sambil mulutnya tetap mengunyah permen karet tanpa menghiraukan Kara sama sekali.

“Lo, kok belum lengkap?”

“Pertama,  sekarang masih selasa”  Surya sekarang menoleh ke Kara “Kedua, lo kenapa ngerecokin gue mulu sih, tuh anak anak yang  lain deh lo mintain satu-satu, gue ntaran aja  ”

“Lo gimana sih, ini kan kerjaan tanggung jawab gue juga, ntar anak anak lain juga bakal gue mintain kok“

 Kara membalas tatapan mata elang Surya

“Lo bawel amat ya. ntar  gua kasih, lo lupa kalo gue senior lo  juga “  Surya kemudian  memberikan senyum usil penuh kemenanganyya.

Kara diam sebentar, menghela nafas kemudian  berlalu dari sana. Surya sudah mengeluarkan salah satu kartu as nya. Ya, walau umur mereka cuma terpaut beberapa bulan tetap  tapi Surya sudah lebih dahulu masuk ke kantor ini, dan tak jarang hal ini dia  gunakan untuk menghentikan kebawelan Kara.

**

Surya sedang berjalan menuju ‘taman’, sebuah tempat di rooftop kantor yang memang digunakan sebagai area istirahat bagi karyawan tv ini, fungsi utamanya tak lain adalah sebagai smoking area, walau, sesekali juga digunakan untuk shooting, karena tempatnya yang memang terbilang cantik dengan kanopi dan bunga- bunga di mana-mana. Surya duduk di sebuah bangku panjang, ditangannya terlihat secangkir teh panas. Ya, cowo misterius  ini  memang lebih memilih teh di banding kopi seperti kebanyakan orang di kantor ini, dan  dia baru saja hendak menikmati syahdunya minuman dan sore itu, saat seseorang duduk di sampingnya

“Bagi donk teh nya” ucap Kara diikuti senyuman tanpa dosa

“Apaan sih lo “ Surya meminum tehnya, tak mempedulikan tatapan dari Kara

“Bagi donk, gue kan juga mau “ lanjut Kara sambil mencoba merebut cangkir dari tangan  Surya

“ Bocah lo “  ujar Surya sambil mengelakkan tangan Kara

“ Biarin, emang masih imut-imut” balas Kara.

Surya meminum lagi tehnya  kemudian berdiri dan berjalan , tak lama kemudian berbalik

“Eh, kang doni nanyain hasil shootingan kemaren tuh. ada ama lo kaga ? gue tanya yang lain ga ada”

“Nah gitu donk, ngomong “

“Ada ga hasil shootingannya?” Ulang Surya

Kara tersenyum “ Udah gue kasih ke dia kok, dianya lagi ga konsen tuh, maklum mau jadi manten, ntar biar gue temuin dia”

“OK” jawab Surya pendek, meninggalkan Kara.

**

“Lo kenapa sih ka ama si Surya ?” Rama, teman Kara yang kebetulan juga teman Surya , creative program lain menodong Kara saat mereka berdua makan siang di sebuah rumah makan padang deket kantor.

Kara tertawa “Ga kenapa napa kali Ram, iseng aja gue, dia anaknya coooool banget, jadi enak buat di godain”

“Jangan-jangan lo ….naksir” Lanjut Rama menatap Kara. Serius.

Kara yang baru saja mengisi mulutnya dengan nasi tersedak.Gadis manis ini segera menyelamatkan dirinya dengan menghabiskan sisa air putih di depannya . “Teenlit banget sih pikiran lo” lanjutnya setelah mengambil nafas. dia kemudian menyuap lagi nasi didepannya, mengunyahnya pelan membiarkan Rama  menunggu. menduga-duga  “Ga lah..  siapa gue juga , dia itu fansnya banyak banget, lagian bisa ngamuk ngamuk si Nada , lo kan tau betapa suryaholic nya tuh anak”

“Ya sih bener juga, kasian juga sih gw  liat  si Nada, kehangatannya ternyata belum mampu mencairkan hati sang pangeran es”

Kara tertawa mendengar  ocehan Rama “Makanya, gw pengen mahluk  itu menjadi  rada manusiawi”

“manusiawi? “

“ya, alih alih pangeran es, gue malah melihat dia seperti semacam…zombie”

kemudian keduanya tertawa dan melanjutkan makan siang mereka.

**

Jam di dinding sudah menunjukkan lewat dari tengah malam, tapi Surya terlihat masih sibuk mempersiapkan bahan buat shooting besok paginya, maklum, selain program stripping di primetime yang di pegangnya, posisinya sebagai senior creative atas  anak-anak baru yang baru memang belum terlalu mengerti konten dan tehnik,memaksanya untuk bekerja ekstra. Tapi buatnya,  hal ini bukanlah beban, karena ini adalah passion nya, buktinya dia malah lebih memilih berkarir di televisi  walau sudah menyelesaikan magister bisnis  di luar negeri.

tiba tiba..

“Hai kak”

Surya  tetap meneruskan perkerjaannya

“Kak uya sombong banget ke Nada”

Kara sengaja memakai panggilan ‘Uya’ karena itu adalah panggilan ‘sayang’ Nada ke Surya. Dan taktik itu pun berhasil, Surya memutar kursinya ke Kara.

“Kerjaan lo udah kelar?”

“Udah, gue udah check kok bahan buat tayang besok.  Rapi , aman, besok tinggal dilihat kang Doni  “

“Oke, trus sekarang  mau lo apa ?” tanya Surya dingin dengan posisi tangan yg disilangkan di dada. Dadanya Surya sendiri tentunya.

Kara mengacungkan kedua lengannya kedepan “peluk, dingin ” Ujarnya kemudian dengan muka yang diimut imutkan.

“Okay” lirih Surya pelan setelah menghela nafas. Dia  pun kemudian berdiri didepan Kara,  memegang tangan kara kemudian…memutarnya.

“Ss..stop stop Sur..stop, ampun”

“Sekali lagi lo minta peluk, gue patahin tangan lo “ Surya pun melepaskan tangan Kara sambil tersenyum penuh kemenangan

“Ka uya tega, kak Uya jahat” teriak Kara sambil mengusap –ngusap tangannya yang tadi di plintir Surya.

Mata surya membesar, karena kata –kata yang diucapkan Kara tadi adalah reaksi Nada ketika Surya menolak pernyataan cintanya beberapa hari yang lalu, reaksi yang waktu itu sempat membuatnya salah tingkah dan tidak tau harus melakukan apa

 “ Anjing lo ya..” akhirnya kalimat itu meluncur dari mulut Surya menuju Kara.

Kara kaget !  tapi entah kenapa dia  tertawa puas,  dan tanpa kata dia kemudian beranjak dari sana.

Surya menggeleng-geleng, kemudian menyandarkan kembali punggungnya di kursi,  tanpa sadar dia tersenyum.

**

“Lo tau, semalem  itu, seru banget!! ”  ucap Kara sambil mengaduk ngaduk es jeruk di gelasnya

“Lo apain lagi temen gue? tanya Rama yang sedang menemaninya di ruang makan kantor.

“Gue minta peluk”  jawab Kara spontan yang membuat Rama yang baru minum harus muncrat seperti adegan adegan lucu di sitcom. bedanya, ini kenyataan.

“Se..seriusan lo?”

“Serius tapi ga serius” Kara tertawa, kemudian berbisik  “ Suara lo biasa aja donk, ntar dia ngeh lagi “  sambungnya sambil mencuri curi pandang ke meja Surya

“Maksudnya ?” Rama masih bingung

Kara pun menjelaskan sambil tetap berbisik, “Ya, gue serius minta peluk, tapi ya cuma buat cengcengin dia doank, gue seneng liat wajah imutnya kalo udah marah “ Kara meminum es jeruk didepannya

“Lama –lama gue curiga lo beneran naksir dia deh ka” Rama sengaja meninggikan suaranya, sambil sesekali menoleh ke meja Surya

Kara membelalakkan matanya dan memukul  bahu cowo didepannya itu. Rama sendiri cuma tertawa puas melihat Kara yang panik.

 “ Ga lah, gue kan udah bilang, gw suka aja liat dia bereaksi seperti manusia , diem aja sih, so misterius”

Rama tertawa lagi, “Trus, jadi di peluk?”

 “ Boro boro dipeluk, yang ada tangan gue mau di patahin, trus di maki maki deh..“

“ Surya maki-maki lo? emang dia bisa, gitu?”

Kara tersenyum, “ Gue juga sih yang cari masalah” Kara tertawa sambil sesekali melihat kearah meja Surya “Tapi ya,  kalo lo denger temen lo itu maki orang, pasti lo bakal  kaget”

Rama mengangkat kedua alisnya, Kara kemudian merendahkan lagi suaranya  “Si zombie itu, kalau maki orang, mulutnya udah kaya ga di ayak “

Rama tersenyum “Berarti  usaha lo ga sia-sia donk”

“Maksud lo?”

“Tu mahluk planet satu, ama gue aja ngomongnya cuma tentang film, jadi, kalo seandainya dia udah maki lo, artinya dia udah menganggap lo ……sesuatu”

Kara tertawa “ ga yakin gue “

“Trus. kalau dia beneran naksir lo gimana ?”

“Ga lah, tolong dicatet, gue mah Cuma maen-maen aja “

“Kalau kemaren beneran dipeluk gimana?” Rama belum berhenti bertanya.

Kara memainkan ujung rambutnya, “boleh sih , tapi gw udah yakin banget dia ga bakal meluk gw “ Gadis manis itu tertawa.

“Kalau gue yang meluk lo gimana?” Akhirnya Rama sampai ke tujuannya.

“Lo mah basi, ga gue minta pasti lo kasih juga kan ?”

**

Jumat malam, harusnya menjadi awal  weekend buat para pekerja lainnya,  tapi buat para pekerja TV ini, Jumat mungkin masih mirip dengan Senin, paling tidak, mereka punya misi mulia :  memperbaiki kualitas tayangan TV bangsa ini.

Kara sedang  merokok di taman, sendirian. Karena anak anak program lain satu persatu sudah kembali ke tempat persitirahatan mereka. sampai tiba-tiba sesosok tubuh datang. Surya, malam itu muncul dengan kemeja ungu dan jeans hitamnya, posisi nya yang tergolong senior di TV ini memang membuatnya bisa sedikit lebih beas dalam berpakaian, sementara karyawan baru seperti Kara dan Rama, masih memakai polo hitam yang seragam.

Kara kaget tapi tetap tersenyum. Surya menyunggingkan senyum khasnya, senyum yang membuat Kara kesal, tapi terkadang pantas untuk dirindukan

 “Ngerokok terus lo, editan udah kelar?

“Server lagi down, jadi  ga bisa ngedit”  Jawab Kara sambil  kemudian menatap Surya “ Duduk sini donk ….kak” Kara sengaja member penekanan pada kata terakhirnya,dan sepertinya berhasil.

Surya terlihat menghela nafas tapi kemudian tetap  duduk di sebelah Kara, mengatupkan  tangannya, diam sebentar kemudian kembali menatap Kara

“Lo datang kan ke nikahan kang Doni hari minggu?”

“Datang lah, kenapa?”

Surya  menatap langit di taman yang entah kenapa  menjadi sangat indah. Lagi-lagi terdengar tarikman nafas.

“ Lo mau ga bareng gw “

Kara kaget, menghela nafas sebentar, tapi kemudian kembali mendapatkan ketenagannya

“Kesambet?”

“Serius gw”

“Gue ga salah denger kan ?”

“ Ga Kara , apa perlu gw ulang?”

keduanya diam sebentar. Kara membakar lagi rokoknya.

“Gue udah janji duluan ama seseorang, gimana donk?”

“Siapa? “ Surya bertanya tapi tidak memandang Kara

“Temen lo” Kara menghembuskan asap rokoknya

“ah, Rama ya “

Kara mengangguk

“Maaf ya kak Uya “  Ujar Kara sok imut dan kemudian tersenyum

“Apaan sih lo, maaf maaf, santai aja kali” Surya masih belum memandang akra

“Ya maaf, ga bisa nemenin kakak, kakak ga marah kan?”  Kara sepertinya masih belum puas menggoda Surya.

Surya  tertawa, kemudian mengambil sebatang rokok milik Kara , menyalakannya.

Kara kaget ”Lo? rokok?”

Surya mengisap rokok tersebut. Dalam.  “ Diem lo. lo ga tau apa –apa tentang gue”

Dan Kara tertawa. Puas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s