LOLADDICTED

 

“ Eh, tadi yang pake  rok  namanya siapa ?” Suara dari seberang sana tiba-tiba bertanya setelah kami berdiam diri cukup lama. Bukan, bukan karena marahan, tapi karena kami sudah telponan lebih dari 2 jam, maka sudah sepantasnyalah kami kehabisan bahan obrolan.  

“Ow, lola mas, kenapa?, perasaan dari tadi ..” aku menjawab setelah berpikir beberapa menit . kemudian aku  balik bertanya

“Ga lah, cuma penasaran aja kok, soalnya  dia..”

“Dia apa?” aku memotong, penasaran

beberapa saat kemudian terdengar jawaban dari seberang sana “ Dia.. mirip ama kamu sih !”

Aku tau bukan itu yang ada dipikirannya, karena ini bukan kali pertama, cowo-cowo yang baru bertemu dengan geng kami pasti selau menderita Loladdicted ini, istilah yang aku temukan sendiri, semacam penyakit tiba-tiba ngefans dengan Lola, salah seorang sahabatku.

“Iya sih. banyak yang bilang gitu”  balasku kemudian

“tuh kaan?” terdengar nafas lega diikuti nada senang dari lawan bicaraku ini

Aku tidak bohong, banyak yang bilang wajah aku dan Lola mirip, bahkan kembar, sayangnya kami agak berbeda. Lola sangat teramat  kalem, sementara aku agak ..aku bingung juga mendefiniskan diriku sendiri, kata liar mungkin terdengar terlalu liar, vulgar? ah jangan,  akan terdengar  sedikit vulgar ,pokoknya aku tidak sekalem Lola yang belum pernah pacaran itu, ya iyalah , aku sudah pacaran hm… pokoknya.. banyak.. dan aku lebih tinggi  dan berisi dibanding Lola. Perlu dicatat !!!

“ Kamu ngantuk sweety?”

“ Lumayan sih mas” sumpah, aku tidak bohong, ini bukan tehnik mengakhiri pembicaraan, aku benar benar mengantuk !

“ya udah, met istirahat ya, miss u sweety

“ makasih mas, aku bobo dulu ya, cape banget nih, miss u too honey” balasku

Telpon pun aku tutup duluan, aku merebahkan diri di ke ranjang kamar dan membiarkan telpon genggamku ku terletak di sebelahku. Derap kaki pangeran berkuda putih di istana mimpiku baru sudah terdengar dari kejauhan ketika tiba tiba terdengar getar  dari meja belajar, tapi aku terlalu malas untuk bergerak. Aku memutuskan untuk menutup hari ini. zzzzzz..

**

Aku meletakkan tasku dimeja  yang sudah dipenuhi  anggota the Aphrodites:   geng cewe super cantik se SMU Olympus ini.  Sebenarnya terlalu berlebihan, karena kenyataannya  yang cantik  cuma aku dan Lola. Manda?  standarlah,  dia sedikir manis dan berkacamata, stereotype cewe pintar  dan kutu buku yang ada di FTV, cerpen dan teenlit remeja, sayangnya dia tidak berkepang dua seperti yang  biasa digambarkan. Jujur,  aku sendiri  tidak tau dari mana para  penulis cerpen , teenlit dan  FTV itu mencontoh style rambut kuncir gadis desa tersebut, hello?? aku  ga yakin masih ada cewe zaman sekarang yang rambutnya dikuncir seperti Siti Nurbaya tersebut. bahkan aku sendiri tidak yakin rambutnya Siti Nurbaya seperti itu. Entahlah, pokoknya manda  emang manis, tapi tidak semanis aku dan Lola. Vicky?  tomboy dengan potongan rambut harajuku . WAIT!! aku sudah  tau apa yg ada di pikiran kalian, geng kami  memang beranggota standar seperti film-film remaja kebanyakan. Tapi, bagaimana kalau aku bilang, kami tidak meniru mereka, mereka yang meniru kami !!  seperti yang pernah di katakan Manda kepada kami  “ Reality imitates fiction and fictions imitates reality, while”  kira-kira demikian, aku juga tidak tau apa kalimat persisnya. pokoknya semacam itulah.

“Pada ngomogin apa nih,  pagi pagi udah ngerumpi aja kaya ibu-ibu komplek” aku pun bergabung dengan mereka “  Ada anak baru keren ya, dikelas mana ?”

“Otak lo tuh ya, cowo keren mulu., yang kemaren kurang keren apa? “ Vicky yang berkomentar pertama kali

“ Yang kemaren ?” aku bertanya kepada diriku sendiri

“Owh, okay …yang mana sih?” aku melanjutkan, lagi lagi untuk diriku sendiri

“Itu lo Tar, Vicky ama Lola lagi ngomongin yang kemaren, si gondrong itu” Manda, seperti biasa, membuat segala sesuatu menjadi jelas.

“ Aku ga ikutan kok Tar, Manda ama  Vicky nih” wajah khas oriental milik Lola itu terlihat memerah.

Aku tersenyum, memang baru kemaren aku mengenalkan Ares, seorang mahasiswa desain tahun akhir yang baru aku kenal kurang lebih seminggu lalu  ke hadapan mahluk-mahluk ini. Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau histerianya bisa sampai selebay ini, padahal Ares tidak ada mirip-miripnya dengan Justin Bieber.

“Ya kalopun ikut , santai aja kali la, im ok , dia bisa jadi milik bersama kok, terutama buat lo , biar lo tau gimana rasanya punya cowo,  mas Ares bisalah jadi guru yang baik buat lo.. baik teori atau praktek dia jago kok  “ aku pun tertawa.Sendirian.

“Dasar  lo ya,emang parah tu otak , tapi emang  keren sih  mas Ares lo itu , pengen deh dipeluk ama Mas Aresssss “ Vicky memberi tekanan pada kata mas, dan aku tidak peduli, sementara Manda Cuma geleng geleng kepala.

“Ah, kalo aku sih mending tetap setia sama Mas neo aja “ celetuk Lola tiba-tiba

tiba tiba semua diam. tanpa sadar cuma aku yang tertawa. Terpaksa.

“Eh udah hampir bel, aku kelas dulu” ujar Lola yang memang kelasnya berbeda dengan kami bertiga.

“M.. em..sampai ketemu pas istirahat “ ujarnya terlihat grogi.

Aku pun mengangguk sambil tersenyum lemah. memandang Dewi dan Manda yang juga saling berpandangan.

**

“ Eh geng cewe cewe cantik udah pada datang, jadi makin semangat deh maennya” ujar mas Ares dari dalam lapangan ketika melihat kami datang. Kemudian cowo gondrong tersebut  melepaskan sebuah tendangan ke arah gawang  yang sayangnya  melebar jauh  dari sisi gawang sebelah kanan. showoff gagal, ujarku dalam hati. Tapi dengan  dengan cueknya dia  kemudian bergabung  bersama kami bangku penonton setelah memberi kode break kepada teman-temannya

“ Ganggu ya mas ? aku membuka percakapan

“ Ga lah, masih pemanasan, anak anak belum pada kumpul juga, biasa, Indonesia… pada ngaret” dia kemudian mengikat rambut gondrongnya kebelakang,

“Pada ngapain sih, kangen ya?” usilnya kumat, satu hal yang amat kusukai darinya.

“Aku sih ga ya mas, ini nih anak-anak dari tadi di kelas ngobrolin kamu terus , makanya aku  ajak kesini aja, biar puas” jelasku berpanjang panjang, sayangnya…

“Lola kok diem aja? sariawan ya”

“Aduh mas, garing amat sih gombalannya, ini udah  2014 lo mas ” kali ini Vicky yang bercoleteh. just FYI, mahluk ini Cuma penampilannya yang boyish, kalo soal gosip dan merepet, mahluk ini  adalah perempuan sejati.

“Eh biarin aja keles,  bilang aja kamu pengen di gombalin juga “ balas cowo didepanku ini tak mau kalah

“Kok mas tau sih, mau donk mas, mau, papa aku direktur BUMN mas”  celoteh Vicky berlanjut

Lola Cuma senyum-senyum sendiri mendengarkan adu mulut  mas Ares dan Vicky , dia baru sadar ketika  disikut oleh Manda. Dia tersenyum kepadaku, aku tersenyum balik.  Garing, abis.

“ Kalian bakal jadi cheers kami kan?” lanjut mas Ares

“ Bayaranya berapa mas?”  kali ini Manda  yang bersuara, ga heran anak ini jago matematika.

“Hah, bisa ngomong ya dek?” balas mas Ares, dan Manda langsung cemberut dengan sukses

kami tertawa

“Bayarannya, kalian bisa sepuasnya ngelihat kami buka baju di lapangan, aturan hari ini, team yang ketinggalan 2 gol harus buka baju”

Boring ah kalo Cuma buka baju, celana donk kalo berani ” tantangku.

Mas Ares tertawa  “ Ga disini manis, ga enak ama Lola” lanjutnya kemudian. Aku segera  menoleh ke Lola yang tiba tiba memerah.

“Kamu kalau mukanya merah, makin cantik’ Mahluk didepanku kembali menggombal, aku mengambil buku dari dekapan Manda dan memukul kepala yang ditutupi jelmaan sarang burung tersebut. “Udah! main sono!! ”  dia menggosok-gosok kepalanya dan memasang tampang memelas kepadaku “ udah punya anak bini juga” lanjutku. Tak lama kemudian mas Ares pun berdadah dadah ria  dan masuk ke lapangan lewat jaring-jaring yang memisahkan lapangan dna bangku penonton. Sepeninggal mas Ares, aku memandang Manda yang masih bersemu merah, kemudian mata kami kembali ke lapangan.

permainan sudah dimulai.

**

“iya , aku juga kangen banget  ama mas Neo”  kemudian terdengar jawaban dari seberang sana

“akhir minggu ke sini? yaIy, jangan lupa bawa oleh oleh banyak  ya mas’  dan kami pun mulai membicarakan rencana-rencana untuk menghabiskan akhir minggu di kota ini.

Borneo adalah kekasihku yang sekarang berkuliah di kota sebelah, kira kira bisa ditempuh dengan lebih kurang 4 jam dengan kendaraan umum. Singkat cerita, dulu kami jadian waktu dia masih bersekolah di sekolah yang sama dengan aku dan the genks : SMA Olympus. Borneo tipikal cowo idaman para wanita : wajah cakep, baik,pintar  dan janagan lupa : tajir,  pokoknya hampir semua yang diinginkan kaum hawa di install tuhan kepada mahluk berjudul Borneo ini,  makanya tidak heran kalau sahabat sahabatku di the Aphrodites juga tergila-gila dengan cowo yang katanya mirip afghan ini , termasuk si kalem Lola. bahkan kalau aku kurang ‘agresif,’ aku yakin, Neo sudah jatuh ke tangan Lola. Itulah pertama kali aku merasa beruntung  dan amat senang dengan kalemnya lola.

ponselku berbunyi lagi,menyadarkanku dari nostalgia barusan, tapi kali ini jelas bukan dari Borneo atau Aphrodites, karena saat ini cuma ada satu orang beruntung  yang tau nomor ini : Ares

“ Kok ga diangkat ? cowo kamu nelpon  ya ?

“ Iya mas, weekend ini dia mau kesini” ujarku datar

kemudian hening

“ Yah, Aku ga bisa ngapelin kamu  donk Tar ?” jelas terdengar nada kecewa penuh ikhlas di ucapannya barusan

“Masih banyak malam minggu dan malam-malam lainnya kali mas, jangan lebay deh”

terdengar tawa dari seberang sana

“ Ok deh tuan putri Nevertari , ada cerita apa nih disekolah,? the Aphrodites  apa kabar?”

dan kami pun bercerita sampai larut malam, seperti biasa, seperti malam malam lainnnya. mahluk lawan bicaraku ini jenis mahluk yang punya seribu satu bahan untuk diolah menjadi topic yang menarik dan lezat. tapi, sejago jagonya dia, ga bakal lebih dari 2 jam. lewat dari itu. garing. abis

**

Malam minggu pun tiba, Borneo sudah menungguku di depan rumah dengan mobil baru yang sepertinya milik bokapnya.

“Sudah siap tuan putri?” tanyanya bak pangeran  sambil menjulurkan tangan

Aku tersenyum

“Sudah memutuskan kemana?” sambungnya

malam ini dia hadir dengan gayanya yang biasa, jeans coklat terang dengan atasan kemeja yang ditutup dengan vest ,tak lupa kacamata minus yang membuatnya terlihat lebih pintar. Dan yang terpenting, dia wangi. Aku tidak tau parfum apa, tapi pasti mahal. Aku sendiri tampil normal, skinny jeans gelap dan kemeja sleeveless berwarna  toska , rambut panjangku ku ikat ke atas,modus untuk pamer leher jenjang.

“Kita nonton dulu aja yuk”  aku menunggu reaksinya, dan, dia tersenyum “ ada film COMIC 8, rame lo mas, lucu”

Dia mengangguk “as ur wish tuan putri”  kemudian dia pun membukakan pintu mobil untukku, aku pun masuk dan  jariku langsung sibuk bermain di layar telepon genggam yang jelas lebih pintar dariku.

“Sibuk banget ya?” komentarnya  pendek

“Sorry mas, emergency nih, temen lagi butuh bantuan” jawabku asal

“Temen apa temen?” Sambungnya

aku memasukkan benda tersebut  ku ke dalam tas kemudian memegang tangannya  

“Aku kangen kamu “ ucapku pelan

dia tersenyum, kemudian kami pun bergerak menembus malam

**

Kami sedang duduk menunggu dibukanya pintu  theater 3 untuk para pemegang tiket ketika seseorang menyapa kami ..

Ares, yang sedang bersama seorang cewe manis yang pasti sudah bisa kalian tebak semudah menebak jawaban kuis-kuis di TV belakangan ini : Lola

“Haii…. surprise banget bisa ketemu disini, kalian..mm..” aku menggantung kalimatku

Lola terlihat malu , kemudian menyikut Ares. Salting

“Ares “ cowo itu menyalami  mas neo .  Mas neo membalasnya mantap “ Neo”

Ares terlihat cukup berbeda malam itu. kaosnya kali ini sudah berganti flannel coklat yang dipadu dengan jeans gelap. sementara Lola tetap menjadi Lola : kemeja putih, dan rok jeans panjang. rambutnya sendiri dibiarkan tergerai panjang. manis, walau tanpa polesan make up.

“Hai lola, kamu kok diem aja, sariawan ya ?” aku kaget , ternyata masih saja ada orang yang memakai joke garing itu, dan itu terdengar semakin aneh karena keluar dari mulut seorang Borneo yang notabene biasanya kaku dan tidak suka bercanda.

“Udah lama ga ketemu, akhirnya udah gede juga anak om satu ini, udah bisa pacaran”

WHAT ? ? Oke, apa  minus kuping aku sudah nambah, tapi sepertinya mas neo mencoba  sok asyik.

Sial. Loladdicted. penjelasan paling masuk akal untuk hal hal tidak masuk akal.

Muka lola memerah, dia memegang tangan Ares malu malu , sesekali memandang ke arahku .

“Udah ada tiket belum ? “ tanya Lola kemudian mencoba mencairkan suasana

“Udah, kita udah kok” jawabku pendek

“Kami ngantri dulu ya , yuk” dia pun menggandeng Ares masuk ke antrian.

kami pun memandang keduanya bergabung di antrian film yang lumayan gila buat hari ke 3 pemutarannnya.

“Jadi itu yang kamu ceritain kemaren?” tanya mas Neo sepeninggal mereka

“Gimana ? cocok kan?”

 “Akhirnya anggota aphrodites terakhir pacaran juga, syukur deh, jadi kamu ga usah cemburu cemburuan lagi ama temen kamu sendiri“

Aku pun tersenyum.

**

“Kamu emang si ratu tega ya Tar , ingat, sekarang aku  udah jadi cowo temen kamu” ujarnya  diikuti tawa puas.

Aku menghembuskan asap rokok kewajahnya. Dia tertawa kemudian menyalakan rokoknya juga

“ Kamu tau, Lola bilang, aku harus jaga jarak ama kamu, karena aku udah resmi jadi cowonya dia “

“Trus mas jawab apa?” jawabku kemudian mengisap kembali racun batangan ini.

“ ya ..aku bilang setuju donk” jawabnya

Aku tertawa “trus kenapa masih disini coba ?” aku keluar dari selimut, berjalan dengan pakaian kusut dan seadanya, bermaksud mengambil air mineral di kulkas kecil di kamar kostnya ini. Tiba-tiba dia  memelukku dari belakang.

“Aku lebih duluan kenal kamu tuan putri, dan kakinya Lola ga seindah kaki kamu, dan alasan utama kenapa aku masih disini, ini kan kostannya aku ” tambahnya kemudian

Aku bangga mendengarnya, ini entah kesekian puluh kali dia memuji kakiku yang suka dibandingkannya dengan kaki para personil girlband korea, tapi aku tetap saja melepaskan tangannya, kemudian duduk di pinggir jendela kamarnya  “Dasar footfetish gombal” ujarku kemudian tertawa puas. seperti yang kuduga. semua berjalan sesuai rencana. Detik selanjutnya, kami berdua cuma diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.  dan akhirnya aku mengalah untuk memecahkan suasana

 “Kenapa mas? kok diem? sariawan ya ?”

Garing. Abis.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s