MATAHARI JUGA BINTANG KARENA MEMANCARKAN CAHAYA SENDIRI

 

Hari menyalakan rokoknya dan mengasurkan isi kotak tersebut  kepada seorang lelaki berambut cepak berkacamata minus  yang sekarang sedang duduk di depannya  : Bintang, sahabatnya yang hari ini untuk pertama kali berkunjung ke kotanya semenjak mereka mulai bekerja di kota yang berbeda beberapa waktu yang lalu.

“Makasih, gue udah  berhenti”  ujar Bintang  dan kemudian terus memandang ke luar hujan turun lumayan deras malam itu

“Bulan ga begitu suka gue merokok” lanjutnya tiba-tiba.

“Okay,gue kaget “ balas Hari datar sambil merapikan kembali ikatan rambut gondrongnya.

Bintang menggeser duduknya, mengambil buku dari rak kecil di dekat meja kerja Hari. Meja kerja yang di maksud sebenarnya cuma meja biasa berkaki rendah. diatasnya terlihat  sebuah PC yang dihiasi beberapa action figure super hero  favorite pemiliknya.

“Masih baca ginian?” tanya Bintang kemudian

Hari mengangguk sambil tetap sibuk dengan komputernya

“Politik..” Bintang meletakkan kembali buku tersebut di rak kemudian menggeleng-geleng

“Udah terlalu lama gue ga ngikutin yang beginian..” ujarnya menghela nafas

“Maklum gue..  calon kepala cabang memang harus sibuk” potong Hari sambil tangannya tak kalah sibuk di keyboard

“Begitulah, ini aja gue langsung dari kantor “ ujarnya sambil  membuka dasi  dan melonggarkan kemejanya kemudian menyandarkannya kepalanya di bantal.

Hujan di luar mulai deras, Bintang pun  mencoba menutup pintu kostan Hari dengan kakinya, tapi beberapa kali mencoba  dia masih tetap gagal, akhirnya dia menyerah dan berdiri untuk menutup pintu kostan Hari.

**

Hari membuka pintu kostan bintang  dan melihat Bintang masih bergumul dengan selimutnya, sementara dirinya sudah tampil prima, Hari ini bahkan lengkap dengan almamaternya.

‘”Lo kenapa? anak anak udah pada ngumpul di bus  tuh”

Bintang mengeliat, menyangga dinding dengan bantal, kemudian menyandarkan badannya “ Ga tau, badan gue rada aneh pulang dari meeting semalam”

dia kemudian mengambil sebatang rokok dari samping tempat tidurnya, dan meletakkan nya di lantai.

“Lo ga jalan? aksinya pagi ini kan?”

“Kali ini ada si Hendi, biar dia yang ngatur anak-anak deh, lagian persiapan udah gue beresin semua kok. Rada garing juga gue ga ada lo”

Hari mengambil rokok yang tadi di letakkan Bintang. Menyalakannya. “Gue disini aja kali ya?”  Hari mengabari  kawan-kawan  lewat ponsel, kemudian berjalan keluar

“‘Kemana?” tanya bintang

“Gue tinggal bentar..”

Tak lama setelah  Hari pergi , Bintang pun menelpon seseorang

“ Lan, biasa, gue ama Hari titip absen ya“

**

“ Bulan apa kabar?”tanya Hari ketika bintang sudah kembali  bangkit dari tidurnya.

“ Sehat” Jawab Bintang pendek seperti tak tertarik membahas kekasihnya itu.

“Kapan wisuda?”  Lanjut Hari sambil mengisap rokok dan mengamati layar komputernya

“ Bentar lagi sih“

wajah  Bintang terlihat sedikit berubah dan walau cuma sekejap, Hari menangkap perubahan itu

“Kenapa?  udah  pada nanyain?” Namun mata Hari tetap tak lepas dari layar komputer.

“Begitulah, Bulan juga usah sering nanyain ini ke gue”

Bintang kembali merebahkan badannya ke kasur dan sibuk memutar mutar hape di tangannya

“Trus..apalagi ? kerjaan udah  dan gue  yakin  itu.. masih berfungsi kan?”

“Anjing”   balas Bintang sambil menghadiahkan sebuah tendangan ke punggung Hari

keduanya tertawa.

“Gue  ga tau ri, gue ngerasa  belum siap, belum pas..”

“Belum siap apa lagi, kalau gue di posisi lo.. gue udah..”

“yakin?” potong Bintang sambil bangkit lagi dan duduk di sebelah sahabatnya  itu, mereka kemudian  saling bertatapan

“ya..yakin lah” Hari gelagapan

“trus , kenapa  masih belum?”

“ya ..ya.. karena kerjaan gue masih kaya gini “ Jawab Hari terdengar asal

“ Gue juga tau kali ri, berapa bayaran pekerjaan yang masih-kaya –gini ini, lumayanlah buat jadi penganten baru”

“masalahnya adalah..  semenjak gue kenal lo” Bintang kembali merebahkan badannya dan sibuk dengan ponselnya  “Lo ga pernah serius ama cewe manapun”

“pernah kok..” balas Hari sambil mengisap lagi rokoknya.Panjang.Dalam.

“Siapa ?” Tantang bintang tak mau kalah

**

“Gue sayang bulan”  ujar  Bintang  ketika  Hari menginap  di kamarnya malam itu

“ Ok, sayang, trus?” jawab  Hari sambil tetap memandang ke langit-langit

“ Gue ga enak aja, lo kan juga lagi dekat sama Bulan”

“ Trus? gue ga ada apa-apa kok ama bulan, maju aja kali bung” Hari bangkit, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya, dia menyandarkan badannya ke dinding sambil menatap Bintang.

Keduanya kemudian hening .

“Lagian,  ini bukan kali pertama kan ? sampai kapan sih kita kaya gini terus?” Hari memecah suasana,Keduanya kemudian tertawa.

**

Hari tertawa alih alih menjawab pertanyaan Bintang. Tak lama dia kembali sibuk mengutak ngatik kembali gambar di layar, ramainya calon legislatif yang akan maju di musim pemilu ini adalah sumber rejeki baginya : sedikit sentuhan magic photosop dan pilihan kata kata baik yang kadang tak mewakili si caleg pun berhasil mengisi pundi pundi kantongnya.

“ Gue sama sekali ga menyangka, seorang orator sekelas Putra Matahari, sekarang malah menjadi penolong mereka buat menduduki kursi ?”

“ Maaf saudara Bintang Fajar Putra” sekarang Hari memandang sahabatnya itu “Terakhir  gue cek , gue juga  masih butuh makan “ kemudian dia kembali  ke layar  “Paling ga gue ga ikut milih satupun dari orang-orang ini  “ ujarnya sembari  mengangkat jari kelingkingnya “ Jari gue masih perawan”

Bintang tertawa “Nah, masalah lo di situ , lo ga milih satupun ,mereka kurang apa sih?”

“Maksud lo ?”  Hari benar-benar tidak menangkap apa maksud sahabatnya ini.

“Iya, cewe-cewe  yang ngasih perhatian ama lo itu kurangnya apa?” mata Bintang menerawang “Cleo. cantik, body semlohay”

“Boring, dia ga ngerti Star wars” jawab Hari sambil mengganti ganti warna background di kertas kerjanya

“Gue juga ga tau star wars ?” balas Bintang

“ Makanya lo juga boring”

Bintang menghela nafas “ Athena? pinter, tau star wars, lumayan manis, alasan lo apa lagi, hah?”

“hmm.. dia ga ketawa pas gue ngelucu, garing sih anaknya “ Jawab Hari lagi lagi tanpa menoleh

“kalau orang ga ketawa pas lo ngelucu, lo yang garing njing, masa komedian nyalahin penonton? garing ya garing aja, deal with it!!

“Hah, beneran? kok gue ga tau ya ?” jawab Hari cuek masih sambil mengklik klik tetikus di tangannya

“Makanya lo jangan pake ngajarin gue  soal ginian, lo aja belum beres “   Bintang sekarang menelungkupkan badannya, membelakangi Hari.

“Udah , jangan mengalihkan,  buruan merit sono, undangannya urusan gue, gratis. yang penting makan-makannya”

setelah berkata begitu tiba-tiba Hari menatap jam kecil di atas CPU  nya

“ Lo udah makan?” Hari beranjak dari depan komputernya, mengambil  jaket dari gantungan dan berjalan ke pintu “ Masi doyan mie rebus? atau udah ganti ama ramen atau spagethi “

Bintang  membalikkan badan lagi,tertawa, merogoh-rogoh saku celananya , mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar 50 ribuan.

“Nih, pake ini aja, rejeki anak soleh” ujarnya

“Udah, gue juga ga miskin-miskin amat , ga soleh-soleh amat juga,  jadi  lo mau apa nih?” Ulang  Hari.

“ Yang cocok ama kantong lo aja deh”

Hari membanting pintu

**

Hari membuka pintu,  masuk dan  duduk di sebelah kasur Bintang. Bintang yang sedang tiduran membelakangi Hari kemudian terjaga dan kembali duduk. Hari meletakkan seplastik obat ke hadapan Bintang.

“Apaan nih?”

“Gue tau lo pasti ga ada stock obat”  Hari membuka plastic rokok yang abru dibelinya, mengambil sebatang dan menyalakannya “ dan kalaupun gue suruh lo ke dokter, lo ga bakal mau kan?” Hari menghembuskan asapnya lewat hidung “buat jaga-jaga aja “

“lo beli dimana nih?”  Bintang mulai mengamati obat tersebut

“ketauan deh yang jarang sakit “ Hari menyelakan CPU  Bintang

“Apotik deket warung sono, sekalian liwat pas beli rokok”

Hari menyalakan layar computer, masuk ke menu dan tak lama layar sudah berganti dengan gambar lapangan hijau : PES 2011.

“Ngelawan computer terlalu gampang buat lo” tiba-tiba Bintang sudah muncul di sebelahnya

“ lho? katanya bintang sakit” ledek Hari

“lebay lo, gini doank”  Bintang sibuk dengan joy stick di tangannya  “merem juga gue bisa ngalahin lo” uajr bintang merapikan rambut gondrongnya  yang sudah menutupi mata

Hari tertawa,“Heran gue, udah ada Bulan,masih doyan olahraga jari lo ya?  terbukti jari lomasih sehat ketika anggota tubuh lain sakit”

Bacot!!  udah, pilih team lo”

**

Bintang memilih Manchester United , tepat ketika Hari balik dengan nampan yang berisi dua mangkok mie rebus yang  ditutupi plastic. Hari kemudian meletakkanya di lantai depan rak buku. Mengambil satu dan langsung menikmatnya,

“kerjaan gue udah lo save kan?” tanyanya sambil menghirup mi di mulutnya, tapi Bintang tidak menjawab.  Hari kemudian  meletakkan mangkok mie rebusnya  dan mengambil stik yang satunya lagi. Bintang menggeleng, dia  harus keluar lagi dan memilih player versus player,  setelah masuk ke layar team, dia kembali memilih Mancheter United, team favoritenya

Hari tertawa “masih makai tim ini nih? yakin? kapan terakhir cek klasemen?”

“Masih bacot aja  lo, pilih team lo..”

Hari memilih timnya dan tak lama kemudian dua sahabat ini sudah tenggelam dalalm permainan dan ocehan-ocehan  mereka, beberapa kali strageti Hari berhasil mengantarkannya kedepan  gawang, tapi belum bisa menghasilkan goal

“ gagal terus , finishing lo masih parah kaya dulu “ komentar Bintang

“lo boleh  jadi striker handal Bin,tapi  seperti biasa, gue wing yang baik, lo ga inget operan operan gue, bola-bola cantik yang ada ama loe, operan gue tuh.. gue yang ngegocek sebelun lo membobol”

“Bacot, ketinggalan 2 gol tuh.. “ Bintang masih focus ke layar permainan, sesekali membetulkan kacamatanya yang melorot.

tiba-tiba handpone Hari  berdering

“Yah, ketemu alasan buat kalah nih bocah” Bintang mengeluh sementara Hari mengangkat telponnya

**

“Keadaan dia baik-baik aja kan teh?” tanya Bintang  di telpon dengan nada khawatir

“iya bin, dia baik-baik aja, tadi pas sadar dia manggil manggil  nama kamu”

Bintang ingin tertawa tapi dia tau saatnya tidak tepat,namun, tetap saja, dia tetap tidak bisa menahan komentarnya

“ Berarti kepalanya terbentur cukup parah teh

“Maksud kamu  bin?” terdengar jawaban dari teh Tari, kakaknya Hari di seberang sana

“ Ga teh, ga apa -apa, habis ini saya sama anak-anak langsung kesana, makasih ya teh “

Bintang menutup telponnya,

“Ini kopinya mas” pelayan kantin kampus  yang masih seusia adeknya itu tersenyum genit kearah Bintang

“makasih  neng”  tapi setelah itu pikirannya tak lagi disana, buktinya dia membiarkan kopi tersebut terletak begitu saja di meja.

**

Hari mengaduk kopi dimejanya dan berjalan melewati Bintang yang masih didepan PC

“Kemana, udahan aja ? gue baru menang 3  kali nih! ga seru ah, ”

“Udahan dulu, stick gue  ga enak” jawab Hari sambil berjalan terus keluar

whatever, loser is loser “ teriak  Bintang tapi kemudian ikut meletakkan stick di meja dan mengikuti Hari ke arah teras.

Hari duduk di bangku rotan di luar yang memang di sediakan pemilik kost kostan sebagai  tempat tamu, terutama tamu wanita, walau mahluk-mahluk  yang kost disana selalu punya cara untuk menyelundupkan pasangan mereka kedalam. sometimes rules are made to be broken

Hari meletakkan cangkir kopinya di meja , Bintang kemudian ikut duduk  kursi satunya

Hari  menyalakan lagi rokoknya, kemudian menyeruput kopi di cangkir tersebut

“ Jadi kapan lo mau merit?”

Bintang menggeleng, kemudian ikut menyeruput kopi di cangkir yang baru saja di letakkan Hari

“Ah, itu lagi, bosen gue, lo udah mirip ama nyokap dan calon mertua gue ya ”

“Emang udah waktunya aja sih kita ngomong serius soal yang beginian ” Hari kemudian menatap Bintang “ bener kan gue?”

Bintang menggeleng “ Gue ga tau, something just doesn’t feel right ri, masih ada sesuatu yang …kurang ama Bulan”

Hari mengangguk-angguk,” Hm.kalo maksud lo kurang gede sih ..gue setuju”

“Anjing”  balas bintang dan entah untuk keberapa kali mereka tertawa berbarengan

Bintang meminum kopi kembali , tapi kali ini tidak meletakkannya

“Serius gue, gue tau dia cewe yang spesial, cantik, baik, pintar,dan  dia yang paling lama bisa tahan ama gue, kita barengan sampai ketitik ini tapi…”

“Sama….  mungkin itu juga yang gue rasain sama cewe-cewe yang deket ama gue” potong Hari pendek sambil menghisap rokoknya panjang. Dalam.

“Lagian,  ini bukan kali pertama kan ? sampai kapan sih kita kaya gini terus?” rentetan kalimat itu kali ini keluar dari mulut Bintang. Dia meletakkan cangkir kopi, setelah itu mengambil rokok di meja,dan bintang pun  menyalakannya.

 

**

 

note :  tulisan ini dibuat karena kemaren malam  si Agi ‘request’ cerita sejenis ini, dan setelah  memandangi layar dan  beberapa ‘saat’, maka akhirnya cuma yang beginianlah yang bisa om kasih buat Agi, mudah-mudahan  berkenan. .Maaf baru sempat di posting sekarang. Terakhir , ada Manchester united muncul sebagai cameo, u’re welcome..

 

Advertisements

2 thoughts on “MATAHARI JUGA BINTANG KARENA MEMANCARKAN CAHAYA SENDIRI

  1. Dua orang laki-laki itu, dominan banget karakter “laki” nya. Hal ini mendukung cara pandang “kita satu kepala”, i like 🙂 dan Somehow Agy bisa ngerasain gimana gaya mereka saling jatuh suka. Terutama di Endingnya, manis om. Meskipun di awal Agy rada nnggg.. nnnggg.. Sedikit boring. Mungkin karena Agy terlanjur penasaran “dimana suka-sukaannya” 😀 tapi, tapi, om kece deeeh 🙂 dan salam buat si fans MU yg ngegemesin itu yaaa, hahaha 😀

    1. makasih udah baca… dan mudah-mudahan agi setuju.. kata cinta ga perlu hadir untuk merasakan cinta … 🙂

      “kita berdua, tidak saling bercerita..tapi saling mengerti..”
      -JCIBS-ERM-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s