Putri Raja, Ksatria, Naga, dan Badut pengembara

“Aku lahir di salah satu bintang yang lain dan  takdirku adalah  untuk mengembara diantara bintang-bintang”

Aku masing ingat jawaban itu , dan itu adalah pertama kali dirinya muncul di jendela kamarku.

***

Kalian tau, menjadi  putri itu tidak mengenakkan!!  tiap hari aku harus melewati rutinitas yang membosankan:  segala macam jamuan, kelas ini, kelas itu, dan segala bentuk latihan  yang kadang membuatmu ingin melompat kelaur gerbang istana!

“Aku tidak suka pelajaran memasak” ujarku suatu ketika  pada  badut pengembara: mahluk yang sedang duduk di jendela kamarku

“Ditempat asalku, para pengeran tergila gila dengan wanita yang jago memasak”  kata mahluk didepanku itu sambil melakukan kebiasaannya yang menurutku tak bermanfaat ; membakar tongkat kayu di tangannya sampai mengeluarkan asap!

“Terserah, tapi disini kami punya juru masak” balasku tak mau kalah

“ Bagaimana dengan pangeranmu kelak. Tidakkah  kau ingin menjamunya dengan masakanmu  sendiri” dia menatapku serius.

“ Jangan bodoh, kami juga akan punya juru masak di istana kami nanti”

Si badut tertawa lagi.

Aku  menghempaskan badan ke ranjang dan memandang si badut yang sudah membiarkan tudung penutup kepalanya terlepas hingga memamerkan rambutnya yang aneh. Aku  sendiri  tidak terlalu ingat bagaimana si badut ini bisa muncul di jendela kamarku , tiba-tiba saja dia sudah disana dan kami sudah berbagi cerita, aku yang kesepian di lantai kesekian istana tiba-tiba seperti menemukan sebuah bahu untuk bersandar . Sebenarnya, mahluk itu mengaku tak bernama, dia Cuma menyebut dirinya si pengembara. ‘Badut’  adalah nama yang kupilihkan untuknya, aku tidak tau kenapa, mungkin karena  pakaiannya yang aneh: jubah putih panjang dengan jumbai-jumbai emas dan sebuah tongkat kayu ditangan, bisa juga karena kebiasaannya melucu di tenagh-tengah cerita kami.entahlah

Mengingat hari itu -tiba tiba aku menjadi tersenyum sendiri, dan ketika  aku sadar dan melihat ke jendela,  si badut tak lagi ada disana. Ini bukan yang pertama kalinya dia menghilang begitu saja dari sana.

**

KERAJAAN DALAM BAHAYA !!!

Aku melihatnya sendiri dari jendela kamarku : Seekor naga dengan sayap raksasa terbang di langit kerajaan.  Panah dan tombak para  prajurit tidak ada yang bisa menghentikannya !! tapi dia tidak menyerang balik, dia Cuma terus terbang sampai…

Aku  tidak tau kenapa, tapi aku membuka jendela kamarku,ya, wajah besar itu  berhenti tepat di jendela kamarku., da ini pertama kalinya aku melihat naga secara langsung. Ayah dan guruku memang sering bercerita, dan di buku buku pelajaranku juga ada  banyak  gambar mahluk menyeramkan ini ..

tapi yang ini luar biasa !!!

Naga dengan ukuran luar biasa, kepakan sayap luar biasa, dan kulit mengkilap yang aku yakin tajamnya juga luar biasa ,tapi mahluk besar  tidak bergerak, dia Cuma menatapku aneh, aku tidak tau kenapa, tapi dia seperti berhenti, dan  yang paling mengherankan, mata itu tidak terlihat menyeramkan, tapi menyedihkan.  Lagi-lagi aku tidak tau kenapa, tapi aku sudah menyentuh bagian kulit  diantara matanya  : sebuah bekas luka!   dan tanpa sadar  kemudian  aku sudah berada di atas punggungnya yang ternyata cukup nyaman dan hangat..

Aku benar-benar tidak tau kenapa.

Para prajurit pun berhenti menembakkan senjatanya

Bahkan ketika Vinh, seorang pemuda tampan  sudah berdiri di panah raksasa pemangsa naga yang  berada di posisi tembak tak terelakkan, aku justru melarangnya.

“Aku baik-baik saja” ujarku sambil memberi tanda .

Selanjutnya, aku sama sekali tidak tau aku akan dibawa kemana. Jelas, ini buruk, tapi lebih buruk lagi ketika aku sadar bahwa ini bukan kali pertama, si badut pengembara tidak ada di peristiwa sepenting ini.padahal  aku ingin bercerita.  kemana dia ?

**

Aku turun di sebuah goa besar, tidak seperti di ceritakan di buku, goa ini tidak gelap dan berbau. Justu sebaliknya,  goa ini cukup indah, apalagi dengan keberadaan ada danau kecil  bawah tanah ini, mungkin ini tempat sang naga mandi. aku tidak peduli, tapi aku cukup terpesona dengan pemandangan disini . Sang naga meringkuk  di sebuah batu besar di pinggiran gua, di sebuah tepat yang cukup tersinari cahaya matahari dan kemudian menatapku dari sana.

Yah, dia cuma menatapku, menatapku dan  kemudian menatapku.

Aku tersenyum,  kemudian berjalan menuju  ke dekat danau, entah kenapa aku langsung membasahi tanganku dan membasuh mukaku dengan air itu,rambutku yang panjang juga ikut kubasahi. terasa menyegarkan, padahal bisa saja air itu berbahaya, entahlah, aku cuma berpikir, kalau aku merelakan diri diculik naga? Apa aku masih perlu takut dengan yang namanya bahaya?

Aku kembali memandangnya  lalu  mendekat ke arahnya, dan semakin dekat semakin aku  bisa melihat pandangan itu, sebuah pandangan yang menyejukkan. Aku tidak tau namanya, tapi aku pernah melihat pandangan yang sama sebelumnya, dari badut pengembara ? bukan? Ah, aku ingat, itu dari mata Vinh, itu cara menatap yang setelah  berkenalan dengannnya beberapa waktu lalu dikelas, Vinh , seorang ksatria yang masih sebaya denganku. Walau begitu, tetap saja aku tidak tau apa arti pandangan ini

Aku tau seseorang yang mungkin mengerti hal ini, temanku, yang entah mengapa seperti tahu semua rahasia  alam ini. ya, si badut pengembara. kemana dia saat aku butuh dia?

dan ini bukan pertama kalinya dia menghilang sekehendak hatinya

**

Sudah beberapa hari aku tinggal di goa bersama naga raksasa ini dan,aku tidak kurang satu apapun, kecuali mungkin aku Cuma punya satu pakaian yang kupakai semenjak dia ‘menculiku’ ke sini. Ketika aku lapar dia akan datang dan membawakan berbagai buah-buahan, kita berdua tidak pernah berkomunikasi terlalu banyak, kecuali menatap, dan entah kenapa, lewat  tatap itu kita seolah berbicara.

Aku sedang  berada di  singgasananya, sebuah batu besar yang kali  ini diterangi cahaya rembulan, lagi lagi aku menyentuh bekas luka di pelipis diantara matanya,dia menggeram, dan sejujurnya aku sedikit takut.

“Namamu siapa” ini kali pertama aku bertanya, dan itu terlontar begitu saja.

“CHARADE” terdengar  jawaban , tapi jelas itu bukan suara mahluk besar di depanku.

“Namanya Charade tuan putri” ujarnya sambil membungkuk, dan kemudian merapikan kembali sebagian rambut  yang menutupi mata.

Sosok yang kurindukan itu hadir lagi, entah dari mana, seperti biasa

“Kau tau dari mana?” ujarku penasaran

“Dia temanku”   mahluk itu kemudian ikut duduk di singgasana, “ Aku bahkan sudah berteman dengannya sebelum aku mengenalmu tuan putri”  ujarnya sambil tertawa

“Jadi kau tau? Kalau dia akan muncul di istana ?”

“Katakanlah demikian” jawabnya sambil tersenyum dan mengusap-ngusap kulit temannya itu

“Dan.. kau membiarkanya?”  aku masih tidak mengerti

“Tidak juga, karena aku sedang tidak disini” dia kemudian menatapku serius   “Aku sudah pernah bilang, aku lahir di salah satu bintang yang lain, dan….”

“Takdirku menjadi pengembara diantara bintang-bintang”  sambungku, aku sudah terlalu hafal dengan kalimat yang satu itu

“Lagian itu sudah takdir kosmos” ujarnya setelah tertawa

“Maksudmu?” aku memang tidak terlalu mengerti

“Yah, bukankah dengan demikian kalian bisa bertemu?”

Dia kemudian berdiri dan memandang  ke atas rongga goa dimana cahaya bulan menyelinap  “kisah pertemuan kalian ini sudah tercatat jauh sebelumnya”

“tapi..”

“Aku akan jelaskan lain kali, karena sekarang pun kamu tidak akan mengerti tuan putri” potongnya

Badut pengembara berjalan mendekati Charade, dan kemudian mereka berdialog dengan bahasa yang sama sekali tidak aku mengerti, Charade menggeram, tapi si badut  pengembara terlihat tetap tenang . Tiba-tiba Charade  menatapku lama, kemudian matanya  berubah sayu.

“Kita berangkat sekarang” perintah Badut pengembara kepadaku. Aku Cuma diam, bertanya dan membantahpun tak ada guna didepan dia si perencana dan si-tahu-segala.

“Harusnya kita bisa naik ke punggung Charade, tapi sepertinya mereka memang tidak ditakdirkan untuk bertemu”

Badut pengembara  kembali menoleh ke Charade, “Kau mau bertemu dia ?”

Badut pengembara tertawa, sementara terdengar raungan pelan dari mahluk tersebut. Sedikit mengerikan, tapi lebih terdengar memilukan.

“Bertemu siapa ?”  akhirnya aku tidak tahan untuk bertanya

“Siapa lagi yang mau menembus rimba belantara penuh bahaya demi menjemputmu wahai tuan putri”

Vinh. Semenjak aku mengenalnya di kelas, dia selalu begitu, bertindak sebagai kakak lelaki yang tidak pernah kupunya, tapi.

“Vinh?  tidak mungkin, dia terlihat marah  ketika aku melarangnya menembak Charade “  aku mempertanyakan pikiranku sendiri

“Ya ini bukan kali pertama kau cerita tentang pertentanganmu dengan Vinh, tapi bukankah ini juga bukan kali pertama kalian akan berbaikan lagi?” lagi-lagi mahluk misterius ini seperti  membaca ruang-ruang otakku. Tapi dia benar , ini bukan pertama kali.

**

“Apa kau tidak punya sesuatu  yang lebih layak  untuk membawaku ?” Aku serius, aku memang suka berjalan-jalan, tapi itu bukan dalam arti berjalan sebenarnya, aku suka berjalan-jalan dalam iringan kereta kuda dimana aku duduk manis di dalamnya, Jelas saja, perjalanan kali ini cukup melelahkan buatku.

“Kau mau berjalan sendiri?” balasnya tak menjawab pertanyaanku.

“Aku tau kau tidak tega” ujarku tersenyum

“Aku bukan Vinh,” balasnya sambil tertawa

Aku tak bisa membantah. dia  benar.  maka aku secepatnya mengalihkan pembicaraan

“Kau selalu menghilang dan datang dengan tiba-tiba, apakah selalu begitu cara mu berpindah diantara bintang?” tanyaku menatapnya

Dia tersenyum

“kita sudah dekat, sebentar lagi dia akan datang”

lagi lagi aku dikalahkan.

Tak lama terdengar derap kuda dari kejauhan

semakin mendekat dan mendekat , tak lama  kemudian penunggangnya pun turun dari kuda putih tersebut.

“Terima kasih” ujarnya  sambil menyalami badut pengembara  “ tadi aku sempat ragu dengan burung hantu mu yang tanpa nama , tapi aku memilih untuk percaya, aku mohon maaf”

Badut pengembara lagi-lagi tertawa

“Kalian saling kenal?” aku bertanya sambil mengenggam tangan  Vinh

“Mungkin”  Vinh kemudian menatap si badut pengembara “ kita berbeda divisi, tapi dia juga di akademi  Singandala, Zeyr si pemberontak”

Aku kaget!  ternyata mahluk ini mempunyai nama, dan ternyata bukan aku saja yang pernah bertemu dengannya . Semantara Mahluk di depanku yang  sekarang aku tak tau siapa-dia-sebenarnya ini  kembali tertawa

“ Tidak, aku tidak pernah berada disana, kau mungkin salah mengenaliku sebagai orang lain” jawabnya.

“Tidak ada yang tidak mengenali  anak aneh yang secara  ajaib  terpilih menjadi komandan divisi dan kemudian menghilang entah kemana” lanjut Vinh kemudian kembali menaiki kudanya

“Terserahlah, yang jelas aku tidak tau siapa Zeyr si pemberontak yang kau sebut tadi ” balas lelaki yang Cuma kukenali sebagai badut pengembara itu.

Aku pun menaiki kuda milik Vinh dengan bantuannya , dan kemudian meletakkan tanganku di pinggangnya

“terimakasih siapapun namamu, terimakasih badut “ aku menghela nafasku  “ sampaikan juga terimakasihku buat temanmu” ujarku kemudian.

Dia tersenyum “ dia sudah lebih duluan menitipkan terimakasih buatmu” balasnya

Vinh memandangku dan badut bergantian.

“ Tenang Vinh ,siapapun aku , percayalah,  aku cuma seorang teman” ucapnya serius memandang Vinh.

Vinh  diam  sejenak

“Yah, aku tau itu” dia kemudian menatapku sebentar dan kembali ke si badut pengembara

“Sekali lagi terima kasih ”

Aku dan Vinh berbalik, ketika aku menengok kebelakang , badut itu sudah tak ada lagi di tempatnya.

“Vinh, kau yakin ini bukan kali pertama kau bertemu dengannya” tanyaku penasaran

“ Ya, aku yakin, ini bukan pertama kali,..” Jawab  Vinh pendek,  kemudian memacu kudanya lebih cepat

**

Beberapa waktu berlalu semenjak aku kembali ke kerajaan bersama Vinh.

Semenjak saat itu, Vinh dan aku  semakin dekat,dan semenjak saat itu pula dia semakin tak  melepas pengawasannya kepadaku , tapi walaupun begitu, dia tetap mengerti tentang bagaimana kalau aku butuh dunia selain dia,  Seperti ketika aku menceritakannya tentang badut yang dia percaya bernama Zeyr  pernah  menemani hari-hariku  di jendela kamar, dia cuma tertawa,

Seperti  Hari ini. Dia membiarkanku memandang sendiri jendela kamar, menunggu kedatangan si badut yang hilang entah kemana.

Juga saat aku bercerita tentang naga yang baik hati itu pun berkata kalau dia percaya

Mungkin baginya melihat aku bahagia adalah sebuah kebahagiaan juga.

Entahlah,

Tapi ada suatu ketika aku amat  penasaran dan  ingin bertemu lagi  mahluk-mahluk aneh yang mengisi ruang kepalaku itu, maka Suatu ketika itu ,aku berhasil menyelinap ke hutan, sendirian!!

Sebenarnya aku sudah minta Vinh menemaniku, tapi dia terlalu sibuk dengan tugasnya mengamankan kerajaan. Yah, perjalananku cukup melelahkan,  aku bahkan hampir tersesat, tapi entah kenapa, seperti ada kekuatan yang menggiringku untuk sampai ke tempat ini : Goa indah Charade!!

Aku pun masuk,  danau bawah tanah dan singgasananya masih disana, kecuali  dia, Charade sang Naga.

Aku pun duduk di sana, berharap dia datang kembali  membawakan buah-buakan seperti waktu yang lalu, karena bekalku sudah habis di perjalanan.

Tapi ketika malam menjelang, dia tetap tidak datang.

“kau pasti belum makan”

Terdengar suara, jelas itu bukan suara Naga

Badut pengembara? juga bukan

itu suara Vinh.

“Maafkan kesibukanku,lagipula ayahmu pasti marah besar kalau dia tahu tentang hal ini” terangnya sambil duduk di sebelahku dan membukakan bekal makanan buatku.

“Sudahlah, taka pa, yang penting kau sudah datang”  ujarku tersenyum sambil memakan  makanan yang dibawakan Vinh. Diia tertawa melihat cara makanku, tapi aku tak peduli. Aku benar-benar lapar!!

“Tempat ini cukup indah untuk sarang naga”  ucapnya kemudian, ketika aku sudah selesai makan dan kami sudah duduk berdiam-diaman di ‘singgasana’ milik Charade

“Yah, begitulah“ balasku pendek

“kau lihat itu?”  Vinh bertanya ketika rongga di langit goa lagi-lagi membiarkan bulan mengintip dari sana

“Indah” ujar kami bersamaan

Kami saling diam, tapi kami saling menatap, dan perlahan mata elangnya semakin dekat.

“Apakah ini pertama kali buatmu?” Tanyanya kepadaku

Aku tersenyum malu, dan kami tak lagi peduli dengan bulan diatas sana.

**

Beberapa hari lagi  adalah hari pernikahanku dengan  Vinh, beberapa bulan yang lalu, ayah sudah menyetujui hubungan  kami .

Aku bahagia, tapi jujur, masih ada pikiran-pikiran yang mengganggu benakku.

“Kau merindukan aku?”

Di jendela kamarku yang sudah dihias sudah muncul sosok itu : seorang pemuda yang memakai  jubah putih panjang lengkap dengan tudungnya. Pemuda itu kemudian membuka penutuo kepalanya itu  dan tersenyum kearahku

“Apa kabar?” tanyanya

Aku  berjalan menghampirinya dan kemudian menamparnya!!

“Sekian lama kau menghilang kemudian muncul dengan tiba-tiba dan yang kau tanyakan Cuma’ apa kabar?”

Dia tidak menjawab, malah  tertawa!! dasar aneh !!

Aku duduk kembali  di ranjangku,

“Beberapa hari lagi aku menikah”

“Aku tau, karena kau memikirkanku maka  aku hadir” ucapnya kemudian

Aku tersenyum

“ Kau dan Vinh memang ditakdirkan untuk bersatu” ujarnya pelan

“Entahlah “ ujarku kemudian bergabung bersamanya di pinggir jendela

“Aku masih memikirkan sesuatu” tiba-tiba itu terlontar dari mulutku

“Aku tau, pejamkan matamu”  balasnya kemudian . seperti biasa. aku terkesiap dengan kemampuannya ini.

“Aku butuh tanganmu”  lanjutnya kemudian.

“Jangan mengintip, pejamkan saja “  dia memerintah seorang putri untuk kesekian kali!!

Aku pun memejamkan mata,sepenuhnya.

“Sekarang buka”

Aku membuka mataku dan sekarang kami sudah melayang di langit kerajaanku!! aku bisa melihat istana, barak prajurit dan rumah-rumah penduduk.

“Apakah ini nyata?” ujarku

“Kau yang memutuskan “ bisiknya pelan

Kami terbang sambil berpegangan tangan

“ Bagaimana caranya kau bisa melakukan ini?”

“Anggap saja  ini salah satu rahasiaku yang lain” balasnya

Dia pun membawaku terus ke sebuah ujung lain hutan kerajaan, terbang melewati pepohonan di  ketinggian entah berapa  memang membuatku merasakan hawa dingin, tapi untunglah genggaman tanggannya cukup hangat. Tak lama, dia membimbingku turun. Sepertinya kami sudah sampai di tujuan. sebuah mulut goa di puncak gunung tinggi yang  mungkin memang Cuma bisa ditempuh dengan caranya yang ajaib tadi.

kami pun masuk ke dalam dan lagi-lagi, aku terpesona dengan keindahaan isi goa ini: goa Kristal!! tapi itu belum seberapa dibandingkan dengan keindahan lain yang aku temukan : Charade yang sedang tertidur pulas disebuah singgasana Kristal nan amat indah.  aku bermaksud kesana dan berbincang dengannya, tapi teman terbangku ini menahan tanganku

“jangan” ujarnya pelan, kemudian dia membimbingku ke bagian lain dari goa ini, sebuah ruangan besar dengan sebuah patung Kristal di tengahnya

Aku pikir keberadaan Charade adalah kejutan terbesar malam ini, tapi ternyata..

“Itu..”

“Ya.. itu kamu” ujar mahluk disampingku ini.

“ Naga selalu punya rahasia “ tambahnya kemudian.

“ Sekarang kau tau apa arti pandangan dimatanya kan ?” dia terus berbicara

Aku mengangguk “ tapi aku masih tidak percaya “

“Kita tidak akan pernah mengerti semua kemauan kosmos, kadang mempercayainya sudah cukup”

dan entah kenapa tiba tiba aku memeluknya kemudian menatap matanya

“Aku tidak pernah suka tatapan mata itu” ujarnya sambil tersenyum

Aku kemudian tertawa, tapi berair mata

“ Kau memang bajingan” ucapku.

Sekarang giliran dia tertawa.

Aku melihat dia  menjentikkan jarinya, dan kami sudah berada di kamarku lagi.

“Seharusnya aku tau kamu cuma ingin pamer” ujarku menghempaskan tubuhku di ranjang

dia cuma menggerakkan bahunya, dan lagi lagi tertawa

“Aku yakin, aku bukan gadis pertama yang kau perdaya dengan  rahasia-rahasia mu itu” lanjutku

dia kemudian duduk di pinggir ranjangku, menatapku serius “ Bukankah sudah aku katakan, aku lahir di salah satu bintang yang lain, dan takdirku adalah mengembara diantara bintang-bintang”

dia berhenti sejenak, kemudian menghela  nafas

“Ya, dan kamu bukan yang pertama” ujarnya kemudian

**

Waktu pun berlalu, dan seperti  tebakan kalian, mereka berdua tidak datang ke pernikahan aku dan Vinh. Sekarang Vinh sudah menjadi raja di negeri ini dan aku adalah ratunya .Aku tidak pernah sebahagia ini .

Hari ini,Vinh sedang melakukan lawatan ke kerajaan tetangga dan aku sendirian memandangi bintang.   Bintang? ya, aku masih merindukan kedatangan temanku si badut pengembara, aku rindu cerita-ceritanya, tapi begitulah dia, menghilang dan tidak tau kapan akan datang, hal yang juga membedakannya dengan Vinh, seberapapun jauh dia pergi, aku selalu tau, suamiku ini akan kembali untukku.

“ Apa kabar? kamu sudah bisa memasak buat Vinh?”

Lagi-lagi,  dengan tiba –tiba dia  muncul di sebelahku. Pakaiannya pun  masih sama, jubah putih panjang dengan jumbai jumbai emas, serta sebuah tongkat  di tangan, yang sedikit berbeda mungkin Rambutnya sudah lebih panjang dari dahulu dan bulu-bulu halus diatas dan di bawah mulutnya. Dia terlihat sedikit tua namun berwibawa.

“Kau terlihat berbeda,” komentarku

“Kau juga, rambut pendek itu, aku lebih suka yang panjang dulu” balasnya

“Kenapa?” tanyaku heran

Seperti biasa, dia tidak langsung menjawab, dia bermain main dengan tongkat ditangannya, menciptakan api kecil dari jarinya, kemudian membakar ujung tongkatnya, entah apa nikmatnya melihat asap keluar dari sana, entahlah.

“Mungkin karena aku pertama kali mengenalmu dengan rambut itu .. Aphrodite”

Ujarnya diikuti sebuah senyuman.

Aku terkesiap, ini pertama kalinya dia memanggil namaku.

“Kau dari mana saja?” aku kembali menanyakan pertanyaan yang beberapa detik kemudian aku sadari akan terdengar bodoh.

“Aku lahir di salah satu bintang yang lain, dan aku ditakdirkan untuk mengembara bintang –bintang” dia tertawa “Entah sudah berapa kali aku mengatakan itu” tambahnya.

Aku pun tertawa, dan entah kenapa aku masih berharap ini bukan kali terkahir dia datang  dan menemaniku berbincang  di  jendela kamar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s