CUMA CERITA PEMASANGAN SEBUAH BILLBOARD

“Udah pernah pasang billboard pak?”

pertanyaan teman saya ini ibarat kedipan melodi kepada para jomblo, bikin shock.  soalnya saya sedang asik leyeh leyeh sambil online lewat wifi gratis di kantornya

“Belum pak> kenapa?” tanya saya

“Tengah malam nati kita pasang billboard  pak” lanjutnya.

mungkin melihat perubahan di wajah saya, dia pun akhirnya menjelaskan

“Tenang pak, udah ada tukangnya, bapak ikut saya aja, biar tau,”

saya akhirnya Cuma mengangguk. sedikit tenang.

**

Tengah malam pun hampir tiba, dan di pinggir sebuah ruas jalan utama di kota ini, mobil teman saya ini berhenti. Sementara, di depannya sudah ada 2 motor yang mengangkut 4 tukang yang diceritakan teman saya tadi.

“Lihat pak, gubernur lo yang saya tutupin” ujarnya setengah berseloroh

tapi memang benar, ditilik dari penempatan billboard ini,  titik yang didapat teman saya ini menurut saya memang titik yang cukup penting. Buktinya, di billboard sekarang itu ada gambar pak gubernur yang tersenyum, sementara di belakang billboard gubernur ini,  menurut ceritanya itu adalah billboardnya mantan walikota. Okelah. saya tidak begitu heran  sebenarnya dengan mahluk disamping saya ini, karena kalau seandainya dia maju jadi caleg di 2014,dia pasti akan sukses: postur tubuh tinggi dengan wajah boy band kharismatik, jaringan yang kuat sana sini, dana mencukupi, dan pengetahuan yang mumpuni tentang kota ini, he seems to know everything mulai dari sambel pecel paling enak in the town sampai fakta menarik bahwa sepeda ‘blusukan’ orang nomor satu kota ini adalah sepeda listrik. Namun, sayangnya billboard yang ini bukan tentang pencalonannnya, kantornya sedang merencanakan sebuah acara besar di 2014 nanti,seperti yang diceritakannya kepada saya.

16  x 8 meter, mungkin cukup membuktikan besarnya cara yang akan di langsungkan ini dan juga cukup membuat saya sadar bahwa walau sesuatu yang di print tidak selalu ringan. Buktinya saya yang membantu mengeluarkan benda itu dari mobil ke pinggir jalan itu sudah kepayahan. saya benar-benar tidak tau bagaimana cara mengangkatnya ke atas papan billboard setinggi beberapa meter itu.

 “ini kerjaan saya dari 2010 pak” ujarnya disamping saya ketika saya mengamati pak tukang yang sedang bekerja, memotong kawat dan menyimpul tali supaya kuat ikatannya.

**

Persiapan selesai dan benda yang sempat membuat saya ngos-ngosan tadi sudah berpindah ke atas sana dengan bantuan tambang dan prinsip katrol, dan dengan berpegangan ke tulang tulang besi yang bersimpangan, para tukang itu pun bergerak dengan hati-hati menuju ke papan billboard di tengah sana, cukup berbahaya permirsa !! karena memang tidak ada tempat berpijak yang nyaman di atas sana, sementara di bawah sana jalan raya dimana mobil dan motor masih berseliweran

Terlihat, diatas sana masih terjadi kesibukan, kawat kawat di potong lagi.

“Gimana pak?” teman saya bertanya lagi

saya cuma tersenyum

“Yang kaya gini bisa 3-4 jam lo pak “ saya lagi-lagi Cuma bisa mengangguk-angguk.

Diatas sana benda putih itu mulai di pindahkan perlahan-lahan melalui tulang-tulang besi, sementara para tukang berpindah dari satu sisi ke sisi lain denegan cekatan tanpa ragu. Satu tangan bertumpu tangan yang lain menggeser perlahan  hasil printer tersebut, sementara dan saya dibawah sini mulai menggigil : bukan badan, tapi kaki. membayangkan kalau saya yang berada di atas sana.

**

Gerimis turun menyibak kabut, jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, dan pekerjaan diatas sana masih belum selesai.

Ternyata 3 atau 4 jam yang diceritakan teman saya tadi bukan isapan jempol belaka. Saya mengeluarkan rokok dari saku, saya berharap dapat sedikit mengurangi dingin.  Ah, sial, tinggal dua batang terakhir. setanlah, saya mengambil satu dan menyulutnya, dan kembali memperhatikan para tukang diatas sana.

“Berani ke atas ga pak?” tanya teman saya

Saya tersenyum, mahluk ini memang suka sekali mendadak menannyakan hal-hal sejenis ini.  saya  yang menderita semuaphobia– ketakutan akan semua hal, Cuma menggeleng pelan dan kami berdua kembali diam menyaksikan para tukang yang sepertinya sedikit kesusahan di atas sana.

**

Hampir tiga jam berlalu, dan gambar gubernur dan seorang lagi yang menurut kawan saya ini adalah seniornya di organisasi itupun akhirnya mulai tertutupi dengan spanduk COMING SOON acara teman saya ini.

Teman saya berlari ke pembatas jalan dan mulai berteriak,

“Kurang ke bawah kang”

“Siap bos, ini juga belum kelar kok” terdengar balasan dari atas sana.

Saya tersenyum, walau baru beberapa kali berinteraksi dengan kawan saya ini, saya tau, dia jenis manusia yang perfeksionist.  sebuah sifat yang sangat bertolak belakang dengan saya yang suka ngasal ini.

Tukang-tukang bekerja lagi, menggeser sedikit demi sedikit. Teman saya masih berada di pembatas dua ruas jalan tersebut. Memberi komando.

Beberapa saat kemudian, billboard teman saya ini pun sudah terlihat bentuknya, udah bisa terbaca.

“Kang, bisa turun satu ga? ada yang mau saya omongin”

Teman saya kembali bersuara. dan akhirnya  salah satu dari tukang diatas sana turun, dan teman saya mengambil kertas dan mencoret coret instruksi disana. Ternyata ada kesalahan yang memang cukup signifikan, teman saya ini terlihat cukup kecewa, bukan cuma kepada pihak percetakan, tapi juga kepada dirinya sendiri kenapa dia tidak mencek lagi setelah dikirim tadi.

ternyata, teman saya ini bukan the perfect perfectionist

“Saya udah dua hari ga tidur pak” ceritanya setelah tukang tadi naik lagi untuk menjalankan instruksi dari teman saya ini.

“Istirahat atuh pak” balas saya

tak lama dia pun masuk ke mobilnya dan terkapar disana. Saya masih  diluar, memperhatikan tukang-tukang yang  masih dengan santainya bergelantungan dan menjulurkan badan untuk merapikan billboard tadi. karena rokok tinggal batang terakhir, saya akhirnya saya memilih bernanyi untuk menghangatkan badan.

tepat di depan matamu, ada sungai mengalir…

random banget.

**

“Bangun pak, udah kelar tuh”

Dia pun keluar dan mulai memandang hasil pekerjaan tukang tukang tadi, kemudian berlari jauh ke ujung jalan yang mulai sepi, sebelum kembali ke posisi semula.

“Ok-ok, mantap kang” ujarnya kemudian memberikan kode lewat ibu jari

Tukang tukang mulai turun, dan teman saya  menemui mereka, sementara sekarang giliran saya menuju ke tengah jalan  mencoba mengaumi billboard  acara teman saya ini. Bukan designnya, kalau soal design, saya yang awam ini berpendapat sudah oke, masih belum terlalu istimewa,karena buat sebuah cara bertajuk creative, design ini masih kurang warna, entahlah, mungkin teman saya ini mempertimbangkan sisi seminar professionalnya. Yah, saya lebih kagum dengan proses pemasangan tadi, yang ternyata baru saya sadari: sama sekali ga gampang..

 **

“Thank you pak,  udah nemenin” ujarnya ketika saya turun di gang menuju kostan setelah dia menolak untuk mampir lebih dahulu

“Saya yang makasih pak, udah diajak, my first time”  balas saya

“Mari sama-sama belajar pak,” ujarnya menutup pembicaran dan mobilnya pun berlalu dari hadapan saya.

yah, kalau kita tidak terlalu peka dengan kiri kanan, mungkin begitu banyak hal mengagumkan yang kita lewatkan. misalnya, ketika  saya dan seorang teman pernah bingung kenapa Dago plaza tiba-tiba hilang dari pandangan, atau seperti cerita tadi :  ternyata  di hampir seperempat  abad yang saya habiskan buat hidup, baru kali ini saya  melihat proses langsung pemasangan billboard yang entah berapa puluh kali saya lihat dan saya lewati. Seperti pesan teman saya tadi, saya memang masih butuh banyak belajar.

where have u been ray?

Advertisements

3 thoughts on “CUMA CERITA PEMASANGAN SEBUAH BILLBOARD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s