HIBISCUS : sebuah curhatan pembaca

 

hibiscus

 

Jujur, saya tidak tau apa arti kata HIBISCUS, tapi ketika saya membaca itu dalam sebuah kicauan @plotpoint di twitter, saya langsung tertarik, apalagi ketika kalimat berikutnya adalah:

“kali ini bukan Bagas pemandu wisata yang bergerak, tapi detektif Bagaskara “

kata kata berikutnya saya lupa, dan kemudian  ditutup dengan kombinasi 3 kata keren  : samaran, misteri dan balas dendam”

Oke, saya langsung jatuh cinta pada kicauan pertama, HIBISCUS : ini jelas jenis buku yang harus dibaca

**

Saya jenis orang yang masih suka menikmati karya lokal,terutama buku dan film, bukan bermaksud sombong, saya cuma sedikit pamer nasionalisme.  Apalagi kalau dibandingkan beberapa orang teman yang memang antipati terhadap karya lokal, apapun filmnya kalau itu Indonesia, dia tidak akan menontonnya, apapun bukunya, selama masih pengarang Indonesia itu tidak ada apa-apanya.  Sementara saya, masih memberi kesempatan kepada beberapa karya yang ‘berbeda’. Berbeda disini bukan berarti  karya yang berat dan melegenda semacam karya-karya eyang Pram atau film lawas  ‘Lewat Djam Malam’, saya tidak sekeren itu. Saya cuma orang yang  percaya, masih ada beberapa tulisan dan film yang paling tidak,,pantas untuk  dicoba dulu, sebelum kita meletakkan kebali ke tempatnya..

Seorang teman juga pernah berkata, saya seorang penjudi dalam membeli buku.  Statement tersebut tidak  sepenuhnya salah, karena memang kadang saya membeli buku-buku yang kredibilitasnya belum jelas dimata public ( kalimat saya lumayan keren kan?). Saya memutuskan membelinya  cuma karena sinopsisnya berhasil menggoda saya, dan karena..saya suka genrenya yang beda.

Action/Misteri/Thriller/Fantasy adalah genre yang menurut saya masih jarang di hasilkan oleh penulis-penulis dalam negeri, dan beberapa yang muncul, kadang tidak ( baca : belum ) mendapat respon positif dari pembaca, ada yang memang karena belum terlalu istimewa , tapi ada juga beberapa karya yang keren ( peling tidak menurut saya pribadi)  yang mungkin luput dari mata para pembaca.

‘Giganto’, dan ‘Kemamang’, adalah dua dari sekian contoh yang bisa saya sebutkan sebagai buku yang luput dari perhatian, walau isinya cukup menjanjikan : science fiction tentang mahluk legenda hutan Kalimantan,  dan satunya  mahluk hasil eksperiment  luar angkasa. Sayangnya,  novel karangan mas Koen Setyawan  ini  tidak begitu berbekas dimata public. Kasus yang lain, ‘Negeri Di Ujung Tanduk’, ‘Negeri Para Bedebah’, dan ‘Sang Penandai’, 3 buku dari Tere Liye yang bisa tergolong action ini, seperti ‘tidak dianggap menjadi’ karya beliau. padahal buku yang lain sepengetahuan saya menjadi best seller,  apa yang salah dengan genre action dan fantasy ini ? padahal buku ini…ya, saya cuma memilih untuk membaca 3 buku ini dari banyaknya tulisan beliau.

oke, kembali ke jalan yang benar, bagaimana dengan HIBISCUS  sendiri?

**

Saya bukan penulis handal. saya Cuma seorang pemuda yang bermimpi menjadi seorang penulis, yang sampai sekarang belum jelas nasib tulisannya bakal terbit atau tidak . saya juga bukan detektif genius , saya cuma pengagum detektif Conan dan Sherlock holmes yang masih sering kalah ketika bermain board game berjudul clue ( yang mungkin akan saya ceritakan di kesempatan berikutnya ).  jadi apapun yang saya tuliskan setelah ini, jelas sesuatu yang subjektif, mungkin mengada-ngada, dan sedikit hiperbola.

Hibiscus menceritakan tentang Bagaskara, seorang detektif yang menyamar menjadi seorang guide bernama Bagas . Mahluk ini  sebenarnya punya misi lain di bali oleh atasan yang masih misteri sampai di akhir buku, tapi ketika Pierre,  seorang turis prancis  dibawah tanggung jawabnya, ditemukan mati dibunuh di hotelnya, maka.. Bagas pun turun tangan untuk menguak tabir pembuhuan ini.

Seperti yang sudah saya singgung diatas, saya selalu kagum atas  penulis yang mengambil genre-non motivasi ini. terutama cerita detektif, karena jelas, genre ini tidak mudah, semua musti dipertimbangkan, dan detail musti jelas agar si pembaca larut dan merasa hadir dalam sketsa-sketsa pembunuhan tersebut, dan nantinya akan ikut serta bersama sang detektif untuk mencari kebenaran. dan sayangnya, saya belum merasakan keajaiban ini di Hibiscus.

mungkin saya saja, tetapi buat saya dunia Hibiscus cuma dunia yang terlihat jelas dimata dan cuma dinikmati  si pengarang, tapi belum membawa pembaca ( baca; saya) kedalamnya, bisa jadi karena saya yang belum pernah ke Bali ( dan belum pernah ginap di hotel ), atau bisa juga karena penggambarannya terlalu sederhana, atau sebaliknya, terlalu ribet ( buat saya ). Apapun itu,  maafkan keterbatasan otak saya wahai mbak Agnes Arina. .

je suis desole

Bahasa prancis, adalah bahasa yang sangat banyak ditemukan di  novel ini, bukan, bukan  karena penulisnya lulusan bahasa prancis, tapi dan sepertinya hampir semua tamu yang muncul semuanya berbahasa prancis dan guide yang hadir pun semuanya gape bahasa prancis. Saya tidak tau bagaimana seharusnya, tapi mungkin sebaiknya pendidikan bahasa prancis ini sedikit diminimalisir, karena akan sedikit menggannggu buat pembaca yang matanya harus bolak balik atas bawah untuk melihat terjemahan percakapan bule-bule berbahasa prancis ini. Apalagi pembaca yang mau menjadi Watson atau Hastingnya sang detektif :  ketika tiba-tiba sudah ada lampu yang bersinar di otak kemudian muncul sebuah kalimat bahasa prancis .. hipotesa tadi mendadak hilang dan digantikan.. mal de tete.  yah, menurut analisa saya hal ini juga bercampur dengan rasa sesal saya yang memutuskan untuk bolos pada mata kuliah bahasa prancis 1, dan dilanjutkan  sama sekali tidak mengambil bahasa prancis 2,  di mata kuliah yang ditawarkan sewaktu DI bangku universitas dahulu.

Selanjutnya, dari pengalaman saya melahap novel-novel detektif ( sombong!), selalu ada satu atau dua karakter, baik dari para tersangka, atau paling tidak…sang detektif sendiri, yang berhasil menarik kita bersimpati atau mungkin berempati kepada dirinya,memihak sang tokoh tersebut. Kalau itu si detektif kita akan langsung berdoa agar si detektif diberi pentunjuk dan jalan yang benar dalam memecahkan kasus, sementara kalau itu salah satu, atau salah dua dari tersangka, kita langsung berharap dan mencari celah, semoga pelakunya bukan dia!! atau agar si pengarang cukup cerdas untuk membelokkan ke orang lain, walau kita sudah sedikit yakin tokoh kita ini tersangka utama! sebabnya sih bisa macam-macam : dari yang paling biasa,   karena dia cantik atau tampan, sampai ke hal hal yang lebih ideologis, seperti ternyata seiring berjalannya cerita si tokoh ini melakukan kejahatan  demi keseimbangan dunia  dan blablabla.. atau simple karena salah stau tokoh mirip dengan kita. dan lagi, sayangnya saya belum menemukan hal ini di hibiscus, tidaka ada keterkaitan emosional ( bahasa lu  ray!! sombong !!!) antara saya dan salah satu tokoh, termasuk Bagas sang detektif sendiri, gagal membuat saya jatuh hati kepadanya, walau dia sudah sering berkacamata hitam, dan konon dalam wujud detektifnya ia memakai jas panjang yang berfungsi sebagai gudang senjata.

long story short, sebenarnya terlalu aneh kalau ini dianggap sebuah review, mungkin ini lebih tepatnya sebuah cerita dari  seorang anak muda yang gagal dalam menikmati buku ini : gagal  mengikuti perjalanan si detektif dalam membuka tabir kejahatanan, gagal dalam jatuh cinta kepada tokoh-tokoh wanita yang ada , termasuk  partner detektif yang muncul di tengah jalan, gagal dalam membayangkan bagaimana lika liku hotel dan café di bali, dan gagal menikati orgasme ketika pelaku tertangkap!!  dan tentunya, gagal   membalas jerih payah   mademoiselle Agnes Arina yang sudah berusaha memberikan yang terbaik dalam novel 232 halaman ini.  Gagal memenuhi sesumbar diri pribadi kepada seorang teman bahwa saya bisa membuat “review” buku ini  besok paginya, ketika buku ini dia belikan untuk saya  sebagai rencana pengganti nonton  film ‘Adriana’  yang sudah tidak ada si Bandung, lebih kurang, 5 hari yang lalu. Terakhir, saya gagal menemukan filosofi judul novel sekaligus nama bunga  yang cuma muncul di awal dan diakhir cerita…  HIBISCUS.

NB : FYI,beberapa kata bahasa prancis di tulisan ini saya terjemahkan memakai google translater

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s