The Man From Earth

Akhirnya , misi ke-manusia-an ku untuk hari ini  berakhir, yang berarti  aku  sudah bisa memenuhi janjiku    dengan Athena, wanita planet yang sudah membocorkan wujud aslinya padaku: seekor rubah betina. Beberapa menit lagi jam 5, sementara aku masih jauh dari titik pertemuan kami. kendaraan manusia yang kutumpangi ini terjebak macet

“Filmnya sudah dimulai?” aku mengirimkan pesan pendek kepadanya, yup, kalian benar, aku belum memiliki izin untuk bertelepati dengannya

“Baru aja kelar, tapi aku masih disana kok, kesini aja”

Aku heran, karena di pesan pendek yang kuterima tadi pagi, pemutaran film itu dimulai jam 5, dan setelah itu aku baru bisa “jalan” dengan Athena. Tak lama, aku sampai di tujuan, sebuah museum tua yang cukup terkenal di kota ini .

“The People VS George Lucas ” aku membaca baliho yang di pajang di depan museum tersebut. Aku tidak tau film ini seperti apa, dan sama sekali belum pernah baca reviewnya, malah ini kali pertama aku tau film ini ada, tapi aku merasa menyesal melewatkannya karena nama George Lucas sudah jaminan film ini keren, apalagi dengan kehadiran Athena disana.

Dia mendatangiku dengan wujud manusianya : rambut panjangnya di kuncir , kacamata mInus bertengger di hidung kecilnya. kemeja kotak-kotak favoritnya ditutup dengan cardigan hitam , dan tentunya sneakers butut, yang membuat dia lagi lagi gagal terlihat tidak keren dimataku.

“Yah,  udah kelar” ucapnya pendek.

“Tega” aku menatapnya “Kamu bilang jam 5 filmnya baru dimulai”

Dia balik menatapku “Cek lagi deh, aku bilang jam 5 pemutaran filmnya kelar, habis itu kita bisa jalan”

Aku pun mengeluarkan handpone bodoh ku, mengeceknya sebentar kemudian tertawa  “My bad, sorry, aku yang salah baca” Athena Cuma menggeleng heran.

“jadi, habis ini  mau kemana? ” Lanjutku

“itu, cuma mau diskusi ama anak-anka sambil nunggu kopi, kamu gabung aja”

Tentu saja, anak-anak yang dimaksud  adalah untuk kaumnya Athena, para mahluk planet yang memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata manusia biasa. dan para ‘anak-anak’  sekarang terlihat sedang duduk melingkar di sebuah piring terbang kecil yang berada di dekat museum tersebut. yah, aku bisa melihatnya, itu piring terbang, walau dimata manusia, mungkin itu cuma sebuah meja kayu biasa

**

“Udah, gabung aja, pada asik-asik kok” akhirnya aku mengikuti langkah Athena sambil berjalan mendahuluiku menuju piring terbang tersebut,setelah sebelumnya aku memilih untuk menunggunya di tempat lain sahaja.

“Ini Rama, teman gw” kata Athena kepada orang-orang di dalamnya “ Tadi dia mau nonton juga, tapi salah jam, dia pikir jam 5 baru dimulai”

Aku pun menyalami satu persatu-persatu, maaf, aku tidak akan menyebutkan nama asli mereka, karena ini menyangkut keamanan mereka di planet ini. belakangan para anggota B.I.M.A  (Badan Intelegensi Mahluk Asing ) bergerak lebih tangkas dari biasanya, jadi aku akan memberikan mereka nama baru sesuai apa yang aku lihat, dengar dan rasakan. Pertama ada kuuga, mahluk tinggi besar, bahkan melebihiku. Kamen rider kuuga adalah kamen rider favoritnya dan menurutnya episode terakhir kuuga adalah episode terbaik sepanjang KR heisei. Selanjutnya ada Raitou, sineas pendiam yang sedang belajar cinta, cowo kalem ini menurutku mirip dengan karakter utama dari manga Death Note ini. Sementara, di urutan ketiga ada Panji, mahluk kecil yang juga paling muda disana, penyuka pandhi pragiwaksono, dan sama dengan idolanya ini,  Pandji ini pintar dan jenaka, meminjam kata Athena, dia sudah dewasa melebihi usianya. Menurut pengakuannya, suatu ketika dia pernah ditanya seorang teman, kenapa lebih suka hangout dengan kuuga dan kawan-kawan yang jauh melebihi usianya  nyambung-jawabnya  simple. Selanjutnya ada Ronald, karena mahluk ini perawakannya mirip Ronald teman kampusku. Yang kelima ada Smoker, karena dia satu-satunya penghuni pesawat yang merokok selain aku. terakhir ada Bang Nabi, karena dialah pemimpin kumpulan mahluk planet ini, dan dia punya banyak kisah yang bis di jadikan pelajaran dan di teladani,

Walau aku tau nama asli mereka, tapi aku belum melihat sosok asli mereka, karena ini adalah first contact. Athena saja butuh beberapa waktu sampai aku mengethui wujud aslinya, itu juga langsung tidak langsung karena dia juga berniat menunjukkannya padaku. Tapi satu hal yang  pasti, wujud mereka tidak melulu seperti yang terlihat di LAYAR kaca KITA. Pandji misalnya, dia mungkin bertubuh kecil. tapi aku percaya dia tidak berwarna hijau.

Satu hal tentang manusia planet yang perlu aku ingatkan sekali lagi, walaupun mereka terlhat seperti manusia kebanyakan. mereka adalah mahluk-mahluk berintelensia tinggi, begitu juga mahluk-mahluk yang ada didepanku saat ini. Semua percakapan adalah diskusi yang harus di dengarkan dengan seksama, sambil sesekali mengecek kasmus istilah . dimulai dari  hal standar berupa kekecewaan beberapa dari mereka akan sebuah majalan manusia yang memilih transformers 4: age of extinction  sebagai poster, yang menurut mereka adalah sebuah bloopers,  pembicaraan pun mengalir ke topic yang lebih ‘berat’: tentang manusia, misalnya : tentang kecendrungan manusia untuk mengeneralisir dan melahirkan stereotype, atau seperti pertanyaan Rhonald kepada Athena : bagaimana pandangan Athena terhadap kaum adam yang sama seklai tidak memakai topengnya ketika berinteraksi dengan kaum hawa,dan hal-hal lain semacam itu. Mahluk mahluk ini pun saling beradu argument, sementara aku Cuma bisa diam dan sesekali tertawa mendengar cerita Bang Nabi atau kegiatan saling mencela diantara mereka, sampai pada suatu titik, smoker bertanya,

“ kamu paling suka film apa ram?”

aku diam sejenak, begitu banyak film yang aku suka, dan aku tidak bisa memilih salah satu. tapi akhirnya aku berhasil memberikan sebuah  judul film yang direkomendasikan qudilovsky, seorang manusia bumi teman baikku. film ini bukan film yang aku paling suka, tapi mungkin ini yang paling berkesan sejauh ini, film  low budget  yang cuma punya satu settingan , namun bisa mengguncang iman lewat dialog dialog yang sebaiknya tidak dilewatkan : The Man From Earth.  

“Gw emang suka film yang bawel, banyak dialog , tapi ga kebuang sia-sia”

lanjutku sok member penjelasan ketika mereka menanyakan kenapa aku suka film tersebut. selanjutnya aku pun cuma kembali bisa diam ketika Kuuga dan Smoker memberikan daftar film-film yang sejenis, aku kemudian menggeleng dan menganggul-angguk.

Selanjutnya diskusi kembali bergulir dalam kelompok-kelompok kecil : Smoker, Ronald, Raitou dan Athena sibuk dengan dunia postmodernnya. Pandji dan bang nabi sibuk dengan Queen dan Pink Flloyd. sementara aku sedang mendengarkan kritik Kuuga terhadap serial dan movie tokusatsu. Kuuga yang kebetulan juga menjadi admin di sebuah forum tokusastsu ini akhirnya merumuskan kuliahnya malam itu :

“Lo pernah nonton fight club ram ?” ge mengangguk  “nah. do aturan di tokusastsu juga hampir sama :

aturan satu, there is no logic in tokusatsu, dua, don’t talk about  logic in tokusatsu

Aku lagi-lagi Cuma bisa menganguk-angguk dan tertawa.

**

Bang nabi sepertinya harus menjalankan kewajiban manusiawinya. Beliau pun akhirnya pamit dan membubarkan diskusi ini dengan informal. sebelum pulang, sekali lagi beliau mengundang saya untuk datang di ritual kelompok ini: bulutangkis. Cerdas, ini Indonesia, kalo seandainya piring terbang ini mendarat di Brazil. mungkin ritual kelompok ini adalah sepakbola. Aku cuma menanggapi ajakan ini dengan tersnyum. karena aku adalah kartu mati dalam olahraga. walau tadi bang nabi sudah menjelaskan kalau yang terpenting bukan olahraganya, tapi wahana meluapkan amarah dan ajang saling menghina, dan untuk kesekian kalinya, aku tertawa.

bubarnya bang Nabi, membuat mahluk mahluk cerdas didepaku ini bermaksud ikut membubarkan diri, Tapi sebelum benar-benar bubar mereka bermaksud mengisi kekosongan perut dulu di sebuah tempat makan manusia biasa.sepertinya mereka tidak ingin terlihat mencolok. salut.  Athena naik speedster Smoker  yang dimata manusia telrihat sebagai motor biasa, sementara Ronald dengan panji. Sisanya yaitu saya, Kuuga dan raitou pun berjalan menyusuri malam.  Malam? benar, satu hal lagi yang perlu dikeyahui tentang piring terbang, aliran waktunya berbeda dengan diluar sana, sehingga kita tidak akan menyadari perubahan-perubahan di sekeliling kita.

**

Aku dan mereka sudah berpisah beberapa jam yang lalu, aku malah sudah sempat singgah ke warnet untuk memberI laporan singkat kepada atasanku tentang apa yang aku temukan hari ini.  Warnet? iya, menurut atasanku ini adalah cara yang paling aman, karena di zaman gadget personal dan  instan seperti sekarang ini mungkin sangat sedikit orang yang percaya kalau aku akan bersusah-sudah mengirimkan laporan ini melalui sebuah computer tua di warnet.

Beberapa ratus meter lagi aku akan sampai ke kamar kostan, saat aku teringat bahwa aku sudah melupakan sesuatu yang amat penting : kacamata. Aku menarik nafas panjang, mau tidak mau akuharus kembali ke warnet tadi. Buat manusia biasa, kacamata mungkin hal biasa, atau mungkin ada yang memilih menjemputnya besok saja. Tapi buat aku, juga seperti pendahuluku, Kal El, kacamata amatlah penting, karena tanpa benda ini ,penyamaran kami akan terbuka, dan itu amat berbahaya, karena kami bukan.. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s