YANG TIDAK SEMPAT

Dulu, di awal kuliah, saya pernah berkeinginan bergabung dengan sebuah UKM jurnalisme di kampus saya,namun entah kenapa, entah bagaimana, saya akhirnya gagal bergabung dengan UKM tersebut.bagaimana mungkin berhasil?  mendaftar pun saya  tidak..

 Beberapa tahun kemudian, ketika saya sudah menyandang gelar senior, seorang junior saya  yang ketika itu kebetulan menjadi redaksi koran yang dihasilkan UKM tersebut meminta saya untuk  menyumbangkan sebuah tulisan saya, karena menurut kepercayaan yang dia anut saya termasuk jenis orang yang  BISA nulis. Awalnya, saya menolak, karena menurut saya, tulisan saya sama sekali belum ( baca : tidak) pantas ikut serta dalam Koran yang isinya bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah tersebut, sementara tulisan saya cuma berdasar dari curhat dan perasaan galau belaka. tapi sebagai senior yang baik dan tidak sombong, akhirnya, saya menyanggupi untuk mengisi sebuah kolom.      

**

Tadi malam, beberapa tahun kemudian dari paragraph diatas..

iseng-iseng saya membuka koleksi tulisan di netbook, saya menemukan  tulisan yang saya ceritakan di atas tadi, dan kalau pembaca tidak berkeberatan saya akan mencoba membaginya disini

selamat membaca..

 

Cuma Masalah (Kamar) Kecil

Saya pasti bukan orang yang pertama yang menulis tentang hal ini, karena saya yakin kawan-kawan sama gelisahnya dengan saya tentang hal kecil ini , tetapi saya juga yakin kalau tulisan semacam ini akan terhimpit dan sedikit terlupakan di kepala kita, di antara seantero kritik lain yang lebih mendunia, yang lebih penting! Jadi saya Cuma mencoba mengingatkan lagi tentang hal ini, lewat  kolom kecil bernama opini ini, karena saya sama sekali tidak tau nama ahli siapa  dan ilmuwan yg mana yang harus saya catut untuk membuat masalah kamar kecil ini menjadi terlihat besar dan megah. 

Kampus kita, yang menurut kepercayaan yang beredar merupakan salah satu kampus termegah di  Indonesia, malah menurut beberapa mitos, juga salah satu kampus termegah di Asia Tenggara, jika kita sudi mampir sejenak ke bagian belakang beberapa  bangunan dan gedungnya, ternyata tidaklah semegah yang kita bayangkan. Lupakan dulu  toilet yang bisa menyiram sendiri lewat sensor gerak atau suara, lupakan  kamar kecil yang diIsi music nan syahdu nan mengalun dan harumnya pewangi ruangan yang menemani kita menghabiskan panggilan alam- karena saya  yakin, kita juga tidak menuntut hal hal demikian, yang kita minta ( baca: tuntut) Cuma sebuah ruangan kecil dengan sumber air cukup, privacy terjaga, dan bersih,dan kalau bisa mungkin sedikit wangi, itu saja.

 Saya  yang menghabiskan hampir seluruh masa kuliah saya di sebuah gedung kuliah, sebuat saja gedung F, tentunya bukan tanpa alasan untuk mengatakan kalau fasilitas toilet di gedung tersebut sama sekali tidak bisa menimbulkan kenyamanan dan keamanan. Di salah satu pojok gedung tersebut, terdapat sebuah ruangan yang digenangi air, dengan beberapa kran yang tidak menyala namun dilengkapi air berwarna kekuningan yang kadang saya heran entah datang dari mana. Masih di ruangan tersebut pula, terdapat dua kamar yang keadaanya cukup menggenaskan, pintu yang sudah tidak berada di tempatnya dan lubang toilet yang kadang menolak kedatangan air penyiram. Pintu yang saya ceritakan keadaanya tadi sebenarnya masih bisa difungsikan sebagai penjaga kerahasiaan dengan cara diganjal dengan sesuatu yang berat ,seandainya kaca anti peluru ( tapi tidak anti batu)  yang ada di pintu tersebut masih berada di tempatnya. Bayangkan, ketika kawan-kawan sedang sibuk didalam ruangan tersebut, tiba-tiba ada kepala yang secara tidak sengaja hadir dan menonton  tindak tanduk kawan-kawan. Mengerikan, apalagi kalau kepala tersebut tidak dilengkapi badan. Itu jauh lebih  mengerikan.

Bagaimana dengan gedung yang lain ? di beberapa kali kesempatan saya coba berkunjung ke gedung kuliah lain, dan maaf, kita belum beruntung, karena keadaan toilet di gedung kuliah yang lain pun demikian, beda tipis. Sebelum jauh dan muncul kesalah pahaman, saya cuma mau mengingatkan kalau ‘studi’ saya masih berada dalam batas kamar kecil pria, bukan wanita. Kalau bicara  masalah kebersihan, saya yakin kaum hawa lebih bisa menjaga kebersihan dibanding kaum adam , tapi bagaimana dengan keamanan, kenyamanan dan ketersediaan air?  Gedung kuliah baru mungkin bisa menjadi pengecualian atas kritik tak jelas ini , tapi mari kita lihat beberapa bulan kedepan, masihkah ?

Bangunan lain yang mungkin bisa dijadikan solusi untuk panggilan alam nan nyaman nan syahdu mungkin adalah toilet disekitar tempat ibadah utama dikampus ini. Dari pengalaman saya, toilet tempat ibadah lebih terjaga kenyamanannya dibanding toilet digedung kuliah dan tempat-tempat lainnya (Gedung rektorat tentu pengecualian ), mungkin  kebersihan sebagian dari iman lah yang menyebabkan munculnya kenyamanan ini , tapi apa lantas,kita harus menghabiskan sekian belas menit dulu untuk menuju tempat ibadah tersebut ?   dan saya pikir lucu saja, kalau ternyata nantinya kita, mahasiswa mencari tempat ibadah Cuma untuk menuntaskan hajat, kemudian menghilang, bahkan tanpa bersedekah  satu sen pun ke kotak amal.

Lantas siapa yang harus disalahkan dalam masalah ini ? mahasiswa, pejabat kampus, atau petugas kebersihan kah ? atau mungkin tuhan yang sudah menciptakan sistem ekresi di tubuh kita? Karena kalau seandainya semua yg kita makan menguap begitu saja tentu opini bodoh ini tidak akan pernah muncul kepermukaan.  Seperti yang tercantum dalam buku kewarganegaraan sewaktu kita masih duduk di bangku sekolah dulu, kalau ini sebenarnya merupakan tanggung jawab kita bersama. Pejabat kampus sebagai pihak legislatif, tentunya harus benar-benar mencurahkan dana untuk fasilitas ini, karena saya yakin, walau tak terlihat, dana itu pasti ada. Selanjutnya, petugas kebersihan, sebagai badan yudikatif , sebagai pengawas dan penjaga fasilitas tersebut  sudah seharusnya memperhatikan apa –apa yang dibutuhkan dan perlu diperbaiki, kunci pintu yang sudah macet atau sudah diganti dengan paku dan tali, ember bocor yang bahkan jumlahnya saja tidak mencukupi masing masing kamar, atau beberapa hal kecil lain yang sebenarnya menganggu kenyamanan dalam beraktivitas di ruangan tersebut. Terakhir, kita , mahasiswa, sebagai eksekutif atau pelaksana , tentunya juga harus bijaksana  dalam berkegiatan di ruangan tersebut, terutama kita, para pria, mungkin sudah saatnya kita lebih peduli akan ruang kecil ini.karena percayalah, jauh dalam hati kita, kita tidak ingin menghabiskan minyak motor cuma untuk mendapatkan kenayaman tersebut di toilet rumah atau kost-kostan kita, atau buat  para wanita,  tentunya kita tidak ingin sepatu baru kita  digenangi air, atau wewangian tidak jelas menghiasi hidung kita saat merapikan lipstick atau saat membuka lembar-lembar kecil dari saku kita kala ujian. Itu mengganggu konsentrasi. Percayalah. simple, ikuti saja pesan  stiker yang bisa dibaca dimana-mana : jagalah kebersihan dan cerminkan karakter seorang terpelajar.

Penutup, Kenapa harus concern ke masalah ini ? masih banyak masalah bangsa yg lain yg harus kita luruskan ! kita adalah agen perubahan, buat apa memikirkan hal seperti ini ! bairkan saja kotor, toh itu kan memang tempat kotor !

Percayalah kawan-kawan, ini  hal yg penting, karena nantinya  saat kita sudah dewasa, saat kita tidak lagi berteriak di jalan, namun duduk di kursi empuk dan ruangan ber ac, percayalah  kalau kita akan setuju kalau  untuk melakukan hal hal kotor pun, kita harus mengutamakan  kerahasiaaan dan tetunya..kebersihan..

Sekali lagi, Cuma murni opini pribadi, tanpa bukti ilmiah para ahli.

Salam mahasiswa

***

FLASHBACK ke beberapa tahun yang lalu, tahun yang sama dengan  curhatan di paragraph kedua

setelah sesi latihan drama sore itu, Ora, Junior saya tersebut mendatangi saya dan dengan mata ala puss in the boots nya Shrek , Ora meminta maaf karena gagal ‘memperjuangkan’ tulisan saya di rapat redaksi. saya tersenyum, karena buat saya, paling tidak saya sudah mencoba, saya sama sekali tidak kecewa , karena dalam kepercayaan saya, memang masih belum BISA menulis, saya masih  sekedar SUKA..

Terakhir, selamat lah buat para pembaca yang tersesat membaca tulisan ini, SUKA atau tidak, paling tidak para pembaca sudah BISA membacanya…

 

Advertisements

6 thoughts on “YANG TIDAK SEMPAT

  1. Sejujurnya ray… walo blog loe ini kl gw liat jrg yg komen dan entah banyak yg baca ot not, terlepas dari itu. Gw selalu suka baca tulisan loe. Enak dibaca en mengalir. Cocok buat gw yg santay

    1. thx buk, kadang gw juga heran, ini blog kenapa yang komen lo mulu ya ? hahahaha..dan lo tau siapa yang komen paling banyak? pemilik blog ini.. keren ga tuh.

      bunuh aja gw bu peb.bunuh..

      gw lagi ga santay.

      hahahhaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s