MAMATATO

“Es teh manis nya satu ya pak’

Pesanku ketika masuk di warung tenda kecil yang sedang sepi itu, kebetulan cuma ada seorang cowo didalamnya.Sementara  bapak tua pemilik warung  itu mengangguk diikuti sebuah senyuman ramah

“Silahkan duduk den” ujarnya kemudian “ Dipilih aja, itu pada kosong, atau mau duduk nemenin neng ini, kasian dari tadi yang diliat cuma bapak”

Aku kaget, cewe? Aku melihat sekilas, berusaha tersenyum seadanya dan  kemudian duduk di  depan cewe yang sepertinya sudah lumayan lama berada disana, terlihat dari es teh manisnya yang tinggal setengah.

“Emang kenapa pak, kalo ngeliatin bapak?” ujarku sok akrab sambil meletakkan ransel di sebelahku.

“Kan kasian si nengnya, ga bisa cuci mata, kalo ada aden kan lumayan seger pandangan si enengnya, biar ga sedih terus” Jawab si bapak

“Ah, bapak bisa aja” ujarku serempak dengan cewe di depanku.

“Wah, kompakan” kata si bapak “ jangan-jangan jodoh” tambah  si bapak sambil mengaduk air di gelas.

Aku mengeleng,, lucu juga, ini yang aku suka dari warung warung tenda kecil seperti ini, komunikasi yang terbentuk dari penjual dan pembeli, padahal , ini pertama kali  aku singgah disini, kebetulan ada ‘klient’ di daerah dekat sini. Aku mencuri pandang kepada cewe didepanku : dia sedang tersenyum ! dan ketika itulah barulah aku seratus persen percaaya kalau  dia  memang seorang cewe. Yah, sebenarnya ga sepenuhnya salah aku juga :  rambut yang dipotong penek, kemeja lengan panjang ala cowo, dan tattoo yang memenuhi lengan, membuatku merasa wajar berpikir demikian.

“Sorry” ujarku spontan

“Santai, udah biasa kok” ujarnya seperti membaca pikiranku

“Ini den teh es nya “  si bapak meletakkan minuman pesananku tersebut yang langsung ku minum tanpa sedotan. Lagi-lagi, bukan sepenuhnya salahku, Kota ini tidak sedingin dulu lagi. Setelah menghabiskan hampir separo pesananku dalam hitungan detik,aku mengeluarkan rokok dari kantong kemejaku “rokok?” tawarku kepada mahluk didepanku.

Dia menggeleng.

Aku mengangguk, kemudian mmeutar-mutar rokok di jariku.

“Heran?” lagi lagi dia membaca pikiranku

“Ga , gw ga heran” ujarku mencoba tetap tenang “ Gw rama” ujarku mengulurkan tangan.

Joke garing itu ternyata masih bekerja, dia tersenyum “ Yana” dia menyambut uluran tanganku kemudian menghabiskan  sisa es nya lewat sedotan “Udah, akui saja, lo pasti heran kenapa cewe tattoan kaya gw ga ngerokok “ Lanjutnya kemudian.

Aku menatap matanya.

“Ok, anggap gw heran, tapi ga ada pengaruhnya juga kan, toh lo juga ga mau jawab kenapa?”

Dia mengaduk ngaduk gelas didepannya “Gw tanya balik deh, apa cewe tatoan musti ngerokok, musti ngebir?”

Aku menggeleng. Dia tersenyum. jujur, tiba-tiba aku merasa tidak enak.

“Lagi nunggu cowo lo ya?”  kali ini aku mencoba mengalihkan topic.

Dia menggeleng.

Anjing, pikirku dalam hati, aku berbuat bego lagi,sebuah pikiran terlintas di benakku,  gimana kalau dia ini… lesbian? Harusnya aku melihat potongannya yang kaya butchi. Hm,walau  sebenarnya ga semua butchi sih yang ‘berdandan’ seperti ini,  tapi  dari pergaulanku dengan teman-temanku yang lesbian, kebanyakan mereka memang berperawakan mirip cewe di depanku ini. Ah,  kenapa aku harus mengeluarkan pertanyaan tadi juga, bego lo ram..bego..

Mata cewe didepanku semakin menyipit “Lo kenapa?”

“Ga… ga apa-apa.” Aku menghela nafas “Jadi lo ga nunggu siapa-siapa?”

“Gw nunggu anak gw” jawabnya cepat

Bangsat, mati lo ram…

Aku menyeruput minumanku yg padahal udah abis, dia menyorongkan gelasnya yang masih bersisa

Aku menggeleng.

“Serius?”

Dia tertawa “Muka lo gitu banget, becanda, gw single lagi “

Giliran aku  yang tertawa

“Single parent…. laki gw ngilang entah kemana” lanjutnya kemudian.menerawang.

Si bapak yang sepertinya sedang mengisi TTS tiba tiba menoleh kearah kami dan ikut nimbrung  “ iya den, kasian si eneng ini. padahal anak si eneng ini lucu lo den,namanya kaka” si bapak menghisap kretek di tangannya  “ bapak jadi ingat cucu bapak di kampung”

Aku dan yana tersenyum mendengar penuturan polos si bapak “namanya Adit, Kaka itu panggilan  sayang gw ke dia aja “

Aku masih diam dan menatap cewe didepanku, masih menunggu kejutan berikutnya

“Apa? “ tanyanya  kemudian “Lo ga yakin ya?”

“Umur berapa? “ selidik ku kemudian

“ udah SD kok”  ini yang aku maksud dengan kejutan lain.

Tanpa menunggu pertanyaan dari mulut ku dia melanjutkan “ gw merit di umur 19, long story, ”Tutupnya kemudian

“Sorry, emang sekarang umur lo berapa?”

“ 25”

Aku menggeleng lagi, masih tidak percaya, ternyata kita seumuran. Bedanya, dia udah merit, single parent dan punya anak satu, sudah SD, sementara aku masih single dan kerjaan masih ga jelas.

“Gw masih belum percaya,” ujarku tiba-tiba

“Gini aja,  kalo lo ga sibuk, lo bisa kok nemenin gw ke sekolahnya, tuh di depan, bentar lagi juga pulang..”

“Boleh”  entah apa alasanku menyanggupinya secepat itu. Terhipnotis? Mungkin.

“Berapa pak? Tanyaku mendekat ke si bapak

“Lo tadi makan apa aja? gw traktir deh” tanyaku ke Yana.

“Eh ga usah, gw bayar sendiri aja “

“Tadi dia ngabisin  apa aja pak?” aku pindah bertanya ke si bapak.

“Sama kaya aden, es teh manis aja”

“Jadi berapa pak?

Goceng den” jawab  si bapak. Aku pun membayar diikuti lirikan maut dari Yana.

“Pak , kita jalan dulu ya.”

“Iya neng, salam ya buat  Kaka”

“Yuk pak”ujarku diikuti ucapan terimakasih dari si bapak

**

Aku masih tak percaya ketika seorang anak lelaki datang bersama gurunya ke dekat kami, wajahnya tampan, sepertinya ada darah bule mengalir di tubuhnya, tebakanku didapatnya dari bapaknya, soalnya sang mama yang berdiri disampingku lebih berdarah oriental, itu juga menurutku.  Yana melepaskan gulungan kemejanya, sekarang tatoonya tidak keliatan sama sekali.

“Aditnya udah boleh pulang bu ?”tanya Yana kemudian ketika keduanya mendekat

“Boleh bu, sebenarnya ada ekskul tari, tapi aditnya ga mau “ ujar  guru muda ini tersenyum manis.

Yana tertawa,” Iya bu, katanya dia cuma pengen ikut ekskul angklung.”

Bu guru berjilbab rapi  dan berkacata minus itu tersenyum “Ga apa-apa kok bu,  kami juga tidak memaksa, namanya ekskul ya pilihan” Guru ini berhenti sejenak, menggosok kepala Adit “Ini aja anak-anak udah kasian, jam mainnya jadi berkurang. “

Bu guru itu sepertinya menyadari tatapanku, dia melihatku, aku tersenyum, dia membalasnya. Kalau di sinetron ini pasti sudah diiringi music romantis dari dmassiv atau armada, sayangnya saat itu yg ada cuma suara nyanyian dari gerobak ice cream “Saya tinggal dulu ya  bu, pak” ujarnya kemudian.

Ah sial, harusnya aku mencukur kumis ini tadi pagi.

“Kaka mau langsung pulang?” tanya yana ke anaknya

Kaka mengangguk dan menatapku

“Kenalin, ini om Rama, temennya mama.”

Aku jongkok “Hai ka” sapaku pendek mengacungkan tinjuku, dia membalasnya. setelah itu  itu aku ga tau musti ngapain, aku memang bego jika harus berhadapan dengan mahluk seumuran ini .

“Ma, kaka boleh beli ice cream ga ?” tanyanya ketika gerobak ice cream  masih belum  berhenti bernyanyi. Anak ini bertanya sambil tetap menatapku, mungkin campuran antara antara takut dan penasaran.

“Boleh sayang” jawab Yana sambil mencium pipi anaknya.

Aku bermaksud merogoh sakuku ketika tanganku dipegang yana “Gw cerita ama lo bukan buat dikasihani, gw  masih punya tabungan, gw kerja kok” ujarnya pelan dengan tatapan mata serius.

“sorry “ ujarku pendek , hari ini aku ngerasa bego banget

Yana memberikan selembar lima ribuan kepada adit “Hati –hati ya sayang”

Adit berlari kearah tukang es diiringi teriakan Yana “KAKA.. GA USAH LARI-LARIAN, NTAR JATUH”

Aku duduk di sebuah bangku batu di pinggir lapangan basket, Yana kemudian bergabung di sebelahku.

“Sorry, gw ga ada maksud”

“Udahlah, lupain, salah gw juga, entah kenapa, tadi gw tiba-tiba ngerasa nyaman aja sharing ini ke elo”

Aku  menerawang, di ujung sana aku  melihat Adit sedang menunjuk es di gerobak.

“Kalo boleh tau lo kerja apa?” aku menatap Yana beberapa saat kemudian.

“Gw jualan kaos” dia menghela nafasnya “Masih belum kepikiran buat kerja kantoran, tapi gw ga tau gimana ntar, ” Dia menatap adit di ujung sana  “Kalo gw musti kerja kantoran buat dia , gw pasti lakuin kok, tapi sekarang , segini  aja cukup”

Aku memperbaiki kacamataku yang turun “Salut” ujarku pendek

“Kalo gw di posisi lo, gw ga yakin gw bisa survive” sambungku kemudian.

Aku menatapnya, dia menatap balik “pastilah, gw yakin tiap orang bisa kaya gw, yang dibutuhkan Cuma alasan ”  Dia menatap Adit yang berjalan kearah kami sambil menikmati es krimnya “Buat gw alasan gw ya dia..”

Uajrnya diikuti  senyuman ketika buah hatinya itu mendekati kami.

“Enak?” dia mengangguk “Mama mau?”

“Buat kamu aja”  ujar Yana, lagi-lagi mencium pipi anaknya.

Anjing, aku benci perasaan kaya gini, aku bukan melankolis, tapi aku harus mengakui   aku sangat gampang meneteskan air mata  buat hal-hal kaya gini.

“Ka, kamu musti bangga punya mama kaya gini” entah kenapa tiba-tiba  omongan itu keluar dari mulutku. Kaka cuma menatapku tanpa jawaban.

“Ntar kalo kamu udah gede, kamu pasti ngerti , kamu pasti bangga ka, kamu harus bangga” ulangku kemudian.

“Apaan sih, ga jelas lo Ram” ujar yana kemudian sambil tertawa

“Gw ma kaka mo balik ke kostan, lo mau kemana habis ini ?”

“Lo mama yang keren na, serius, gw bener-bener salut”  aku mencoba menahan airmataku.

Yana tertawa,dia menaikkan gulungan lengan kirinya dan memperlihatkan tatttonya di bagian dalam : I’M A GREAT MOM , perlahan  aku bisa membacanya.sekarang dia menggulung lengan baju yang satunya “ lo sekarang bisa baca yang ini kan ?” tanyanya,aku tersenyum dan menatap Adit yang sekarang sedang dirangkulnya dengan kedua lengan tersebut.

“Gw balik dulu ya ram “ dia mencium  kepala anaknya “Makasih dah nemenin gw”

Aku mengangguk.

“Yuk ka, pamit sama om”

“Adit pulang dulu om”

Aku tersenyum “jangan om, abang aja “ ujarku kemudian.

“Bego, dasar ga jelas” ujarnya kemudian sambil tertawa. Dia merangkul anaknya kemudian berlalu dari hadapanku.

Aku duduk, tertawa, mataku berkaca-kaca. aku mengambil handpone dari saku, kemudian menghubungi  sebuah nomor.

“ Halo bunda, sehat?”

Advertisements

5 thoughts on “MAMATATO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s