ANGKUTAN KATA

Saya adalah angkoters sejati, karena dengan segala keterbatasan saya, transportasi utama buat saya adalah angkot, Kecuali mungkin, suatu saat nanti, saat saya sudah menguasai cara menunggang naga,  belajar terbang , atau melakukan teleportasi.

Hal ini jugalah  yang menjadi salah satu alasan saya memilih bandung sebagai tempat berdiam, karena Kota ini  bisa dikatakan memiliki angkot sebagai alat transportasi utama.sebenarnya kota padang juga, kota Padang juga, malah angkotnya lebih keren, tapi sayangnya, angkotnya tidak beroperasi 24 jam.

Di angkot, baik ketika di Bandung atau Padang, kalau bisa memilih,  saya biasanya memilih duduk di samping supir yang sedang bekerja, karena hal ini memiliki banyak keuntungan :

1.       Kalau saya ragu jalan , saya bisa bisik-bisik  minta diturunkan di tujuan saya , ga perlu teriak dari belakang

2.       Terjalin komunikasi yang hangat dengan si supir, ga jarang saya ga perlu bayar ongkos, atau saya mendapat tawaran rokok, tapi tak jarang juga, rokok saya ketinggalan di angkot karena sok basa basi nawarin supir

3.        Saya mendapat banyak pengetahuan, karena tak jarang para supir ini adalah kawan diskusi yang baik, terutama masalah politik dan sosial, dan tentunya beliau-beliau yang sudah tua, punya banyak pengalaman yang bisa dibagi buat kita para generasi muda penerus bangsa.

4.      Bangku depan adalah tempat yang paling nyaman buat tidur

Saking intimnya dengan pihak pengemudi, terkadang ada beberapa tingkah kita, para penumpang yang  saya rasa bisa menimbulkan ketidaknyamanan pada  sang sopir dan si mobil ,.

1.       Ketika ada yang sok tau dibanding sopir.

Saya tau, sopir itu bukan google yang tau segala, tapi buat saya masalah  jalan mana yang akan diambil dan apa kombinasi angkotnya, dia tau lebih baik.

Kemaren saya baru saja bertemu seorang penumpang yang berdebat dengan supir, padahal dia sendiri tidak tau pasti kemana tujuannya, si supir sudah menyarankan si penumpang turun disini saja, trus nyambung angkot A, eh si penumpangnya malah ngeyel kalau angkot B lebih baik, dan blabalabalabalabalabalaba yang menghabiskan waktu yang panjang, sampai akhirnya dia tetap juga menuruti perkataan supir, setelah si supir meminta kang asongan pinggir jalan menjelaskan kepada si penumpang. Untung aja ketemu supir yang baik buk..

2.       Ketika ada yang kembali bilang ‘kiri’  padahal jaraknya ga sampai semeter dari orang yang turun sebelumnya.

Hei, ayolah pemirsah, kawan saya tau kita bayar ongkos, tapi apa salahnya kalau Cuma beda satu dua meter, bukan sau atau dua semester, dan sudah ada yang turun, kita ikut turun disana,  ga bakal keringetan juga. Kalau mau pas ampe pintu rumah ya, mobil pribadi aja.  Kasian mobilnya juga,baru mau jalan , berhenti lagi.kalau itu sampai kejadian 3 kali kaya yang saya alami kemaren, kan ga lucu juga…

3.      Penumpang yang lebih tau kembalian dibanding supir

“2000-2000 pak, berdua, kembaliannya seribu”

Saya mengerti, terkadang ada supir sipir yang kalau kita tidak tau berapa sebenarnya kembalian, kadang melakukan tipu-tipu . tapi tetap saja, menurut saya tergolong kurang sopan saja mendikter supir seperti demikian. Bayar saja dengan cara ‘biasa’, dan  ketika kembaliannya dirasa kurang, barulah protes. Atau, bayarlah dengan uang pas, anda sopan kami pun segan

Tapi, ibarat dua sisi koin,  ada kalanya juga tingkah penupang (lain) membuat saya, dan sang sopir mungkin, merasa sangat nyaman berada di angkot (selain senyuman dari gadis manis tentunya), seperti kemaren, ketika segerombolan anak SMP / SMA naik dan mulai cekakak cekikik, dan  lebih gawatnya, gerombolan cewe-cewe ternyata memutuskan memaksa salah seorang cowo ( yang mungkin dirasa apaling lucu )  untuk melakukan standup comedy, atau mungkin lebih tepatnya sit up comedy, karena dilakukan dalam posisi duduk.

“Indonesia itu kaya, salah satu kekayaannya adalah batik, nah, dari segala macam batik, yang membuat  saya bingung itu,adalah batik bola , tau batik bola kan? Nah.. batik bola ini ga jelas, mau dipake main bola, ga mungkin, mau di pake ke kondangan…..ya..”

Hening sejenak..

“oke segitu dulu” ujarnya kemudian

Saya senyum-senyum saja mendengar aksi komik muda di belakang,

Oke.segitu dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s