CERITIGA

Nanti, kita akan sama sama menginjakkan kaki di dunia televisi, berkumpul lagi, bercerita, walau dalam balutan seragam yang berbeda…

Begitulah janji kami pada suatu ketika, bukan, ini bukan janji 3 sahabat kecil dengan cita-cita mereka. Bukan janji dimasa  jawaban kami adalah pilot, dokter atau polisi, Kami bertemu dan menjanjikan hal ini dibangku kuliah, di waktu kami sudah tau dan yakin akan mimpi dan impian kami, paling tidak begitulah yang kami pikir..

***

Aku menyalakan televisi usang kost ku. Belakangan aku sangat jarang nonton TV, soalnya benda bekas ini sengaja kecuali untuk maen game, sebagai pelengkap console jadul yang belum semua gamenya aku mainkan.  Sore itu  aku lagi iseng saja, karena target game sudah aku selesaikan.

“Jadi perhatian pemerintah terhadap para veteran bisa dikatakan sangat rendah ya pak? “ Tanya si reporter kepada orang tua di depannya tersebut.

Aku tersenyum, reporter cantik berhijab itu, sudah lama aku tidak melihat dia dilayar kaca, aku jadi ingat ketika diawal kemunculannya, aku suka mengirimkan pesan pendek semacam “keren’ “cantik banget” atau  sekedar bertanya nomor handphone reporter cantik  yang kadang menggantikan kehadirannya.

Zata, memang yang pertama diantara kami bertiga yang memenuhi janji itu. Tidak heran sebenarnya, karena selain basicnya yang  seorang penyiar radio, penyuka Hitler ini juga memang sudah menginstall otaknya untuk hal-hal berbau politik dan sosial lewat bacaan-bacaan yang terlalu berat dimata kami berdua. Makanya ketika dia memberitahukan kepada kami kalau dia lulus di INDONEWSIA, sebuah televise khusus berita, kami sudah tidak terkejut lagi.  She deserves that. Kami masih ingat betapa bersemangatnya kami ketika menerima sms :

“Zata udah dibagiin seragam, fotonya udah zata kirim ke email”

***

AWAN, muncul di kontak telepon-genggam-tidak-pintar ku, tepat ketika aku mau memejamkan mata sore itu.

“Aku masih belum bisa ke ibukota, ijin masih belum turun” ujarnya dengan nada memelas setelah beberapa puluh menit kami becerita dan aku menanyakan lagi  kemungkinan dia untuk menyusul kami ke sini.

Sebenarnya Ini bukan yang pertama , sudah kesekian kali aku ‘menantangnya’ untuk datang kesini dan memenuhi janji,tapi memang sepertinya jatahnya awan memang belum untuk saat ini.

“CREATV buka lowongan lagi Wan ,ayolah, coba saja masukkan dulu CV mu di jalur online, kalau lulus,paling tidak, kamu punya alasan untuk kesini, atau kamu mau coba ke INDONEWSIA ?”

Terdengar tarikan nafas dari seberang sana “Iya, Zata  juga udah nelpon, INDONEWSIA butuh banyak darah segar” ujarnya berseloroh.

“So?”

“Masih banyak yang musti aku kerjakan disini, aku takut, sepertinya disini adalah garis finishku”

Aku lagi-lagi Cuma bisa memberikan dia semangat. Aku tau, cowo penggila fotografi ini sangat ingin ‘keluar’ dari pulau dimana kami dibesarkan. Aku tau, karena kami serupa tapi tak sama, kami sama-sama suka bertualang, bedanya dia bertualang di dunia nyata, menembus ujung dunia dengan vespa butut yang suka bikin jengkel ayahnya, sementara aku lebih memilih menunggang unicorn atau terbang bersama  naga. Dia suka menangkap dunia dengan lensa dan sebelah mata, sementara aku lebih suka memindahkannya lewat coretan dan goresan di kertas. Tapi, sebagai satu-satunya ‘pangeran’ di ‘kerajaan’ ayahnya, aku mengerti, sudah ada ‘cerita’ yang disiapkan untuknya.

***

Aku masih di kamar kostku, di depan sebuah laptop kecil, ditemani sebatang rokok dan kopi yang sepertinya sudah dingin. Aku tersenyum sendiri ‘menjelajahi’ dunia kecil yang sedang aku buat sendiri. Tiba-tiba pikiranku kembali membawaku kebeberapa bulan lalu, tepatnya pada sebuah pesan yang dikirimkan Zata ketika pertama kali aku resmi menyusulnya masuk ke dunia pertelevisian, bergabung menjadi balatentara CREATV, sebuah tv baru yang akan segera merajai dunia pertelevisian negeri ini.

“Selamat bergabung Rama, WELCOME, cuma satu hal yang harus Zata ingatkan: Jangan salah paham, di sini,media televisi, walau kelihatan bebas, kita tetap punya aturan, kita tidak bisa berbuat semau kita, Rama musti benar-benar paham hal ini”

Saat itu, beberapa bulan lalu, aku tiba-tiba merasa menjadi salah satu buku bacaannya.

Gara-gara kenangan itu, Aku jadi kangen dia, maka aku pun untuk menelponnya, sayangnya panggilanku tidak diangkat. Aku pun kembali membiarkan jariku menari di atas keyboard berdebu didepanku. Tak lama kemudian, handponeku bernyanyi, dan nama Zata muncul di layar

“Sorry, lagi liputan” ujarnya dari seberang sana

“Iya, ngerti kok, emm.besok sibuk?” tanyaku kemudian

“Ga, besok libur kok”

“Tumben ?” potongku

“Zata dipindahin ke INDONEWSIA regular minggu depan, jadi,sebelum mulai jadwal yang lebih sibuk, Zata dapat libur dulu “ jelasnya

“Keren, congrats ya, ya udah, besok ketemuan yuk, udah lama ga ngobrol nih”

“Yuk, masih ngutang cerita kenapa resign dari CREATV kan Ram?”

“Ceritanya panjang Zata…mending..”

“Udah, besok aja deh ceritanya, siangan ya, soalnya sore mau ketemu ama bang N” cerocosnya sambil sempat-sempatnya menyebutkan inisial calon suaminya yang kebetulan juga seniorku itu. aku jadi gagal promo blog jejadian milikku.

“oke-oke, besok di kabarin lagi deh “  ujarku pasrah.

“Ram, sampai kapan sih, kamu bakal gini? “ tanyanya tiba-tiba

Aku diam sejenak

“Udah ta, besok aja ya nasehatinnya”

Terdengar tawa dari seberang sana

“Sial” tambahnya kemudian. Tak lama telpon pun ditutup, dan  cerita kami untuk hari ini pun berakhir.

Advertisements

6 thoughts on “CERITIGA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s