GU(E)ID(E)IOT

 

Minggu lalu adalah sebuah minggu yang cukup[ ajaib dalam hidup seorang Rayes Mahendra. Tunggu!! siapa Rayes Mahendra? Kalau pembaca tidak begitu mengenalnya, mungkin  sebaiknya Lupakan dia sementara. kita akan bahas lain kali saja.

Padahal tidak ada kupu-kupu yang maen ke kostan, baik malam ataupun siang, tapi di mingu kemaren, hampir seminggu penuh mahluk  ini dikunjungi para tamu yang bermaksud menghabiskan waktunya di kota yang mungkin kota terindah dunia versi Rayes Mahendra ini ( baca : bandung), mari kita lihat siapa saja mereka :

  1. Yori, partner in crime yang merangkap ketua OSIS nya Rayes Mahendra selama masa SMA ini datang di awal minggu, dalam rangka beristirahat setelah melewati sepuluh hari yang berat dalam pelatihan untuk memasuki dunia kerja di sebuah lembaga bla bla bla….  Pokoknya  imi pertama kalinya mahluk langka ini main  ke Bandung, dan tentunya  sebagai pendatang baru, beliau  pun bermaksud bertamasya ke berbagai objek wisata dan bentang budaya yang ada dibandung… dan berhubung Rayes tidak tau menau tentang hal tersebut , maka Edo Adil dan Yogi ( 3 teman sma yang sudah lebih dahulu bermukim di Bandung) menjadi penanggung jawab tur dadakan tersebut. Dan Rayes pun ( akhirnya ) untuk pertama kalinya dapat menikmati kopi dan gorengan ditengah dingin dan kabut, bersantai di pemandian air panas, dan melihat kerlap kerlip bandung di ketingggian sekian pada waktu tengah malam. Akhir cerita, Rayes Cuma bisa menggangguk sedih  ketika yori dengan pandangan herannya bertanya : jadi.. setelah sekian lama, ini pertama kalinya waang  ke tempat – tempat tadi?
  2. Selanjutnya , ada  mahluk yang selalu dijadikan contoh baik kala Rayes dijadikan contoh buruk semasa kuliah, namanya Fadil, ini bukan pertama kalinya Fadil ke Bandung, tapi ini pertama kalinya duo yang pernah tidak dibolehkan duduk berdekatan di bangku kuliah ini bertemu di kota ini.. singkat cerita lagi, Fadil yang ternyata datang bersama belahan jiwanya ini sepertinya bermaksud menghabiskan  uang di kota yang memang menjadi salah satu objek belanja di Negara ini. Setelah sebelumnya berangkot ria dengan Tanya sana sini demi menghabiskan waktu (dan uang juga ) di sebuah teman bermain yang tiketnya amat mahal  ( versi Rayes kere, padahal ditraktir), saya dan Fadil menghabiskan waktu menemani  cewe cantik yang tertipu kebaikan Fadil ini  shopping di beberapa titik, dan ternyata tahukah anda? Bahwasanya Ada hal yang lebih melelahkan daripada menemani cewe shopping  ( no offense !) yaitunya : menemani teman yang menemani cewenya shopping. Soalnya terkadang  ada taburan rasa iri dan perih disetiap lapisan lelah yang terasa….
  3. Di penghujung minggu yang sebenarnya terjadi di rentang waktu cuma beberapa saat  melepas sepacang merpati cinta di cerita kedua  bermalam minggu di kota ini, saya harus segera berangkot ( bukan typo , ini memang berangkot, bukan berangkat )  ke sebuah pusat perbelanjaan karena TV dimana saya pernah bekerja mengadakan festival disana,dan saya sudah berjanji dengan mahlukmahluk  keren tersebut untuk ‘reunian’ disana. Ah, saya tidak mau membahas festivalnya yang oke dan sungguh sangat lebih amat luar biasa dibanding ekspektasi saya, yang penting, malam itu saya bisa ber say hi say hi  say hi kembali dengan kawan-kawan dan senior-senior yang dulu saya temui tiap harinya, yah malam itu kami kembali Saling berbagi kabar dan tawa. Setelah acara selesai, rekan-rekan yang tentunya sudah penat bekerja  hendak menghabiskan malam sebentar dengan bersantai entah dimana. Ya, bisa ditebak, saya yang tidak tau apa-apa tentang dimana tempat melepas penat dan stress selain warnet, Cuma bisa ikut ikut dan mangut-manggut ketika sang pahlawan malam itu, ari ( pemuda asli bandung yang ternyata juga sudah memutuskan untuk keluar dari kantor) membawa team yang pernah berjuang bersama ini menembus  dinginnya bandung menuju tempat tempat yang sudah dibawah jajahannya. Ah, kagum sekali saya dengan si Ari ini : Bandung sudah seperti dibawah telapak tangannya, dan singkat cerita untuk ketiga kalinya,  akhirnya di kami menghabiskan malam dengan bercerita bernostalgia dan bergosip sampai pagi menjelang, sampai seorang senior kami harus terkapar karena…. kelelahan kerja di festival tadi..

 

Pembaca yang budiman, Dari 3 kisah di atas, sebenarnya ada benang merah yang bisa kita jadikan hikmah, bahwa Rayes Mahendra, siapapun dia , belum tau apa apa tentang kota dimana dia sekarang berada, dan tentunya belum bisa jadi guide yang keren ketika ada yang datang ke tempatnya, ( hal ini juga terjadi di kota kota sebelumnya). Kenapa hal ini bisa terjadi ? karena ketika sampai di kota yang baru mahluk ini sama sekali tidak peduli dengan tempat wisata dan tempat penting-penting lainnya, baginya ketika dia sudah tau dimana warnet dan taman bacaan, dan bagaimana cara mencapai tempat-tempat  tersebut dari kostan, maka dia sudah bsa berkata : sempurna!! Maka dari itu janganlah ditiru yang demikian adanya, cukuplah si  Rayes mahendra ini  saja yang menganggap  kamarnya adalah istananya. Akhirul kalam,  mudah-mudahan ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua, terutama khatib sendiri , agar nanti, suatu saat, kalau ada tamu lain yang masih dia  amat nantikan, dia tidak lagi canggung untuk mengajak mahluk-mahluk tersebut berkeliling Bandung bersama piring terbang mereka.

Advertisements

2 thoughts on “GU(E)ID(E)IOT

    1. hahaha..iya kang..atau teteh?

      sayanya aja yang suka males kemana-mana, maunya ngendon di kamar..mending kalo ada temennya. ini sendirian 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s