ADEL

Hari ini genap satu tahun setelah aku terahir kali  bertemu dengan mahluk kecil bernama Adel. Bukan, ini bukan rindu, jangan salah. Ini lebih mendekati rasa penasaran dan heran, Kenapa? Karena  kenyataannya kami bekerja di kota yang sama dan dengan jarak yang tidak terlalu memakan waktu. Ehm, maksudku aku pernah bekerja di kota yang sama dengan dirinya, sementara  kami tidak pernah bertemu dalam satu tahun ini,  kecuali di dalam sebuah kotak kecil  yang kami bawa kemana-mana.

Aku mengambil rokok yang ditawarkan Ryu, temanku. Semenjak berhenti dari pekerjaan kemaren, aku memang mengurangi merokok. Mengurangi membeli rokok mungkin lebih terdengar jujur, karena kalau ada rokok yang gratis kaya gini, aku bisa kalap juga.  

“Memangnya kostan dia dekat sini da?” aku membuka suara

“Iya.bentar lagi juga datang” jawab Ryu pendek. Dia memang sudah kelem semenjak lahir.

Haryuda, biasa dipanggil Ryu, atau seperti yang kalian dengar, aku lebih sering aku memanggilnya uda, karena kenyataannya cowo putih berdarah blasteran ini memang lebih tua satu tahun dariku, tapi anehnya, wajahnya jauh terlihat  lebih muda.Makanya tak heran juga, dia sangat di gilai kaum wanita. aku meliriknya dan kembali menghembuskan asap rokokku. Aku tersenyum, komentar seorang temanku benar, dia mirip saduara kembarnya Nicholas saputra.  Aku menarik nafasku panjang. Adel belum juga datang.

Jangan salah, aku sama sekali tak punya hubungan spesial dengan mahluk mungil yang kutunggu ini, dari dulu, dalam ‘organisasi ‘ kami, dia Cuma objek penderita yang entah kenapa seperti menikmati posisinya tersebut. tubuh micronya membuatnya menjadi korban kebiadaban sekte kami yang memang didominasi kaum adam, di jambak, di pukuli,  atau kegilaan lainnya sudah menjadi sarapan sehari-hari mahluk ini.terdengar anarkis memang, tapi sebenarnya, itu semua kami lakukan sebagai bukti sayang kami terhadap mahluk kecil bermata besar yang sudah kami anggap sebagai adek kami ini,terserah kalian mau percaya atau tidak. Lagian cowo-cowo mana sih yang makin bernafsu……untuk membully kalau si korban selalu melawan dan sok kuat?  Contoh simple :  pernah suatu kali dia pernah diikat disebuah tonggak oleh anggota-anggota sekte  yang iseng, dan mahluk ini bukannya memohon dilepaskan tapi malah mengancam dan mengeluarkan kata-kata makian. Aku? Aku memilih untuk tidak ikut, aku lebih suka menyiksanya dengan kata-kata dan trik psikologi , dibanding fisik. Lebih berkelas, dan menurutku lebih menyakitkan.

“Gelasnya masih  ada tuh di rumah” ujarnya bangga  diikuti tawa ketika setengah jam kemudian, di sebuah tenda kuliner pinggir jalan, aku mengingatkannya akan perbuatannya menyelundupkan sebuah gelas di salahs atu foodcourt di kota dimana kami berkuliah dulu .  . Pembicaraan  kami pun mengalir,  mengingat kembali dan mulai bagunjiang bagaimana teman-teman kami sekarang. Setelah selesai makan,     Adel terlibat pembicaraan dengan Ryu, sementara aku sibuk menghubungii seseorang lewat ponsel traditional ku.

“ Hallo, Nia  lagi dimana?”

Terdengar jawaban di seberang sana, dan aku kemudian hening..

Sial. Aku baru sadar ini bukan nia yang di maksud.tapi kepalang basah, aku langsung melancarkan rayuan kalau aku lagi rindu dan bertanya kabar.Tak lama aku putuskan telpon, dan bergabung kembali ke dunia nyata

“Aku salah Telpon” ujarku sambil melihat kepada Ryu dan Adel yang kemudian tertawa berbarengan.

“Memangnya kamu mau nelpon siapa ? begitulah kalau terlalu banyak teman cewe “ Adel mulai menyulut api. Aku Cuma tersenyum mendengar reaksinya “Aku mau nelpon nia yang ternyata juga kerja  disni, aku sudah berjanji untuk memberi kabar kalau aku kesini” jelasku pendek.

“Nia?”

“ Nia junior kita di kampus , masa kamu ga kenal ?”

“Ah, aku benar-benar tidak tau, kalau nia yang tadi nia yang mana  “

Sebenarnya aku harus mengakui kalau adel benar, ternyata dihandponeku memang terlalu banyak nia, vania teman sd ku, Kania juniorku ini , pratania yang aku kenal di toko buku, dan juga beberapa orang nia lainnya.

“Uda tau kan?” ujarku beralih ke Ryu

Ryu menangguk. Adel makin penasaran, “nia yang mana sih?”

Aku Cuma melengos dan kembali sibuk dengan hapeku

“Nia? Lagi dimana?”

**

 Hasil pembicaraan terlpon tadi kami bertemu di sebuah townquare yang tidak jauh dari tempat aku, Ryu dan Adel tadi. Nia memintaku untuk menunggu di pintu masuk townsquare tersebut, tak lama seorang lelaki menyambut kami, bukan , jelas dia bukan Nia.  

“Lama tak berjumpa” ujar lelaki  berkacamata  tersebut sambil mengulurkan tangan.

“ Bang Hafiz?”  aku menyambut tangannya ”Wah, abang beda banget sekarang “

Tak lama kemudian barulah Nia muncul didampingi dua temannya..“Abaang, akhirnya kita ketemuan juga” dan mengalirlah cerita tentang aku dan Nia yang belakangan juga cuma bisa bertemu di belantara maya. Aku juga sempat ‘mengenalkan ‘ Adel dengan nia, yang kemudian bersungut sungut, menurutnya kalau Nia yang ini dia sudah kenal. Tapi aku tidak berhanti menggodanya sampai disitu. Nia kemudian mengenalkan kedua temannya tadi, yang cewe manis berkacamata itu namanya Isti, tapi karena Nia memanggilnya dengan teteh, aku ikut memangilnya teteh, sementara yang cowo, aku lupa siapa namanya.

“Cari tempat makan yuk” Bang Hafiz mengehntikan arisan dadakan tersebut “ biar ngobrolnya lebih enak” sambungnya kemudian.

“Deket sini aja, ada tempat roti bakar yang oke” kali ini Nia yang bersuara “Bisa jalan kaki kok”

Kami langsung setuju, kami pun keluar dari townsquare tersebut dan berjalan beriringan : bang Hafiz didepan,  diikuti teteh dengan di cowo tadi, Aku dan nia kemudian Ryu dan adel di posisi buncit.

“temannya Nia cantik juga” ujarku berbisik

“Abang, dia itu sudah punya suami” Nia juga membalas tak kalah pelan

“hah, serius?”

“jadi cowo itu suaminya?”

“bukan.. rekan kerja Nia juga “

“ow, kirain”

Sementara tepat belakang kami Adel tertawa, ketika aku berbalik, aku melihatnya berbisik kepada Ryu, entah apa yang dia pergunjingkan kali ini.

**

Tak lama kami pun sampai di tempat tujuan. aku memesan kopi, sementara yang lain memesan roti bakar yang konon katanya oke.  bukan, bukan karena masalah isi kantong yang memang  tipis, aku memang sedang tidak nafsu makan setelah tadi ditraktir adel,dan toh NIa sudah menyanggupi untuk mentraktir kami semua, Aku emmang lagi pengen kopi, dan ya, ntar icip-icip roti yang datang. Kebetulan sekali,aku duduk berdekatan dengan dua teman baru : teteh dan si cowo yang aku masih belum ingat siapa namanya ketika kami berkenalan tadi. Aku duduk berhadapan dengan teteh, jadi mau tak mau aku bisa mengamati kecantikannya teteh. Bersuami ? peduli malaikat, aku suka dengan wanita berkacamata , bukan bukan dalam suka dalam apa yang kalian pikir, aku cuma suka melihatnya. Terdengar sedikit menggeneralisir, tapi buatku wanita berkacamata minus  itu terlihat pintar dan aku suka cewe pintar. aku tersenyum sendiri, kemudian aku pun mulai bercakap-cakap dengan keduanya, mulai dari omongan standar semacam pekerjaan, masuk tentang hal hal sepele, sampai kepada statement bahwa bahasa daerah kami yang tentunya berbeda dengan bahasa dua kami ini, sangat penting dipelajari demi keamaanan di tempat-tempat umum, yang kali ini dengan sangat detail dijelaskan oleh bang Hafiz. Selanjutnya juga terkuak isu tentang bang Hafiz dan Nia yang tengah menjadi trending topic di kantor Nia, kali ini bang Hafiz tidak bisa menjelaskannya. beliau cuma senyam-senyum.

Topan, ternyata itu nama teman Nia tersebut, dan ternyata anaknya asik,  kita juga membicarakan banyak hal, sementara figuran lain sibuk bernostalgia tentang masa kuliah, yah sebenarnya aku yang jadi pahlawannya, ga mungkin kan aku membiarkan dua tamu ini terbengkalai karena reuni lintas jurusan mendadak ini?

aku lupa berapa lama kami duduk disini, dan jam berapa sekarang, tapi Adel sudah menyatakan kegelisahannya karena kostannya mmeberlakukan jam malam.

“Sudahlah nginap tempat Ryu saja, aman kok kita kan cowo baik baik” Aku mulai membuka suara  

Adel tersenyum “Percaya kok, tadi aja yang sebenarnya ditanyain ke Nia kan Topan, pakai sok-sok nanya teteh lagi ” lebah kecil itu mulai menyengat lagi.

Semua tertawa, entah kenapa, mukaku juga memerah, aku melihat topan dengan sudut mataku, dia Cuma tersenyum simpul.

aku berusaha kalem tetap kalem dan menguasai suasana

“Gender nomor dua, yang penting setia” aku menoleh ke bang Hafiz mencari pembelaan  “ ya ga bang?”

Bang Hafiz yang walau tertawa tetap mengiyakan statementku.

“Iya, gender mah terserah, yang penting tetapi keringetan “tambah Topan

Mendengar dukungan tersebut aku pun mengangkat tangan bermakus tos, tapi topan malah tidak membalas tanganku, dibiarkannya mengambang diangkasa. Semua tertawa makin keras.

“Yuk pada balik” bang Hafiz mencoba menormalkan suasana karena sepertinya dari tadi memang Cuma meja kami yang cekakak cekikik ga jelas “kasian si Adel” tambahnya kemudian. Yang lain pun menyanggupi dan kami pun turun dengan sisa-sisa tawa yang ada.

” Nah, sebelum pulang mending pada salaman deh, biar akrab ”  Bang hafiz lagi-lagi muncul dengan ide yang disambut baik seluruh peserta malam mingguan ini. Tidak ada yang istimewa sampai Topan akhirnya menyalaami ku. Aku berusaha bersikap senormal mungkin.

“Kabarin aja kalau main ketempaku pan” ujarku pendek

Dia mengangguk. Semua tertawa. kecuali Ryu mungkin, karena dia sudah terlalu  terbiasa dengan hal-hal seperti ini, semenjak kuliah ini sudah jadi bahan becandaan, sementara adel terlihat sangat senang. Aku menjitak kepalanya sebelum berjalan dengan Ryu menuju omprengan yang merupakan satu-satunya pilihan untuk balik ke tempat Ryu. Aku duduk di posisi paling pinggir di omprengan, mendadah-dadah kepada mereka semua. Aku tersenyum, lain kali mungkin mengikat seseorang di tonggak itu bukanlah hal yang terlalu buruk.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “ADEL

  1. Kocaknya berasa masih saat membaca ini..keren bg..kapan – kapan main kesini lg yaa..atau saban hari kami juga akan kesna..jadiii, tourism map nya bandung udh abg pelajarikah?? ;D

    1. hahahahaha.. baru belajar nulis.. mohon sellau kritiknya ani…

      ditunggu di bandung ni. buat guide kita serahkan ke faisal…hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s