GENESIS

1.The Night Before

Maha memasukkan buku bersampul putih berjudul ‘GENESIS’ tersebut ke dalam ranselnya. Buku fiksi ilmiah bertema zombie outbreak ini direncanakan akan menjadi temannya mengisi hari setelah seharian ditempa mental dan fisik satu minggu kedepannya. Soalnya, Watson – laptop mininya- tidak diperbolehkan ikut serta dalam pelatihan ini. Persiapannya untuk training sebelum memasuki kantor barunya sudah selesai. Besok dia akan berangkat menuju bukit loreng, sebuah pusat latihan militer international yang entah kenapa untuk pertama kalinya membuka kesempatan untuk melatih sipil. Yah, tepatnya melatih karyawan baru  CreaTV, Sebuah TV yang baru akan dilaunching dalam beberapa bulan ke depan. TV dimana Maha baru saja lulus menjadi salah seorang karyawan barunya. Konon, pelatihan militer ini dimaksudkan untuk membina mental dan fisik para karyawan agar tangguh karena konon dunia broadcasting merupakan dunia yang lumayan keras.

Maha tersenyum memandangi kamar kostannya. Besok, selain berangkat ke bukit loreng ia akan segera pindah ke Bavaria, kota dimana CreaTV berpusat.  Perlahan Cowok berambut gondrong ini pun membuka Watson.

**

Witri membuka macbook didepannya untuk mengecek lagi semua peserta pelatihan dan detail-detail lainnya. Sebagai HRD,  beberapa hari kedepan nasib karyawan baru akan berada di tangannya dan para staf HRD lainnya.Training  ini bukan main-main, apalagi  Pak Syiwa, CEO CreaTV adalah orang yg perfeksionis. Maka dari itu dia memastikan lagi semua kelengkapan agar jangan ada yang terlewat. Cahaya dari layar  menyinari kacamata yang menambah manis wajahnya.  Jari lentiknya pun sibuk menari diatas keyboard, sampai tiba –tiba ponsel pintarnya berbunyi.  Seperti tidak mau kehilangan sedetik pun waktu, Witri memencet tombol loudspeaker di ponselnya.

“istirahat sayang, besok katanya mau berangkat pagi,”

Terdengar suara lembut diseberang sana.Witri tersenyum kemudian melanjutkan ketikannya.

“Iya sayang, cuma ngerapiin aja kok, bentar lagi juga tidur,”

“bener ya? sekali lagi, maaf ya sayang, aku gak bisa nganter kamu,”

“iya, gapapa kok, Kayak yang pertama kali pisah aja,”

“Iya , tapi kali ini beda sayang,”

“Udah ih, jangan nakutin, aku lanjutin kerjanya dulu ya sayang,”

“okay. take care, jangan lupa ngabarin”

Setelah menutup telpon, Witri  merasa kantuk mulai menyerang, tapi dia tidak mau kalah.  Gadis berkacamata minus ini  mengambil gelas kopi disampingnya.

**

Kapten Wira meletakkan gelasnya di meja rapat.

“Jadi sekali lagi, besok calon siswa akan datang, saya tau ini pertama kalinya kita menangani sipil, jadi saya harap kita  sudah siap dengan tanggung jawab  masing masing. Ingat utamakan keselamatan!“ Kapten Wira mengambil nafas sejenak, mengedarkan pandangannnya kepada bawahannya, kemudian melanjutkan dengan tempo dan nada yang sedikit berbeda. ”Saya mohon kerjasamanya juga dari panitia CreaTV ya pak Syiwa,” tutur kapten Wira kepada pria didepannya. Pria diepannya mengangguk dan menyalami kapten Wira, juga seorang militer di sebelah kapten wira. Kapten Wira pun duduk kembali.

**

Dyah menghempaskan tubuhnya ke kursi di rumahnya dan kemudian mengelus Alexander, hamster kesayangannya saat tiba- tiba kakaknya muncul dari kamar.

“Udah siap semua ?”

“Udah kak,” Jawab Dyah diikuti sebuah senyuman yang terkesan agak dipaksakan.

“Kamu tidak apa-apa kan ? ”

“Ga apa-apa kok kak, ga tau, cuma perasaan Dyah aja lagi gak enak,”

Kakaknya pun mengelus kepala adek semata wayangnya itu.

Everything gonna be ok tuan putri. Udah …istirahat sana,”

Dyah pun mengangguk dan bergerak pindah ke kamar, sementara kakaknya langsung menyalakan TV.

**

Seorang pemuda kurus tinggi sedang menonton TV, saat seorang kakek yang masih terlihat kuat masuk ke kamarnya.

“kamu jadi berangkat Na?”

Permana, melihat kakeknya sebantar, kemudian kembali memasukkan baju ke dalam ranselnya.

“Iya kek, ini program wajib, tadi Permana udah nanya ke HRD buat kemungkinan izin, tapi memang harus ikut semua”

“Kamu tau kan na, kalau dalam minggu ini bakal ada ……”

“Iya kek, itu peristiwa alam biasa kok,” potong Permana

“Kakek sudah berapa kali  cerita kan kepada kamu bahwa kali ini beda,  menurut perhitungan  kalender kita, ini adalah peristiwa yang cuma terjadi..”

Permana menghela nafas, menghentikan kegiatan packingnya

“Maaf kek, aku lagi ga minat untuk berdebat lagi soal ini” ucap Permana lirih kemudian meninggalkan kamar. Kakeknya terlihat khawatir dan kemudian memandang ke TV yang sedang memutar berita tentang gerhana matahari yang akan terjadi beberapa hari kedepan

**

Seorang pemuda berparas tampan sedang memandangi langit dari balkon kamarnya. Kemudian tak lama, dia kembali ke dalam dan mencatat sesuatu di buku hariannnya. Selesai mencatat dia pun memasukkan kembali buku itu ke ransel raksasa yang akan dibawanya besok. Dia kemudian menarik sebuah novel di meja: GENESIS.

2.Departure

“Thanks Ris, sampai jumpa satu minggu kedepan, atau tidak sama sekali,” Ujar Maha bercanda. Sahabatnya yang masih bersandar di jeep nya pun mengangkat tangan dan tak lama kemudian kembali ke kemudi. “Salam perpisahan buat rambut lo,” ujar Haris melongokkan kepala dari jendela, kemudian menyalakan tunggangannya itu. Maha tersenyum dan kemudian bergabung dengan sekumpulan anak anak yang sudah memenuhi lapangan parkir kantor CreaTV. Dari sana mereka semua akan di berangkatkan dengan truk militer ke bukit loreng. Beberapa diantara peserta sudah Maha kenal, karena berasal dari kota yang sama, beberapa yang lain  berkenalan disana, kemudian para peserta saling mulai tertawa dan menerka-nerka akan seperti apa rangkaian acara mereka di beberapa hari kedepan. Sementara panitia dari CreaTV yang sudah datang dari tadi terlihat sedang berbincang dengan para tentara dari bukit loreng.

Maha yang sedang asik memperhatikan Witri, seniornya yang dikenal ketika test masuk, tak sadar sudah menubruk seorang peserta lain.

“Sorry, sorry,” Sadar Maha kemudian.

Fine” Balas si peserta dengan pengucapan yang sempurna, sesuai dengan tampang bulenya.

Maha yang memang dari tadi sudah sok akrab, kemudian mengulurkan tangan “Maha”.

“Ok, gue jalan duluan, Maha,” Si bule tadi menyambut uluran tangan Maha dan Kemudian berlalu dari sana.

***

Akhirnya truk militer yang dinaiki peserta memasuki kawasan bukit loreng. Lokasi pelatihan yang berada di daerah ketinggian entah berapa dari permukaan laut sepertinya benar-benar disediakan sebagai konsentrasi latihan militer. Walaupun begitu tidak ada sama sekali nuansa seram dari tempat ini, malah ketika turun Maha dan yang lainnya sempat berdecak kagum ketika melihat pemandangan alam yang masih hijau, dan masih bisa melihat sebagian besar Bavaria dari sana.

Lagu mars penabuh semangat berbunyi, dan teriakan para pelatih mulai bersahutan

“CALON SISWA, CEPAT, BENTUK BARISAN !”

“PAYAH KALIAN “

….Dan berbagai macam variasi perintah yang cukup membuat shock para siswa yang sebagian besar dari mereka, termasuk Maha, yang baru pertama kali berhadapan dengan hal sejenis ini!

“CEPAT , BENTUK BARISAN”

Maha dan siswa lainnya pun segera membantuk barisan ditingkahi suara hardikan para pelatih baru yang membahana. Perut Maha mulai serasa diobrak abrik oleh kekuatan tak terlihat. Ia memang tidak begitu suka hal hal seperti ini. .

Bruk!

Seorang anak kurus jatuh tepat dibelakang Maha, Maha yang ingin membantu sudah keduluan oleh seorang gadis berwajah keibuan, sebuah kecantikan yang datang bukan dari riasan, tapi langsung dari ukiran tangan tuhan.

Kapten Wira, komandan lapangan pun muncul, dan setelah sepatah dua patah kata dari mulutnya, maka siswa mulai di bagi kedalam kompi dan pleton, teriakan ‘siap’ setelah nama dipanggil pun mulai memenuhi langit bukit loreng sore itu.

“DEARES MAHAYANA” terdengar teriakan membahana yang agak sedikit janggal.

“SIAP !!” Maha pun mengangkat dua ransel nya dan berlari bergabung ke pletonnya. Mimpi buruknya pun dimulai.

**

3.Initiation

Pelatih kompi Maha adalah sergeant Black. Beliau bukan asli penduduk Negara yang sama dengan Maha, namun karena sudah lama dinegara ini, lidahnya sudah terbilang lancar dengan bahasa negeri yang katanya bagian dari tanah surga ini , walau masih sering dicampur campur dengan bahasa negara asalnya. Orangnya juga sangat ramah dan friendly. Seperti pagi ini, ketika persiapan acara pembukaan, ketika kompi lain mulai di ‘latih’ dengan keras dan kaku, sergeant Black malah mengajarkan yel-yel dan lagu-lagu aneh yang membuat ketakutan kompi terutama Maha menjadi berkurang. Bahkan sergeant Black membela Maha ketika Maha mengatakan tidak ingin rambutnya di potong. Alhasil Maha pun menjadi mencolok, dan langsung mendapat panggilan ‘Gondrong’ dari para pelatih.

Calm down bro, relax,” ujar Sergeant Black seperti tau ketakutan Maha.

Maha menjawab keras “Yes sir,

Dan detik selanjutnya mulai melakukan instruksi-instruksi dari Sergeant Black.

Kegiatan pagi itu diawali dengan persiapan PBB untuk upacara pembukaan. Dan setelah para siswa siap maka dimulailah upacara pembukaan yang menghadirkan pemimpin tertinggi CREA TV : Pak Syiwa, yang memberikan pengarahan tentang tujuan diadakannya pelatihan ini dan segala macam mambo jambo yang tidak semuanya Maha bisa tangkap karena masih mengantuk. Maklum, sebelum ini Maha sangat bermusuhan dengan mahluk bernama bangun pagi. Pak Syiwa sendiri terlihat muda untuk orang seumurannya. Namun wajahnya, Maha merasa pernah melihatnya, tapi Maha lupa dimana dimana. Padahal ini pertama kalinya Pak Syiwa muncul di hadapan mereka.

Formalitas pun selesai, dan acara inti dimulai…

setelah upacara selesai para siswa langsung di suruh tiarap di lapangan tersebut

It all begins,” ujar Maha dalam hati

“AYO…TIARAP..CINTAI TANAH AIR KALIAN “

Terdengar teriakan di belakang Maha, Maha pun mulai bersetubuh dengan tanah. Diiringi berondongan senjata yang memenuhi langit bukit loreng.

**

Dua hari kedepannya pun kegiatan tak berbeda dengan hari pertama, penempaan fisik yang dimulai dari berlari lari kecil antara ruang makan dan aula tempat penyampaian materi dasar pertelevisian dengan jaraknya yang lumayan menguras tenaga. Belum lagi adanya tanjakan yang oleh maha di beri gelar dengan ‘tanjakan setan’ karena memang ketinggiaannya yang menurut para peserta sama sekali tidak manusiawi.

Maha yang pada dasarnya tidak suka olahraga terlihat lumayan kepayahan menghadapi hal ini, tapi berhubung dia tahu di aula nanti dia akan bertemu dengan Witri ketika pemberian materi dasar broadcasting, dia pun tetap terlihat  bersemangat.

Sampai di aula, peserta pun duduk berdasarkan kompinya masing-masing, dan pemberi materi pagi itu adalah dari divisi produksi. Setelah pemateri masuk, Dyah,  Si gadis cantik keibuan yang juga merupakan Senat terpilih – ketua angkatan- langsung memberi penghormatan, dan kelas pun dimulai.

**

Harusnya Maha bersemangat untuk materi pagi ini, karena divisi produksi adalah divisi dimana Maha akan bekerja. Tapi seperti materi di hari sebelumnya, Maha tidak sanggup menahan beban matanya, mungkin karena sudah beberapa hari ini tidak ada kopi yang mampir ketubuhnya. Alhasil dia pun tertidur pulas sampai, seseorang membangunkannya

“Sana, cuci muka dulu,”

Ternyata itu Witri, senior cantik berambut pendek idolanya. Sekarang, Maha bingung, ini dunia nyata apa masih mimpi?

  1. Eclipse

Tak ada yang istimewa sampai hari keempat, kecuali mungkin kemaren, ketika untuk pertama kalinya Maha dan para siswa dilatih untuk menggunakan berbagai macam senjata. Selebihnya, masih diisi materi PBB, latihan fisik push up, sit up , guling ,tiarap dan pelatihan disiplin makan yang mungkin sedikit keterlaluan, apalagi buat Maha yang terbiasa urakan.

Biasanya, kegiatan makan dipimpin langsung oleh senat, namun malam ini  entah kenapa, kali ini Dyah sang senat cantik tidak keliatan diantara lautan hitam-hitam – dress code untuk makan malam. Entah kenapa Maha merasa ini cukup aneh. Maha baru saja hendak meminum air dihadapannya saat tiba tiba..

“GONDRONG!! DINGINKAN DULU KEPALAMU DILUAR, DARI TADI SAYA PERHATIKAN, MASIH URAKAN, SUDAH BERAPA HARI KAMU DISINI, BIKIN MALU PELATIH”

Maha pun meletakkan kembali gelasnya dan pergi keluar mendinginkan kepalanya. Di luar sudah menunggu beberapa pelatih yang siap ‘mendinginkan kepala’  yang bermasalah dengan ‘table manner’. Ceramah dan hardikan pun datang bertubi-tubi. .

Tiba-tiba, ketika Maha sudah bersiap dengan posisi push up, terdengar teriakan keras di dalam, semua pelatih pun berhamburan masuk, namun tiba-tiba semua kembali  mundur ketika melihat mahluk yang muncul dari dalam….. mahluk  yg biasa dilihat Maha dalam anime, games, novel  dan  film –film, namun yang ini mampu bergerak dengan cepat..

Awalnya Maha berpikir ini cuma rangkaian dari latihan yang disediakan kantor barunya ini, tapi  Maha segera mengikuti instingnya berlari menyelamatkan diri kearah yang dia sendiri tidak tahu ketika gigi seekor mahluk itu mengoyak leher seorang peserta yang berdiri tepat di samping Maha.

Maha benar-benar buta arah, yang penting ia menjauh dari ruang makan ini. Teriakan dan berondongan senjata di belakang mulai terdengar. Maha dan beberapa temanya yang kebetulan dihukum semakin bergerak menjauh ditandai melemahnya suara tembakan. Beberapa tentara lain yang muncul pun ikut melepaskan tembakannyya.

Benar-benar ….chaos

Beberapa tentara yang lain mengontak temannya yg lain lewat handy talkie di tangan. Sirine meraung-raung menandakan keadaaan bahaya.

Selain para  prajurit dan panitia pun berhamburan keluar karena barak yang dekat dengan ruang makan, cuma beberapa yang terpisah,  begitu juga para mahluk yang berpakaian hitam-hitam yang muncul dari ruang makan. Alih-alih menemukan penjelasan kenapa ini terjadi, Maha segera berlari mencoba menemukan tempat persembunyian . Mahluk itu makin banyak, karena sekarang para tentara yg tadi diserang sepertinya sudah menjadi bagian dari mereka. Maha dan beberapa orang lain terus berlari, berusaha menjauh dari mahluk mahluk tersebut.

Rama terus berlari, di bawah gerhana yang kali ini terlihat berbeda.

  1. Fajar

Tak ada ampun, berondongan peluru berhasil melumpuhkan beberapa dari mereka, Kill or to be killed, namun entah kenapa sepertinya mereka tidak pernah habis. Maha baru sadar kalau ternyata satu angkatan penerimaan karyawan yang sekarang disebut ‘siswa’ sedang berada didalamnya , dengan estimasi semua yang didalam sudah berubah menjadi ‘mahluk’ maka paling tidak ada 300 ‘mahluk’ di ruang makan tersebut, belum lagi korban beberapa panitia dan pelatih. Maha hendak mencoba berlari labih jauh tapi dia melihat seseorang dI depannya mencari cari sesuatu

Witri!

“Ayo kak” ujar Maha memegang lengan Witri.

“Tunggu, kacamata ku..“

Maha pun mencari di sekitar sana dan menemukan benda itu berada jauh dari kakinya, namun ketika dia hendak mengambil, salah satu mahluk hitam-hitam itu pun muncul didepannya, matanya merah dan mulutnya di penuhi gigi tajam, lidahnya terjulur amat mengerikan!! Maha mengenalnya : salah seorang anggota kompinya. Maha cuma bisa berjalan mundur, ketika mahluk itu menggumam tidak jelas..

“TIARAP !”terdengar teriakan seseorang, Maha dan Witri reflek melakukan perintah tersebut.

DHUAR..

 sebuah ledakan menghancurkan kepala mahluk tersebut.

“Fajar?” ujar Witri perlahan

Ternyata penolong mereka memiliki nama, dan Witri mengenalnya. Fajar, peserta bule yang di hari pertama bertabrakan dengan Maha. Fajar sedang memegang sebuah shotgun yang dia dapat entah dari mana.

“Ayo Maha, follow me” Komando Fajar.

Maha bersama Witri mengikuti Fajar, berbelok ke belakang barak, berlari terus sampai menuju kerumunan orang yang didominasi para pelatih yang terlihat sedang membagikan senjata,cuma ada sepuluh atau lima belas, atau maksimal duapuluhan orang peserta disana : Beberapa siswa dan pelatih yang sepertinya sedang beruntung tidak ikut hadir di ruang makan karena alasan yang berbeda. Maha memilih sebuah crossbow dari tumpukan peti senjata yang dikeluarkan, Fajar mengokang shotgunnya, yang lain juga mengambil senjata pilihannya masing masing.

Kapten Wira yang bajunya sudah sobek disana sini, sepertinya setelah pergumulan dengan para mahluk tersebut akhirnya angkat bicara..

“Baiklah kawan kawan, lakukan semampu yang kalian bisa, yang mau lari dan menyelamatkan diri, silahkan, ini negara bebas, semoga selamat. Selanjutnya, buat yang ingin bertempur :  ingat mereka bukan lagi rekan kalian, bunuh, atau dibunuh!  semoga tuhan bersama kita, dan ingatlah.. ini bukan latihan, sampai jumpa lagi atau tidak sama sekali,”

“Siap laksanakan!! ujar semua yang ada disana.

Tak lama terdengar geraman yang makin lama makin mendekat….sekelompok besar ‘mahluk’ itu muncul di hadapan sisa penghuni bukit loreng.

6.COUNTER ATTACK

Berondongan peluru pun dimuntahkan dari moncong senapan masing masing. Maha pun sibuk membidik crossbownya kearah kepala beberapa mahluk. Beberapa melompat !!  ini tidak seperti yang dilihat Maha di film, mereka tidak bergerak seperti ini !

“BERPENCAR!”

Terdengar teriakan dari kapten Wira. Maha menarik tangan Witri dan segera berlari.

“Kita Kemana?” Tanya Witri setelah sadar entah kenapa tiba tiba mengikuti Maha.

“Yang penting kita bergerak dulu, kita akan habis kalau masih dalam kelompok,”

Crossbow Maha tepat mengenai kepala mahluk yang mengejar mereka, namun tidak berhenti, itu hanya memperlambatnya.

DOR DOR DOR!!

Witri lah yang menghabisinya, tenyata tadi Witri sempat memilih double handgun sebagai senjatanya.

“Aku tidak selemah yang kau bayangkan” kata Witri sambil tersenyum

Maha bermaksud membalas senyuman manis tersebut saat dia menyadari sesuatu.

“Aku tau kita akan kemana” Bisik Maha pelan. “Entah kenapa sepertinya kebanyakan dari mereka bermaksud kesana!” Maha menunjuk suatu bangunan

“Barak? buat apa?” lanjut Witri

“Untuk itu kita harus cari jawabannya,” jawab Maha sambil sesekali mengatur nafasnya “Menyerang adalah pertahanan yang paling baik,”

Witri kemudian menghela nafas. “Baiklah, aku setuju, tapi apa kita tidak menunggu yang lain dulu?” Witri kelihatan sedikit khawatir.

“Tidak ada waktu Mereka pasti sibuk, dan kita juga masih tidak tau jumlah kita sekarang,” Maha menatap mata Witri ”Mudah mudahan di sanakita bisa menemukan jawabannya,”

“Kalau tidak? bagaimana kalau kesana cuma bunuh diri?”

Maha menggeleng “Kita akan cari jalan keluar dari sini hidup –hidup,” ujar Maha sambil memegang tangan Witri dan memaksa seniornya ini terus bergerak. Desing peluru dan suara tembakan masih menggema di berbagai tempat.mungkin bagi penduduk yang kebetulan mendengar dari kejauhan ini merupakan proses latihan seperti biasanya.

Maha dan Witri berhasil mendekati Barak dengan aman. Ketika mereka memantau pergerakan para mahluk tersebut ternyata ada pergerakan yang aneh. Sekelompok mahluk mendekati seorang siswi yang sedang duduk tenang  di kasur. Rambut si siswi terjulur menutupi mukanya.Maha bermaksud bergerak ke arah tempat tidur siswi ketika Witri menahannya.

“Lihat” Kata Witri saat tiba-tiba si Siswi dengan buasnya melumpuhkan mahluk-mahluk di depannya dengan tangan kosong, mencabik cabik tubuh mereka, dan kemudian memakannya. Tak lama kemudian Siswi tersebut pun menoleh kea rah mereka.

“Kita harus pergi..”  Bisik Maha kepada Witri

  1. The Queen

PRANG!!

Sebuah meja melayang dengan kecepatan tinggi sesaat setelah Maha dan Witri bergerak dari tempat mereka. Sekarang, di depan mereka Dyah, si ketua senat perlahan menggeram, matanya merah dan sekarang di memamerkan taringnya yang tajam.

DOR DOR DOR!!

Beberapa tembakan dari Witri tidak berhasil merobohkannya, malah mungkin mahluk itu tidak merasakan apa apa. Maha beringsut mundur kemudian melepaskan tembakan ke arah kepala Ketua Senatnya yang sekarang sudah berubah menjadi mahluk mengerikan !

…..Namun tetap saja tidak terjadi apa-apa

Mahluk itu makin mendekat kearah mereka ketika dengan timing yg tepat, Maha berhasil menancapkan panahnya ke mata si mahluk tersebut!!

Mahluk tersebut mengerang membabi buta dan terjatuh ke dekat Witri. Gadis cantik itu pun menghunus dua handgun-nya, tapi sayangnya mahluk yg mengamuk tersebut berhasil melepaskan gigitannya ke leher Witri terlebih dahulu.  Setelah itu mahluk tersebut kembali mengerang kesakitan, begitu juga dengan Witri yang ambruk ke tanah sambil memegang lehernya.

Siaaalll !!

Maha pun bergerak maju membabi buta saat tiba – tiba sebuah pistol melekat di kepalanya dari arah samping.

“Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya” Kata pemilik pistol yang dikenal Maha sebagai anak yang terjatuh tepat di belakangnya di hari pertama.

“Jangan bodoh, dia bukan lagi Dyah!” Maha masih mencoba tenang.

“Aku tidak peduli, aku tidak akan membiarkanmu membunuhnya,”

“Jangan bodoh Permana, turunkan senjatamu atau kepalamu lebih dulu hancur,” Terdengar suara yang di kenal Maha, Fajar. Maha melirik kepada Fajar yang sedang menempelkan shotgunnya ke kepala Permana.

 “Maha, segera ke helipad, bergabunglah bersama yang lain disana, heli bantuan akan segera datang, mahluk ini biar gue yang urus!! Kalau cepat mungkin Witri masih bisa ditolong,”

Permana menurunkan senjatanya ketika mahluk di depannya meraung kembali, sepertinya dia sudah pulih dari luka yang disebabkan Maha. Sementara Maha merobek bajunya, menutup luka Witri dan kemudian menggendongnya. Beberapa Mahluk kembali terlihat mengerubungi mereka, sepertinya raungan tadi berhasil mengumpulkan mereka.

Dar!!

Sebuah peluru dari senjata Fajar membuat mahluk itu terdiam, tapi masih bergerak.

“Cepatlah.. gue tidak akan bisa menahannya lebih lama,“ Fajar kemudian berpaling Permana “Lo juga Na, Buruan ke helipad”

“Aku tetap disini,”

Fajar menggeleng “Terserah, ada lo atau tidak, gue akan tetap menghabisi mahluk ini,”

**

Maha pun menggendong Witri dan menjauh dari barak dengan berjalan terseok seok.

“Udah Maha, kamu tinggalin aku disini saja, buruan ke helipad,”

“Ga kak, kita akan sampai,”

“Aku gak kuat Maha, virusnya sudah menjalar,”

“Simpan tenaga kakak,kita akan sampai,”

Bukit loreng yang sepi pun menjadi saksi langkah yang mungkin jadi langkah langkah terakhir mereka.

  1. It’s Not The End

Udara malam yang semula hehing tiba tiba ribut dengan kedatangan dua buah helicopter yang terbang rendah. Sekilas, siluet mereka di antara Gerhana terlihat amat indah.

Walau mendapat info dari mana, Fajar ternyata benar, namun sayangnya tidak ada yang lain disana…cuma Maha dan Witri.

Helicopter mendarat, perlahan Pak Syiwa keluar dari helicopter pertama  bersama 3 orang lainnya, diikuti 6 orang pasukan yang keluar dari helicopter belakang. Maha kenal salah satu prajurit yang mendampingi pak Syiwa: Sergeant Black. Karena dia tidak memakai topeng seperti 6 prajurit lain di heli belakang.

“Cuma kalian berdua ? “ Tanya pak Wisnu mendekati mereka

Maha mengangguk, mencoba terlihat tenang.

“Fajar, seorang rekan saya, sedang bertarung di barak sana dengan ..dengan ..monster pak, sementara saya tidak tau nasib yang lain,” Lanjut Maha.

Pak Syiwa segera melirik Sergeant Black yang langsung memerintahkan pasukannya untuk bergerak. Setelah Sergeant Black bergerak, Pak Syiwa pun mendekati Witri.

“Kamu tidak apa apa Wit?” Tanya pak Syiwa kepada Witri yang sudah kelihatan pucat.

Witri tidak menjawab

“Tenang Wit, kamu akan baik-baik saja,” pak Syiwa tersenyum.

Salah Seorang pria yang mendampingi Pak Syiwa di helicopter pertama, yang sudah lumayan berumur dan memakai kacamata supertebal mengeluarkan sebuah koper, membukanya, dan Pak Syiwa menarik salah satu djarum suntik disana  dan langsung memberikannya kepada Witri.

Witri menjerit keras, kemudian mengejang.

akibatnya Maha reflek melepaskan Witri!

Pak Syiwa tersenyum melihat perubahan Witri yang sekarang sedang melolong kesakitan, Maha pun menyaksikannya ketika mata seniornya itu memerah dan kemudian menatap buas kepadanya!

“Nikmati santapan pertamamu sayang,” ujar Pak Syiwa.

Maha benar benar tidak menyangka hal ini akan terjadi, dia tidak siap berpikir, sampai taring Witri singgah ke lehernya..

“Urus mereka berdua,” kata Pak Syiwa singkat.

Dua prajurit bertopeng melepaskan tembakan ke arah Witri dan Maha, kemudian ketika keduanya tak sadarkan diri, mereka memasukkannya ke dalam helicopter.

Black, is he ok?” Pak Syiwa menghubungi sergeant black dari alat komunikasi di telinganya.

Negative sir, we can’t found him anywhere, tapi dia sudah bunuh sang ratu sendiri, sungguh hasil didikan yang baik sir,” terdengar jawaban dari seberang sana

Pak Syiwa tersenyum.

“Ganesha Fajar Putra, aku pasti menemukanmu,“ ujar Pak Syiwa diikuti sebuah senyuman

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s